Semakin Banyak Penulis Baru, Semakin Seru

0
45

Barangkali rada aneh, aku jadi cukup akrab dengan Fandy Hutari setelah kematian bang Mula Harahap. Bang Mula adalah senior kami di dunia perbukuan. Ternyata kami sama-sama pernah bersinggungan dengan bang Mula dan itu merupakan pengalaman mengesankan. Ketika baca Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal, aku makin salut pada anak muda ini. Setelah itu beberapa kali kami ngobrol di Kineruku, waktu aku sedang kerja atau dia sedang baca-baca cari rujukan.

Berikut wawancara dengan beliau.

* Bagaimana kamu menjalani karir sebagai penulis selama ini?

Menjalaninya sekarang, mengalir saja. Kalau dulu dalam bayangan saya jadi penulis itu dapat uang banyak, populer, dan lain-lain, sekarang saya tidak pernah merasakan itu. Bagi saya sekarang, uang itu bonus. Layaknya profesi lain, ada suka dan ada pula “kepedihan”. Sukanya, ketika orang mengapresiasi tulisan kita, dengan mengirimkan komentar, walaupun hanya komentar pendek di jejaring sosial atau email. Bertemu dengan orang-orang baru, entah itu sesama penulis atau pembaca tulisan saya. Itu menyenangkan. Dukanya, mungkin saat apa yang kita kerjakan tidak sebanding dengan hasil yang kita peroleh. Misalnya, ketika kerjaan menulis kita, order untuk seseorang, lembaga, atau penerbit, dibayar murah, honor ditahan, atau bahkan tidak dibayar. Tapi, menulis itu proses. Pahit dan manis itu pengalaman. Let it flowSlow done but sure

* Apa kamu cukup puas dengan pencapaian kamu sebagai penulis?

Belum. Saya dulu menargetkan dalam setahun terbit satu buku. Dari buku pertama saya, yang terbit pada 2009, saya memang konsisten menerbitkan satu buku satu tahun secara beruntun: Sandiwara dan Perang (2009), Ingatan Dodol (2010), Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal (2011), dan Manusia dalam Gelas Plastik (2012). Tapi, saya merasakan stuck akhir-akhir ini, dan entah apa saya bisa konsisten dengan terbit buku setiap tahun. Buat saya, tak ada kata puas di dunia ini. Hajar saja selama bisa dihajar.

* Ceritakan kenapa kamu memilih berkarir sebagai penulis.

Terjebak. Hehehe. Enggak juga sih. Dari kecil saya suka berimajinasi. Dulu, waktu SD saya senang menggambar. Semasa kuliah, saya pernah diangkat menjadi koordinator media organisasi Front Mahasiswa Nasional kampus Universias Padjadjaran. Saya, dibantu beberapa kawan, saat itu membuat sebuah buletin kecil, Nah, di buletin itu ada artikel saya yang pertama saya publikasikan. Buletin itu sendiri saya jual 700 rupiah. Semasa kuliah juga saya banyak mencoba menulis artikel soal keadaan sosial, politik, pendidikan, dan lain-lain, entah file-filenya sekarang di mana. Terjun bebas ke dunia menulis yang sesungguhnya baru saya awali ketika lulus dari bangku kuliah. Jujur saja, waktu itu, saya bingung mencari pekerjaan, karena memang ijazah jurusan saya di kampus kurang menjual bagi perusahaan. Lalu, saya yang sudah terbiasa dicekoki buku-buku, membuat makalah, dan skripsi semasa kuliah, mencoba menuangkan apa yang saya tahu dalam bentuk artikel. Saya sempat kaget juga artikel pertama yang saya kirimkan ke Kompas Jawa Barat di tahun 2008 itu dimuat . Dari sana, saya mencoba terus menulis. Menulis bagi saya sudah seperti candu. Kalau tidak menulis, saya merasa pusing, entah kenapa. Dari artikel pertama itu, saya terus mencoba berkarier dalam dunia tulis-menulis. Saya membuat artikel, saya kirim ke koran, majalah, ataupun media online. Dari honor-honornya, hasilnya lumayan. Cukup untuk jajan.:D Timbul keyakinan kalau menulis bisa menghidupi saya, walaupun setelah itu anggapan tersebut mungkin sedikit luntur.

* Apa pengalaman terburuk kamu jadi penulis? Apa kamu melakukan usaha khusus untuk mengatasinya? 

Pengalaman terburuk saya adalah ketika buku saya hanya mendapatkan royalti sedikit. Padahal, saya yakin yang membutuhkan buku saya itu banyak. Saya sendiri sering menerima email, message di Facebook, dan lain-lain. Mereka menanyakan buku saya dan ada pula yang memberi tanggapan. Mungkin, kalau dari pihak penerbit mendukung promosi untuk buku itu, hasilnya tidak sedemikian buruk. Untuk hal ini, saya berusaha jalan sendiri untuk mempromosikan buku saya. Contohnya, saya tawarkan untuk dibedah di sebuah radio, menulis resensinya di blog, meng-upload di jejaring sosial, dan lain-lain. Tapi, ya responsnya sedikit. Mungkin saja buku-buku saya terlalu kecil peluang pasarnya dan sulit mencarinya, tidak seperti buku-buku pop yang laku bak kacang goreng. Saya juga pernah mendapatkan proyek menulis yang honornya tidak dibayar-bayar. Walaupun akhirnya dibayar satu tahun kemudian, tapi usaha saya menagih honor itu berbuah “putusnya” tali silaturahim sesama teman.

* Kamu fleksibel menulis nonfiksi dan fiksi. Bisa komentar lebih jauh? Apa yang kamu incar dari kedua genre tulisan yang sangat berbeda itu?

Menulis nonfiksi berangkat dari latar belakang pendidikan saya, yaitu sejarah. Tulisan nonfiksi saya berkisar pada sejarah, seni, dan budaya Indonesia. Setiap membedah fenomena saya selalu berangkat dari latar belakang historisnya. Seperti ketika menulis soal kuda tunggang di Bandung yang sempat dimuat di majalah Basis. Menulis nonfiksi, buat saya kepuasan. Saya bisa berbagi ilmu saya, yakni sejarah, kepada pembaca. Dari tulisan nonfiksi, saya berharap bisa menjadi dokumentasi abadi dan referensi pembaca. Fiksi sendiri saya baru fokuskan di tahun 2010. Waktu itu cerpen saya dimuat di salah satu surat kabar nasional, walaupun honornya tak dibayar. Menulis fiksi, awalnya saya mencari semacam kepuasan baru. Saya berpikir, menulis fiksi di Indonesia lebih laku terjual. Selain itu, saya bisa mengisahkan tingkah laku manusia dalam setiap karakter tokoh yang saya buat. Semacam tuhan kecil. Mungkin itu juga bentuk kepuasan. Memang nonfiksi dan fiksi berbeda, tapi dari segi kerangka tulisan itu hampir mirip, kok.

* Apa tantangan terbesar kamu berkarir sebagai penulis?

Tantangan terbesar saya adalah berusaha meyakinkan keluarga saya kalau dengan menulis kita juga bisa kaya, ha ha ha…J Mungkin jawaban idealnya ialah bagaimana membuat tulisan yang laku dijual, dibaca maupun dibicarakan banyak orang, fenomenal, dan abadi dikenang orang, contohnya tetralogi Pramoedya Ananta Toer, yang hingga kini masih dicari orang itu.

* Bisa ceritakan cara kamu menggarap atau menyelesaikan sebuah tulisan, baik pendek ataupun panjang (berupa buku, misalnya)?

Hmmm…sebentar saya menyulut rokok dulu.:D

Cara saya menggarap tulisan ya dengan membaca, mewawancarai narasumber, melihat peristiwanya, atau mengimajinasikannya sendiri. Buku saya Sandiwara dan Perang(2009) dan Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal (2011) itu nonfiksi. Data-datanya saya dapatkan dari hasil membaca, mewawancarai narasumber, atau terjun melihat peristiwanya. Saya ambil contoh artikel soal seni gotong domba di Jatinangor. Artikel ini dipublikasikan Kompas Jawa Barat dan saya masukkan ke dalam Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal. Ketika ingin menulisnya, saya merangkum segala informasinya dari Internet sebagai studi awal. Lalu saya menghubungi seorang kawan yang kebetulan pernah bersinggungan dengan kesenian rakyat ini. Dari dia, saya memperoleh orang-orang yang bersinggungan langsung dengan seni tradisi tadi. Saya lakukan wawancara, membaca, dan melihatnya langsung. Dari sana semua data saya kumpulkan dan saya bahasakan dalam tulisan, runut secara kronologis. Untuk nonfiksi, saya cukup mengambil realitas sekitar lingkungan saya. Misalnya, fenomena sarjana pengangguran. Itu kan banyak ya di negeri kita yang katanya makmur, sejahtera, aman-tenteram bla bla bla ini. Lalu, saya benturkan dengan keadaan beberapa kawan. Saya lihat juga para pekerja “aneh”, misalnya tukang parkir. Saya imajinasikan. Kemudian, saya tuangkan dalam tulisan. Jadilah cerpen “Kepura-puraan”, kisah tentang seorang sarjana cerdas yang akhirnya harus mengadu nasib menjadi seorang tukang parkir di depan sebuah warnet, sementara kawan-kawannya sudah menjadi karyawan kantoran bonafide. Kalau berupa buku, ya tinggal kumpulkan data saja, lalu menulis. Gitu.

* Selain alasan order dan penghasilan, kondisi apa yang bisa membuat kamu langsung tergerak menulis?

Insting dan sifat melankolik saya he he he. Misalnya, kalau saya melihat pengemis yang menggendong seorang anak di lampu merah perempatan jalan, saya langsung ingin menuliskan prototipe pengemis itu ke dalam cerita pendek. Atau, saya terkadang melihat fenomena seni tradisi yang ada di sekitar kita, tapi jarang yang mengangkatnya. Misalnya, kenapa sekarang seni tradisi, semacam ondel-ondel atau kuda lumping berkeliling di pinggiran jalan raya dan mereka seperti terjebak ke dalam lubang “meminta-minta”. Apa tak ada lahan berkreasi? Ya, seperti itulah.

* Apa ada hal baru dan menarik di dunia penulisan maupun penerbitan Indonesia akhir-akhir ini? 

Di dunia penulisan, hadir penulis-penulis yang berasal dari dunia maya. Mereka yang awalnya iseng nge-blog atau berkicau di Twitter, mendadak jadi penulis top. Walaupun akhirnya konsistensi mereka dalam dunia menulis patut dipertanyakan. Sebab, yang seperti itu terkadang musiman. Muncul lalu hilang. Tapi, ya bagus juga. Semakin banyak penulis baru, semakin seru. Setiap orang punya rezeki masing-masing, kok.J

Penerbitan di Indonesia sekarang kecenderungannya semakin marak penerbit indie, atau hadir penerbit kecil yang karyawannya cuma dia seorang (dia ngedit, membuat layout, bikin desain cover, di marketing, dia promosi, segala dia…) dan nongkrong di situs gratis, macam Blogspot atau WordPress. Memang, membuat penerbit itu gampang banget sih, cuma yang saya pertanyakan moralitas ketika sudah menjadi publisher. Tanggung jawab moral itu yang berat. Kita bertanggung jawab pada pembaca dan penulis sekaligus.

Penerbit besar pun sekarang banyak yang menawarkan jasa “indie” atau “print on demand” (POD). Saya bersama beberapa teman juga sedang mengembangkan konsep penerbitan sistem POD ini. Tentu kami menyiapkan konsep tidak asal-asalan, karena kami berpikir soal moralitas sebagai penerbitan tadi. Maraknya penerbit indie, POD, atau penerbit tunggal (penerbit satu orang melakukan banyak hal he he he) di satu sisi memang memudahkan penulis untuk menerbitkan karya mereka, walaupun harus membayar ongkos untuk edit, layout, dan lain-lain. Namun, di sisi lain, ini menjadikan penulis terbiasa “dimanja”. Dengan adanya penerbit-penerbit ini penulis jadi cenderung tidak mau belajar memperbaiki kualitas dan ide tulisannya. Asal dompet tebel, mereka mudah saja terbat-terbit karya, kan?

* Terakhir, apa target tertentu kamu di tahun 2013 ini?

Target saya tahun ini novel saya yang ditolak penerbit-penerbit besar bisa terbit. Sebetulnya novel ini pernah terbit oleh sebuah publishing kecil, tapi lantaran kecewa dengan hasil cetak, sistem royalti, dan pemasarannya, saya tarik lagi. Lalu, saya ingin kembali produktif lagi kayak dulu, menulis artikel, cerpen, buku, dan lain-lain, sewaktu saya bekerja “tanpa kantor”. Bekerja di sebuah perusahaan media atau penerbit besar juga impian saya di tahun ini. Saya juga ingin sekali melanjutkan studi S2 bidang jurnalistik atau cultural studies. Amin.

Tulisan ini merupakan wawancara saya dengan Anwar Holid pada 28 Februari 2013.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here