Pamali, Pengatur Moral yang Ampuh

0
32
hqdefault
Ilustrasi/http://hallobro.com

“Ulah diuk na lawang panto, pamali! Bakal hese meunang jodo…” (Jangan duduk di ambang pintu, pamali! Bakal susah dapat jodoh).

Kalimat di atas merupakan ungkapan yang kerap ke luar dari mulut orang tua kita, saat kita duduk di depan pintu rumah. Kalimat tadi begitu akrab di telinga, dengan penambahan kata “pamali”. Saya juga ingat, waktu kanak-kanak dulu, ibu saya pernah menegur saya yang tengah duduk di atas bantal, “jangan duduk di atas bantal, pamali, nanti bokong kamu bisulan,” katanya. Dan, ucapan ibu saya tadi, saya amini dengan kepatuhan untuk tidak duduk lagi di atas bantal.
Dalam semua tradisi masyarakat pasti mengenal pantangan, serupa pamali. Tentu saja dengan istilah yang berbeda di masing-masing daerah tersebut. Di luar negeri pun seperti itu. Misalnya saja di Cina, Korea, Vietnam, dan Jepang tidak boleh menyuguhkan makanan dalam jumlah empat (se). Sebab empat dipandang sebagai angka pembawa kesialan, karena pelafalannya yang mirip dengan kata “mati”. Di Asia Timur, beberapa gedung tidak memiliki lantai ke-4. Mereka sengaja menghilangkan unsur angka empat, mulai dari 4, 14, 24, 34, 40, 49 dan seterusnya.

Kembali ke pamali, selain kalimat tadi—di dalam masyarakat Sunda—masih banyak kalimat lain yang selalu disisipi kata “pamali”, di antaranya ulah dahar bari nangtung, pamali, bakal jadi kuda (jangan makan sambil berdiri, nanti jadi kuda); ulah motong kuku peuting-peuting, pamali, bakal jauh rejeki (jangan memotong kuku malam-malam, bakal jauh rejeki); ulah  ulin wanci magrib, pamali, bisi dirawu sandakala (jangan main saat magrib, nanti dimakan sendakala), dan masih banyak lagi contoh kalimat lainnya.

Dalam masyarakat Sunda, pamali seolah-olah sudah meliputi seluruh siklus kehidupan, mulai dari dalam kandungan, lahir, kanak-kanak, dewasa, hingga meninggal dunia. Sebenarnya, apa itu pamali? Apakah pamali hidup hanya semacam tradisi lisan yang tak ada manfaatnya? Apakah pamali itu mitos yang harus dilenyapkan begitu saja?

Pamali itu mitos?

Jika kita membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata pamali tidak akan pernah kita temukan di sana. Namun, kita pasti akan menjumpai kata pemali. Pamali memang berasal dari bahasa Sunda.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pemali sendiri artinya pantangan atau larangan berdasarkan adat dan kebiasaan. Dan, pengertian ini sama dengan pengertian pamali. Ketimbang pemali, kata pamali lebih populer diucapkan dan didengar oleh masyarakat Indonesia. Di dalam bahasa Sunda sendiri, kata pamali mempunyai makna sama dengan kata pantrang dan cadu—yang jika di-Indonesia-kan sepadan dengan pantang atau tabu. Pamali merupakan larangan untuk mengucapkan dan berbuat sesuatu karena, konon, berpengaruh pada rejeki, jodoh, bahkan keselamatan pada orang yang melanggar. Pamali adalah wujud dari tradisi lisan yang diwariskan melalui perkataan secara turun-temurun dari leluhur kita dulu hingga saat ini.

Kini, di zaman yang semakin buram antara tradisi dan modernitas, seakan-akan ada “jarak” antara generasi “pewaris” pamali dengan generasi baru yang mengusung budaya Barat. Mereka kerap memandang pamali sebagai mitos, takhyul, di luar logika, serta isapan jempol belaka. Dengan berbagai bantahan, mereka menganggap pamali itu sesuatu yang kolot, tidak ada gunanya, dan mesti dibuang jauh-jauh. Jika kita telisik berbagai kalimat pamali memang tidak ada korelasi antarkalimat di dalamnya. Contohnya saja kalimat pamali berikut ini: “ulah dahar bari nangtung, bakal jadi kuda” (jangan makan sambil berdiri, nanti jadi kuda). Secara logika saja, mana mungkin manusia bisa berubah menjadi kuda hanya karena makan sembari berdiri.

Tapi, di balik “kejanggalan” kalimatnya, ada makna di dalamnya. Sebab kalau kita berkaca pada nilai kesopanan, tidak pantas kita makan sembari berdiri. Dengan kata lain, pamali merupakan bentuk kearifan lokal yang sebenarnya mengandung rasionalitas tersendiri yang terkait dengan nilai etika.

“Polisi” moral

Dalam kehidupan kita, harus diakui, pamali justru lebih ampuh menjadi “polisi” moral. Menurut saya, bahkan pamali jauh lebih dahsyat daripada undang-undang negara, bahkan mungkin agama.  Coba kita perhatikan kehidupan masyarakat suku Baduy di Banten dan Kampung Naga di Tasikmalaya.

Masyarakat Baduy menjalankan kepatuhan untuk tidak memakai pakaian selain yang berwarna hitam dan putih. Pamali, kalau mereka memakai pakaian di luar kedua warna tadi. Tak ada kejelasan soal mengapa mereka harus melakukan hal tersebut. Namun, jika kita mau jeli, mereka lebih hemat dan sederhana ketimbang masyarakat kebanyakan yang cenderung berperilaku konsumtif.

Komunitas Kampung Naga merupakan contoh lain masyarakat yang memegang teguh konsep pamali. Di masyarakat yang kehidupannya menjaga nilai-nilai adat dan selaras dengan alam itu, pamali seakan-akan menjadi semacam dogma yang wajib dipatuhi, tanpa perlu diperdebatkan lagi. Tapi, justru dengan kata kunci: pamali, masyarakat di sana dapat menjaga keharmonisan hidup mereka, terutama hubungannya dengan kelestarian lingkungan. Dari kecil mereka diajarkan untuk tidak berbuat hal yang bersifat pamali tadi. Mulai dari hal-hal kecil hingga besar, masyarakat Kampung Naga kerap menggunakan kata ampuh mereka: pamali.

Pamali menebang hutan, pamali merusak alam, pamali membuang sampah di sungai, dan lain-lain. Coba perhatikan, tidak ada plang dan peringatan tertulis “dilarang membuang sampah ke sungai” atau “dilarang menebang pohon” di sana. Tidak ada peraturan rumit dengan denda selangit atau hukuman kurungan berbulan-bulan yang dibuat oleh para pemimpin adat di sana. Hanya dengan kata pamali, kehidupan mereka jauh lebih teratur dibandingkan orang-orang yang katanya lebih modern dan beradab.

Dalam masyarakat seperti ini, pamali bersinggungan dengan kearifan lokal. Kearifan lokal sendiri merupakan salah satu model filsafat abadi. Disebut filsafat abadi, karena konsep dasarnya sudah ada semenjak manusia berfilsafat. Pada filsafat abadi, alam dan manusia dipahami sebagai makro dan mikro kosmos. Keduanya merupakan ciptaan Tuhan. Dan, karena sama-sama berasal dari Tuhan, maka harus saling menjaga satu sama lainnya.

Disadari ataupun tidak, pamali merupakan penjaga moral yang lebih efektif ketimbang peraturan tertulis yang berbelit-belit. Disadari ataupun tidak, karena pamali kita takut untuk berbuat hal-hal yang melanggar etika, norma, dan tatanan sosial. Jika tujuannya memang untuk sesuatu yang mengarah pada kehidupan yang lebih baik, mengapa tidak kata pamali diucapkan. Misalnya saja: jangan merubah lahan hijau menjadi mal, pamali! Nanti datang bencana banjir!

Tulisan ini pertama kali diterbitkan Kompas Jawa Barat, Agustus 2010. Tulisan ini belum mengalami proses penyuntingan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here