Obrog, Dahulu dan Kini

0
54

Lazimnya pada bulan Ramadan, orang membangunkan sahur dengan cara berteriak atau memukul beduk keliling kampung. Tapi berbeda dengan di wilayah pantai utara, Indramayu, dan Cirebon. Daerah pantura ini bukan saja terkenal dengan beragam kekayaan lautnya yang melimpah, tetapi juga beragam tradisi unik yang ada di sana. Di sana, menjelang sahur ramai dengan suara nyanyian diiringi musik oleh suatu rombongan yang berkeliling.

Bulan Ramadan di Kota Indramayu dan Cirebon semarak dengan ingar-bingar musik dari kesenian obrog. Warga di daerah pantura ini dibangunkan dari tidurnya untuk melaksanakan sahur dengan bunyi musik yang khas. Fenomena obrog, sebagai sebuah seni tradisi sangat menarik untuk ditelisik, khususnya pada perubahan media (alat musik), bentuk, dan pergeseran fungsinya.

Apa itu obrog? Nama obrog berasal dari bunyi alat musik yang sering dipakai, semacam gendang. Tidak diketahui dengan pasti kapan kesenian ini tercipta. Obrog merupakan kesenian yang banyak ditemui selama bulan Ramadan. Selama sebulan penuh, rombongan musik obrog berkeliling dari desa ke desa guna membangunkan warga untuk segera begegas makan sahur. Mereka menyusuri desa-desa dengan memainkan alat-alat musik dan bernyanyi di pagi buta. Mereka biasanya beraksi mulai pukul 02.00 WIB atau 03.00 WIB.

Alat-alat musik yang dimainkan rombongan obrog, dulu berupa alat-alat musik tradisional. Sekarang rombongan obrog bermain dengan menggunakan alat musik modern. Mulai dari gitar elektrik, bas, organ, tamborin, dilengkapi sound system yang didorong di atas roda. Ada juga rombongan obrog yang menyediakan panggung mini yang didorong di atas roda. Para biduannya juga banyak yang membawakan lagu-lagu dangdut kontemporer. Mirip sebuah grup organ tunggal.

Pada tahun 1985-an, obrog banyak dimainkan grup dangdut kelas pinggiran dengan perangkat musik yang lengkap. Teknologi karaoke yang marak pada ’90-an turut mewarnai perkembangan obrog. Beberapa tahun belakangan obrog banyak dimainkan dengan organ tunggal. Pada saat bulan Puasa tiba, grup obrog menjamur di sekitar wilayah pantura. Satu grup obrog biasanya masih terikat hubungan kerabat.

Perubahan

Dulu obrog hanya dimainkan kaum laki-laki. Ini disebabkan kaum perempuan dianggap tabu keluar malam oleh masyarakat. Namun sekarang rombongan obrog banyak menyertakan perempuan di dalamnya, terutama yang bertindak sebagai biduan.

Perubahan-perubahan ini memang wajar. Obrog bukanlah produk kesenian yang sakral. Ia dapat berubah sesuai keadaan dan tuntutan zaman, serta keinginan/selera masyarakat pendukungnya. Penggunaan alat-alat musik modern adalah bentuk tuntutan zaman yang diikuti para pelaku seni ini. Hal lain yang unik dari obrog, yaitu saat Idulfitri (Lebaran) tiba, masyarakat akan memberi uang, beras atau makanan sebagai ucapan terima kasih karena mereka telah dibangunkan untuk sahur selama bulan Puasa. Ini adalah wujud hubungan timbal balik antara pelaku seni obrog dan masyarakat.

Setiap kegiatan seni memiliki sebuah fungsi. Edi Sedyawati (2006: 366) menyebutkan fungsi seni, yaitu sebagai penyalur kekuatan adikodrati, penyalur bakti kepada Tuhan (religius), melestarikan warisan nenek moyang, sarana atau komponen pendidikan, kegiatan bersenang dan berhibur, juga sarana pencaharian hidup. Di masa lalu obrog erat sekali dengan fungsi penyalur bakti pada Tuhan (religius).

Tujuan utama obrog adalah membangunkan orang untuk bersantap sahur. Secara langsung mereka juga berperan mengajak orang untuk beribadah. Selain itu, obrog menjadi media komunikasi sosial masyarakat. Namun kini fungsi tersebut perlahan telah bergeser. Fungsinya kini lebih kepada sarana pencaharian hidup (ekonomis/komersial). Kebanyakan rombongan obrog berkeliling untuk meraup penghasilan. Biasanya mereka menarik uang/saweran untuk permintaan sebuah lagu.

Awalnya, nilai penganut obrog adalah pengabdian. Seiring perkembangan zaman yang menjadi semakin praktis, orang juga akan berpikir semakin praktis. Akhirnya penganut obrog akan berpikir ekonomis supaya mendapatkan penghasilan melalui obrog. Lazimnya, rombongan obrog memulai aksinya pukul 02.00 WIB. Namun sekarang karena tujuan komersial tadi, banyak rombongan yang memulai berkeliling dari pukul 22.00 WIB, jauh sebelum waktu sahur tiba. Mereka adu cepat untuk berangkat ngobrog keliling kampung dan tentunya memilih tempat kunjungan yang “tepat”.

Generasi penerus perlu mengetahui fungsi utama obrog, yakni religius (beramal). Jangan sampai fungsi utama ini hilang begitu saja dan tergantikan oleh makna materil (mencari uang) semata. Sudah sepatutnya obrog dikembalikan ke makna semula, yaitu beramal. Mudah-mudahan kesenian unik yang ada setiap bulan Ramadan ini tetap lestari.

Tulisan ini dimuat pertama kali di Galamedia, 28 Agustus 2008.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here