Menonton Bioskop di Bandung Tempo Doeloe

0
84
uuu
Buse, si raja bioskop Bandung.

Hiburan film dikenal di Indonesia pada akhir tahun 1900. Masyarakat Bandung baru memperoleh kesempatan untuk menyaksikan “keajaiban zaman” ini pada 1907. Di tahun tersebut, dua bioskop hadir di kota ini. Keduanya berdiri di alun-alun kota Bandung berupa bangunan tenda semi-permanen, yaitu de Crown Bioscoop kepunyaan Helant dan Oranje Electro Bioscoop milik Michel. Film kemudian menjadi hiburan favorit kota kembang untuk sekadar melupakan rutinitas harian. pasca berdirinya dua bioskop tersebut, bioskop-bioskop baru lalu didirikan, terutama ketika F.F.A. Buse memegang peranan. F.F.A. Buse kemudian dikenal sebagai “raja bioskop” Bandung. Perlahan-lahan di Bandung, dibangun gedung-gedung bioskop permanen.

Sejak awal kemunculannya, film yang ditonton oleh penduduk Bandung khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya, masih tidak ada suaranya alias bisu. Untuk mengatasi “kebisuan”, pemutaran film bisu memerlukan seorang komentator yang tugasnya berteriak-teriak mendramatisir berbagai adegan di layar putih, tulis Haryoto Kunto dalam bukunya Semerbak Bunga di Bandung Raya. Komentator paling terkenal di Bandung pada masa film bisu adalah Mang Saip di Feestterrein (taman hiburan rakyat) Orion.

Seorang komentator juga ditemani oleh sebuah kelompok musik (orkes) kecil untuk mengiringi jalannya cerita dalam film. Namun, terkadang sering tidak tepat antara adegan di dalam film dengan musik yang dibawakan oleh orkes. Misalnya ketika adegan film sedih, musik yang dimainkan semangat (lagu mars). Di era film bisu, musik jadi latar dengan berbagai alasan, di antaranya sebagai warisan tradisi teater, sebagai peredam suara berisik dari proyektor, dan sebagai pemberi “kedalaman” pada gambar bisu dua dimensi di layar putih.

Pada 1926, Bandung menjadi tonggak penting sejarah perfilman di Indonesia. Di tahun itu di kota ini, dua orang kulit putih, Houveldourp dan Krugers, atas bantuan F.F.A. Buse dan Bupati Bandung R.A.A. Wiranatakusumah V, berhasil membuat film cerita pertama di Indonesia berjudul Loetoeng Kasaroeng. Selang tiga tahun “kehebohan” besar terjadi lagi di penghujung tahun 1929 dan awal tahun 1930. Film bersuara pertama tiba di Indonesia.

Surabaya mendapat “kehormatan” untuk menayangkan film bersuara pertama. Bertempat di Princesse Schouwborg pada 26 Desember 1929, film bersuara berjudul Fox Follies diputar. Secara perlahan-lahan ini menandai berakhirnya era film bisu di Indonesia. Film bersuara ketika itu lebih dikenal masyarakat dengan sebutan talking pictures. Tercatat dalam sejarah, yang menjadi film bersuara pertama di dunia yaitu The Jazz Singer produksi Warner Brothers Amerika Serikat pada 1927.

Film bersuara sampai di Bandung pada 1930. Yang memperkenalkan film bersuara adalah Charles Hugo. Dia berkeliling ke kota-kota besar di Jawa membawa dan memperkenalkan film bersuara. Nampaknya usaha Charles Hugo ini mempunyai tujuan yang lebih penting, yaitu promosi peralatannya, Hugo Apparaat. Perjalanan Hugo ini didukung oleh General Manager Fox Film, yang juga promosi hasil produksi filmnya.

 

Bioskop Oriental termasuk bangunan bioskop yang punya arsitektur indah bergaya Art Neveau. Kemegahannya harus berakhir karena digusur untuk pembangunan pusat perbelanjaan Palaguna.

Film bersuara pertama yang diputar di Bandung adalah The Rainbow Man. Film ini diputar di bioskop Luxor mulai 15 Februari 1930. Publik Bandung sangat antusias ketika film bersuara diputar di bioskop-bioskop Bandung. Mereka tidak sabar untuk menyaksikan dengan mata-kepalanya sendiri hasil dari kemajuan zaman. Bahkan menurut Haryoto Kunto dalam Wajah Bandoeng Tempo Doeloe film bersuara pertama yang diputar pada 15 Februari 1930 tersebut berjubal penonton. Film tersebut dapat menarik ratusan penonton yang mencoba menjebol pintu masuk, sampai terpaksa didatangkan satu regu polisi untuk mengamankan keadaan itu.

Pada masa ini muncul tren baru di bioskop-bioskop, yaitu pemakaian embel-embel takies di belakang nama sebuah bioskop. Dengan mencantumkan kata-kata talkies, berarti bioskop mereka telah memasang proyektor film bersuara. Namun tidak semua bioskop mampu memasang proyektor film bersuara yang harganya selangit. Sampai pertengahan tahun 1930 baru sebagian kecil bioskop saja yang mampu memasang proyektor film bersuara. Promosi iklan dari perusahaan proyektor film bersuara juga gencar dilakukan pada masa ini. Dalam iklan-iklannya, biasanya mereka menulis bioskop-bioskop mana saja yang telah menggunakan hasil produk mereka. Misalnya yang memakai merk Klangfilm-Tobis di Bandung adalah bioskop Varia dan Concordia milik F.F.A. Buse.

Kehadiran film bersuara sebenarnya punya sisi yang positif bagi perkembangan industri film di Indonesia. Faktor bahasa adalah yang utama. Film bersuara yang ada di bioskop-bioskop adalah film impor, yang kebanyakan memakai bahasa Inggris. Penonton kebanyakan tidak mengerti arti bahasa itu. Karena faktor itu para pelaku film di negeri ini dapat mengambil keuntungan untuk membuat film bersuara dengan bahasa Indonesia yang lebih komunikatif. Film-film bersuara buatan dalam negeri akan dapat diterima dengan baik oleh publik. Perusahaan film di Indonesia baru dapat memproduksi film bersuara pada 1931.

Film bersuara pertama menurut keterangan The Teng Chun di dalam buku Film Indonesia Bagian I adalah buatan Bandung. Besar kemungkinan yang membuat film bersuara pertama di Indonesia adalah Krugers dan Wong. Taufik Abdullah, S.M. Ardan, dan Misbach Yusa Biran dalam buku Film Indonesia Bagian I menulis bahwa film bersuara pertama keluaran Halimoen Film milik Wong adalah Indonesia Malaise. Dalam poster iklannya, tertulis untuk jangan menyamakan film ini dengan film yang sudah keluar di Indonesia. Film yang lebih dahulu itu maksudnya adalah film buatan Krugers Film Bedrijf milik Krugers yang berjudul Karnadi Anemer Bangkong (Karnadi Tangkap Kodok). Film ini menimbulkan kemarahan penonton Sunda, karena dirasakan menghina dan merendahkan derajat orang-orang Sunda. Di dalam film tersebut Karnadi (dari etnis Sunda) digambarkan hanya seorang penangkap kodok.

Peralatan untuk membuat film-film bersuara tersebut juga dikerjakan di Bandung. Wong meminta bantuan dua orang ahli bernama Morris dan Lemmens untuk “mengakali” kameranya agar menghasilkan suara. Kamera Krugers digarap oleh Morris. Menurut The Teng Chun, Lemmens adalah pengajar di sekolah teknik, mungkin mengajar di Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB).

Begitu panjang Bandung mencatatkan sejarah di dunia perfilman kita. Selain dikenal sebagai pelopor pembuatan film cerita pertama di Indonesia, Bandung juga menjadi yang pertama untuk memproduksi film bersuara di Indonesia. Namun citra itu sekarang nampak kian tidak terlihat di kota ini. Bangunan bioskop yang dahulu banyak berdiri di kota ini, kini semakin tidak terurus, terabaikan, dan banyak yang beralih fungsi. Semoga ini menjadi perhatian kita semua.             

Tulisan ini pertama kali terbit di majalah Mata Jendela volume III Nomor 3/2008.           

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here