Virus Kaum Hippies

0
144
Kaum Hippies berkerumun di sebuah taman di Amsterdam, Belanda. Foto: Gahetna.nl

Demonstrasi antiperang marak di Amerika Serikat medio 1960-an. Kaum muda turun ke jalan, memprotes invasi Amerika Serikat ke Vietnam. Simbol mereka adalah bunga sehingga kerap disebut sebagai generasi bunga (flower generation).

Mereka kemudian memimpikan sebuah tatanan kebudayaan baru, yang disebut hippies. Ciri-ciri mereka berambut gondrong, berpakaian urakan, hidup nomaden, kerap melakukan seks bebas, dan menggunakan obat bius. Pandangan kebebasan yang mereka impikan seolah ingin meruntuhkan tembok mapan peradaban Barat yang dianggap munafik.

Menurut W.J. Rorabaugh dalam American Hippies, tahun 1967 menandai puncak gerakan hippie. Saat itu terjadi sebuah fenomena sosial The Summer of Love, di mana ribuan hippies, mayoritas remaja putus sekolah, menyemut di Haight Ashbury, San Fransisco, Amerika Serikat. Di sana mereka berkumpul untuk mendengarkan musik, berhubungan seks, dan menggunakan narkotik.

Festival musik akbar Woodstock di Middlefield, Connecticut, Amerika Serikat, pada 1969 menjadi puncak perayaan budaya kaum hippies.

Budaya hippies lalu mengular ke sejumlah negara, termasuk Indonesia. Anak-anak muda, yang mengalami depolitisasi sejak awal Orde Baru, menyerap mentah-mentah budaya hippies kendati hanya kulitnya.

Menurut Ekspres, 7 Juni 1971, mulanya anak-anak muda di negeri ini meniru hanya sebatas mode. Lama-lama mereka menyaplok habis budaya dan kehidupan hippies, seperti rambut gondrong, dandanan eksentrik, suka pesta, dansa telanjang, dan seks bebas. Yang paling membuat keadaan menggawat adalah penggunaan narkotika, ganja, dan morfin.

Kota besar di Indonesia yang paling cepat menyerap gaya hippies adalah Bandung. Japi Tambajong dalam Ensiklopedi Musik menulis, di sana gadis-gadis sekolah ikut-ikutan melakukan seks bebas namun ujung-ujungnya menjadi pelacur-pelacur tanggung. Sebutan populer bagi mereka adalah gongli, singkatan dari bagong lieur, bahasa Sunda babi hutan yang pening.

Pengaruh hippies pun menular ke dunia musik tanah air. Bandung pula yang berada di barisan terdepan.

Dalam buku otobiografinya, Living in Harmony, Fariz RM menyebut The Prophecy yang anggotanya campuran multibangsa sebagai grup musik hippies asal Bandung. Grup musik ini hanya berdiri selama setahun, 1973-1974. Sementara Japi Tambajong menyebut Flower Power sebagai propagandis hippies pada awal 1970-an. Semangat Flower Power bahkan sempat membuat resah orang-orang tua.

“Bandung di kalangan anak muda waktu itu tidak lagi disebut Parijs van Java, tapi San Fransisco of Java,” tulis Japi.

Di Jakarta, kaum muda berharap bisa menikmati konser ala Woodstock. Keinginan itu terpenuhi melalui konser musik besar bertajuk Summer 28 –akronim dari Suasana Menjelang Kemerdekaan ke-28– yang digelar di Ragunan, Pasar Minggu, pada 16 Agustus 1973. Konser ini rencananya berlangsung selama 12 jam, dari pukul 17.00 hingga 05.00, dan menampilkan sekira 20 grup band dari berbagai genre dan subgenre musik, dari Koes Plus hingga God Bless.

Dalam artikel berjudul “40 Tahun Summer’28”, pengamat musik Denny Sakrie menyebut Summer’28 sebagai pesta euforia kebebasan bermusik anak muda Indonesia yang sebelumnya dibelenggu aturan-aturan pemerintah.

“Inspirasi dari gerakan generasi bunga Summer of Love kemudian dicampurbaurkan dengan semangat kebebasan dalam bermain musik,” tulis Sakrie.

Sayangnya, konser harus berakhir lebih cepat. Sekira pukul tiga dini hari terjadi kerusuhan. Konon, karena band rock AKA dari Surabaya batal tampil.

Pemerintah pun resah dengan pengaruh hippies pada generasi muda, menganggapnya sebagai ancaman bagi keamanan dan ketertiban. Beberapa upaya pun dilakukan, salah satunya melalui aturan dilarang gondrong.

Bali diserbu hippies

Bali kerap disebut sebagai sorga terakhir di bumi. Di sana Anda bisa mereguk kedamaian, kebebasan, dan cinta. Hal itu pula yang mendorong kaum hippies dari Amerika, Eropa, dan Australia menyerbu Bali.

Para hippies itu mengarus ke Bali sejak 1969. Sejak itu, kawasan Pantai Kuta yang tadinya sepi berubah jadi ramai. Orang berjemur di sepanjang pantai tanpa sehelai benang alias bugil.

“Akibatnya, kawasan ini pun ‘dijajakan ke investor’ untuk dijadikan kawasan wisata pantai. Wisata kaum hippies,” tulis Putu Sastra Wingarta dalam Bali-ajeg.

Bali kemudian menjadi destinasi wisata unggulan. Jumlah wisatawan meningkat.

Pemerintah, yang tengah mengenjot sektor pariwisata, tentu senang melihat peningkatan jumlah wisatawan ke Bali. Namun, pemerintah juga kuatir terhadap dampak buruk dari kedatangan para hippies, yang mengganggu turis asing betulan dan meresahkan masyarakat.

Ekspres edisi 25 Januari 1971 menulis, para hippies perempuan kerap membuat masalah. Mereka, bila memerlukan uang, dengan gampangnya meminta ditiduri siapapun, demi mengisi kocek. Kaum hippies juga dianggap membawa penyakit kelamin.

Pemerintah pantas cemas. Terlebih, saat itu, pemerintah sedang gencar-gencarnya menata anak-anak muda untuk berpenampilan baik, tidak gondrong dan tidak mengikuti gaya hidup yang kebarat-baratan.

Pemerintah daerah di Bali akhirnya ambil tindakan, mengeluarkan kebijakan mengusir hippies pada 1971.

Kantor Dirjen Imigrasi di Jakarta jadi sibuk. Mereka kelimpungan mengurus laporan dan pemulangan para kaum hippies dari Bali.

“Selain uang yang mereka bawa sedikit, sehingga tidak bisa membeli apa-apa di sini. Kadang-kadang mereka menjual tiketnya sehingga menyulitkan pemerintah yang harus mengurus pemulangannya,” kata Soebyakto, kepala Humas Dirjen Imigrasi, kepada Ekspres edisi 25 Februari 1972.

Alih-alih pulang kampung, bule-bule asing tak bermodal itu hijrah ke Jawa.

Pemerintah pusat pun meradang. Pada Agustus 1971 keluar instruksi bersama antara Menteri Luar Negeri, Menteri Dalam Negeri, Menteri Perhubungan/Ketua Sektor Laut Pariwisata, dan Kepala Kepolisian RI. Isinya, menolak masuknya dan keberadaan orang-orang yang disebut hippies ke dalam wilayah Indonesia.

Di dalam instruksi bersama dinyatakan, yang disebut hippies adalah laki-laki atau perempuan yang berpakaian dan berdandan tak teratur dan tak sopan, kebiasaan hidup tak teratur, mengganggu perasaan susila, tak mempunyai penginapan yang pasti, serta mempergunakan dan membawa obat bius.

Setelah itu, keluar instruksi kawat dari Dirjen Imigrasi kepada perwakilan-perwakilan mereka di dalam dan luar negeri untuk tak memperpanjang visa yang sudah diberikan, serta tak mengeluarkan visa baru kepada terduga kaum hippies yang mau masuk ke Indonesia.

Namun, bila hanya dilihat dari ciri berpakaian, pemerintah mengalami kesulitan untuk mengenali mana kaum hippies asing atau yang betulan turis. Sebelum masuk ke Indonesia, mereka terkadang berpakaian rapi dan di pasport tertulis sebagai mahasiswa.

“Tetapi setelah masuk ke Indonesia, ternyata mereka melakukan kegiatan seperti yang dilakukan hippies pada umumnya,” kata Soebyakto.

Pihak imigrasi pernah teledor. Suatu hari, mereka menindak orang asing berambut gondrong di dekat lapangan Monas, Jakarta, mencabut pasportnya, dan memerintahkannya menghadap ke kantor imigrasi.

“Yang disangka hippies itu, sebenarnya adalah seorang ahli musik dari Amerika,” kata Soebyakto, geleng-geleng kepala.

Namun, dengan segala kebijakan pemerintah tadi, kaum hippies asing perlahan bisa ditangkal dan dideportasi.

Tulisan ini dimuat pertama kali di Historia.id, 28 dan 29 April 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here