Orang-Orang Hollywood: Hanja dengan Optimisme Studio Film dapat Dibangun

Usmar Ismail menulis bagaimana orang-orang Hollywood bekerja membuat film yang baik bagi industri.

0
133

Oleh: Usmar Ismail

30.000 orang bekerdja pada perindustrian film di Hollywood. Kebanjakan mereka adalah pekerdja2 biasa, tukang listrik, tukang kaju, penggambar, perias, pendjahit, tukang potret, pendek kata seluruh kepegawaian jang diperlukan untuk memungkinkan tertjiptanja sebuah film. Meskipun golongan buruh tangan ini jang terbanjak, tetapi mereka bukanlah merupakan penduduk Hollywood. Mereka tjuma kaki-tangan dari orang-orang Hollywood jang sebenarnja, ialah para produser, regisur, pemain dan pengarang2 jang memberi bentuk kepada apa jang disebut orang kehidupan Hollywood. Bitjara tentang Hollywood, adalah bitjara tentang orang jang disebut belakangan ini. Meskipun ada lagi satu golongan lain jang merupakan golongan elite ialah kaum jang mempunjai kekuasaan dan mempunjai uang, namun jang merekamkan stempel diatas masjarakat Hollywood ialah orang2 tengahan tadi.

JANG PENTING MOVIES

Orang Hollywood inilah jang mentjiptakan Hollywood seperti dikenal orang. Merekalah jang tidur, makan, minum dan pembitjaraannja tidak lain dari pada movies (film). Djika sudah agak lama djuga tinggal antara mereka barulah orang sadar, bahwa bagi mereka jang terpenting didunia ini ialah movie. Mereka hidup seolah2 terasing sendiri dari dunia luaran. Apa jang terdjadi diluar itu bagi mereka tjuma penting, djika ada hubungannja dengan mereka sebagai pembuat2 film. Mungkin mereka belum pernah mendengar nama Indonesia, sebelum dalam s.k. “Los Angeles Times” dimuat sebuah berita bahwa parlemen sebuah negara jang bernama Indonesia akan menolak pemasukan film2 gangster dan cowboy. Pengetahuan mereka hanjalah tjukup untuk mengetahui, bahwa tiap penolakan dari suatu negara terhadap pemasukan2 film Amerika akan berakibat djelek kepada kantong mereka.

Demikianlah typis sekali, bahwa surat2 kabar Los Angeles hampir tidak ada jang memuat berita2 internasional selain dari perang Korea.

Djuga programa radio tidak menundjukkan perhatian mereka kepada dunia lauran. Demikianlah mereka ini mengasingkan diri disuatu temapt pengasingan jang mereka dirikan dengan suka-rela dalam satu kota industri tunggal, jaitu: film. Kadang2 tak dapat kita melepaskan kesan, bahwa orang2 Hollywood ini jang membuat film2 jang memungkinkan berdjuta2 orang diseluruh dunia lari dari kenjataan mentjari hiburan dalam gedung2 jang digelapkan sendiri, adalah pelarian2 djuga.

ORANG2 MUDA SADJA

Orang2 pelarian ini jang bertanggung djawab atas pembangunan sebuah industri jang demikian besarnja dibandingkan dengan pemimpin industri lainnja di A.S. amat muda dalam umur. Hollywood adalah temapt dimana sukses dan kekajaan bisa lekas didapat, tetapi bisa djuga lenjap dalam sekedjap. Kissah orang2 luar biasa bisa didengar dimana2. Tjerita tentang Darryl F. Zanuck jang telah mendjadi penulis scenario film Rin Tin Tin jang terkenal pada umur 22 tahun, jang naik djadi produser pada Warner Bros ketika berumur 26 tahun dan mendjadi vice president 20th Century Fox pada umur 31 tahun. Demikian pula David O. Selznick djadi vice president MGM pada umur 31 tahun dan bertanggung djawab atas pembuatan film2 besar seperti Gone with the Wind. Matthew Fox jang kita kenal djuga di Indonesia djadi pembantu president Universal pada umur 29 tahun. Banjak tjontoh2 lain jang menundjukkan, bahwa Hollywood pada hakikatnja diperintah oleh orang2 muda dengan segala akibatnja.

Salah satu jang terpenting ialah optimisme jang pada hakikatnja mendjadikan Hollywood pusat industri film dunia seperti sekarang ini. Memandang kembali kepada pengalaman2 saja jang belum seberapa dalam lapangan film, saja dapat merasakan dan memahami: bahwa hanjalah dengan optimisme suatu industri seperti industri film dapat dibangunkan. Kalau dipikirkan, bahwa buat tiap film jang dibikin jang tidak bisa dengan pasti ditetapkan dari mula sukses tidaknja, dikeluarkan djumlah uang jang besarnja bisa mengagetkan orang2 dagang biasa. Tetapi dalam hal Hollywood ternjata bahwa optimisme dan enthousiasme telah mendatangkan keuntungan jang berlipat ganda.

Meskipun begitu optimisme Hollywood tidak bisa melepaskan diri dari perasaan was-was dan ragu2. Selalulah kedengaran keluhan2: “Ini adalah perusahaan gila jang memuleskan perut dan menghilangkan rasa harga diri, membikin orang bisa edan dalam waktu semalam”. Tidaklah mengherankan, djika meradjalela perasaan tidak puas. Nafsu dan temperamen menguasai suasana orang2 pada senewen. Ada kenalan saja jang tadinja mendjadi regisur pada MGM dengan gadji ribuan dollar saban minggu, sekarang sudah bertahun2 menunggu kesempatan untuk kerdja lagi. Beberapa penulis jang telah mendapat Oscar, ada jang beberapa minggu kemudian tidak dipakai lagi. Mae West pernah mendapat gadji $326.500 buat satu tahun, tetapi beberapa bulan kemudian tak ada lagi jang mau mengontrak dia. Begitulah pula halnja dengan John Gilbert, Ramon Navarro, Luise Rainer dll.

Tetapi kebalikannja banjak pula tjerita2 tentang seorang pemain jang dalam tempo dua tahun sadja gadji naik dari $100 seminggu sampai $3000 seminggu. Bagi penonton jang suka mengikuti riwajat hidupnja pemain2 film kadang2 memang timbul pertanjaan: kenapa sih, peran Anu kemarin baru djadi bintang sekarang sudah kelihatan djadi extra?

DARLING & HONEY

Semua keadaan jang saja sebut diatas menimbulkan sematjam kompleks jang lain, jaitu apa jang disebut “bravado” kompleks, ialah keinginan untuk lain dari orang lain baik dalam perbuatan, tingkah laku maupun pembitjaraan. “Kasilihat mereka!” itulah djadi sembojannja. Apa jang dikasi lihat itu berbeda2 pada tiap orang. Ada jang suka punja tudjuh buah Cadillac dari berbagai warna jang diparadekan kalau pergi ke studio, ada jang suka datang kepesta2 resmi dalam kemedjanja sadja, pendek kata 1001 perangai dan tingkah laku.

Orang2 Hollywood suka dibitjarakan, tetapi lebih suka dipudji. Mereka memerlukan itu untuk mempertahankan diri dari perasaan was-was jang selalu ada. Kebanjakan mereka suka bermain djuga djika tidak didepan camera. Karena itu bagi orang2 luar kelihatan mereka berlebih2an dalam berlagak dan bitjara.

Selama saja mengelilingi studio2 Hollywood dan berkenalan dengan orang2nja, jang menarik perhatian saja ialah tjara mereka memanggil jang satu dengan jang lain, baik antara laki2-perempuan atau antara sesama perempuan. Si regisur memanggil seorang aktris “darling”, si aktris panggil cameraman “honey” dan kalau mereka mau agak sopan dipakai kata “dear”. Kata2 panggilan kesajangan ini diobral kian-kemari, disertai dengan saling memudji setinggi langit, “Oo, kemarin malam aku lihat filmmu jang terachir. Tjantikmu seperti bidadari, lebih dari bidadari….” Demikian orang2 Hollywood bitjara dan berpikir serba berlebih2an. Dan dalam keadaan demikian itulah jang memang mereka perlukan.

“SHOW THEM”

Tetapi satu hal tidak dapat disangkal: mereka tjinta akan pekerdjaannja, mereka telah djatuh tjinta kepada film, seperti mentjandu jg tak dapat ditinggalkan lagi. Bagaimana pun djuga sukarnja dan beratnja pekerdjaan mereka, semua itu mereka rasakan sebagai bermain2, sebagai liburan. “liburan seniman”. Untuk itu mereka dibajar, dibajar untuk bermimpikan impian masing2.

Orson Welles waktu pertama kali dibawa masuk kedalam studio terpesona kagum: “Ini adalah permainan kereta api2an jang terbesar jang djadi impian tiap anak”. Pernah seorang cameraman bertjerita kepada saja: “Saja telah membikin berpuluh2 film. Tetapi tiap kali saja lihat nama saja muntjul dilajar putih, mau tidak mau timbul djuga pada saja perasaan bangga meskipun saja tak ingin mengakuinja.”

Tidak ada orang Hollywood jang meninggalkan pekerdjaannja atas kemauan sendiri. Mereka terpaksa mengundurkan diri karena keadaan tetapi mereka tetap akan waspada buat selama2nja untuk kembali guna “kasi lihat mereka” (show them). Film Sunset Boulevard menggambarkan kenjataan ini setjara terus terang, tetapi djuga membuktikan, bahwa “come back” (djalan kembali) ini tidak mustahil. Gloria Swanson sekarang sudah djadi bintang kembali sesudah hilang hampir 20 tahun.

***

Itulah tjoretan selajang pandang tentang orang2 Hollywood, orang2 jang dipertjajakan membuat film jang rata2 ongkosnja djarang jang kurang dari $500.000. Memang banjak antara mereka orang2 jang separo dan seperempat edan, orang2 jang gila hormat, semi intelektuil, bodoh dan tak tahu adat. Kebanjakan orang, djika bitjara tentang Hollywood, bitjara tentang orang2 itu akan menjumpahi film2 jang mereka perbuat. Aneh djika kita omong tentang kesusasteraan misalnja, kita tjuma omong tentang Goethe, Shakespeare, Ibsen dan kita melupakan pengarang2 jang lain jang beribut2 djumlahnja jang tulisan2 mereka lebih baik dilemparkan kekerandjang sampah dari apda ditjetak.

Tetapi tragik Hollywood ialah, bahwa orang djustru melupakan puntjak2 tjiptaannja jang sedikit dan tjuma membitjarakan jang djelek2 jang banjak. Pada hemat saja, pada hakikatnja sedjarah suatu kesenian adalah sedjarah puntjak2 kesenian itu “Citizen Kane”, Grapes of Wrath”, “Gone with the Wind”, “Wuthering Height”, “The Long Voyage Home”, “The Informer”, “Intolerance”, daftar ini akan djadi pandjang djuga, djika orang ingin membuktikan, bahwa Hollywood bukan hanja didiami oleh pelawak2, tjalon2 rumah sakit gila dan orang2 jang buta huruf. (Suara Merdeka).

Sumber: Star News Nomor 4 Tahun II, 30 April 1953.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here