R.A.A. Wiranatakusumah V dan Film Loetoeng Kasaroeng

0
63
loetoeng kasaroeng
Pengambilan gambar film Loetoeng Kasaroeng

R.A.A. (Raden Aria Adipati) Wiranatakusumah V atau Dalem Haji dikenal sebagai bupati Bandung ke-14 yang menjabat selama 2 periode, 1912-1931 dan 1931-1945. Beliau juga dikenal sebagai salah seorang bupati yang menyukai cerita-cerita legenda Sunda. Namun, tidak banyak yang mengetahui perannya dalam memelopori kehadiran film cerita pertama di Indonesia.

Di Indonesia, bioskop memang pertama kali muncul di Batavia (Jakarta), tepatnya di Tanah Abang Kebonjae, pada 5 Desember 1900. Namun, kehadiran bioskop ini tidak dapat dikatakan sebagai tonggak awal sejarah film Indonesia. Alasannya, film-filmnya saat itu masih impor dari luar negeri. Film cerita yang diproduksi di Indonesia, tepatnya di Bandung, baru ada pada 1926. Judulnya Loetoeng Kasaroeng. Film ini bisa dibilang sebagai acuan tonggak sejarah perfilman Indonesia. Kesuksesan produksi film tersebut melibatkan bupati Bandung, Wiranatakusumah V di dalam proses pembuatannya.

Dari sandiwara ke layar lebar

Dalam buku Film Indonesia Bagian I (1900-1950), Wiranatakusumah V telah merintis pementasan cerita Loetoeng Kasaroeng di Kongres Jawa di Bandung pada 1921, 5 tahun sebelum film Loetoeng Kasaroeng diproduksi. Guna pertunjukan di Kongres Jawa, Kiewit de Jonge dan Mr. Pleyet mengolah legenda asli Loetoeng Kasaroeng menjadi sandiwara. Cerita unik datang saat tahap persiapan menuju pentas.

Para gadis priyayi Priangan yang akan tampil di panggung, tidak bersedia membuka bagian atas tubuhnya. Wiranatakusumah V segera turun tangan memberikan penjelasan kepada para sanak saudaranya itu untuk bisa tampil seperti yang sudah digariskan. Akhirnya para gadis tersebut bersedia, karena bupati yang meminta mereka secara langsung (Abdullah dkk, 1993: 81-82). Demi suksesnya pertunjukan ini, beliau tidak segan-segan mengeluarkan dana besar.

Pentas sandiwara itu ditampilkan di atas panggung raksasa yang dibangun di depan pendopo kabupaten dan ditonton ribuan orang. Hebatnya, dari informasi yang diperoleh, orang-orang Belanda saja waktu itu belum pernah ada yang tampil di panggung terbuka. Pertunjukan terbuka seperti itu, baru saja mulai menjadi tren di Eropa saat itu.

Ternyata pertunjukan ini memberi pengaruh yang positif, yaitu semakin populernya lagu-lagu Sunda lama. Wiranatakusumah V berpendapat, masyarakat Sunda ketika itu, sudah banyak yang meninggalkan lagu-lagu Sunda lama. Namun setelah digelar pertunjukan Loetoeng Kasaroeng di Kongres Jawa, di seluruh Priangan semua orang merasakan kebangkitan lagu-lagu Sunda lama. Pada 1926, bisa dibilang kesenian Sunda sudah berkembang. Tapi hasrat Wiranatakusumah untuk semakin mempopulerkan budaya Sunda masih besar. Maka dari itu, bisa diterima dengan logika mengapa beliau sangat mendukung pembuatan film Loetoeng Kasaroeng.

Film ini hadir di tengah rasa bosan penonton bioskop yang hanya disajikan film-film komedi, propaganda, dan pemandangan. Usaha menurunkan harga karcis, dan dimunculkannya openlucht bioscoop (semacam layar tancap) di Lapangan Deca Park, Mangga Besar, Tanah Abang, dan Beos, ternyata cuma sekejap saja membunuh rasa bosan tersebut. Dari sini, terbesit keinginan seorang Belanda totok dari Batavia, L. Heuveldorp, untuk membuat film cerita yang digemari oleh masyarakat pribumi dan Tionghoa. Lalu Heuveldorp yang konon pernah menjadi sutradara di Amerika Serikat, menjatuhkan pilihan untuk membuat film Loetoeng Kasaroeng (Tjasmadi, 2008: 16).

Menurut penulis buku Bandung, Tonggak Sejarah Film Indonesia, Eddy D Iskandar, Heuveldorp menggarap legenda rakyat Sunda ini berdasarkan naskah sandiwara. Saya menduga, mungkin saja sebelumnya ia membaca naskah sandiwara yang dimainkan di Kongres Jawa. Untuk menggarap film tersebut, Heuveldorp mengajak G. Krugers, seorang Indo-Belanda dari Bandung. G. Krugers merupakan adik ipar dari raja bioskop Bandung terkenal, F.A.A. Buse. Mereka bergerak di bawah bendera perusahaan N.V. Java Film Company, milik Heuveldorp.

Peran sang bupati

Ambisi Heuveldorp untuk membuat film Loetoeng Kasaroeng mendapat dukungan banyak pihak. Persoalan yang dihadapinya tinggal masalah pembiayaan. Dari sini Heuveldorp menemui Bupati Bandung, Wiranatakusumah V. Gayung bersambut. Kebetulan, Wiranatakusumah V merupakan bangsawan yang kaya raya, dan yang lebih penting, ia punya perhatian khusus pada perkembangan kesenian dan budaya Sunda. Tentu saja ia sangat mengapresiasi maksud pembuatan film Loetoeng Kasaroeng.

Dengan kesuksesaan film ini nanti, toh cerita rakyat Sunda nantinya akan semakin terangkat dan dikenal secara luas. Inti cerita film ini berisi sebuah nasihat, yaitu jangan memandang sesuatu dari kulitnya saja. Purbasari diejek karena mempunyai kekasih seekor lutung (Guru Minda). Sedangkan kakaknya, Purbararang membanggakan kekasihnya, Indrajaya, yang manusia. Ternyata lutung itu merupakan jelmaan dari seorang pangeran tampan, titisan Dewi Sunan Ambu. Guru Minda jauh lebih tampan dari Indrajaya, kekasih Purbararang (Kristanto, 2005: 1).

Maka bermainlah trio Heuveldorp, Krugers, dan Wiranatakusumah V di film ini. Heuveldorp berperan sebagai sutradaranya, dan Krugers sebagai kameramannya. Sedangkan peran Wiranatakusumah V, bisa dikatakan, sangat krusial. Ia merupakan orang yang paling paham cerita Loetoeng Kasaroeng. Selain itu, ia juga menyandang dana dan penyedia fasilitas bagi kelancaran shooting. Untuk kelancaran pembuatan film, ia mengumpulkan para pemainnya yang tidak lain adalah kerabat-kerabatnya sendiri. Ia juga mengajak anak-anaknya untuk bermain di film ini.

Mereka-mereka yang bermain merupakan para priyayi berpendidikan tinggi dan mahir berbahasa Belanda, namun tidak punya pengalaman sama sekali di bidang akting. Tapi karena rasa kebangsaan yang ‘berontak’?ingin membuktikan bahwa mereka juga mampu berakting layaknya orang-orang Amerika?akhirnya, setelah beberapa kali latihan, akting mereka sesuai dengan harapan Heuveldorp. De Locomotief mencatat, pemeran lutung di film ini sangat menakjubkan dengan kemampuannya memanjat, tapi posisi kepala ke bawah.(De Locomotief, September 1926).

Lokasi shooting yang dipilih Wiranatakusumah V berada di sebuah kawasan bukit karang sekitar 2 kilometer bagian barat kota Padalarang. Shootingnya dikerjakan pada 15 Agustus 1926 (Abdullah dkk, 1993: 78). Dengan adanya dukungan penuh dari Wiranatakusumah V, seluruh prosesnya dapat berjalan dengan lancar. Sampai akhirnya, pada 30 Desember 1926 terbit sebuah iklan di surat kabar Kaoem Moeda yang menulis:”pada kita diwartaken bahwa besok malam film Loetoeng Kasaroeng jang soedah lama ditoenggoe-toenggoe oleh pendoedoek di Bandoeng, aken moelai dimainken dalam Elita dan Orientalbioscoop dan Feestterrein Elita”.

Berdasarkan iklan tersebut, Loetoeng Kasaroeng diputar pada 31 Desember 1926 sampai 6 Januari 1927 di bioskop Elita dan Oriental. Film ini sukses di awal-awal penayangannya. Selain kaum pribumi, banyak juga ‘bule’ tertarik menonton film yang semua pemerannya berasal dari kaum pribumi serta bercerita soal legenda lokal. Sayang sekali, film ini cuma sukses di Bandung.

Ketika diputar di luar Bandung, sambutan penonton sangat rendah. Hal ini bisa dimengerti, sebab publik di luar Bandung tidak memahami film yang diangkat dari legenda tatar Sunda ini. Apalagi film tersebut masih bisu alias belum bersuara. Berdasarkan catatan surat kabar De Preanger Post edisi 27 Desember 1926, Loetoeng Kasaroeng merupakan film cerita pertama yang dibuat di Indonesia. Perlu dicatat, seluruh pemain di film ini berasal dari kaum pribumi (priyayi) dan memainkan tema yang diambil dari legenda lokal Sunda.

Begitu besar peranan bupati Bandung, R.A.A. Wiranatakusumah V, dalam pembuatan film Loetoeng Kasaroeng. Selain dikenal sebagai bangsawan yang dermawan dan kaya raya, ia juga memiliki perhatian besar untuk memajukan kesenian dan kebudayaan Sunda. Bisa dipastikan, jika tidak ada peran beliau di sini, film Loetoeng Kasaroeng tidak akan pernah ada dalam catatan perjalanan sejarah film Indonesia.

Hingga akhirnya, dalam catatan sejarah, Bandung dikenal sebagai kota pelopor film Indonesia. Mudah-mudahan tulisan sederhana ini bisa menjadi pemicu semangat sineas-sineas Bandung untuk lebih giat berkarya demi kemajuan perfilman Indonesia. Serta menyadarkan kepada kita, bahwa peranan seorang pemimpin/pejabat mutlak dibutuhkan untuk kemajuan suatu bidang, khususnya film. Semoga.

Tulisan ini dimuat pertama kali di www.indonesiaseni.com, 11 April 2010.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here