Legian

Pandemi melumpuhkan ekonomi di Jalan Legian, Bali.

0
271
Suasana Jalan Legian pada siang hari, Jumat (28/5/2021)./Fandy Hutari.

Catatan.

Tiba di Bali pada 27 Mei malam, pukul 18.55 WITA–jarum jam tangan saya masih menunjukkan pukul 17.55 WIB. Perbedaan waktu sejam membuat saya merasa agak aneh. Bandara Ngurah Rai di Denpasar, terlihat sangat ramai.

Seorang sopir taksi daring menjemput saya di area parkir bandara. Sepanjang perjalanan ke hotel, suasana begitu sepi bagai kota mati. Kondisi yang pernah saya lihat di YouTube, ternyata bukan isapan jempol. Ini kenyataan.

“Sekarang Bali sepi, Pak. Ya, sejak ada Corona,” kata Sopir taksi daring yang saya tumpangi.

Suasana Jalan Legian, Bali, Kamis (27/5/2021)./Fandy Hutari.

Perjalanan ke hotel setidaknya memakan waktu sekitar sembilan menit. Lokasinya ada di Jalan Legian. Dalam perjalanan, I Ketut Artana, sopir taksi daring yang saya tumpangi bercerita beberapa tempat yang tadinya ramai turis asing.

“Ini mal. Dulu ramai turis pada duduk-duduk di tangga itu. Tapi, sekarang kondisinya sepi sekali,” katanya, menunjuk sebuah mal dekat Pantai Kuta.

Menurutnya, Pantai Kuta pun dahulu selalu ramai hingga larut malam. Jalan-jalan yang saya lewati pun terkesan gelap dan jarang sekali orang hilir-mudik. Di sebuah jalan kecil menuju hotel, yang disebut Artana sebagai surga belanja pernak-pernik dan ramai pelancong asing bagai tak bertuan. Kios-kios itu sudah tutup.

Jalan Popies yang terdapat kios cenderamata. Kios-kios tutup sejak lama, Jumat (28/5/2021)./Fandy Hutari.

“Biasanya sih dulu ini sampai malam sekali juga buka. Sekarang lihat, mungkin setahun lagi kios itu sudah dihuni hantu, ha-ha-ha,” ujar Artana.

Jalan itu disebut Popies Lane. Dari sopir taksi daring lainnya yang saya tumpangi, katanya sebelum pandemi jalan tersebut ramai turis dari Australia. Sekarang, kondisinya gelap dan sepi. Bar-bar yang saya lewati pun serupa. Ada satu-dua yang buka, tapi pengunjungnya nihil.

Selain itu, minimarket, kelab malam, tempat cenderamata, diskotek, dan restoran juga mengalami kondisi serupa. Tutup dan tak terawat. Kaca-kaca minimarket ditempeli kertas koran. Ada pula tulisan “dikontrakan”.

Minimarket yang tutup, Jumat (28/5/2021)./Fandy Hutari.
Kelab malam dan toko yang sudah tutup sejak lama, Jumat (28/5/2021)./Fandy Hutari.

“Beberapa teman saya yang membuka usaha di sini, sekarang banting setir jadi petani, Pak,” ujar salah seorang sopir taksi daring yang saya tumpangi.

Untuk menghindari penyebaran virus Corona penyebab Covid-19, pemerintah memang mengambil berbagai kebijakan. Salah satunya menutup sementara penerbangan internasional ke Bali. Hal ini berpengaruh dengan kunjungan wisatawan mancanegara ke Pulau Dewata. Imbasnya, destinasi yang biasanya ramai bule, kini sepi.

Suasana Jalan Legian pada siang hari, Jumat (28/5/2021)./Fandy Hutari.
Hardrock Cafe yang dahulu ramai pengunjung, Jumat (28/5/2021)./Fandy Hutari.

“Biasanya di situ (menunjuk sebuah bar di Jalan Raya Legian, tak jauh dari hotel saya menginap), kalau malam begini wah bule-bule pada nyanyi sambil minum bir,” tutur Artana.

Lagian dikenal sebagai “kampung bule”. Di sini, orang-orang asing mencari hiburan. Legian merupakan jalan utama yang menghubungkan Kuta dengan Seminyak. Letaknya yang sangat dekat dengan Pantai Kuta, membuat jalan ini populer sebagai salah satu lokasi tujuan wisatawan asing di Bali.

Tempat ini, juga dikenal lantaran pernah ada peristiwa teror bom. Peristiwa kelam itu terjadi pada 12 Oktober 2002, dikenal dengan Bom Bali I. Saat itu, tiga ledakan dalam waktu yang relatif berdekatan terjadi di Paddy’s Pub dan Sari Club di Jalan Legian dan dekat Kantor Konsulat Amerika Serikat.

Monumen Peringatan Tragedi Bom, Kamis (27/5/2021)./Fandy Hutari.

Sebanyak 202 orang tewas dalam peristiwa itu. Mayoritas wisatawan asing asal Australia, yakni 88 orang. Diikuti warga negara Indonesia sebanyak 38 orang dan Britania Raya sebanyak 26 orang.

Untuk mengenang peristiwa mengerikan itu, dibangun sebuah monumen yang diberi nama Monumen Tragedi Kemanusiaan Peledakan Bom 12 Oktober 2002. Monumen yang diresmikan pada 2004 itu, juga dikenal dengan nama Monumen Panca Benua atau Monumen Gorund Zero.

Suasana yang sepi juga saya lihat di Pantai Kuta. Pantai ini hanya ramai pedagang minuman, pembuat tato, penjual gelang, jasa kepang rambut, dan pijat. Seorang nenek menghampiri saya, ketika sedang asyik duduk menikmati pantai dan menyeruput minuman botol. Ia menanyakan asal saya dan memijat tangan saya, sedikit memaksa.

Suasana Pantai Kuta, Jumat (28/5/2021)./Fandy Hutari.

Lalu, penawar jasa pijat lainnya menghampiri. Ada sekitar empat orang. Akhirnya, ia meminta uang jasa setelah saya katakan cukup. Uang yang lumayan besar melayang. Sial. Namun, saya berusaha maklum, mungkin mereka butuh uang karena ekonomi benar-benar tengah sepi []

Legian, Kuta, Bali, 30 Mei 2021.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here