Semarak Konser Musik Rock di Indonesia

0
66
Serupa Summer 28, konser musik di Medan pada 1975 berakhir dengan kericuhan. (Sonata, No. 43, Juni 1975).

Konser musik di alam terbuka sering digelar di berbagai kota. Salah satunya RockAdventure 2018 yang digelar di sejumlah kota dan akan berakhir 5 Mei ini. Pada 1970-an, konser musik serupa tak kalah semarak. Yang tak bisa dilupakan adalah Summer 28.

Puluhan ribu orang menyemut di sebuah lapangan luas pusat pembuatan film, semacam laboratorium film, di bilangan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Saat ini tempatnya persis di pertigaan lampu merah, Pasar Minggu, sebelum pusat perbelanjaan Pejaten Village. Mereka berjingkrak, mengikuti irama lagu yang sedang dimainkan grup musik di atas panggung.

Summer 28 ―akronim Suasana Menjelang Kemerdekaan RI ke-28― digelar pada 16 hingga 17 Agustus 1973. Pengamat musik Bens Leo mengatakan, Summer 28 merupakan konser musik di alam terbuka pertama di Indonesia. Selain itu, ia merupakan konser musik pop dan rock pertama berskala internasional.

“Buat Indonesia, ini pesta musik internasional pertama. Setahu saya yang ikut (selain Indonesia) ada negara tetangga terdekat, seperti Singapura, mungkin juga Malaysia,” kata Bens Leo kepada Historia.id.

Pengamat musik Denny Sakrie dalam tulisan di laman pribadinya berjudul “40 Tahun Summer’28” menyebut, Summer 28 melibatkan 20 grup band yang punya nama dan kualitas mumpuni dari berbagai genre dan subgenre musik. Sebut saja Koes Plus, God Bless, Idris Sardi & The Pro’s, Young Gipsy, hingga Broery Marantika. Flybaits, band asal Singapura, ikut memeriahkan acara itu.

Summer 28, lanjut Sakrie, bisa dianggap etalase perjalanan musik Indonesia.

Dari puluhan kelompok musik yang hadir, The Rollies asal Bandung mendapat apresiasi besar penonton. Bens menuturkan, pertunjukan band yang dikomandoi Bangun Sugito alias Gito Rollies itu sangat atraktif. Mereka memadukan gamelan bersama instrumen musik modern.

“Ini buat pertama kalinya musisi Indonesia memadukan gamelan dengan instrumen musik modern gitar, bas, keyboards, drum, alat musik tiup di atas panggung. Waktu itu, The Rollies membawakan lagu ‘Manuk Dadali’,” ujar Bens.

Pendana Tionghoa

Tak bisa dipungkiri Summer 28 terpengaruh gelaran Woodstock Festival di Amerika Serikat pada 1969. Festival musik akbar itu merupakan puncak perayaan budaya kaum hippies yang menjangkiti kaum muda. Tak heran pula jika Summer 28 disebut sebagai Woodstock-nya Indonesia.

Bens Leo mengatakan, pendana acara itu adalah Njoo Han Siang. “Saat itu di Indonesia tidak ada yang namanya sponsorship, yang punya duit saja yang bisa ambil bagian sebagai penyelenggara,” kata Bens Leo.

Menurut buku Njoo Han Siang: Pertemuan Dua Arus yang ditulis tim lembaga Centre for Strategic and International Studies, Njoo Han Siang merupakan salah seorang pendiri Bank Umum Nasional, bank nasional pertama di Indonesia. Dia juga pemilik PT Inter Pratama Studio Laboratorium, studio film berwarna pertama di Indonesia. Summer 28 diadakan di lapangan Inter Pratama Studio milik Han Siang.

Njoo Han Siang tak sendirian. Denny Sakrie menyebut Summer 28 juga digagas sutradara film Wim Umboh dan A. Soegianto dari PT Intercine Studio. Ide ini muncul setelah ketiganya melakukan perjalanan ke luar negeri, di antaranya ke Amerika Serikat.

Summer 28 dihadiri sekitar 100 ribu penonton —menurut Prisma volume 7-11 tahun 1991, jumlah penonton hanya 20.000. Sayangnya, konser yang rencananya berakhir pada 17 Agustus 1973 pukul 04.00, harus dihentikan pukul 02.00, karena terjadi kekacauan.

Menurut Muhammad Mulyadi dalam bukunya Industri Musik Indonesia, kerusuhan terjadi akibat panitia tak menepati janji untuk menggelar konser hingga pukul 06.00. Panitia juga dituding ingkar karena tak menampilkan grup band rock AKA dari Surabaya dengan pentolannya Ucok Harahap dan Terncem dari Solo.

Karena kecewa, penonton melemparkan botol-botol minuman dan benda-benda lain ke atas panggung. Sepuluh menit kemudian, pihak keamanan memukul mundur penonton menjauhi panggung.

Mundurnya penonton malah berakibat lebih luas. Mereka merusak lapak penjual makanan, spanduk iklan, dan empat mobil.

Bens mengatakan, keributan semacam itu merupakan hal yang biasa, karena saat itu belum terbentuk standar pengamanan berlapis dari petugas keamanan.

“Setelah Summer 28, polisi baru mulai melakukan standar pengamanan pertunjukan seni, terutama musik, karena sifatnya massal dengan penonton heterogen kesukaan musiknya,” ujar Bens.

Batu-Batu Bicara

Usai Summer 28, konser musik serupa diadakan di beberapa kota besar di Indonesia, seperti Medan, Bandung, dan Surabaya.

Di Surabaya, konser musik yang berlangsung pada September 1973 berakhir dengan keributan. Penonton mengamuk setelah tahu grup musik AKA tak bisa tampil, karena tak dapat izin kepolisian setempat. Massa makin beringas karena band Terncem, yang juga menjadi favorit anak muda Surabaya, tak bisa datang lantaran kesulitan transportasi.

“Batu-batu mulai berbicara dan makian dilontarkan ke arah panitia. Penonton tak ingin pulang, sebelum batu-batu melayang,” tulis majalah Sonata, Oktober 1973.

Di Medan, konser musik rock bertajuk Pesta Musik Udara Terbuka Aktuil yang digelar pada 11 Mei 1975 juga berakhir dengan kericuhan. Semula, band yang direncanakan hadir ada 12, berasal dari Banda Aceh, Padang, dan Penang (Malaysia). Tapi, niat penyelenggara tak terlaksana. Konser ini hanya menampilkan tujuh band, di antaranya Destroyer, Brigif 7, Electone, Maranti Sisters, dan The Rhythm King’s.

Aparat yang berjaga hanya berjumlah 20 orang, tak sebanding dengan jumlah penonton yang mencapai 1.000 orang. Penonton berusaha mendekati panggung. Aparat kewalahan.

“Acara pukul-memukul ini mendapat sambutan berupa lemparan sandal dan batu, yang menyebabkan beberapa orang harus masuk rumah sakit,” tulis majalah Midi edisi 30 Mei 1975.

Di Medan, menurut majalah Midi, konser memang punya masalah pengamanan. Saat itu aparat keamanan tersedot ke pertandingan gokart yang berlangsung di hari yang sama. Mustahil panitia mengerahkan angkatan bersenjata, karena akan berakibat lebih fatal.

Kericuhan juga terjadi di helatan konser musik rock Pesta Musik Kemarau pada 1975 di Lapangan Gasibu, Bandung. Konser musik ini digagas majalah Aktuil, menghadirkan band rock papan atas seperti God Bless, Brotherhood, Blod Stone, Rhapsodia, Giant Step, Lizard, Rawa Rontek, dan Voodoo Child.

Kini, penyelenggara konser musik di alam terbuka lebih profesional. Pengamanan sudah terorganisir dengan baik.

Tulisan ini pertama kali terbit di Historia.id, 3 Mei 2018.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here