Tan Tjeng Bok dan 100 Istri

0
129
Tan Tjeng Bok berakting bersama Sulastri, Dhiana, dan Tina Melinda di dalam film Rela (Film Varia Nomor 4 April 1955 hal 38)
Tan Tjeng Bok berakting bersama Sulastri, Dhiana, dan Tina Melinda di dalam film Rela/Film Varia Nomor 4 April 1955.

Ada yang kenal nama Tan Tjeng Bok? “Orang itu benar-benar gokil,” Fandy Hutari, lulusan Jurusan Sejarah Universitas Padjadjaran dan penulis buku Para Penghibur, menggambarkan sosok Tan Tjeng Bok. Fandy sudah menulis sejumlah buku soal sejarah dunia hiburan di negeri ini dan sekarang sedang mengumpulkan bahan untuk menulis kisah hidup Tan Tjeng Bok.

Ya, gokil alias gila barangkali satu kata yang bisa mewakili perjalanan hidup Tan Tjeng Bok. Berdasarkan pengakuannya kepada sejumlah wartawan, Tjeng Bok pernah punya lebih dari 100 istri. Benar, 100, bukan sepuluh atau empat istri. “Dia pernah bilang 101 istri, tapi juga pernah mengaku punya 182 istri,” kata Fandy. Tapi, menurut Fandy, pada separuh hidup terakhirnya, Tan Tjeng Bok hanya punya satu istri, yakni Sarmini dari Bojonegoro, Jawa Timur. “Tan Tjeng Bok mengawini Sarmini untuk membayar utang kepada bapaknya.”

Sejak masih kecil, ia dipanggil dengan sebutan Item oleh orang-orang. Ia lahir di daerah Jembatan Lima, kini masuk wilayah Jakarta Barat, pada 30 April 1899. Ayahnya seorang keturunan Tionghoa. Ibunya, Darsih, orang Betawi. Hasilnya adalah Tan Tjeng Bok, yang punya kulit lebih gelap dari teman-temannya sesama keturunan Tionghoa.

Saat usianya 8 tahun, Tjeng Bok pindah ke Bandung. Dia bersekolah di Hollandsch-Chineesche School. Dia hanya bertahan dua tahun di sekolah itu dan pindah ke Tiong Hoa Hwee Koan. Tapi dasar tak suka berlama-lama di sekolah, dia suka ngeluyur untuk menonton pertunjukan musik keroncong.

“Di sekolah saya paling gemar menyanyi, di luar sekolah saya sangat menggemari keroncong,” kata Tjeng Bok kepada majalah Star Weekly. Gara-gara keroncong, dia sering kabur dari kelas. “Saya hanya bersekolah tiga hari dalam seminggu.” Ayahnya terang berang tak kepalang mendengar kelakuan Tjeng Bok.

Tjeng Bok memang punya bakat jadi penyanyi. Suaranya lantang dan gayanya menawan. Namanya sebagai penyanyi keroncong lumayan kondang di Kota Kembang. Saat umurnya menginjak 14 tahun, Fandy menulis di Para Penghibur, Tjeng Bok bergabung dengan grup sandiwara India Ratu pimpinan W.P. de Geer, seorang keturunan Belanda-Afrika. Tapi di India Ratu, Tjeng Bok hanya mendapat peran sebagai tukang tarik layar. Sesekali dia juga merangkap menjadi pelayan bagi para pemain India Ratu.

Kendati kariernya bersama Dardanella relatif singkat, kelompok sandiwara inilah yang mengorbitkan nama Tan Tjeng Bok di atas panggung pertunjukan. Bahkan dia menjadi salah satu pemain sandiwara yang menerima honor paling besar kala itu. Tjeng Bok, yang semula hanya pemuda rudin, menjadi bintang yang kaya raya. Dia bisa membeli mobil, sepeda motor, dan hidup mewah. Ia seperti magnet yang menarik mata perempuan-perempuan muda.”

Kepada Junus Jahja, penulis buku Peranakan Idealis: Dari Lie Eng Hok sampai TeguhKarya, Tjeng Bok mengakui peran A. Piedro, pendiri dan manajer Dardanella. “Karena dialah saya bisa bermain anggar, lalu sukses dalam karier saya sampai digelari Douglas Fairbanks van Java,” kata Tjeng Bok. Douglas Fairbanks adalah aktor Hollywood yang berjaya pada 1910-an hingga 1920-an. Permainan anggar Tan Tjeng Bok melawan Astaman merupakan salah satu adegan yang ditunggu-tunggu oleh penonton Dardanella. Bisa bernyanyi, bisa melucu, dan bisa main anggar membuat dia punya penggemar tersendiri.

Ketika industri film mulai menggeliat, Tjeng Bok juga ikut main film. Di film pertamanya, Srigala Item, yang diproduksi pada 1941, Tjeng Bok beradu akting dengan Hadidjah dan Moh Mochtar. Meski sudah malang melintang di atas panggung, Tjeng Bok tetap saja grogi berakting di muka kamera. Sekali gugup, seterusnya dia makin jago berakting. Hingga menjelang akhir usianya, kata Fandy, Tan Tjeng Bok masih terus bermain film.

Tapi masa-masa dia kaya raya itu sudah lama sekali berlalu. Hidupnya memang sangat boros. Belum lagi istrinya yang ada di mana-mana. Pada saat dia meninggal pada 15 Februari 1985, bisa dibilang Tjeng Bok hidup miskin. Rumahnya di daerah Bandengan, Jakarta, bisa dia beli setelah mendapatkan hadiah dari Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin pada 1970-an.

* * *

Dalam biografinya, Dewi Dja menggambarkan bagaimana karisma Tan Tjeng Bok di atas panggung. “Ia seperti magnet yang menarik mata perempuan-perempuan muda,” kata Dja. “Lebih-lebih ketika ia menyanyi dengan suaranya yang menerawang, memikat hati para perempuan dan membuat mereka tergila-gila.”

Pada masa jayanya, gaya Tan Tjeng Bok selalu perlente, dengan baju dari kain yang mahal. Jam tangan yang harganya juga sama mahalnya melingkar di tangannya. Mobil mewahnya selalu licin dan kinclong. Bukan hanya pakaian dan tongkrongannya yang gaya, Tjeng Bok pun acap kali menghabiskan duitnya di restoran-restoran mahal. Tak aneh jika perempuan-perempuan muda selalu merubungnya dan menghujaninya dengan rupa-rupa hadiah.

Tak tua, tak muda, sudah bersuami, atau masih lajang selalu diladeni oleh Tjeng Bok. Padahal dia sendiri juga bukan bujangan. Ketika bergabung dengan Dardanella, Tjeng Bok sudah punya seorang istri dan seorang anak. Tapi status tak jadi penghalang bagi Tjeng Bok. Dia memang sulit terpuaskan oleh satu perempuan di sampingnya.

Ivera Klimanov, ibu Piedro, pun dia ladeni. Padahal Ivera terang jauh lebih tua dari dia. Setelah hubungan gelapnya dengan Ivera terbongkar, dengan enteng saja Tjeng Bok menceraikan dua istrinya. Kendati tak suka dengan perkawinan ibunya dengan Tjeng Bok, Piedro tak bisa berbuat apa-apa. “Aku sudah melarangnya, tapi dia memaksa. Terserah!” kata Piedro dengan jengkel.

Sama pula dengan nasib hubungan Tjeng Bok dengan perempuan-perempuan lain, hubungannya dengan Ivera hanya berumur pendek. “Saya sudah tidak tahan,” ujar Tjeng Bok kepada Dewi Dja. Dia mengutarakan niatnya pergi dari Dardanella dan meninggalkan Ivera. Fandy Hutari menduga perkawinan Tjeng Bok dengan para perempuan itu tak beda dengan “kawin kontrak”. Tak ada surat-surat, tak ada segala macam upacara pernikahan.

Walaupun hidupnya tampak kacau, ada sisi patriotik pada Tan Tjeng Bok. Saat tinggal di Bojonegoro, menurut Fandy, Tjeng Bok pernah menggelar pertunjukan sandiwara untuk menggalang dana bagi perjuangan Indonesia. Fandy menduga kebencian Tjeng Bok kepada Belanda bersumber dari pengalaman buruknya saat masih remaja. “Dia pernah dipukul oleh seorang Belanda,” kata Fandy.

 

Tulisan ini merupakan wawancara saya dengan Detik.com untuk rubrik detikX edisi 21 Juli 2017.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here