Riwayat Sandiwara Penggemar Maya

0
165
Sandiwara Penggemar Maya dalam lakon Insan Kamil (Mimbar Indonesia,No.25,18 Juni 1949)
Sandiwara Penggemar Maya dalam lakon Insan Kamil/Mimbar Indonesia,No.25,18 Juni 1949.

Di tengah semaraknya dunia panggung sandiwara dan tekanan sensor yang luar biasa dari pemerintah pendudukan Jepang, muncul satu perkumpulan sandiwara yang diam-diam menyelipkan cita-cita kemerdekaan. Perkumpulan tersebut adalah Sandiwara Penggemar Maya.

Salah satu tokoh sentral yang berdiri di belakang Maya adalah Usmar Ismail. Awalnya ia bekerja di Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Shidosho). Zaman Jepang setiap kegiatan seni memang dikontrol oleh pemerintah. Jepang sendiri menghimpun para seniman Indonesia ke dalam Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Shidosho) yang didirikan pada 1 April 1943. Yang duduk dalam lembaga itu kebanyakan seniman tua, angkatan Pujangga Baru. Namun kantor Keimin Bunka Shidosho seringkali dipakai sebagai tempat diskusi para seniman muda yang baru memulai karirnya. Sering terjadi gesekan pemikiran antara golongan tua dan golongan muda dalam Keimin Bunka Shidosho. Ini karena, golongan muda mendapat pikiran dan dorongan baru baik di lingkungan sastra, musik, seni rupa, dan sandiwara (Sumardjo, 2004: 141-142). Dalam lingkungan sastra tersebut nama sastrawan legendaris, Chairil Anwar, yang sempat bersitegang dengan seniornya, Sutan Takdir Alisyahbana. Selain di bagian sastra, ”gesekan” antara golongan tua dan golongan muda juga terjadi di bagian sandiwara dengan munculnya nama Usmar Ismail yang sempat berbeda pendapat dengan Dr. Roesmali. Pada suatu ketika, Usmar Ismail mementaskan lakon Manusia Baru gubahan Sanusi Pane. Menariknya, Usmar menggunakan spotlight (lampu sorot) yang dipancarkan pada tubuh serta wajah pelaku yang tengah mengucapkan dialog pada pertunjukan ini. Rosihan menulis:

”Sehabis pertunjukan diadakan kesempatan melahirkan kritik oleh para penonton yang diundang menyaksikan ”try out” atau percobaan pementasan tadi. Maka berdirilah Dr. Roesmali yang waktu itu punya reputasi seorang regisseur tonil, a.l. di kalangan para mahasiswa Indonesia di zaman sebelum Perang Dunia ke-II, dan dikritiknya bahwa penggunaan ”spotlight” tadi sama sekali tidak pada tempatnya. Seharusnya seluruh ruangan pentas diliputi oleh cahaya lampu yang sama terangnya. Lalu Usmar Ismail menjawab bahwa penggunaan ”spotlight” dengan sengaja tadi itu adalah sebagai alat pembantu mempertinggi intentitas dan dramatik daripada lakon. Akan tetapi keterangan itu tidak dapat diterima oleh Dr. Roesmali…” (Anwar dalam Budaya Jaya, 1973: 588).

Jika menilik kejadian di atas, jelas bahwa Usmar yang saat itu baru berusia sekitar 21 tahun sudah menunjukkan bakatnya di bidang sandiwara modern. Bisa dikatakan, ia merupakan pelopor penggunaan spotlight dalam pementasan sandiwara. Golongan-golongan muda seperti Chairil dan Usmar ini lah yang kemudian mendobrak ranah-ranah yang telah ada sebelumnya, dan terselip pula keinginan untuk berkarya secara bebas, lepas dari propaganda Jepang.

Menurut keterangan Rosihan, ketika itu Usmar baru menceburkan diri di bidang penulisan lakon dan sekaligus menjadi sutradara pada lakon gubahannya. Awalnya, Usmar melatih diri dengan menulis lakon satu babak yang dimaksudkan untuk sandiwara radio.

Pada akhir 1942, Usmar telah melakukan percobaan dengan sandiwara radio yang dipancarkan Jakarta Hoosoo Kyoku, radio balatentara Jepang di Jakarta (Anwar dalam Budaya Jaya, 1973: 588). Usmar, kata Rosihan, memang telah menaruh minat pada bidang sandiwara sejak mereka bersama-sama sekolah di AMS A Yogyakarta. Rosihan mengenang: ”Tiap tahun sekolah kami menyelenggarakan pertunjukan lakon sandiwara, dan Usmar pernah memerankan dewa Yunani Mercurius di pentas” (Anwar, 1983: 64). Usmar sendiri pernah mengatakan bahwa seorang seniman dalam berkarya tidak bisa dipaksakan menuruti suatu ideologi tertentu, karya-karya seniman harus lahir dari hati nurani seniman sendiri atas dorongan spontanitas dan kejujuran serta mengungkapkan kebenaran-kebenaran yang abadi (Ismail, 1983: 20).

Dari idealisme dan bakatnya itu, Usmar lalu berniat membentuk suatu perkumpulan sandiwara yang lepas dari Keimin Bunka Shidosho. Lalu ia mengajak Rosihan Anwar, temannya semasa sekolah dahulu di AMS A Yogyakarta dan wartawan Asia Raya. Satu-persatu teman-temannya sesama seniman diajak, seperti Cornel Simanjuntak (menjadi penata musik untuk Maya), Hario Singgih, Tjok Sinsu, H.B. Angin, Basuki Resobowo, Suromo, Kartono Yudhokusumo, S. Tutur (para pelukis yang lalu menjadi penata panggung Maya). Selain itu, pemuda-pemuda yang bukan dari kalangan seniman juga bergabung, seperti H.B. Jassin (bekerja untuk Pandji Poestaka), Dr. Ali Akbar (dokter du CBZ, sekarang RSCM), Zainal Abidin (seorang apoteker), Boes Effendi, Hermin, Zuraida Sanawi, Hadjari Singgih, Tienne Mamahit, serta Djuwita (Jassin, 1955: 132; Anwar, 1983).

Atas dukungan kakak Usmar Ismail, Dr. Abu Hanifah alias El Hakim, akhirnya Perkumpulan Sandiwara Penggemar Maya terbentuk pada 27 Mei 1944(Oemarjati, 1971: 38). Menurut H.B. Jassin, Maya sendiri berarti bayangan atau impian, dunia yang dicita-citakan. Isi dari cita-cita tersebut, yaitu kebangsaan, kemanusiaan, dan ketuhanan (Jassin dalam Mimbar Indonesia, 1949: 20). Dengan cita-citanya tersebut, bisa dikatakan Maya merupakan perkumpulan sandiwara yang mempunyai garis perjuangan tegas pada zamannya.

Rosihan Anwar ditunjuk sebagai ketua perkumpulan ini. Kakak Usmar Ismail, Dr. Abu Hanifah, bertindak sebagai penulis lakon. Sementara Usmar sendiri berperan sebagai sutradara, meski tak jarang juga ia kerap menulis lakon. Tujuan mendirikan perkumpulan sandiwara penggemar Maya sendiri cukup ”radikal” pada masa itu. Rosihan menulis bahwa alasan membentuk Maya, yaitu:

“…kami ingin berusaha di luar ruang lingkup Pusat Kebudayaan. Kalau di Keimin Bunka Sidoosho masih ditenggang unsur-unsur Sidookan Jepangnya, maka di dalam Maya seratus persen orang-orang Indonesia bisa berkarya.” (Anwar dalam Budaya Jaya, 1973: 589).

Jelas sekali, pemuda seperti Rosihan, Usmar, dan Abu Hanifah mendirikan Maya karena mereka ingin bebas berkarya. Dan sedikit banyak, lepas dari pengaruh propaganda politik Jepang yang perannya dimainkan oleh lembaga kebudayaan Keimin Bunka Shidosho. Menurut saya, Maya merupakan suatu model perkumpulan sandiwara modern yang revolusioner. Dengan begitu, Maya resmi jadi “musuh” bagi Keimin Bunka Shidosho. Perlawanan Maya terhadap pemerintah fasis Jepang, terselip di setiap lakon yang ia bawakan di atas panggung.

Di Jawa, segera ketika Jepang berkuasa, stasiun pemancar yang ada dikontrol oleh Sendenbu dan dibentuk Djawa Hoso Kanrikyoku (Biro Pengawas Siaran Djawa). Hoso Kanrikyoku ini dipimpin oleh Tomabechi. Hoso Kanrikyoku kemudian membangun cabang-cabang pada kota-kota besar di Jawa yang disebut dengan Hoso Kyoku, seperti di Bandung, Purwokerto, Yogyakarta, Surakarta, Malang, Surabaya, Semarang, termasuk Jakarta. Jakarta Hoso Kyoku (Pemancar Radio Jakarta) dipimpin oleh Shimaura. Pada 7 Maret 1942, Pemancar Radio Jakarta mulai mengudara. Pemancar Radio Jakarta berada pada gelombang 80,30 meter (Proyek Penelitian dan Pengembangan Penerangan Deppen RI dan Fakultas Sastra Unpad, 1978-1979: 59-62).

Di awal karirnya sebagai seorang penulis lakon, Usmar menulis lakon sandiwara radio satu babak yang lalu dipancarkan Hoso Kyoku. Untuk usaha memancarkan sandiwaranya ini, ia dibantu oleh Mr. Utoyo[2] yang bekerja di Hoso Kyoku. Rosihan pun turut sebagai salah seorang pelakunya (Anwar, 1983: 64-65).        

Kegiatan ini berlanjut setelah Usmar dan kawan-kawannya membentuk perkumpulan sandiwara penggemar Maya.            Maya memulai kiprahnya dengan menyuarakan sandiwara radio. Pada 29 Agustus 1944, perkumpulan ini mengadakan siaran pertamanya dengan menyuarakan sandiwara ”Djalan Kembali”. Secara berturut-turut mereka kemudian menyuarakan sandiwara radio, seperti pada 7 Februari 1945 menyuarakan sandiwara ”Ni Ajoe Sitti” atau ”Mereboet Benteng Kroja”[3], pada 9 Maret 1945 menyuarakan sandiwara ”Tempat jang Kosong”, pada 25 Maret 1945 menyuarakan sandiwara ”Poetera Negara” karya Achdiat, pada 4 Mei 1945 menyuarakan sandiwara ”Djibakoe Atjeh”[4] karya Idroes, dan tanggal 15 Juni 1945 menyuarakan sandiwara ”Mutiara Dari Nusa Laut” karya Usmar Ismail (Asia Raya, 6 Februari 2605: 2; Asia Raya, 9 Maret 2605: 2; Asia Raya, 24 Maret 2605: 2; Asia Raya, 2 Mei 2605: 2; Asia Raya, 14 Juni 2605: 2).

Pada Juli 1944, untuk pertamakalinya Maya mengadakan pertunjukan di atas panggung. Pertunjukan ini berlangsung di Gedung Siritu Gekidjo[5] Pasar Baru. Pada pertunjukan pertama ini, Maya mementaskan lakon “Taufan di Atas Asia” gubahan Abu Hanifah atau El Hakim. Dalam lakon yang disutradarai oleh Usmar ini, Rosihan Anwar bertindak sebagai pemeran utama, dia menjadi Dr. Abdul Azaz, Dr. Ali Akbar sebagai K.H. Mualim, Tiene Mamahit sebagai Inderawati, Zuraida Sanawi sebagai Hayati, dan Hermin Sanawi sebagai Lee Moy (Anwar dalam Budaya Jaya, 1973: 589-590).

Sejak malam itu, Maya aktif mengadakan pertunjukan di Jakarta dengan membawakan lakon-lakon karya Usmar Ismail dan Abu Hanifah, seperti ”Intelek Istimewa”, ”Dewi Reni”, dan ”Liburan Seniman”. HB Jassin turut bermain dalam lakon ”Liburan Seniman” tersebut. Selain lakon-lakon karya Abu Hanifah dan Usmar Ismail, Maya juga mementaskan lakon terjemahan penulis Barat, yaitu lakon karya Henrik Ibsen, ”De Kleine Eyolf”. Naskah ini sudah disadur oleh Karim Halim, dan menjadi ”Jeritan Hidup Baru” (Jassin, 1949: 20). Lakon ini sendiri dipentaskan di Jakarta pada Mei 1945 (Anwar, 1983: 72).

Pada 10 Februari 1945 dan 11 Februari 1945, mengadakan pertunjukan dengan lakon ”Intelek Istimewa”, untuk merayakan Hari Kigensetsu di Siritu Gekidjo Pasar Baru, dengan bantuan dari Keimin Bunka Shidosho. Lakon tersebut berisi tentang keruntuhan seseorang jika ia terlalu mementingkan diri sendiri dan membanggakan kebendaan, dibandingkan dengan kepentingan orang banyak (Asia Raya, 2 Februari 2605: 2; Asia Raya, 6 Februari 2605: 2; Asia Raya, 10 Februari 2605: 2; Asia Raya, 20 Februari 2605: 2; Asia Raya, 28 Juni 2605: 2). Yang menarik, selain pertunjukan Maya, ada pertunjukan ”tambahan” seusai pertunjukan Maya, yaitu pertunjukan sandiwara anak-anak dengan lakon ”Semalam di Medan Perang” yang dibawakan oleh anak-anak berusia 12 tahun di bawah asuhan Ibu Soed (Asia Raya, 29 Januari 2605: 2). Melihat dari judul lakonnya, tampak bahwa lakon tersebut juga merupakan lakon propaganda Jepang, dan ini berarti propaganda tidak hanya menyentuh orang dewasa saja, tetapi juga di tujukan bagi anak-anak.

HB Jassin mengatakan bahwa, semakin hari Maya semakin kuat. Sebaliknya, pertemuan-pertemuan angkatan muda sastrawan yang tiap bulan diselenggarakan oleh Keimin Bunka Shidosho terpaksa dihentikam, karena sepi perhatian. Itu karena di dalam Maya, seniman-seniman muda dibebaskan untuk mengembangkan bakatnya. (Jassin, 1949: 20).

Sepak terjang Maya tidak sama sekali lepas dari pengawasan militer Jepang. Pernah beberapa kali perkumpulan ini kesulitan untuk memainkan sebuah lakon. Misalnya saja, saat perkumpulan ini hendak mementaskan lakon karya Henrik Ibsen, yang notabene penulis lakon asal Eropa (baca: musuh Jepang). Lakon ini sempat lama berada di tangan badan sensor naskah Jepang (Hoodooka). Hoodooka keberatan lantaran pengarangnya orang Barat. Setelah naskah itu dikembalikan dan disensor, terdapat catatan: “Perhatikan! Kata-kata papa dalam cerita ini harus diganti dengan bapak atau ayah” (Jassin, 1949: 22). Selain itu, menurut Abu Hanifah atau El Hakim, Maya pernah dibujuk untuk masuk ke dalam Keimin Bunka Shidosho. Jepang merayu dengan janji akan diberikan subsidi, tapi Maya menolak (Hakim dalam Mimbar Indonesia, 1949: 20). Maya melakukan perlawanan dengan menyelipkan cita-cita kebangsaan di setiap lakon yang dimainkan. Namun cita-cita tersebut dibalut secara sangat halus, sehingga tampak seperti puji-pujian untuk Jepang.                        

Pada 6 Agustus 1945, pesawat bomber B-29 Enola Gay yang diawaki oleh Kolonel Paul Tibbets Jr melepaskan satu bom atom “Little Boy” ke kota Hiroshima. Berikutnya, pada 9 Agustus 1945 giliran kota Nagasaki dihantam bom atom “Fat Man” dari pesawat bomber Boeing B-20 Superfortrss Bock’s Car yang dipiloti oleh Mayor Charles Sweeney. Porak-poranda. Jepang hancur dalam sekejap. Atas insiden yang mengerikan tersebut akhirnya Jepang menyerah[6] tanpa syarat kepada Sekutu pada 14 Agustus 1945.

Di Indonesia sendiri terjadi facum of power alias kekosongan kekuasaan. Pejuang kemerdekaan Indonesia akhirnya memanfaatkan kesempatan ini untuk mendeklarasikan kemerdekaan, yang proklamasinya terealisasi pada 17 Agustus 1945. Para seniman sandiwara turut ambil bagian untuk mengabarkan berita kemerdekaan Indonesia ini ke masyarakat. Usmar Ismail dan kawan-kawannya yang kebanyakan mantan pegawai Keimin Bunka Shidosho, seperti Rosihan Anwar, Suryo Sumanto, Hamidy Djamil, dan Djayakusuma, membentuk Seniman Merdeka. Seniman Merdeka merupakan sandiwara keliling. Mereka mempertunjukkan sandiwara dengan menaiki sebuah truk, mendatangi tiap sudut kota Jakarta dan memberikan hiburan kepada rakyat, dengan tujuan utama membakar semangat rakyat untuk melawan tentara penjajah[7] yang berusaha menguasai kembali Indonesia (Anwar dalam Budaya Jaya, 1974: 199).

Anggota Maya sempat berpisah pada masa revolusi fisik. Usmar sendiri pindah ke Yogyakarta, dan ia masuk dinas kemiliteran. Kegiatan Maya berlanjut pada 1949 di Jakarta. Tujuan pertunjukan selain memberi hiburan juga menggelorakan semangat perjuangan rakyat. Saat itu, Jakarta masih diduduki oleh tentara Belanda. Lakon yang akan dipertunjukan adalah “Api” karangan Usmar Ismail sendiri. Pementasannya berlangsung pada Maret 1949 (Anwar, 1974: 200). Setelah itu, Maya kembali mementaskan kembali lakon Insan Kamil pada April 1949. Akhir tahun 1949, aktifitas Maya vakum sama sekali di dunia panggung. Anggota-anggotanya sibuk dengan kegiatan masing-masing. Usmar sendiri mulai memasuki dunia film yang memang menjadi obsesinya sejak dahulu. Pada 1955, Usmar bersama dengan D.Djadjakusuma dan Asrul Sani mendirikan Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) (Sumardjo, 2004: 150). Dengan demikian, bubarlah Perkumpulan Sandiwara Penggemar Maya.

Begitulah reputasi Maya. Ia menjadi model perkumpulan teater modern selanjutnya. Maya telah dipimpin oleh seorang sutradara dalam setiap pementasannya, pemainnya patuh pada lakon, lakonnya mengambil cerita semangat zaman, dan panggungnya telah mengikuti zaman. Ini sangat berbeda dengan model perkumpulan lain yang ada sebelum Maya berdiri. Tidak salah jika Rosihan Anwar menjuluki Maya sebagai Avantgarde-nya teater modern Indonesia.

H.B. Jassin (1955: 77) menyebutkan bahwa:

”….Karangan-karangan sandiwara El Hakim (Dr. Aboe Hanifah): Taoefan di Atas Asia, Intelek Istimewa dan Dewi Reni, adalah pedang-pedang mata dua yang penuh berarti bagi bangsa Indonesia, kalau suka membaca, melihat atau mendengar filsafat yang diuraikan dalamnya dengan mata dan telinga Indonesia” (Jassin, 1955: 77).

Artinya jika pembaca atau penonton paham, lakon-lakon El Hakim justru berisi perlawanan terhadap Jepang dan perjuangan untuk Indonesia merdeka.  Begitupun karya-karya lainnya. Penulis di sini akan membahas beberapa lakon Maya yang sarat akan muatan nasionalisme dan dipentaskan sebagai perlawanan terselubung kepada pemerintah fasis Jepang.

Lakon-lakon Maya intinya selalu menggambarkan cita-cita perjuangan Maya: kebangsaan, kemanusiaan, dan ketuhanan. Karya-karya lakon Abu Hanifah alias El Hakim, seperti ”Taufan di Atas Asia”, ”Intelek Istimewa”, dan ”Dewi Reni”, jika diperhatikan baik-baik, kaya akan muatan nasionalisme. Lakon ”Taufan di Atas Asia” berkisah tentang situasi di Singapura dan Jakarta menjelang Perang Pasifik. Tokoh utamanya seorang Indonesia bernama Abdul Azaz. Dia pebisnis di Singapura. Bersama dua orang temannya asal Cina, Cheong Fung, dan asal India, Sadhar Khan, merbincang soal kedatangan pasukan Jepang ke Singapura. Di Jakarta, K.H.Mualim, Dr. Kamil, Mr. Taha, teman-teman Inderawati (istri Abdul Azaz), dan Mr. Adikusuma yang aktif dalam pergerakan juga membicarakan hal yang sama. Jika ditilik, lakon ini sesungguhnya menganjurkan persatuan dan cita-cita kemerdekaan Indonesia. Perhatikan petikan lakonnya:

  1. Saman: …Dan sudah sepatutnya kaum nasional perlu mengadakan perdekatan kepada kaum Islam, lebih-lebih yang tergabung dalam organisasi. Untung hal inipun sudah diinsyafi, dan nampaknya pendekatan itu mulai nyata. Saya dengar kabar, bahwa sebahagian besar dari golongan nasionalis dari Majelis Rakyat Indonesia hendak meminta pemuka Muhammadiyah jadi pemuka Dewan Majelis Rakyat Indonesia. Apa betul?

Dr. Kamil: Kabar itu belum saya dengar.

Mr. Taha: Saya tahu, bahwa memang ada satu partai besar golongan nasional berniat begitu.

  1. Saman: Kalau begitu, mulailah nampaknya pekerjaan bersama-sama dalam praktik antara kaum nasional dan umat Islam. Memang sudah patut persaudaraan itu dianjur-anjurkan dan dipraktekkan. (Hakim, 1949: 122).

Lakon karya Abu Hanifah yang menyiratkan cita-cita nasionalisme lainnya adalah ”Dewi Reni”. Lakon ini berkisah tentang Dr. Abdullah Hasjim, Mr, Nahar Tohir, Harlono, Adiasmara, dan Ukar Sumodikromo yang jatuh cinta kepada seorang gadis bernama Dewi Reni. Mereka berusaha merebut hati Dewi Reni, namun sesungguhnya Dewi Reni telah menetapkan tambatan hatinya kepada Dr. Abdullah Hasjim. Lakon ini dipentaskan untuk menyambut Janji Koisho[8] September 1944. Lakon ini sempat dicekal Badan Sensor Jepang yang menganggap isi cerita tidak sesuai dengan propaganda Jepang. ”Dewi Reni” sendiri sesungguhnya merupakan perlambang ibu pertiwi. Abu Hanifah lebih berani memuat pesan kemerdekaan Indonesia dalam lakon ini. Lihat saja petikan lakon ini:

Dewi Reni: Esok hari kita rayakan lagi hari Indonesia Merdeka, tapi sebenarnya tiap hari, tiap detik pembaktian adalah perayaan hari Indonesia Merdeka.

Harlono: Terasa betul oleh saya ucapan Dewi Reni itu.

Ukar: Ya, benar. Terasa juga oleh saya, bahwa hal itu tidak salah (Hakim, 1949: 118).

Indonesia di sini disimbolkan sebagai Dewi Reni. Sedangkan para pemuda yang ”mengejar-ngejar” Dewi Reni adalah rakyat Indonesia yang mencintainya. Lakon ”Intelek Istimewa” berkisah tentang manusia dalam beberapa profesi. Tokoh utamanya, Dr. Taha Kamil, seorang kepala rumah sakit Sudiwaras. Ia mempunyai prinsip ”pengetahuan adalah kekuasaan”. Temannya, Dr. Abdul Hak, merupakan pengurus di bidang pertanian dan perikanan, dianggap tidak berguna melecehkan tugas dokter. Dr. Abdul Hak sendiri merupakan personifikasi Abu Hanifah yang tidak melulu mengurusi soal kedokteran, tapi tetap mengurusi bidang lain, seperti sandiwara, sastra, dan pemuda. Abu Hanifah memasukkan pesan agar kaum intelektual harus berperan di segala bidang, karena mereka lah harapan untuk menyongsong zaman kemerdekaan Indonesia.

Usmar Ismail juga rajin membuat lakon yang sesungguhnya menyindir Jepang. Lakon-lakon tersebut adalah ”Mutiara Dari Nusa Laut” dan ”Liburan Seniman”. Lakon ”Mutiara Dari Nusa Laut” berkisah tentang peperangan yang terjadi pada awal abad ke 19, antara Bangsa Belanda dengan Indonesia di Kepulauan Maluku. Naskah sandiwara ini juga termuat dalam majalah Keboedajaan Timoer No.II tahun 1944. Lakon ini tidak dipertunjukkan di panggung, namun disiarkan melalui radio. Lakon ini sendiri bercerita tentang sejarah yang benar-benar terjadi. Jepang menyetujui lakon ini karena memuat kebencian terhadap bangsa Belanda (musuh Jepang). Namun, yang menarik, lakon ini justru merupakan ”pedang bermata dua”. Dalam lakon ini terselip perjuangan melawan penjajah yang digerakkan seorang gadis, yang menjadi pahlawan nasional, Christina Martha Tiahahu. ”Liburan Seniman” berkisah tentang Suromo yang bekerja di perusahaan dagang Hasan Kaisha. Ia bercita-cita menulis naskah sandiwara yang akan dipentaskan bersama teman-temannya. Diceritakan kesulitan mementaskan lakon ”Kebangkitan”. Akhirnya berkat kerja keras, pementasan berjalan sukses. Pesan nasionalismenya terselip dalam dialog yang dikatakan Suromo: ”Asal kita tahu, kita berusaha dengan bersungguh-sungguh. Karena semua tidak lain adalah alat belaka untuk mencapai cita-cita, menuju kemuliaan Nusa dan Bangsa (Ismail, 1958: 166).

Selain Dewi Reni yang sempat dicekal, lakon-lakon Maya yang lainnya lumayan ”aman” dari Badan Sensor Jepang. Mengapa? Karena terselip sejarah dalam cerita-ceritanya. Dan yang terpenting, membayangkan Asia Raya. Oleh karena itu, lakon-lakonnya di golongkan Jepang sebagai naskah sandiwara propaganda. Djajakusuma sendiri mengatakan bahwa, ”Maya tidak pernah memainkan cerita-cerita propaganda, tidak pernah. Tapi dibeberapa ceritanya El Hakim, ya memang sudah membayangkan kebesaran Asia kelak. Ya, ada Asia Timur Raya juga, tapi implisit sampai menyatakan di bawah pimpinan Jepang, itu sama sekali tidak ada.” (Djajakusuma dalam Abdullah dkk, 1993: 285). Karangan El Hakim, yaitu “Taufan di Atas Asia”, “Intelek Istimewa”, dan “Dewi Reni” justru merupakan sebuah sindiran terhadap Jepang, yang berjanji akan membawa keadilan dan kemakmuran di tanah Asia (Jassin dalam Ismail, 1958: 6-7).  

Tulisan ini pertama kali terbit secara berkala di www.indonesiaseni.com, 9 Mei 2010, 19 Mei 2010, dan 5 Juni 2010.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here