Reog ala Sunda

0
50

Seperti halnya masyarakat Jawa Timur, kesenian reog juga dikenal oleh masyarakat Sunda. Tapi, jangan pernah membayangkan ada topeng barong besar dengan bulu burung merak seperti pada reog ponorogo di dalam kesenian reog sunda. Meski mempunyai nama yang sama, namun kedua seni tradisi ini memiliki bentuk yang berbeda. Jika ada persamaan, itu terletak pada alat musik tabuhnya, yaitu menggunakan empat dogdog (kendang) yang dimainkan oleh empat pelaku.

Istilah reog pada masyarakat Sunda muncul dari bentuk kesenian lain. Reog merupakan kependekan dari reorganisasi ogel. Ogel adalah kesenian yang berupa lawak dan tari-tarian. Seni ogel banyak hidup di Majalengka. Ada pula pendapat yang menyatakan bahwa reog tidak dapat lepas dari kesenian yang disebut segeng. Kesenian ini hidup dan berkembang pada 1933 dan menggunakan alat musik dogdog. Pendapat lain menyatakan reog berasal dari ugal-igel. Ugal-igel erat dengan seni menggerakkan tubuh (menari) dan melawak.

Reog sunda tidak mengeksploitasi “kegagahan”, namun lebih menonjolkan kegembiraan orang bermain musik dan melawak. Ciri khas kesenian reog sunda ini terletak pada adanya tabuhan irama musik dogdog, gerak tari, dan lawakan. Kesenian ini dimainkan oleh empat orang. Satu orang berperan sebagai dalang yang mempunyai tugas mengendalikan permainan. Masing-masing pemain memegang satu dogdog. Empat dogdog tersebut mempunyai nama yang berbeda.

Dalang memegang dogdog berukuran 20 cm yang disebut talingtit; pemain kedua memegang dogdog berukuran 25 cm yang disebut panempas; pemain ketiga memegang dogdog berukuran 30-35 cm yang disebut bangbrang; pemain ketiga memegang dogdog berukuran 45 cm yang disebut badublag. Dogdog-dogdog ini memiliki makna filosofis yang berbeda-beda. Keempatnya merupakan lambang kehidupan manusia dari masing-masing pemainnya.

Pemain kesatu (dalang) dan kedua (wakil dalang) bertugas mengendalikan alur cerita, sedangkan pemain ketiga dan keempat lazimnya berperan sebagai pelawak. Dalam pementasan, mereka masih dibantu oleh waditra atau para pengiring musik sebagai selingan atau pelengkap. Alat-alat musik yang dimainkan berupa dua buah saron, gendang, tarompet, kacapi, rebab, gong, dan gambang. Biasanya satu grup reog sunda akan bermain dalam durasi antara 1 sampai 1,5 jam. Lawakan dalam reog sunda bukan asal melucu. Di dalam lawakan tersebut terselip nilai keagamaan dan pesan moral, bahkan kritik sosial. Unsur magis tidak ada dalam kesenian reog ini.

Media dakwah dan hiburan                                                                                               

Tidak jelas kapan reog sunda mulai dikenal oleh masyarakat Pasundan. Konon kesenian ini sudah ada sejak zaman Wali Songo. Pada masa itu, para wali menggunakan kesenian ini sebagai media dakwah dan hiburan. Saat itu, reog biasa dimainkan oleh para santri. Pada masa kolonial, tepatnya 1934, reog sunda tercatat dalam sebuah buku karya seorang Belanda bernama Jaap Kunst. Buku tersebut berjudul Toonkunst van Java (Musik dari Jawa). Buku ini berisi tentang beragam seni tradisi yang ada di Pulau Jawa. Di dalam buku ini, Kunst menulis bahwa reog sunda berkembang di Jawa Barat dan sangat digemari masyarakat.

Karena kondisi politik, sosial, dan ekonomi, pada dekade 1960-an reog sunda mengalami “mati suri” dari segala aktivitas berkesenian. Tenggelamnya reog sunda pada periode ini disebabkan karena senimannya “mogok” berkarya sebagai bentuk penolakan kemauan politik PKI. Di tengah situasi nasional yang tidak menentu saat itu, para seniman reog sunda berusaha dimanfaatkan Gerakan 30 September yang lalu pecah pada 1965. Saat itu, PKI mengajak seniman-seniman reog sunda untuk pawai ke jalan. Tidak eksisnya kesenian ini berlangsung cukup lama.

Setelah sempat tidak ada aktivitas berkesenian selama kurang lebih 20 tahun, pada 1980-an seni reog sunda mulai menggeliat dan bangkit kembali. Pada periode ini pelan-pelan muncul grup reog sunda. Salah satunya adalah grup Layung Sari, yang kemudian bernama Cahaya Gumilang, yang berdiri pada 1982. Masyarakat umum mengenal secara luas seni reog sunda ketika TVRI menayangkan secara berkala kesenian ini yang dimainkan oleh Polri, dengan pemainnya antara lain Mang Diman dari grup BKAK. Umumnya, grup reog sunda bermain untuk memeriahkan acara khitanan atau pernikahan. Bahkan ada juga grup reog yang mendapat undangan pentas pada acara-acara khusus, seperti hari kemerdekaan atau hari besar nasional lainnya.

Setiap kesenian pasti mengalami modifikasi. Modifikasi ini berkaitan dengan selera masyarakat pendukungnya serta perkembangan zaman. Begitu pun dengan reog sunda. Dewasa ini, ada grup reog sunda yang menambahkan alat musik modern, seperti gitar elektrik dan keyboard sebagai alat musik pengiring. Selain itu, dewasa ini ada juga grup reog sunda yang menampilkan 11 personel setiap kali manggung.

Sayangnya kesenian reog sunda kini telah ditinggalkan oleh generasi muda dan keberadaannya mulai terancam punah. Pemerintah sepatutnya dapat menjadi mediator dalam upaya pengembangan seni budaya ini sehingga bisa menjadi modal bagi pembangunan masyarakat. Semoga kelestarian reog sunda tetap terjaga.

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Galamedia, 7 Oktober 2008.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here