Susah Tjari Aktris Indonesia, Meski tak Kurang Wanita Tjantik

Tulisan Usmar Ismail tentang sulitnya mencari aktris film perempuan.

0
184

Oleh: Usmar Ismail

Soal mentjari pemain film wanita ini telah menimbulkan banjak pusing kepala. Biasanja dari ratusan lamaran jang diterima oleh bagian casting, jang datang dari golongan hawa, tidak akan melebihi djumlah sepuluh. Dan dari djumlah jang sepuluh itu si regiseur sudah dapat mengutjapkan sjukur alhamdulillah, djika ada satu jang dapat dibawa kedepan kamera.

Waktu saja beberapa bulan jang lalu pergi location ke Minangkabau, di Bukittinggi seorang gadis menanjakan kepada saja apakah untuk mendjadi pemain film itu diperlukan muka jang tjantik serta paras jang elok. Djawab saja: si penonton emoh membajar kartjis tiga perak setengah untuk melihat dilajar putih perempuan jang djelek rupanja. Memang sudah mendjadi sifat segala tontonan bahwa jang harus mendjadi tarikannja ialah segala jang indah dan permai jang ada padanja. Dalam perkara ini pun kita dapat berdebat pandjang lebar tentang apa jang indah dan apa jang djelek. Tetapi dalam persoalan pemain wanita untuk film ini, biarlah kita bitjarakan sadja dengan kedua belah kaki diatas tanah. Djika kita toh hendak menghindarkan omong perkara ketjantikan, sedikit2nja sejarat bagi seorang wanita untuk mendjadi leading lady ialah keharusan adanja beberapa sifat jang menarik, serta keseluruhan jang lumajan. Sifat2 jang menarik itu mungkin ada pada bentuk tubuh jang menggiurkan, mungkin pada mata jang bundar tjemerlang atau pada senjuman jang melemahkan sendi2 tulang, tetapi mungkin djuga pada keseluruhan personality jang memaksa orang terpesona.

Tragiknja bagi seorang regiseur jang agak tjintjong di Indonesia ialah: untuk mentjari pemain wanita sadja sudah mesti singsang-singut, apa lagi kalau ada pula jang mau ini dan mau itu, tambah berabe djadinja.

Telah sama kita ketahui bahwa pendapat umum di Indonesia terhadap anak wajang dari dulu sampai sekarang tidak banjak berubah. Kebanjakan orang suka menonton, tetapi akan djungkir-balik djika anak-bini atau kemenakan sampai djadi tontonan.

Tambah lagi, kelakuan seabgian ketjil anak wajang jang tidak selalu mendapat persetudjuan opini ramai, didjadikan pedoman untuk mengukur semua dengan satu neratja. Pada hakekatnja, seperti djuga halnja di Hollywood orang2 film sungguh tidak lebih bedjat moralnja dari orang2 lain. Soalnja ialah karena anak2 film hidupnja dari ditonton orang, maka kehidupannja pun ibarat didalam kamar katja.

Di Indonesia ada lagi perkara jang berat. Pegangan kepada adat-istiadat meskipun tjuma pro-forma masih kuat. Tambah lagi, mendjadi tontonan itu oleh setengah pihak masih dianggap haram.

Djika dibandingkan dengan negara2 lain, maka perbedaannja adalah seperti bumi dan langit.

Waktu saja dalam udjian penghabisan pada University of California diharuskan membuat satu thesis film, kebetulan saja mengambil sebuah atjara jang memerlukan beberapa pemain perempuan.

Jang harus saja perbuat tjuma menempelkan setjarik kertas diatas papan pengumuman bahwa Mr. Ismail akan mengadakan test bagi pemain2 wanita disound-stage pada tanggal sekian djam sekian, untuk thesis filmnja. Dan supaja jang mempunjai minat hadir pada tempat dan waktu jang ditentukan.

Pertjaja atau tidak, saja sendiri mendjadi terkedjut harus berhadapan dengan gadis2 djelita begitu banjak dengan sekaligus.

Bitjara antara kita sama kita belum pernah saja selama djalan didunia ini mendapat kehormatan untuk djadi rebutan begitu banjak wanita.

Dengan dongeng ini saja tjuma hendak membuktikan bahwa di Amerika Serikat untuk mendjadi bintang film itu adalah idaman satu dari tiap tiga orang gadis remadja. Apalagi di Hollywood, praktis semua wanita jang saja djumpai ingin mendjadi bintang film! Diakuinja dengan terus terang atau tidak. Dan tidak akan ada kesempatan jang disia-siakan mereka untuk dapat memperkenalkan diri dilajar putih. Dapat saja dongengkan tjeritanja si Fay jang membelandjakan semua uang simpanannja untuk membeajai suatu operasi plastis supaja hidungnja agak lebih lurus sedikit, kisahnja si Sandra jang saban sore duduk di Schwabb’s Drugstore tempat berkumpul para bintang, tjuma dengan satu harapan, mungkin akan terlihat oleh seorang talent-scout. Tentu sadja bagi kebanjakan para gadis ini jang mendjadi tudjuan terachir ialah kegemilangan dan kemewahan hidup seorang bintang, meskipun ada djuga diantara mereka jang bertjita-tjita kesenian.

Tidak perlulah melihat djauh2. Di Manila sadja berkeliaran gadis2 jang datang dari segala pelosok negara untuk mengadu untung dalam dunia film. Sukses tidak mudah diperdapat dengan konkurensi jang begitu banjak dan tidaklah djarang carriere harus dibajar dengan kehormatan diri sendiri. Tidak djanggal kedengarannja, djika seorang producer atau regiseur jang didatangi oleh seorang pemain wanita baru berkata: Kau ingin djadi bintang? Baiklah, bagaimana kalau kita mulai dulu dengan ambil hawa sedikit nanti malam?

Sjukurlah, di Indonesia tidak kedengaran ada regiseur atau producer hidung belang demikian. Djika ada, maka lapangan operasinja tentulah diluar dunia film. Dan djika toh ada sekali2 kedengaran desas-desus ini-itu, maka jang demikian itu dapatlah dianggap sebagai keketjualian jang membenarkan dalil diatas.

Bukannja hendak mendjadi pokrol, tetapi dibandingkan dengan keadaan dinegara2 lain, maka anak2 wajang INdonesia adalah santri2. Saja kira tidaklah ada alasan bagi sang ibu-bapa-paman untuk terlalu gentar melepaskan putri2nja mendjadi pemain film karena sudah terang mereka tidak akan lebih didalam keadaan bahaja dari disuruh pergi masuk SMA malam.

Selama lima tahun bersusah-pajah mentjari pemain2 wanita dengan bersuluh terang, memberikan kepada saja satu peladjaran bahwa dalam pikiran pemudi2 kita telah terdapat kemadjuan terhadap perkembangan seni film sendiri. Jang masih berkarat pikirannja adalah para orang tua para paman dan bibi, para suami dan tunangan. Bahwa dalam hal ini orang2 film sendiri ada kesalahan atau karena tingkah-lagak-laku mereka ataupun karena tjorak-tingkat-nilai hasil usaha, memang tak dapat dimungkiri.

Meskipun bagaimana, apa jang pernah dikatakan orang2 luar negeri bahwa film2 Indonesia tidak menarik bagi mereka, selain karena nilainja memang kurang, tetapi djuga karena bintang2nja tak ada jang tjantik, hanjalah dapat dibantah dan dibuktikan kepalsuannja dengan pengertian dan tindakan beramai2 kearah menegakkan tradisi baru: bahwa bermain didepan kamera itu adalah suatu pekerdjaan jang tidak kurang agungnja dari duduk dibelakang medja tulis atau berdiri didepan kelas.

Djika keadaan tidak berubah dengan segera, maka mungkin akan berwudjud djuga apa jang dipikirkan oleh beberapa orang producer untuk mengimport sadja ke Indonesia gadis-gadis Filipina (jang memang menundjukkan minat jang besar) dan memberikan mereka latihan bahasa Indonesia jang intensief. Andai kata hal ini kedjadian maka masih akan ada satu pertanjaan besar: siapa jang sudah berchianat sebenarnja? (Suara Merdeka)

Sumber: Star News No. 18 TH. II, 25 Februari 1954.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here