Kuda Renggong, Kuda yang Pandai Menari

0
111
M2081S-1029
Ilustrasi/Sanggar Motekar.

Di Sumedang, seekor kuda pandai menari. Mungkin tidak terbayang dalam benak Ki Sipan bahwa hasil kreasinya terhadap seekor kuda menjadi pertunjukan rakyat yang populer dan tetap lestari hingga kini di tanah kelahirannya, Sumedang.

Ki Sipan dilahirkan pada 1870 dan tinggal di Desa Cikurubuk, Kecamatan Batudua, Kabupaten Sumedang. Profesinya adalah pengurus kuda milik pamong praja dan bangsawan Sumedang. Pada masa kepemimpinan Bupati Sumedang Pangeran Aria Suriaatmaja (1882-1919), populasi kuda di Sumedang meningkat tajam. Hal ini berkenaan dengan kebijakan Aria Suriaatmaja yang mendatangkan bibit unggul kuda dari Sumbawa dan Sumba untuk keperluan transportasi para pembesar Sumedang dan peningkatan kualitas ternak. Kisah kreasi Ki Sipan berawal ketika ia dipercaya untuk mengurus kuda milik para pembesar tersebut.

Sejak kecil Ki Sipan memang menyenangi hewan yang satu ini. Suatu hari pada 1910, Ki Sipan yang tengah memandikan kuda-kuda “titipan” ini melihat seekor kuda bergoyang dengan kaki melintang. Tidak tinggal diam, ia lalu mengiringinya dengan angklung dan musik perkusi dogdog. Ternyata kuda tersebut bergoyang-goyang, seolah mengikuti alunan musik yang dimainkan Ki Sipan. Ki Sipan takjub melihat kejadian yang tidak diduga sebelumnya. Kemudian, ia menarik kesimpulan bahwa kuda dapat dilatih melakukan gerakan menari layaknya manusia.

Hari-hari berikutnya, Ki Sipan melatih kuda-kuda itu dengan lima gerakan yang disebut adean, torolong, derap atau jorog, congklang, dan anjing minggat. Adean adalah gerakan menyamping, torolong yaitu gerakan melangkah pendek tetapi dilakukan dengan cepat, derap atau jorog ialah gerakan langkah biasa tetapi cepat, congklang adalah gerakan berlari cepat yang dilakukan dengan kedua kaki depan melangkah bersamaan, serta anjing minggat yaitu gerakan kaki setengah berlari.

Acara khitanan

Kabar tentang kuda yang dilatih menari ini sampai ke telinga Bupati Sumedang Pangeran Aria Suriaatmaja. Lalu, ia memberikan dukungan penuh kepada Ki Sipan untuk melatih kuda dengan gerakan tersebut. Pada acara khitanan keluarga Pangeran Aria Suriaatmaja, dua kuda kepunyaannya menari di depan warga Sumedang. Orang yang menyaksikan kuda tersebut menari mengikuti irama musik terpesona dan kagum sekali. “Kehebohan” ini menyebar ke mana-mana. Inilah awal dari seni tradisi kuda renggong. Ki Sipan meninggal pada 1939. Namun, hasil kerja kerasnya tetap hidup. Keahlian dalam melatih kuda kemudian diturunkan kepada anaknya, Sukria, dan berlanjut turun-temurun sampai saat ini.

Pada mulanya seni kuda renggong bernama kuda igel. Disebut demikian karena kuda dapat ngigel (menari). Namun, lama-kelamaan terjadi modifikasi dalam seni ini, dan kini dikenal dengan kuda renggong.

Kuda renggong berarti seekor kuda jantan, kebalikan dari ronggeng yang digunakan untuk menyebut penari wanita. Kuda-kuda yang menjadi “penari” biasa dihias dengan berbagai aksesori menarik, seperti pelana, sangawedi (alat untuk naik ke punggung kuda), apis buntut (tali penghubung antara pelana dan pangkal ekor), karembong (pengikat kepala), dan eles (alat mengendalikan gerakan-gerakan kuda). Eles dikendalikan oleh seseorang yang disebut pelatuk.

Pelatuk bertugas sebagai koordinator penuntun jalan yang lazimnya berpakaian hitam-hitam (baju salonteng dan celana pangsi), dengan kepala diikat totopong (ikat kepala). Kuda renggong biasa dimainkan untuk memeriahkan acara khitanan. Selain itu, kuda renggong juga sering tampil pada acara-acara besar nasional, seperti pawai hari kemerdekaan.

Kuda renggong memang merupakan seni pertunjukan rakyat yang berbentuk pawai. Anak-anak yang sudah dikhitan, setelah diberi doa, dengan berpakaian tokoh pewayangan (Gatotkaca) atau baju takwa Sunda, langsung dinaikkan ke atas kuda renggong dan diarak keliling kampung. Kuda renggong berjingkrak-jingkrak, sedangkan kepalanya mengangguk-angguk mengikuti iringan musik yang terdiri atas tetabuhan berupa kendang besar, gong, tarompet, dan genjring. Pertunjukan itu diikuti pula oleh sinden serta beberapa penari laki-laki dan perempuan.

Penduduk yang kampungnya dilewati iring-iringan ini dipersilakan ikut menari bersama sang kuda renggong. Bahkan, tidak sedikit dari mereka menari sampai mengalami kerasukan. Tembang yang dipilih untuk pawai kuda renggong antara lain Kaleked, Mojang Geulis, Rayak-rayak, Ole-ole Bandung, Kembang Beureum, Kembang Gadung, dan Jisamsu. Selesai arak-arakan ini, diadakan acara saweran. Saweran bukan untuk kepentingan anggota kelompok kuda renggong, melainkan untuk kesejahteraan kuda tersebut. Kuda-kuda yang akan dilatih menari harus diperhatikan, mulai dari kualitas makanan hingga kandangnya. Konon kalau saweran tersebut disalahgunakan, akan terjadi bencana.

Pencak silat

Kuda renggong dalam perjalanan selanjutnya tidak hanya dilatih untuk menari, tetapi juga melakukan gerakan pencak silat sehingga populer juga dengan sebutan kuda silat. Setiap pertunjukan seni memiliki makna simbolis. Jenis seni tradisi ini memiliki beberapa makna, yaitu makna spiritual, interaksi makhluk dengan Tuhan, teatrikal, dan universal.

Hingga kini seni kuda renggong sangat populer di Sumedang. Tidak mengherankan, rombongan kelompok kesenian kuda renggong bertebaran di daerah ini. Hingga kini di Sumedang terdapat lebih dari 70 kelompok kesenian tersebut. Sebagai salah satu daya tarik dan kebanggaan daerah ini, tiap tahun diselenggarakan festival.

Bagi kita, kesenian ini adalah kebanggaan daerah dan aset budaya bangsa yang perlu terus dilestarikan. Jadi, sangat disayangkan jika seni tradisi yang telah merakyat ini luput dari perhatian pemerintah.

Tulisan ini pertama kali dimuat di M2081S-1029M2081S-1029Kompas Jawa Barat, 28 Juni 2008.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here