Tragedi Bunuh Diri Bintang Film Marlia Hardi

0
4440

Senin pagi, 18 Juni 1984 tak ada yang janggal bagi Suwarno Utomo—sopir bintang film dan sandiwara televisi Marlia Hardi. Saat itu, ia disuruh Marlia ke Jalan Maluku, Jakarta Pusat untuk mengambil uang. Sekembalinya ke rumah Marlia di Jalan Setiabudi, Jakarta Selatan, pada pukul 09.00 WIB, ia mendapati pekarangan yang sepi. Di atas meja ditemukan tujuh pucuk surat perpisahan.

Suwarno terkejut bukan main ketika menemukan Marlia tak bernyawa, tergantung di tali plastik berwarna hijau. Majikannya itu mengenakan mengenakan rok berwarna hitam, blues bermotif bunga warna cokelat, rambut tergulung rapi.

“Wajahnya menghadap ke arah potret dirinya yang tersenyum, dengan latar belakang payung kerajaan,” tulis Tempo edisi 23 Juni 1984.

Tempo edisi 30 Juni 1984 menulis, dua jam sebelum Suwarno berangkat, seorang tukang becak bernama Amadi masih melihat aktris itu menyiram bunga di pekarangan rumahnya. Lantas, bercakap-cakap sebentar dengan tetangga.

Sukses dengan Peran Ibu

Marlia Hardi adalah aktris kelahiran Magelang, Jawa Tengah, 10 Maret 1927 yang sukses memerankan karakter ibu yang bijaksana di film dan sandiwara. Karakter itu melekat hingga ia wafat.

Dalam artikel “In Memoriam Bu Mar, Hilangnya Seorang Ibu” di Monitor Radio-Televisi edisi 16-31 Juli 1984 disebut, Marlia memulai kariernya sebagai seorang pemain sandiwara, yang mementaskan “Pelangi Hijrah” bersama Pak Kasur.

Ia mengenyam pendidikan di HIS di Magelang. Lalu, masuk sekolah rumah tangga, juga di Magelang. Pada 1945, ia dijodohkan orang tuanya dengan seorang bernama Hardjo Samidi atau disingkat Hardi. Abhal dalam Film Varia edisi 2 April 1955 menulis, suaminya merupakan seorang pegawai di jawatan sensor film.

Sewaktu revolusi kemerdekaan (1945-1949), Marlia dan suaminya hidup sangat menderita. Suatu ketika, suaminya ditangkap dan ditawan tentara Belanda. Dengan kondisi ini, Marlia harus menghidupi diri dengan berjualan garam dan barang keperluan sehari-hari lainnya.

Setelah suaminya dibebaskan pada Desember 1949, mereka kemudian hijrah dari Magelang ke Jakarta. Ia mulai terjun ke film sebagai figuran dalam Untuk Sang Merah Putih (1950). Di film itu, ia masih bermain sebagai seorang gadis.

Lalu, Marlia bermain dalam film Selamat Berdjuang Masku (1951), Pelarian dari Pagar Besi (1951), Ditepinja Bengawan Solo (1951), Gadis Olah Raga (1951), Kenangan Masa (1951), dan Si Pintjang (1951).

“Ia sukses memerankan nenek si Pincang dalam film anak-anak karya Kotot Sukardi Si Pintjang, padahal usianya baru 24 tahun,” tulis Sinematek Indonesia dalam Apa Siapa Orang Film Indonesia 1926-1978 (1979).

Marlia Hardi sebagai seorang nenek dalam film Si Pintjang (1951)./Foto YouTube.

Abhal menulis, sejak itu ia konsisten menjadi seorang pemain watak. Bahkan, Marlia pernah menolak tawaran bermain di film aksi, yang mengharuskannya beradegan main anggar. Alasannya, ia tak mau reputasinya yang sudah mulai naik akan turun kembali.

Dalam film-filmnya, Marlia selalu diberi peran seorang ibu yang kerap sedih dengan situasi. Akting seperti ini membutuhkan keahlian, terutama dalam adegan menangis. Marlia mengaku, bakat menangisnya ini ada secara alami.

“Saya tidak tahu mengapa saya cepat sekali mengeluarkan air mata. Kalau di dalam draaiboek sudah tertulis bahwa saya harus menangis, kalau sutradara mengatakan opname, hati saya telah mulai berasa sedih dan air mata tak akan tertahan lagi. Tetapi mungkin juga hal ini disebabkan karena saya dulu telah banyak sekali mengalami penderitaan sehingga di dalam film saya tidak merasa janggal lagi,” kata Marlia dalam tulisan Abhal di Film Varia, April 1955.

Karena saking menghayati akting, Marlia pernah menangis sungguh-sungguh hingga kejang-kejang di film Ayati dan ketika bermain di sandiwara “Perantaian” di Gedung Kesenian Jakarta. Ayati adalah film produksi Budhaya Film Coy, sebuah perusahaan film yang didirikannya bersama suaminya, Hardi.

Selain itu, menurut buku Apa Siapa Orang Film Indonesia, 1926-1978, film Yang Palsu (1955) juga diproduksi Budhaya Film. Sutradara film ini adalah Hasan Basry RM.

Marlia bukan aktris yang mengecap pendidikan akting formal. Bakatnya hadir natural. Resepnya, ia kerap meleburkan diri ke dalam peran-perannya.

Seorang penulis artikel berinisial A.H di Film Varia edisi Februari 1955 menganggap, selain Fifi Young, Marlia sebagai yang terbaik memerankan karakter ibu di setiap film, selain Fifi Young. Ia menggarisbawahi dua film yang terbaik diperankan Marlia, yakni Si Pintjang dan Pulang.

“Di dalam kedua film ini, Marlia benar-benar dapat membawakan peranan bukan saja sebagai seorang ibu, tetapi juga dapat sebagai nenek, meski orangnya masih muda sekali,” tulis A.H di Film Varia, Februari 1955.

“Kalau mungkin—barangkali sudah hampir—kita ingin juga menamakan dia seorang pemain watak yang besar di Indonesia.”

Menurut A.H, jika melihat Marlia bermain, para penonton tidak menyangka Marlia yang masih muda, karena demikian pandainya, bisa membawa gerak-gerik seorang perempuan tua. A.H memuji, Marlia bermain baik di film Pulang. Ia bisa memainkan adegan menangis dengan baik.

“Sehingga bila dia menangis, rasanya orang akan turut pula menangis,” tulis A.H. “Dua orang tokoh inilah, Fifi Young maupun Marlia yang di masa ini merupakan pemain pembawa peranan ibu yang terbaik di Indonesia.”

Kekonsistenan dan bakatnya berakting ini mengantarnya meraih beberapa penghargaan. Pada 1967 ia terpilih sebagai aktris pendukung terbaik dalam Pekan Apresiasi Film Nasional 1967 lewat film Petir Sepandjang Malam (1967). Pada 1981, ia diganjar Piala Citra dalam Festival Film Indonesia, kategori pemeran utama wanita lewat film Busana dalam Mimpi. Sepanjang kariernya di layar lebar, ia bermain sebanyak 78 judul film hingga 1983.

Terlilit Utang

Karier yang mentereng di dunia film tak diimbangi dengan kehidupan rumah tangganya. Marlia mengakhiri biduk rumah tangganya bersama Hardi pada 1956. Meski begitu, ia tetap menyematkan nama Hardi di belakang namanya. Nama itu sudah kadung tenar sebagai nama panggung.

Lalu, pada 1958 ia menikah kembali dengan Zaenal Arifin. Pernikahannya hanya berlangsung hingga 1964. Tempo edisi 30 Juni 1984 menulis, Zaenal tak setuju Marlia main film. Ia lalu meninggalkan Marlia tanpa surat talak ke Jepang untuk menikah lagi, dan bermukim di sana.

Pada 1973, sandiwara televisi berjudul Keluarga Baru ditayangkan untuk mengisi acara anak-anak setingkat SD dan SMP. Ternyata, sandiwara yang dipimpin Marlia ini bisa memikat hati penonton segala lapisan. Sandiwara televisi itu berlanjut dengan Keluarga Marlia Hardi.

“Berkat kerja keras Marlia, grup ini menghasilkan reportoar sampai 200 judul, di samping pengakuan pihak TVRI yang menempatkan sebagai sandiwara standar, semacam tolok ukur untuk semua drama lain yang dimunculkan televisi,” tulis Tempo, 30 Juni 1984.

Citra Marlia di drama televisi itu adalah perempuan budiman yang kerap “menuntun” tokoh-tokoh di dalamnya.

Marlia Hardi dan suami pertamanya, Hardi./Foto Film Varia, April 1955.

Kepada Tempo, tetangganya, Masmirah berkisah. Malam sebelum ditemukan gantung diri esok harinya, Marlia kelihatan gelisah. Menurut Masmirah, Marlia kalut karena menerima berbagai ancaman melalui telepon dan surat kaleng.

Isi surat kaleng itu, ancaman akan melaporkan Marlia ke polisi. Ancaman itu menghantui Marlia. Jelas ia bintang tenar, yang nama baiknya akan rusak bila berurusan dengan pihak berwajib.

“Nama baik saya tidak bisa ditukar cuma dengan Rp15 juta,” kata Marlia kepada Masmirah.

Perkaranya, ia terlilit utang. Jumlahnya sangat besar. Pangkalnya arisan call yang disalurkan Marlia lewat dua kelimpok Keluarga Marlia Hardi dan Mekar Sari. Seluruh anggotanya berjumlah 135 orang. Mulanya, arisan berjalan lancar. Namun, lama kelamaan banyak anggota menunggak setoran yang jumlahnya Rp10.000 dan Rp100.000. Imbasnya, ia terpaksa pinjam uang ke sana-ke mari.

Arisan call berbeda dengan arisan biasa. Dalam arisan call, pemenangnya adalah orang yang melakukan penawaran tertinggi terhadap nilai uang arisan. Ada bandar yang punya tanggung jawab untuk mengumpulkan uang arisan dari seluruh anggota. Bandar tersebut siap nombok kalau ada anggota yang tak menyetor uang arisan. Nah, Marlia bertindak sebagai bandar itu.

Kegiatan arisan seperti ini, ternyata bukan sesuatu yang anyar bagi Marlia. Pada 1973, menurut rekan seprofesinya di film Sofia WD kepada Tempo, gara-gara arisan Marlia sakit dan dirawat di rumah sakit. Rumahnya pun kena sita. Rumah yang dihuni saat ini, kata Sofia WD, sudah terjual tapi boleh ditinggali hingga 1986.

Dalam surat terakhirnya kepada Ketua Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) Ratno Timoer, ia menyebut bunuh diri adalah jalan yang terbaik. Di surat tersebut, Marlia mengaku terlibat utang banyak sekali, termasuk uang arisan yang seharusnya sudah selesai, namun malah terpakai oleh Marlia.

Tampaknya, ketika menulis naskah drama “Surat Kaleng”, Marlia seakan sedang mengirim pesan kepada publik bahwa ia butuh pertolongan. Ia tengah terpuruk dan terjerembap dalam masalah yang tak bisa diselesaikan.

Drama “Surat Kaleng” rencananya akan disiarkan TVRI pada 8 Juli 1984. Judulnya, bisa diduga, terinspirasi dari banyaknya surat kaleng ancaman kepada dirinya. Surat tak jelas yang menghantuinya sebelum menjemput ajal.

“Surat Kaleng digambarkan bagaimana tokoh Bu Karsi mendapat surat kaleng yang berisi tuduhan. Tampaknya, Bu Mar lah sesungguhnya yang menokohkan dan menerima surat itu,” tulis majalah Monitor Radio-Televisi edisi 16-31 Juli 1984 dalam artikel “Potret Kematian”.

Selain itu, ia menulis sandiwara berjudul “Terlibat Riba”. Sandiwara ini menggambarkan kehidupan orang-orang yang menjadi korban mereka yang berduit. Drama itu ditayangkan TVRI pada Maret 1984. Ada penggalan dialog, yang dikutip Monitor Radio-Televisi, yang mengena kepada nasib Marlia menjelang ajalnya.

“Yah jalan satu-satunya mohonlah pitulung Tuhan dengan ketekunan bersembahyang setiap malam. Tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya. Dan hendaknya semua ini diambil untuk pelajaran dalam mengarungi hidup ini, Bu,” kata Marlia dalam salah satu adegan di sandiwara televisi “Terlibat Riba” [].

Daftar Referensi
Buku

Sinematek Indoneisa. 1979. Apa Siapa Orang Film Indonesia 1926-1978. Jakarta: Yayasan Artis Film dan Sinematek Indonesia.

Artikel
Abhal. 1955. “Marlia Hardy” dalam Film Varia, Nomor 4 Tahun ke-2, April 1955.
A.H. 1955. “Tokoh-tokoh Ibu dalam Film Indonesia” dalam Film Varia, Nomor 2 Tahun ke-2, Februari 1955.
“Tragedi Ibu Budiman” dalam Tempo, 30 Juni 1984.
“Meninggal Dunia Ibu Mar, Bukan Sandiwara” dalam Tempo, 23 Juni 1984.
“In Memoriam Bu Mar, Hilangnya Seorang Ibu” dalam Monitor Radio-Televisi, Nomor 95, 16-31 Juli 1984.
“Potret Kematian” dalam Monitor Radio-Televisi, Nomor 95, 16-31 Juli 1984.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here