Mencari Jejak Soeprijadi

0
91
Monumen Pembela Tanah Air (Peta) di Blitar, Jawa Timur. /Fandy Hutari.

“4 tempat stelling (?) regu senapan yang menembaki mess Kasikan Sidukan.”

Kira-kira begitu tulisan yang terukir di dinding gerbang SMP Negeri 4 Blitar. Tulisan itu tak terbaca dengan jelas. Di seberangnya, berdiri Monumen Peta. Ada tujuh patung berseragam tentara Pembela Tanah Air (Peta) dengan wajah marah. Patung-patung ini membawa senapan laras panjang, bayonet, pedang, dan pistol. Sementara patung yang di tengah, tangan kanannya meninju ke langit.

Di bawah patung yang paling tengah itu, terdapat lambang Peta. Lantas, di bawahnya, ada prasasti bertulis:

“Di tempat ini, pada tanggal 14 Februari 1945 tepat pada jam 02.30 dini hari berdentumlah suara mortar yang pertama sebagai tanda dicetuskannya pemberontakan tentara Peta Blitar di bawah pimpinan Shudancho Soeprijadi melawan penjajah Jepang. Bersama dengan gerakan pasukan tersebut pada jam 04.00 dikibarkanlah bendera pusaka merah putih di tiang bendera lapangan apel tentara Peta yang terletak di seberang markas daidan.”

Semua yang saya lihat sewaktu mengunjungi Blitar, Jawa Timur pada 20 Januari 2019 ini adalah saksi bisu perlawanan anggota Peta pimpinan Soeprijadi.

Api dalam sekam

Peta adalah tentara sukarela. Pembentukan pasukan ini merupakan hasil karya badan intelejen Sambobu Tokubetsu-ham. Peta dibentuk pada 3 Oktober 1943. Daidan (Batalion) Blitar dengan empat chudan dibentuk pada 25 Desember 1943 (Lebra, 1988: 105).

Joyce C. Lebra dalam bukunya Tentara Gemblengan Jepang (1988) mencatat sejumlah alasan mengapa beberapa anggota Peta di Blitar marah, hingga meletus pemberontakan.

Pertama, Daidan Peta Blitar meninggalkan kota pada paruh kedua 1944. Mereka dikirim ke daerah-daerah pantai, lokasi mereka bekerja bersama pekerja sukarela romusha. Di sana, mereka terkejut melihat kesengsaraan para romusha, yang kekurangan gizi dan terserang penyakit. Belum lagi, mereka menyaksikan kesombongan para Kempeitai (polisi militer), yang juga berlaku kejam kepada romusha.

Kedua, daidancho (mayor, pemimpin batalion) dan perwira Indonesia tidak senang dengan kewajiban hormat kepada bintara Jepang, yang pangkatnya paling rendah sekalipun.

Ketiga, Joyce mengutip sejarawan Kahin, yang mengaitkan pemberontakan ini dengan kegiatan anti-Jepang yang dilakukan kelompok Sjarifuddin dari Partai Komunis. Menurutnya, kelompok ini beroperasi di bawah tanah.

Alasan terakhir, Soeprijadi sang pemimpin pemberontakan, ingin Indonesia merdeka sepenuhnya.

Pemberontakan ini sudah direncanakan sejak September 1944. Beberapa orang pucuk pimpinan pemberontak, sudah melakukan pertemuan rahasia.

Soeprijadi, yang seorang shodancho (komandan peleton), menjadi pemimpinnya. Ada pula nama shodancho Moeradi dan Soeparjono, dan tiga orang bundancho (komandan regu), yakni Soedarmo, Soenanto, dan Halir Mangkoedidjaja.

Bara yang lantas padam

Sukarno, salah seorang pemimpin yang disegani ketika itu, sebenarnya sudah mengetahui rencana makar anak-anak muda Peta Blitar ini. Hal itu dia akui dalam buku biografinya, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (1988), yang ditulis Cindy Adams.

Kebetulan, ketika ada rencana pemberontakan, Sukarno sedang berkunjung ke rumah orang tuanya di Blitar. Lalu, beberapa orang perwira Peta, termasuk Soeprijadi, menemuinya. Mereka lantar meminta pendapat Bung Karno terhadap rencana pemberontakan.

“Pertimbangkanlah masak-masak untung ruginya. Saya minta saudara-saudara memikirkan tindakan yang demikian itu tidak hanya dari satu segi saja,” kata Sukarno.

“Kita akan berhasil,” ujar Soeprijadi.

Sukarno beranggapan, kekuatan militer mereka sangat lemah. Namun, Sukarno tak bisa menghalangi semangat para pemuda Peta yang kadung berapi-api itu. Sukarno pun meminta mereka memikirkan ulang rencana itu, karena akibatnya akan fatal. Dia pun memikirkan keberlangsungan Peta sebagai alat revolusi bisa hancur lantaran pemberontakan ini.

“Saya harus menerangkan dengan jelas kepadamu semua. Kalau engkau terus bertahan hendak mengobarkannya, saya sokong. Saya akan membantu dengan pembuatan rencana. Akan tetapi saya harus hati-hati sekali untuk menutupi jejakku. Jangan sampai timbul persangkaan Jepang, ini kebetulan terjadi di negeriku. Dalam keadaan apa pun saya tidak akan membukakan rahasia ini. Saya akan terpaksa memungkiri segala sesuatu yang kuketahui mengenai peristiwa ini demi berlangsungnya kehidupan Peta untuk masa selanjutnya,” tutur Bung Karno.

Akan tetapi, perlawanan mereka tak bisa dibendung lagi. Menurut Joyce C. Lebra, pemberontakan pun pecah pada 14 Februari 1945, pukul 03.00. Hal ini ditandai dengan penembakan mortir ke Hotel Sakura yang ditempati para perwira Jepang di Blitar.

Markas Kempeitai pun tak luput dari rentetan peluru senapan mesin. Joyce menulis, jumlah total pemberontak sebanyak 360 orang. Selama perlawanan, 25 perwira Jepang berhasil dibunuh. Namun, perlawanan itu bisa dipadamkan dengan perundingan dan kekerasan.

Akibat perlawanan ini, 78 perwira beserta anak buahnya dikirim ke Jakarta untuk dihadapkan ke pengadilan militer tentara Jepang. Enam orang dihukum mati, enam orang dihukum seumur hidup, dan sisanya mendapat hukuman kurungan beragam.

Selain itu, Sagimun MD dalam bukunya Perlawanan Rakyat Indonesia terhadap Fasisme Jepang (1985) menulis, pada 14 April 1945 Daidan Blitar dijatuhi hukuman kolektif. Mereka yang tak diberangkatkan ke Jakarta, dikucilkan di daerah Gambyok, lereng Gunung Wilis yang tandus. Di dalam pengasingan, mereka membuat rumah dari bambu dan atap ilalang. Untuk mendapatkan air minum, mereka harus berjalan 25 kilometer ke arah Nganjuk.

Nugroho Notosusanto di dalam bukunya Tentara Peta pada Jaman Pendudukan Jepang di Indonesia (1979) mencatat enam orang yang dijatuhi hukuman mati, yakni dokter Ismangil (chudancho), Moeradi (shodancho), Soeparjono (shodancho), Soenanto (bundancho), Halir Mangkoedidjaja (bundancho), dan Soedarmo (bundancho).

Vonis mati itu dijatuhkan pada 16 April 1945. Mereka dieksekusi di Ancol, Jakarta Utara. Namun, anehnya tak ada nama Soeprijadi di dalam daftar orang-orang yang dijatuhi hukuman. Dia menghilang entah ke mana.

Misteri yang tetap seksi

Soeprijadi lahir di Trenggalek pada 13 April 1923. Menurut buku 100 Tokoh yang Mengubah Indonesia: Biografi Singkat Seratus Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah Indonesia di abad 20 (2017), nama kecil Soeprijadi adalah Priyambodo.

Di dalam bukunya, Joyce C. Lebra menyebut, Soeprijadi seorang shodancho muda yang tenang, religius, dan mistis. Sejak kecil, dia gemar bermeditasi dan puasa. Dia merupakan salah seorang perwira PETA pertama yang mendapat gemblengan di Seinen Dojo (Barisan Pemuda) di Tangerang, di bawah pimpinan Yanagawa.

Hilangnya Soeprijadi masih menjadi misteri yang tetap seksi untuk diperbincangkan. Masih segar dalam ingatan publik, pada 2008 lalu ramai pemberitaan seorang warga Semarang bernama Andaryoko Wisnuprabu mengaku sebagai Soeprijadi.

Meski masih kontroversial, kisah Andaryoko kemudian disinggung di dalam buku Baskara T. Wardaya, Mencari Supriyadi: Kesaksian Pembantu Utama Bung Karno (2008).

Pada 2018 lalu, juga ada seorang kakek bernama Waris Yono alias Suyono warga Jember, yang mengaku sebagai Soeprijadi. Dia mengaku mengganti nama karena takut diburu rezim Orde Baru. Alasannya, dia pendukung Bung Karno.

Pengakuan seperti ini sudah berlangsung sejak lama. Menurut Sulisih Darmadi, ibu tiri Soeprijadi, beberapa orang pernah datang ke rumahnya mengaku sebagai anak tirinya yang tak pernah kembali.

Nugroho Notosusanto di dalam buku Tentara Peta pada Jaman Pendudukan Jepang di Indonesia (1979) berpendapat, saat pecah pemberontakan Peta, Soeprijadi tertangkap pasukan Jepang. Dia disiksa hingga meninggal dunia selama introgasi.

“Karena situasi yang gawat waktu itu, peristiwa itu dirahasiakan oleh mereka yang terlibat, boleh jadi Kempeitai, untuk menghindari pemberontakan yang lebih luas,” tulis Nugroho dalam bukunya.

Sementara, Sagimun MD punya pendapat berbeda. Dia yang pernah menjadi anggota tim Badan Pembina Pahlawan Pusat Departemen Sosial dan anggota tim penyusunan buku Citra dan Perjuangan Perintis Kemerdekaan Seri Pemberontakan Peta Blitar, mengungkapkan argumentasinya dalam buku Perlawanan Rakyat Indonesia terhadap Fasisme Jepang (1985).

Sagimun mengaku melakukan riset untuk menemukan apa yang terjadi dengan Soeprijadi ketika meletus pemberontakan. Argumentasinya ini berdasarkan hasil wawancaranya dengan sejumlah narasumber sezaman, seperti Harjomiarso (Kepala Desa Sumberagung, Blitar), Romomejo (tetua Desa Ngliman di Kabupaten Nganjuk), M Nakajima (bekas anggota Beppan, badan intelejen tentara Jepang dan bekas anak buah Yanagawa yang ikut melatih Soeprijadi di Tangerang), dan Haji Mukandar (penduduk di Bayah, Banten yang mengaku pernah memandikan dan memakamkan Soeprijadi).

“Kesimpulannya, Soeprijadi berhasil meloloskan diri dari kejaran tentara Jepang, dengan menyamar menjadi rakyat biasa dan sebagai mandor romusha di Bayah. Kemudian berusaha meneruskan perjuangannya menentang Jepang. Soeprijadi wafat di Bayah akibat penyakit disentri kira-kira sebulan sebelum proklamasi,” tulis Sagimun MD [].

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here