Pudjangga, Politik, Pemuda

0
62
Ilustrasi rapat parlemen yang pertama di Jakarta./Radio dan Masjarakat Indonesia.

Oleh: M.R. Dajoh*

Sering orang menganggap, bahwa kesusasteraan chususnja dan kebudajaan umumnja, adalah kurang lebih diluar pagar politik.

Marilah kita perso’alkan hal ini! Sebelum petjah perang, maka politik dianggap “hantu”, dianggap “iblis”, dianggap “ratjun” untuk pegawai, untuk orang dagang, untuk orang perekonomian. Apa lagi, istimewa pula, untuk pemuda-pemudi jang masih beladjar. Politik dianggap sangat berbahaja untuk peladjar-peladjar. Nah, disini terang-terang letak “kongkalikong” pendjadjah. Djika politik sudah dianggap ratjun,—manakah lagi tempat latihan untuk mengupas so’al-so’al kemasjarakatan, so’al perdjoangan untuk hidup?

Politik! Betapa hebat orang menakutinja! Sebelum petjah perang, takut orang menjebut kata “Indonesia”. Begitu kaget orang mendengar perkataan “Indonesia”, hampir-hampir pingsan hadlirin jang terhormat mendengar suara Indonesia itu. Kesusasteraan pun takut-takut rupanja pada “ratjun” politik itu.

Ini suatu papan lontjatan kupasan kita, untuk mendjadjah masuk kalangan kesusasteraan, jang kita hendak paparkan disini. Politik dan kesusasteraan!

Dengan sendirinja kita pergi pada pengarang-pengarang, penja’ir-penja’ir, pudjangga-pudjangga. Sering kita batja, bahwa penja’ir-penja’ir itu umumnja adalah diluar pagar politik. Orangpun berpendapat, bahwa pengarang-pengarang ataupun pudjangga-pudjangga itu sepatutnjalah, seharusnjalah diluar pagar politik. Ataupun diatas politik; ataupun diatas awang-awang; seanntiasa dalam angan-angan; diluar pergolakan, pertjaturan, pergumulan dunia.

Segala “anggapan” ini ada “benarnja” dan ada “salahnja”. Pertama-tama kita anggap, bahwa pudjangga itu adalah orang jang masuk kalangan orang “luar biasa”. Ia seorang seniman, akan tetapi iapun adalah anggauta masjarakat, jang mesti turut bersama-sama bertanggung djawab atas keadaan nusa dan bangsanja?

Dan sekarang timbul pertanjaan: “Adakah pudjangga itu memang mesti berkewadjiban memikul tanggung djawab untuk nasib nusa dan bangsa?

Djawab kita: “Tanggung djawab sepenuhnja!” Karena apa?

Segala gerak-gerik pudjangga jang terkenal, segala sesuatu jang timbul dari padanja adalah begitu menarik perhatian, hingga so’al djiwa nusa dan bangsanja ditudjukan padanja djuga. Lebih itu lagi! Perangainja dan usahanja mendjadi ukuran untuk masjarakatnja. Hasil tjiptaannja didjadikan tjermin, jang memberi bajangan pada masjarakatnja pada masa hidupnja.

Dengan uraian ini teranglah, bahwa pudjangga itu tidak bisa “diluar” politik, malahan adalah ditengah-tengahnja. Kentara atau tidak kentara, perdjoangan nusa dan bangsanja dalam tangannja djuga; tetapi “siasatnja” lain dari pada kaum atau ahli-ahli politik.

Pudjangga jang mendjauhkan diri dari politik, adalah pudjangga jang makin “memiskinkan” usahanja sendiri, karena politik itu adalah so’al hidup, so’al pertahanan njawa, djiwa, hak, kemerdekaan dan kedaulatan diri, masjarakat, nusa, bangsa.

Sendi-sendi politik dan tjorak-tjoraknja berupa-rupa. Ragam politik itu tidak mendjadi so’al untuk kita. Tapi, kesusasteraan!

Kesusasteraan, katanja, djangan tjampur politik. Betapa pitjik dan bodoh paham ini! Ini “sumbatan” dari kaum imperialis pendjadjah! Kesusasteraan jang diluar politik, bukankah kesusasteraan tulen! Karena apa? Kesusasteraan mesti berdjiwa,—dan djiwa itu menentukan “siasat” dan barang siapa memadjukan siasat, dengan sendirinja mengenal taktik, dan segalanja itu politik djua, baik ketjil, maupun besar kentara atau tidak kentara.

Kesusasteraan jang tidak berdjiwa, bukanlah kesusasteraan sedjati. Pantun-pantun untuk pesta-pesta dan sja’ir-sja’ir jang hampa, semuanja “omong kosong” belaka, jang ta’bisa kita namakan kesusasteraan.

Apabila kita menjelidiki buku-buku sutji, mempeladjari sja’ir-sja’ir, nasehat-nasehat, petua, petitik dan lain-lain, serta ferman-ferman jang dikurniakan Nabi Nabi dalam Al-kitab2,—maka bertemulah kita akan “kesusasteraan” jang gilang-gemilang djiwanja. Orang akan menanja: “Apakah politik itu semuanja? Ditilik dari sudut agama, maka tentulah orang menjahut: “Tidak” Tapi agama sendiri boleh kita sebutkan “politik-sutji”, “politik-agung halus-mesra berdasar pada tjinta-machluk.”

Apabila Gandhi mendasarkan sepak terdjangnja pada agama, maka teranglah bahwa pemimpin mahabesar ini mengikut djedjak nabi dalam “politiknja”.

Apabila nabi memfermankan: “Perang sabil”, maka ini berarti mempertahankan agama sutji dengan segala kejakinan, keinsjafan, kesedaran politik untuk melindung-menghormati ferman Tuhan. Itupun bisa kita namakan hasil ataupun akibat politik.

Balik kita pada kesusasteraan.

Nabi Muhammad s.a.w. pentjipta sja’ir-sja’ir Al-Qur’an, adalah pudjangga besar jang ta’ada taranja. Dan pertahanan agama Islam dengan segala usaha, kebidjaksanaan, keluhuran siasat, adalah hasil kurnia jang diturunkan pada seorang pahlawan-ahli politik-laksamana-sardjana dsb.

Mungkin orang terang mendengar, bahwa seorang Nabi adalah seorang ahli politik djua. Tapi djangan kita suka dipengaruhi dengan anggapan jang memastikan: “Politik itu kotor!” Inilah penjakit. Politik tidak selalu kotor. Sifat manusia sering “kotor”. Tapi manusia jang halus.

Nabi, pudjangga, memakai politik djuga, tapi bukan jang “kotor”, bukan jang “nedjis”, melainkan jang murni, ialah jang berdasarkan agama, peri-kemanusiaan tjita-tjita jang luhur. Dasar sedemikian luhur. Dasar sedemikian tetap “menganggung-agungkan” pedjoang-pahlawan-pemimpin rakjat.

Terhadap pada kesusasteraan, isi dan inti sja’ir Al_Qur’an, maka pudjangga Goethe (Djerman) jang membatjanja dan mengertinja (menurut tjeritera) adalah pingsan, ketika mengalami kesutjian dan ke-Tuhan-an seluruhnja.

Dan Goethe adalah terhisab pedjoang sedjati, bukan sadja dalam kalangan karang-mengarang, melainkan pula dalam politik. Begitupun Tolstoi (Russia), Dostojewski, Maxim Gorki.

Jang paling njata berpolitik, ialah pudjangga Dante (Italia). Dan tidak kurang Multatuli (Eduard Douwes Dekker) ditanah Belanda, jang mengeritik habis-habisan akan keserakahan Belanda dalam bukunja “Max Havelaar”.

Dan pudjangga-pudjangga ini berpolitik karena terdorong oleh peri-kemanusiaan ataupun keagamaan, tjita-tjita kebangsaan jang menuntut hak-hak manusia, hak-hak tanah air.

Pudjangga jang hanja “bersolek” sadja, jang pengetjut, jang lari keluar dari pagar politik, adalah “pudjangga-bantji”, alias pudjangga palsu-tegasnja bukan pudjangga.

Disini tegaslah: Kesusasteraan adalah saudara politik ataupun sahabatnja. Dan jang mendjauhi, serta “meluari” pagar politik, bukanlah pudjangga sedjati. Ini bukan berarti, bahwa pudjangga itu seanntiasa ahli politik! Pun tidak berarti, bahwa pudjangga itu mesti pemimpin rakjat dalam politik!—pudjangga itu adalah sebagian “pusat-politik”, jang memimpin atau mengendali djiwa masjarakat, djiwa nusa dan abngsa dengan suaranja, jang membangkitkan seamngat perdjoangan dalam dada orang-orang pedjoang, pemuda-pemudi, ja siapapun.

Ja, pemuda-pemudi! Zaman sekarang. Tadi kita katakan, bahwa sebelum perang, maka politik dianggap berbahaja untuk pemuda-pemudi.

Salah! Seribu kali salah! Waktu ini lain! Dulu berbahaja, dianggap “ratjun”, betul-betul ratjun tetap ratjun dan tetap iblis politik itu; bukan untuk pemuda-pemudi jang berumur lebih 18 tahun, tetapi politik itu memang ratjun untuk si pendjadjah djahanam, pun ratjun besar untuk pemerintah lemah, jang tak bidjaksana.

Pemuda-pemudi dewasa jang mendjauhkan diri dari politik adalah pemuda-pemudia ta’ada semangatnja, ta’ada djiwanya; mereka tetap pitjik dalam pergaulan; dengan kata lain: “Seperti kodok dibawah tempurung”.

Poltik bukan berarti meruntuhkan negara, pun bukan selalu berarti merobohkan pemerintah melainkan “mempersoalkan” nasib.

Tiap-tiap orang mesti mengetahui, memastikan hidupnja. Dan dalam memperdjoangkannja, dan dalam pergolakan ini,—maka sering orang melupakan peri-kemanusiaan; melupa keagamaan; melupa kehalusan, kemurnian sanubari,—sehingga hampir-hampir pedjoang merupai “hewan” ataupun “iblis” kedjam, jang telah djauh dari Tuhan.

Dan dalam hal ini, maka kewadjiban pudjangga ialah menghaluskan, memurnikan, mengagungkan perdjoangan ini dengan sja’irnja jang mesra-halus, jang agung-murni dengan sjarat ketuhanan selaku suatu jang dikurniakan Tuhan padanja.

Demikianlah arti pudjangga, kedudukannja dalam politik, dengan kesusasteraan selaku penuntun masjarakat, nusa dan bangsa.

Dan pemuda?

Silahkan masuk dalam olahraga politik, untuk mentjerdaskan tenaga dan siasat, pun selaku pembuka pikiran! Apalagi dalam masa pembulatan kemerdekaan ini. Politik adalah persekolahan siasat alias diplomatik, jang melebarkan pemandangan kita dalam masjarakat. Politik seluas-luasnja, jang tidak buta pada kepentingan partai sadja, itulah “gelanggang” perdjoangan ataupun pertjaturan tenaga ketjerdasan jang njata, jang mengudji, menjaring djiwa tiap-tiap oknum.[]

***

Esai ini dipublikasikan di majalah Radio dan Masjarakat Indonesia Nomor 19, tahun 1952, halaman 4-5. Diketik ulang sesuai ejaan aslinya.

*M.R. Dajoh–Marius Ramis Dajoh—lahir di Airmadidi, Minahasa Utara, Sulawesi Utara pada 2 November 1909 adalah seorang guru, wartawan, dan sastrawan. Ia mendapat pendidikan di Kweekschool voor Inlandsche Onderwijzers (sekolah untuk guru pribumi) di Ambon pada 1923. Lalu, melanjutkan studi ke Hogere Kweekschool voor Inlandsche Onderwijzers (sekolah tinggi untuk guru pribumi) di Bandung pada 1926. Di sini, ia berjumpa Sutan Takdir Alisjahbana. Kemudian melanjutkan kursus di Christely Normal Cursus Voor de Hupalte di Malang hingga 1929. Lalu, melanjutkan kuliah di Universitas Sawerigading, Sulawesi Selatan dan berhasil mendapat gelar doktor kehormatan pada 1968.

Selain sebagai pengarang, Dajoh juga menjadi guru Angkatan Baru Menteng 31 di Jakarta dan di Ambonse School—sekolah anak-anak militer—di Bondowoso. Di Bondowoso ia bersua Domine Jensen, seorang kepala gereja yang mencintai sastra. Jansen memuji sajak-sajak Dajoh karena mahir menulis syair dalam bahasa Belanda, meski belum pernah ke Belanda. Atas saran Jansen, ia berkenalan dengan Henriette Roland Holst, seorang pengarang sosialis Belanda, yang kemudian membimbingnya lewat surat-menyurat. Dajoh kerap menulis sajak bertema kemiskinan rakyat.

Pada 1939, bersama Sam Ratulangi ia mengelola majalah Suara Celebes. Ia sangat antusias dengan pergerakan kebangsaan. Di Bogor, ia berkenalan dengan Raden Samsudin, seorang anggota Partai Parindra, kemudian berkenalan pula dengan Mr. R.M. Sartono dan Husni Thamrin. Syair-syairnya tentang penderitaan rakyat miskin kerap membuat panas kuping polisi kolonial.

Dajoh terakhir bekerja sebagai pegawai tinggi di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Ia pensiun dari Lembaga Adat-Istiadat dan Cerita Rakyat, Dirjen Kebudayaan pada 1966. Ia wafat pada 15 Mei 1975 karena penyakit darah tinggi.

Karya-karya Dajoh berbentuk novel, antara lain Peperangan Orang Spanyol dan Orang Minahasa (Balai Pustaka, 1929); Pahlawan Minahasa (Balai Pustaka, 1953); Putera Budiman (Balai Pustaka, 1941); Ratna Rakyat (Yayasan Pembangunan, 1951); Bacaan Angkatan Baru (Gunung Agung, 1952); Senyum Sinar (V.Versluys, 1951).

Lalu, sajak di antaranya “Dalam Percobaan” (Pudjangga Baroe, 1940), “Hidup Selaras” (Budaja, 1946), dan “Berdjoang” (Budaja, 1947). Karya buku nonfiksi, di antaranya Patriot Irian Damai (Grafika) dan Irian Barat Pukul Tifa (Depdikbud). (ensiklopedia.kemdikbud.go.id).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here