Miss Tjitjih, Pengabdian Seorang Gadis Sumedang

0
101
Usia 28 Tahun
Tahun 1936 tampaknya menjadi tahun terakhir Tjitjih bisa berlenggak-lenggok di atas panggung. Pada tahun itu, Tjitjih mengembuskan napas terakhirnya. Sebelum mengembuskan napas terakhir, Nyi Tjitjih masih sempat bermain dengan rombongannya di Cikampek (Jabar) dengan mementaskan lakon Gagak Solo karangan Tio Tek Djien Jr. 
Dalam lakon tersebut Nyi Tjitjih berperan sebagai Tandak yang diputuskan cintanya oleh putra mahkota. Tjitjih yang selalu berperan sepenuh hati di atas panggung mendadak terjatuh pada saat layar turun. Penonton yang menyaksikan pertunjukan itu mengira bahwa apa yang mereka tonton adalah bagian dari akting Tjitjih.
Pertunjukan di Cikampek ini terhenti di tengah jalan. Nyi Tjitjih memang telahmengidap penyakit sejak lama. Walaupun kondisinya sedang tidak menguntungkan, dia tetap memaksakan untuk bermain. Nyi Tjitjih meninggal dunia setelah dibawa ke tanah kelahirannya, Sumedang.
Tjitjih meninggal pada usia 28 tahun. Sepeninggal Nyi Tjitjih, Bafaqih tetap konsisten melanjutkan napas perkumpulan sandiwara Miss Tjitjih. Sang primadona meninggal dunia setelah sebagian hidupnya dihabiskan untuk mengabdikan diri pada sandiwara Sunda.
Pengabdian gadis Sumedang itu tidak sia-sia. Hingga kini nama Miss Tjitjih tetap berdiri di tengah-tengah publik yangmendukungnya. Sudah selayaknya kehidupan sandiwara Sunda ini mendapatperhatian lebih dari pemerintah, dan kita tidak begitu saja melupakanperkumpulan yang sudah 80 tahun berdiri ini. Semoga []
Tulisan ini pertama kali dimuat di Kompas Jawa Barat, 1 Maret 2008. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here