Wawantjara dengan Kipandjikusmin (Majalah Ekspres)

0
374

Dalam artikel “HB Jassin vs Hamka dan Perkara ‘Langit Makin Mendung’”, saya membahas tentang perjuangan HB Jassin saat berada di kursi pesakitan pengadilan karena memuat cerpen “Langit Makin Mendung” di majalah Sastra yang dipimpinnya pada 1968. Di artikel itu, Kipandjikusmin yang menulis cerpen kontroversial karena dituduh menistakan agama Islam diwawancara majalah Ekspres. Namun, hingga kini, ia tak pernah muncul. Tak ada yang tahu secara pasti sosoknya.

Berikut ini wawancara tersebut, yang saya ketik ulang—termuat dalam Ekspres edisi 14 Juni 1970. Oh ya, saya juga memuat sedikit identitas Kipandjikusmin, yang terbit pula di Ekspres. Dalam wawancara ini, kita bisa membaca alasan Kipandjikusmin menulis “Langit Makin Mendung” dan apakah ia menistakan agama atau tidak. Tergantung pada persepsi pembaca sekalian.

Ekspres                    : Di mana saudara mempelajari agama Islam?
Kipandjikusmin          : Saya mempelajari Islam ketika saya di SMP Kanisius. Meskipun sekolah Katolik di sana diajarkan juga Islam, tapi sebagai pengetahuan. Jadi versi Katolik. Yang mengajarkan kalau saya tidak salah ingat Bruder Aristides.

Ekspres                    : Setelah saudara tinggalkan sekolah Kristen, apakah pelajaran agama Islam juga saudara perdalam?
Kipandjikusmin          : Ya, saya membaca buku-buku ajaran Islam. Saya mempelajari tafsir Qur’an Mahmud Junus, singkatnya zelf-studie.

Ekspres                    : Kapan saudara merancangkan menulis “Langit Makin Mendung”?
Kipandjukusmin         : Di tahun 1965 saya bikin oret-oretan “Langit Makin Mendung”. Waktu itu sebelum Gestapu. Saya melihat dengan jijik segolongan umat Islam yang ikut-ikutan dalam gembar-gembor Nasakom. Ganyang ini, itu, tanpa pikir-pikir apakah agama mereka membenarkan apa tidak. Belum kelar naskah itu, meletuslah Gestapu. Naskah saya simpan.

Ekspres                    : Ketika naskah itu kemudian saudara tulis, dan saudara kirimkan ke Sastra, apa sebenarnya ide saudara? Maksud saudara?
Kipandjikusmin          : Idenya mungkin agak naif. Saya waktu itu geli melihat golongan yang dulunya itu menyokong PKI. Setelah PKI terganyang membalik ikut menyerang PKI. Dengan tulisan saya itu, saya mau bilang bahwa umat Islam ikut bersalah juga dengan meletusnya Gestapu!

Ekspres                    : Apakah untuk mengatakan itu harus memakai tokoh Nabi Muhammad, malaikat, bahkan Tuhan Allah?
Kipandjikusmin          : Memang kesalahan yang kemudian saya akui benar-benar adalah pada pemersonifikasian. Saya sesungguhnya bisa memakai tokoh manusia saja, tidak perlu seperti Tuhan, nabi, saya bawa-bawa di sini.

Ekspres                    : Saudara sekarang beragama Islam?
Kipandjikusmin          : Ya. Tapi…tapi tidak resmi. Katakanlah Islam tingkat kalimat syahadat. Saya tidak sembahyang. Mau coba-coba sembahyang belum bisa meresapi doa-doanya. Buat apa kita menipu diri sendiri. Itu kan hipokrit.

Ekspres                    : Kalau saudara merasa diri saudara Islam, apa perlunya saudara meminta maaf pada umat Islam, seperti pernyataan saudara yang dimuat di Harian KAMI 21 Oktober 1967?
Kipandjikusmin          : Saya tidka bilang itu saja. Saya bilang, kalau tulisan “Langit Makin Mendung” dianggap menghina umat Islam, maka tulisan itu saya cabut dan dengan ini saya minta maaf.

Ekspres                    : Apakah saudara tahu sebelumnya bahwa tulisan itu akan menimbulkan heboh?
Kipandjikusmin          : Tidak. Saya pikir malah akan menjadi karya yang disokong umat Islam.

Ekspres                    : Saudara tidak berasa berdosa dengan menuliskan pengibaratan tentang Tuhan, nabi, dan malaikat seperti yang banyak terdapat pada karya itu?
Kipandjikusmin          : Tidak.

Ekspres                    : Kenapa?
Kipandjikusmin          : Karena saya yakin pada maksud saya sendiri. Saya yakin Tuhan tidak tersinggung dengan tulisan saya itu.

Ekspres                    : Bagaimana saudara tahu?
Kipandjikusmin          : Saya balikkan pertanyaan itu, bagaimana orang tahu bahwa Tuhan tersinggung? Tapi soalnya bukan itu. Saya yakin Tuhan tidak tersinggung karena batin saya. Seseorang bagaimanapun juga, punya perasaan dekat pada Tuhan.

Ekspres                    : Bagaimana kesan saudara terhadap golongan Islam yang tersinggung?
Kipandjikusmin          : Kekanak-kanakan. Cengeng. Walaupun tersinggung itu boleh, tapi sebenarnya tidak perlu teriak-teriak, pakai pamflet, demonstrasi, mengancam Jassin, bertele-tele. Langsung ke Jaksa.

Ekspres                    : Kalau saudara begitu yakin bahwa saudara benar dan bermaksud baik, kenapa saudara tidak tampil ke pengadilan? Kenapa saudara membuarkan HB Jassin?
Kipandjikusmin          : Saya bersedia tampil waktu itu. Tapi karena Pak Jassin sudah mengatasi sendiri masalah tersebut, saya merasa tidak pantas melangkahi orang tua.

Ekspres                    : Apa saudara takut?
Kipandjikusmin          : Sama sekali tidak. Bahkan tidak benar dugaan bahwa saya panik. Malah ketika sedang heboh-hebohnya, saya memutuskan untuk kawin. Di saat ramai-ramai perkawinan, istri saya dengan gelisah menyatakannya kekhawatirannya.

Ekspres                    : Pernahkan saudara mendengar pernyataan bahwa HB Jassin selaku terdakwa dikatakan akan membawa Kipandjikusmin ke pengadilan?
Kipandjikusmin          : Tidak.

Ekspres                    : Kalau saudara yakin bahwa karangan itu tidak akan membikin heboh, kenapa saudara pakai nama samaran?
Kipandjikusmin          : Dari sebelumnya saya sudah menggunakan nama samaran itu. “Kusmin” nama ayah saya waktu kecil, “Pandji” nama kakek saya dari ibu, keturunan Pakubuwono XVII dari selir. Dulu kan gusti-gusti itu sering membuntingi orang hingga banyak anak-anak lahir dari situ. Nah, kakek saya salah satu di antaranya, namanya Pandji. Penganut Kejawen. Sedang “Ki” cuma pemanis. Saya cuma buat gagah-gagahan saja pakai nama samaran Kipandjikusmin, bukan maksudnya kibarkan panji-panji komunisme seperti yang dituduhkan. Pada waktu saya mengirimkan karangan saya yang kemudian dimuat, berjudul “Bintang Maut”, saya sudah pakai nama itu.

Ekspres                    : Apa yang menyebabkan saudara begitu yakin bahwa itu tidak akan ada reaksi?
Kipandjikusmin          : Soalnya waktu itu waktu bebas-bebasnya. Kutuk sana, kutuk sini. Caci sana, caci sini.

Ekspres                    : Saudara mengira bebas juga untuk ikut-ikutan?
Kipandjikusmin          : Tidak. Saya bukan ikut-ikutan. Saya melihat bahwa sudah ada kebebasan untuk secara terang-terangan mengkritik golongan yang menyangka dirinya paling Orba. Belakangan saya baru tahu bahwa bebas yang ada cuma untuk mengkritik Orla.

Ekspres                    : Apa saudara bermaksud mengkritik Islam? Maksud saya, agama Islam?
Kipandjikusmin          : Agama tidak bisa dikritik.

Ekspres                    : Maksud saudara?
Kipandjikusmin          : Lho, mengkritik sih boleh saja. Tapi soalnya keimanan, keyakinan. Dikritik bagaimanapun kalau sudah yakin mau apa? Seperti orang Islam sering bilang Kristus tidak disalib, tapi diganti sama Judas Iskariot, orang Kristen tetap bialng disalib. Tidak. Disalib. Nah, apa salahnya kita biarkan orang itu yakin begitu. Jadi agama tidak bisa dikritik.

Ekspres                    : Jadi apa yang mau saudara kritik?
Kipandjikusmin          : Keislaman. Cara orang-orang itu menganut Islam.

Ekspres                    : Apakah untuk mengkritik keislaman seseorang, kita mesti pakai cerita seperti “Langit Makin Mendung”?
Kipandjikusmin          : Tidak mesti. Saya cuma kepingin menghubungkannya dengan zaman dulu. Di zaman jahiliyah Tuhan mengutus Muhammad. Orang di sana menyambut dengan tahi. Dikutuk. Orang bikin sambutan kotor pada sang Nabi. Bahkan berzina di muka Nabi. Kenapa kita tidak boleh membayangkan Nabi kembali ke bumi untuk menyaksikan berulangnya kembali zaman jahiliyah, seperti yang saya lukiskan di Senen dalam “Langit Makin Mendung” itu. Islam diturunkan tidak di tempat yang bagus dan bersih saja menurut saya. Demikian kenyataannya. Islam juga ada di tempat yang kotor. Harus ada di sana, seperti Nabi dulu menyebarkannya di antara umatnya.

Ekspres                    : Tapi apakah perlu kemudian dengan membawa-bawa Tuhan sehingga Tuhan saudara lukiskan memakai kacamata emas segala?
Kipandjikusmin          : Itu kias. Orang sekarang tidak mengerti mencari kiasan di balik tulisan. Saya mau mencoba mengatakan bahwa Tuhan Maha Tahu. Dan karena emas logam yang tergolong paling mulia, maka kacamata yang demikian cuma dipakai Tuhan. Itu satu kiasan.

Ekspres                    : Saudara masih mungkin menulis karangan seperti “Langit Makin Mendung” lagi apa tidak?
Kipandjikusmin          : Masih. Saya akan menulis lagi seperti itu tapi dalam versi lain. Versi Kristen. Tentang Yesus, Maria, dan lain-lainnya. Saya jadi kepingin tahu apakah umat Kristen akan memberikan reaksi begitu picik atau tidak?

Ekspres                    : Beberapa seniman bikin statement mau menggantikan HB Jassin ke penjara. Bagaimana sikap saudara?
Kipandjikusmin          : Itu tidak mungkin. Tidak realistis. Belum pernah terjadi, orang yang mau dihukum dapat digantikan hukumannya. Saya teringat peristiwa seperti ketika Mochtar Lubis ditahan dulu. Banyak yang bilang mau gantikan dia. Tapi buktinya toh tidak bisa. Saya mau kalau Pak Jassin yang membawa saya ke pengadilan, saya bersedia diadili.

Ekspres                    : Tentu Pak Jassin tidak akan berbuat demikian. Kenapa tidak saudara sendiri yang ke sana?
Kipandjikusmin          : Kok seperti dalam film koboi saja. Yang tidak membunuh sedang diadili, pembunuhnya tiba-tiba muncul waktu sidang berjalan. Itu tidak lazim di zaman modern seperti sekarang. Saya bersedia kalau melewati prosedur. Pengadilan memanggil saya dengan surat tertulis, saya datang.

Ekspres                    : Saudara ikut ormas apa?
Kipandjikusmin          : Saya tidak ikut apa-apa.

Ekspres                    : Apa sebabnya saudara tidak ikut?
Kipandjikusmin          : Hampir semuanya saya kurang cocok.

Ekspres                    : Mana yang agak berkenan di hari saudara?
Kipandjikusmin          : HMI. Saya ihat yang satu ini cukup progresif. Lebih-lebih sekarang, saya tertarik pada tulisan Nurcholis Madjid.

Ekspres                    : Saudara banyak baca rupanya.
Kipandjikusmin          : Ah, belakangan ini saya sering merantau. Jadi jarang ketemu surat kabar.


Riwajat Hidup Kipandjikusmin Menurut Orangnja Sendiri

Dari nama aslinya, ia kadang-kadang disebut Tono. Ia menggemari wayang dan mengidentifikasikan dirinya dengan tokoh Adipati Karno dalam kisah Mahabharata. “Nasibnya mirip dengan nasib saya,” katanya. Sebagaimana Adipati Karno terpisah dari ibunya Dewi Kunti, Tono pun demikian. Ketika ayahnya menikah lagi dalam pengungsian tahun 1945 di Malang. Waktu itu perang masih berkobar. Tentara Inggris memukul mundur Angkatan Laut RI sampai ke Lawang, Jawa Timur, dan sang ayah termasuk dalam pasukan yang mundur itu.

Demikianlah Tono, sejak umur 5 tahun ikut ibu tirinya. Sebagai anak yang dilahirkan dalam keluarga Islam, ia kikuk berkumpul dengan ibu tirinya yang beragama Protestan, yang mengirimkannya ke sekolah Kristen di Malang, di mana ia dibaptiskan sesuai dengan kelaziman.

Ketika ia berumur 10 tahun, yakni tahun 1950, ia ketinggalan jauh dari saudara-saudaranya. Ia sering tak naik kelas. Tingkah lakunya, menurut pengakuannya sendiri, terlalu nakal. Ibu tirinya kemudian mengirimnya ke Yogya. Ia hidup dalam asrama. Di situlah, di sebuah desa tandus berhimpit dengan sungai yang terletak di sebelah paling barat luar Kota Yogya, anak nakal yang berwajah kebocah-bocahan itu dibuang seperti Raden Surjaputra.

Asrama itu adalah sebuah internat yang ketat, di Kulon Progo, bernama Boro, milik Katolik. Pastur Harsosusanto dan Bruder Themoteus di sini mengambil alih tugas orang tua Tono, selama 3 tahun. Suatu hari ia dipanggil pastur.

“Dulu Tono Protestan?”
“Ya, Romo,” dijawabnya.
“Sekarang Tono akan dibaptis sebagai Katolik.”

Tidak tahu apa yang mesti dikatakan, Tono menerima. Dan sejak itu sampai tahun 1956 ia memeluk agama Katolik. Pastur Harsosusanto, sehabis perayaan naik kelas mengantar Tono ke Salatiga untuk melanjutkan pelajarannya di sana.

“Seperti sudah merupakan peraturan, anak-anak dari Bruderan Boro mesti meneruskan ke Kanisius Salatiga.”

Lulus SMP Kanisius Salatiga di tahun 1956, Tono pergi ke Semarang. Pengalaman berpisah dengan orang tuanya sejak kecil membikinnya cukup berani untuk mengambil keputusan sendiri.

Di Semarang ia masuk SMA Masehi, milik Protestan. Tapi ia masih tetap Katolik. Beberapa bulan kemudian, ayahnya yang telah berada di Jakarta menikah lagi.

“Ibu tiri saya meninggal seselesainya revolusi.”

Upacara pernikahan ayahnya secara Islam, menarik hatinya. Penghulu yang datang dan doa-doa yang dibaca dalam pernikahan itu menimbulkan simpatinya kepada Islam. Sejak itu, Tono memutuskan untuk masuk Islam. Gagal menyelesaikan sekolahnya di SMA Masehi di Semarang, ia pindah ke Akademi Pelajaran Nasional. Setelah itu, selama 6 tahun ia menjalani wajib dinas di Jakarta. Perkenalannya dengan laut menumbuhkan intanya yang luar biasa pada laut. []

Sumber: Ekspres, 14 Juni 1970 halaman 22-24.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here