Rita Zahara: Kiper yang Jadi Bintang Film

0
357
Rita Zahara berpose untuk sampul majalah Aneka edisi 1 Maret 1959. /Dokumen pribadi.

Jauh sebelum bintang sepak bola perempuan Indonesia Zahra Musdalifah bermain sepak bola, bahkan belum lahir, Rita Zahara sudah lebih dahulu mencicipi kerasnya permainan si kulit bundar.

Rita dilahirkan di Singapura pada 5 Desember 1942. Pada usia satu tahun dibawa ayahnya ke Jawa. Rita, yang akhirnya dikenal publik sebagai bintang film itu, sudah sejak kecil gemar menonton sepak bola di kampung halamannya, Lasem, Jawa Tengah.

Gandhi Kaluku dalam majalah Aneka edisi 1 Maret 1959 bahkan menyebut Rita sebagai pemain sepak bola perempuan pertama di Indonesia. Jatuh hatinya Rita menjadi pemain sepak bola bisa dibilang tak sengaja.

Menurut Gandhi di dalam artikelnya, suatu hari ketika Rita sedang menonton pertandingan, bola disepak keluar lapangan. Lalu, ia refleks menangkap bola yang melintas di atas kepalanya. Dari sana ia tertarik menjadi seorang penjaga gawang alias kiper.

Di usianya yang menginjak remaja, Rita memberanikan diri melamar ke sebuah kesebelasan untuk menjadi penjaga gawang. Klub sepak bola tersebut semuanya laki-laki. Ia kemudian dites dalam sebuah pertandingan kecil.

“Rita menunjukkan bakatnya, tidak kalah dengan seorang kiper pria. Dia dapat memetik bola dengan manis, betapa pun kerasnya tendangan lawannya itu, pada saat memerlukan dia harus menjatuhkan badannya dia tidak segan untuk melakukannya,” tulis Gandhi.

Hebatnya, ia menjadi dominan di klub itu. Kesebelasan pertama dia merumput itu kemudian namanya berubah menjadi Zaharah. Ia pun diangkat menjadi kapten tim. Di usianya yang belasan tahun, Rita melakoni pertandingan di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali.

Yang luar biasa, ia pernah mencoba posisi penyerang tengah saat pertandingan di Pekalongan, Jawa Tengah. Ia bahkan bisa mencetak dua gol, dari enam gol yang dikemas timnya.

Di lapangan ternyata ada saja pria yang melecehkannya. Mereka, menurut pengakuan Rita, kerap mencuri kesempatan sengaja menabrak dirinya, dengan tujuan agar bersentuhan. Akan tetapi, Rita menganggap santai masalah itu.

“Perasaan saya adalah sama dengan perasaan saudara kalau main bola. Gambaran saya semua kawan dan lawan saya dalam lapangan itu adalah seluruhnya wanita,” kata Rita kepada Gandhi.

“Untuk itu saya mengharap supaya mereka juga menganggap saya adalah seorang pria, sehingga pengaruh perbedaan jenis tidak akan menghambat tingginya nilai permainan dan akan menghilangkan artiolahraga yang sebenarnya.”

Tak ada informasi lebih lanjut terkait klub sepak bola Zaharah. Begitu pula informasi apakah karier Rita berlanjut menjadi pemain tim nasional. Mengenai tim nasional sepak bola perempuan Indonesia sendiri, dalam Wikipedia.org, baru terekam pertandingan pertama melawan Taiwan pada Agustus 1977. Saat itu, timnas perempuan kita dibantai 5-0.

Namun, Rita beberapa kali menjadi pemain “cabutan” klub lain. Misalnya, pada 10 Oktober 1959, dikutip dari artikel “Rita Zahara di Pakanbaru” terbit di Aneka edisi 19 November 1959, Rita tampil menjadi pemain cabutan untuk klub Dinas Kesehatan Angkatan Darat (DKAD) di Lapangan Merdeka, Pekanbaru, Riau melawan salah satu kesebelasan anggota Persatuan Sepakbola Pekanbaru dan Sekitarnya (PSPS).

Laga itu merupakan pertandingan pembuka turnamen segi tiga antara Garnizun Pakanbaru, PS Caltex, dan Ikatan Pemuda Pakanbaru, yang diadakan PSPS untuk perpisahan Letnan Kolonel A.K. Koesmo–Ketua Kehormatan PSPS–yang akan bertugas di Jakarta.

Rita sendiri ke Pekanbaru bersama rombongan artis film pimpinan Pld. Pattipeillohy, yang bertugas untuk menghibur anggota Angkatan Perang dan petugas di daerah Riau.

Menurut artikel yang ditulis Djamaloedin Zein tersebut, pertandingan antara DKAD dengan salah satu klub anggota PSPS berlangsung hanya 30 menit. “Pada perempat djam pertama Rita bermain sebagai pendjaga gawang, dimana dia telah dapat menjelamatkan gawangnja XI DKAD dari kebobolan, sehingga mendapat sambutan jang riuh dari para penonton,” tulis Djamaloedin.

Kemudian, seperempat jam terakhir, Rita bermain di posisi sayap kanan. Pertandingan itu berakhir dengan skor kacamata: 0-0.

Ke dunia sandiwara dan film

Persentuhan Rita dengan dunia seni adalah kala ia memimpin sebuah kelompok sandiwara yang diberi nama Persatuan Seni Drama Zahara. Di usianya yang masih 18 tahun, Rita punya cita-cita menjadi bintang film. Seperti dikutip dari wawancaranya dengan Gandhi Kaluku, ia mengaku hanya ingin menjadi anak buah sutradara kenamaan Usmar Ismail.

Rita akhirnya menggapai cita-cita sebagai pemain film pada 1960. Film pertamanya berjudul Gaja Remadja, tetapi sutradaranya bukan Usmar Ismail, melainkan Sho Bung Seng. Cita-cita Rita bermain di film garapan Usmar Ismail baru kesampaian pada 1964. Ketika itu, ia bermain bersama Wahab Abdi, Sukarno M Noor, Mieke Widjaja, dan Marlia Hardi dalam film Anak-anak Revolusi.

Menurut catatan buku Apa Siapa Orang Film Indonesia 1926-1978 (1979), usai bermain di film Gaja Remadja, Rita menghilang dan kembali ke lapangan hijau hingga 1964.

Berdasarkan catatan filmindonesia.or.id, selama hidupnya Rita bermain di 41 judul film. Dari semua film yang pernah ia mainkan, film bergenre aksi paling dominan.  Menurut Aroffie LND dalam artikelnya yang dimuat di Aneka Ria edisi November 1978, Rita menguasai bela diri pencak silat dan karate.

“Selain itu, ia dapat mengkombinasikan keahlian bela dirinya dengan kemampuan aktingnya di film, sehingga melahirkan gambaran yang indah, jika ia sedang menyerang musuh-musuhnya,” tulis Aroffie.

Menurut Aroffie, kemampuan kombinasi akting dan beladirinya bisa dilihat dalam film Pandji Tengkorak (1971). Rita mengakui, dari semua film laga yang dibintanginya, ia paling berkesan saat bermain sebagai Muri di film Pandji Tengkorak. Film terakhir yang ia mainkan juga film laga, yakni Saur Sepuh IV: Titisan Darah Biru (1991).

Kepada Aroffie, Rita mengungkapkan bakat lain dalam kesenian, yakni menciptakan lagu. Tak tanggung-tanggung, lagu ciptaan Rita pernah dinyanyikan musikus terkenal. Misalnya, lagu “Ngelamar” dinyanyikan Benyamin S, “Lagu Gembira” dibawakan Dara Puspita, dan “Medan Bakti” dinyanyikan Rachmat Kartolo.

Pada 1980, Rita menikah dengan aktor Piet Pagau. Sebelumnya, menurut pengakuannya di majalah Aneka Ria, ia sudah menikah sebanyak tiga kali dan memiliki delapan orang anak.

Suaminya yang pertama adalah seorang aktor bernama Ray Iskandar. Lalu, suami kedua seorang wartawan bernama E.L. Rita. Suami ketiga merupakan seorang pemain drum di kelab malam El Ci Ci.

Kariernya di dunia film mungkin lebih cemerlang dibandingkan urusan rumah tangganya. Pada 1988, ia meraih penghargaan Piala Citra dalam kategori Pemeran Pembantu Wanita Terbaik pada film Tjoet Nja Dhien. Rita wafat di Jakarta pada 8 Maret 2007 karena penyakit strok.***

Referensi:
Kaluku, Gandhi, “Rita Zahara Pemain Bola Wanita Pertama di Indonesia” dalam Aneka, 1 Maret 1959.
L.N.D, Aroffie, “Rita Zahara Selalu Gagal Membina Rumah Tangga” dalam Aneka Ria, Nomor 244 Tahun ke VII, November 1978.
Zein, Djamaloedin, “Rita Zahara di Pakanbaru: Berdujun-dujung Kaum Hawa ke Lapangan Merdeka” dalam Aneka Nomor 26, 10 November 1959.
Sinematek Indonesia. 1979. Apa Siapa Orang Film Indonesia 1926-1978. Jakarta: Yayasan Artis Film dan Sinematek Indonesia.
Filmindonesia.or.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here