Nyadran, Tradisi Syirik?

0
84

Menjelang bulan Ramadhan lalu, sebagian masyarakat Jawa melaksanakan upacara nyadran. Apa itu nyadran? Nyadran adalah kegiatan keagaman tahunan yang diwujudkan dengan ziarah ke makam leluhur menjelang bulan Ramadhan. Kegiatan dalam ziarah tersebut di antaranya membersihkan makam leluhur, memanjatkan doa permohonan ampun, dan tabur bunga.

Biasanya para peserta nyadran membawa aneka makanan, seperti tumpeng, apem, ingkung, pisang raja, jajanan pasar, dan kolak, ke lokasi pemakaman. Makanan-makanan ini dibawa dengan menggunakan sejumlah jodang atau yang biasa disebut tandu. Selain itu, mereka juga membawa kemenyan serta beraneka macam bunga, seperti mawar, melati, dan kenanga.

Nyadran dilakukan setiap bulan Sya’ban atau dalam kalender Jawa disebut bulan Ruwah. Sulit ditelusuri sejak kapan tradisi ini berlangsung di masyarakat kita. Seorang ahli menyatakan bahwa tradisi nyadran mempunyai kemiripan dengan craddha pada masa kerajaan Majapahit. Kemiripan tersebut terlihat pada kegiatan manusia “berinteraksi” dengan leluhur yang telah meninggal, seperti pengorbanan, sesaji, dan ritual sesembahan yang hakikatnya adalah bentuk penghormatan terhadap yang sudah meninggal.

Lazimnya kegiatan nyadran dilakukan dengan ziarah ke makam-makam leluhur atau orang besar (para tokoh) yang berpengaruh dalam menyiarkan agama Islam pada masa lalu. Masyarakat di satu daerah memiliki lokasi ziarah masing-masing. Semisal di Desa Wijirejo, Bantul, nyadran dilaksanakan di makam Panembahan Bodo. Panembahan Bodo adalah nama lain dari Raden Trenggono, yang dipercaya menyiarkan Islam di daerah ini.

Di Dusun Panjang Lor, Kabupaten Semarang, nyadran dilakukan di makam Nyi Tirto Tinoyo atau lebih dikenal sebagai Nyi Panjang. Warga setempat meyakini bahwa Nyi Panjang merupakan istri lurah pertama di sana, yang menjadi cikal-bakal Kampung Panjang. Masyarakat di Desa Bulakan, Kabupaten Sukoharjo, menyelenggarakan ritual nyadran di Pemakaman Gesingan. Sedangkan warga Desa Jetis, Kabupaten Temanggung, menyelenggarakan ritual nyadran di kompleks pemakaman leluhur mereka di kaki Gunung Sumbing.

Selain di daerah Jawa Tengah, masyarakat pesisir pantai utara, seperti Cirebon juga mengenal nyadran. Di Cirebon, nyadran[1] dikenal  sebagai upacara buang saji ke lautan lepas. Tujuan utama dari upacara ini adalah sebagai rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan atas hasil tangkapan ikan yang berlimpah. Maklum, masyarakat di sini sebagian besar nelayan. Setelah melaksanakan nyadran, masyarakat lazimnya melakukan tradisi padusan. Padusan berasal dari bahasa Jawa, yaitu adus (mandi). Padusan merupakan kegiatan mandi (bersih diri), yang mempunyai makna persiapan lahir dan batin menuju bulan Ramadhan. Biasanya padusan dilakukan di sumber-sumber air yang dianggap sakral/suci.

Karena ritualnya yang menyertakan sesaji, tradisi nyadran seringkali mengundang perdebatan di kalangan umat Islam. Mereka yang menolak tradisi nyadran berpendapat kalau tradisi ini syirik dan tidak perlu dilaksanakan. Sedangkan yang menghendaki nyadran berpendapat kalau tradisi nyadran sah-sah saja, asal tidak menyembah makam leluhur. Memang tradisi ini kental dengan kebudayaan Hindu dan Budha. Tradisi semacam nyadran telah dikenal nenek moyang kita sejak dahulu. Setelah Islam masuk ke Nusantara (sekitar abad ke-13), tradisi semacam nyadran yang telah dikenal masyarakat ini, perlahan-lahan mulai terakulturasi dengan ajaran Islam. Saat Wali Songo menyiarkan Islam di Jawa, tradisi ini kembali “dimodifikasi”. Akhirnya terjadi perpaduan ritual, antara kepercayaan masyarakat Jawa dengan ajaran Islam, yang lalu menghasilkan tradisi nyadran.

Saya sendiri berpendapat bahwa ritual tradisi nyadran memiliki makna yang dalam dan universal. Aneka makanan, kemenyan, dan bunga memiliki arti simbolis. Tumpeng, melambangkan sebuah pengharapan kepada Tuhan agar permohonan terkabul; Ingkung (ayam yang dimasak utuh) melambangkan manusia ketika masih bayi belum mempunyai kesalahan; pisang raja melambangkan suatu harapan supaya kelak hidup bahagia; jajan pasar melambangkan harapan berkah dari Tuhan; ketan, kolak, dan apem, merupakan satu-kesatuan yang bermakna permohonan ampun jika melakukan kesalahan; kemenyan merupakan sarana permohonan pada waktu berdoa; dan bunga, melambangkan keharuman doa yang keluar dari hati tulus.

Beraneka “bawaan” ini merupakan unsur sesaji sebagai dasar landasan doa. Setelah berdoa, makanan-makanan tersebut menjadi rebutan para peziarah yang hadir. inilah arti kebersamaan dalam nyadran. Di dalam nyadran juga terdapat inti budaya Jawa, yaitu harmoni atau keselarasan. Dalam sebuah keselarasan pasti ada keselamatan. Keselarasan ini hanya dapat terwujud jika ada saling pengertian di antara sesama makhluk Tuhan. Masyarakat Jawa bukan saja mengharapkan harmoni dalam hubungan antar manusia, tetapi juga dengan alam semesta, bahkan dengan roh-roh gaib. Maka dalam upacara nyadran sesaji diberikan. Sesaji bukan bertujuan untuk “menyembah” roh-roh gaib, melainkan menciptakan keselarasan dengan seluruh alam. Nyadran juga merupakan bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas rejeki yang diterima dan menghormati leluhur.

Selain makna-makna tersebut, nyadran ternyata memiliki makna sosial. Ketika masyarakat melaksanakan nyadran, interaksi sosial terjadi. Ada unsur gotong-royong, kebersamaan, kasih sayang, dan pengorbanan di dalamnya. Nyadran juga menjadi ajang silaturahmi antar anggota masyarakat. Bagaimanapun, nyadran akrab dengan nilai kearifan lokal bangsa kita. Tertanam sikap saling mengasihi antar sesama, menghormati leluhur yang telah tiada, serta bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan. Suatu sikap yang perlu menjadi cermin bagi kita semua.

Tulisan ini pertama kali dimuat majalah Bhinneka, edisi 4, Januari 2010.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here