Kota dan Punggung Kuda

0
185

“Tuk…tik…tak…suara sepatu kuda…”I

Itu merupakan kutipan lirik lagu “Naik Delman” yang diciptakan oleh Pak Kasur, dan biasa kita nyanyikan sewaktu kita masih di tamankanak-kanak. Tapi, kalau kita berada di sekitaran Taman Ganesha, depan kampusITB, Bandung, kita tak banyak menemui delman yang ditarik seekor kuda dandikendalikan pak kusir.

Sejauh mata memandang, yang kita bisa lihat adalah seekor kuda yang dituntun oleh si tukang kudanya. Sedangkan kita bisa naik di ataspunggung kuda, dan berjalan mengelilingi jalan seputaran Taman Ganesha, tak lebih dari satu kilometer. Ya, inilah para penjaja kuda tunggang.

Sabtu sore itu, ketika sampai di depan Taman Ganesha, saya disambut oleh deretan mobil dan kuda-kuda yang berjalan santai di pelipirnya. Tukang kuda tunggang berdiri di antara mobil-mobil yang terparkir di ujung Jalan Ganeca. Berharap-harap cemas para penghuni di dalam mobil naik kuda tunggang mereka. Ada pula penarik delman yang santai-santai dikursi delmannya, juga menunggu orang yang naik delmannya.

Anak-anak yang naikdi atas kuda tunggang selalu diiringi oleh si penyewa kuda tunggang. Merekamenuntun sais kudanya agar kuda tidak membawa kabur si bocah. Satu tangannya ada yang memegang pecut kecil untuk memecut bokong kuda agar berlari kecil.

Mang Ejang, seorang penyewa kudatunggang, saya lihat sedang asyik mencabuti rumput yangtumbuh liar di Taman Ganesha. Sedangkan kudanya yangberwarna putih dibiarkan
terikat di tiang sebelah kanan mulut taman. Saya pun terlibat obrolan hangat dengan Mang Ejang, yang duduk di sebelah kudanya.

Identitas si Kuda

Dari situs Wikipedia, dijelaskan bahwa kuda merupakan salah satu dari sepuluh spesies modern mamalia dari genus Equus. Hewan ini termasuk jenis hewan ternak yang penting secara ekonomis. Selain itu, kuda memegang peranan penting dalam pengangkutanorang dan barang selama ribuan tahun silam.

Kuda bisa ditunggangi oleh manusia dengan memanfaatkan sadel dan bisa juga digunakan untuk menarik sesuatu, seperti kendaraan beroda, atau bajak. Di beberapa daerah, kuda juga dimanfaatkan sebagai sumber makanan. Bukti-bukti penggunaan kuda untukkeperluan manusia sudah ada sejak 2.000 SM. Jenis kuda tunggang yang ada di sekitaran Bandung adalah kuda sandel. Kuda sandel mempunyai nama asli Sandalwood pony, merupakan kuda pacu asli Indonesia. Di Bandung, kuda dimanfaatkan untuk mengais rejeki dengan menyewanya sebagai tunggangan di tempat-tempat tertentu ruang kota.

Lalu, dari mana asal kuda-kuda yang “dijajakan” di Bandung ini? Setahu saya, daerah penghasil kuda di Indonesia ada di Nusa Tenggara Timur(Sumba dan Sumbawa) dan Sumatra Barat. Mang Ejang pun berkata kalau memang kuda-kuda yang ada di Bandung dan untuk kuda tunggang sewaan berasal dari Sumbawa.

“Kuda mah semuanya dari Sumbawa, Mas.Ya, kita beli,” katanya.

Sumbawa merupakan sebuah pulau di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Jangan ditanya soal harga, sebab saya pun pastilah tak akan mampu membelinya dalam waktu dekat ini. Kata Mang Ejang, harga kuda di sini bervariasi. Tukang kuda tunggang dan kudanya bernama Jesen.

“Sekarang mahal kudanya. Ada yang Rp15 juta, ada yang Rp10 juta. Yang ini harganya Rp 10juta ini,” ungkap Mang Ejang sembari menepuk kepala kuda kesayangannya.

Lantas, mata saya tergoda untuk melihat cap yang sekilas seperti nomor 54 di leher kuda Mang Ejang, juga telinganya yang terpotong sedikit.

“Nah, ini. Kalau nggak dicap gini, kudanya Sumbawa. Itu diketok, diketok aja.Ini dari Jawa, ini kuda Jawa. Kalau kuda Jawa diketok semuanya. Ditandain. Samaini dipotong kuping. Kalau kuda blasteran kan nggak ada dipotong kuping.”

Begitulah kata pria paruh baya yang sehari-hari memang mencari nafkah dari menyewa kuda tunggang di sekitaran Taman Ganesha ini.Kebingungan menghinggapi saya dari keterangan Mang Ejang.

Dia menyebut kalau kuda dari Sumbawa. Tapi, setelah itu dia bilangkudanya dari Jawa. Lalu, saya menelusurinya dengan “berselancar” di internet.Ternyata,kuda di Indonesia ada di berbagai daerah, seperti kuda Makassar, kuda Gorontalo, kuda Minahasa, kuda Bima, kuda Flores, kuda Sabu, kuda Rote, kudaTimor, kuda Sumatra, kuda Bali, kuda Kuningan, kuda Lombok, kuda Jawa, kudaSumba, dan kuda Sumbawa. Masingmasing daerah punya ciri-ciri fisik tertentu.

Nah, ciri-ciri kuda dari Sumbawa adalah kaki dan kuku yang kuat, leher yang besar, serta warna bulu ada yang hitam, merah, krem, abu-abu, dan belang. Konon, kuda jenis ini berasal dari kuda Arab. Pada perkembangan selanjutnya, kuda tersebut dikawin-silang dengan kuda Australia. Sedangkan kuda Jawa berasal dari daratan Asia. Lalu dikawin-silang dengan kuda setempat, sehingga menghasilkan jenis kuda baru yang punya ciri-ciri tinggi 120 cm, bulu berwarnaantara lain keemasan, hitam, dan putih.Dari ciri-ciri fisiknya, saya menduga kuda punya Mang Ejang adalah kuda Jawa.

Layaknya manusia, kuda pun punya nama. Kalau tidak percaya, coba perhatikan bagian bawah pelana saat kita berkunjung ke Bandung untuk wisata kuda tunggang. Nah, di sana kita akan menemukan berbagai macam nama yang unik, lucu, bahkan aneh. Kuda Mang Ejang punya nama rada bule: Jesen.

“Ya itu namanya (kuda saya). Untuk tanda,” kata Mang Ejang.

Mungkin maksud Mang Ejang Jasen (ejaan Inggris), tapi karena dia tak tahu lafal Inggris jadi Jesen. Lain Mang Ejang, lain pula kuda tunggang Cahya. Remaja berusia belasan tahun ini menunggangi kuda bernama Gatot. Saya juga menemukan kuda-kuda lain yang bernama Robin, Gonzales, Sangkir, Popeye, Morris, Paris, Baim, 70, dan lain-lain.

Berbagai macam nama kuda disematkan oleh pemilik tergantung seleranya. Mulai dari nama tokoh kartun, tokoh fim, artis, pemainsepakbola, dan lain-lain. Ini bukan hanya berfungsi sebagai tanda, melainkanjuga usaha untuk menarik pelanggan kuda tunggang. Peminatnya yang kebanyakan anak-anak pasti ada yang mengingat siapa nama kuda tunggangannya. Dari sini, mereka kemungkinan besar akan cerita ke teman-temannya soal nama kuda tunggangnya.

Dari Taman Ganesha ke Taman Cilaki

Saya tak bisa lebih banyak menelusuri sejak kapan tepatnya usaha kuda tunggang di Taman Ganesha ada. Namun, dari keterangan beberapa orang penyewa kuda tunggang, di Taman Ganesha sendiri, usaha ini sudah lama ada.

Mang Ejang bilang, “Pertama-tama di sini ada kuda tunggang. Pada zaman…ehm pada tahun 1960-an lah sudah ada disini, di Taman Ganesha.”

Keterangan Mang Ejang ini sangat pas dengan keterangan wartawan senior, Her Suganda, di bukunya Wisata Parijs Van Java. Her menulis, ”Rekreasi kuda tunggang sudah ada sejak tahun 1960-an. Saat itu daerah operasinya terbatas sekitar kampus Institut Teknologi Bandung (ITB).”

Seiring waktu berjalan, pemberi sewa kuda semakin banyak. Jumlahnya sampai lebih 100 orang. Ini menyebabkan persaingan semakin ketat. Lalu, sebagian pemberi sewa kuda pindah tempat ke sekitar Taman Cilaki. Taman Cilaki berada di sebelah Gedung
Sate, diapit oleh Jalan Cilaki dan Cisangkuy. Karenanya, taman ini juga dikenal orang dengan sebutan Taman Cisangkuy.

Bisa dibilang, wisata kuda tunggang di sekitar Taman Cilaki adalah “pelebaran” dari wisata kuda tunggang di sekitaran Taman Ganesha. Lagi-lagi Mang Ejang memberi informasi.

“Jadi di Cisangkuy mah bukan da bukan tamanwisata lah. Da taman wisata pan Taman Ganesha. Cuma baru diCisangkuy mah. Sekitar tahun…2000…1992lah,” ungkapnya.

Her Suganda di bukunya jugamenyebutkan bahwa pada tahun 1990-an lahir lokasi baru wisata kuda tunggang di Taman Cilaki.Lintasan kuda tunggang di sekitar Taman Ganesha berada di Jalan Ganeca ke Jalan Tamansari lalu Jalan Gelap Nyawang terakhir di Jalan Skanda. Terus mengelilingi jalan itu berkali-kali. Tergantung pesan si penyewa,mau mutar berapa kali. Sedangkan di sekitar Taman Cilaki, rutenya berada diJalan Cilaki ke Jalan Cimanuk dan terakhir Jalan Cisangkuy. Walaupun tercatat sebagai lokasi wisata kuda tunggang pertama di Bandung, belakangan kudatunggang di Taman Ganesha sepi. Yang ramai justru di Taman Cilaki.

Ketika saya sempatkan mengunjungi Taman Cilaki, di sana anak-anak ramai berkeliling naik kuda tunggang. Jika saya boleh menyimpulkan, lokasi di sekitar Taman Ganesha memang ramai orang, sebab di sana ada objek wisata Kebun Binatang Bandung, Taman Ganesha, dan kampus Institut Teknologi Bandung (ITB). Namun, karena lokasinya yang sangat strategis, banyak mobil yang hilir-mudik, lokasi ini menjadi kurang nyaman untuk pelanggan kuda tunggang.

Berbeda dengan di Taman Cilaki. Suasana di sana lebih nyaman, karena jarang mobil yang lalu-lalang. Selain itu, lokasinya dekat dengan tempat orang-orang berbelanja dan nongkrong di kafe-kafe yang terletak tak jauh dari si mamang kuda menjajakan hewan sewaannya.

Semacam ada persetujuan tidak tertulis antara tukang kuda tunggang di sekitar Taman Ganesha dan sekitar Taman Cilaki. Bagi mereka yangsudah beroperasi di sekitar Taman
Ganesha, tidak boleh beroperasi di sekitar Taman Cilaki. Begitu pun sebaliknya.

“Nggak boleh kalau ke Cilaki. Sudah ada yang “pegang”. Kalau ketauan orang asing, ya diusir,” ucap Cahya, tukang sewa kuda tunggang ketika saya temui di Jalan Skanda, dekat Taman Ganesha.

Di masing-masing lokasi, ada paguyuban yang mengelolanya. Jadi mereka memang terorganisir. Di Taman Cilaki misalnya, kuda tunggang cuma beroperasi pada hari Sabtu dan Minggu, dengan pembagian sebagian Sabtu dan sebagian Minggu (digolongkan menjadi grup A dan grup B).

“Kita di data, dandiberi kartu identitas,” kata Pak Utar, yang juga berprofesi sebagai petani sayuran di Lembang sembari menunjukkan kartu identitasnya seperti KTP yang bertuliskan “B”.

“Nggak boleh di sini operasi selain hari Sabtu dan Minggu,”jelas Pak Utar. Sedangkan di Taman Ganesha, yang diungkapkan Cahya, operasisetiap hari juga tidak apa-apa.

Selain di kedua tempat tersebut, saya pun menjumpai para penjaja kuda tunggang di Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat (khusus hariMinggu pagi saat ada Pasar Minggu di sana), sekitar Taman Makam Pahlawan Cikutra, di De Ranch Bandung Jalan Maribaya, dan sekitar Jalan Hasanudin. Di tempat-tempat ini adalah “perluasan” dari lokasi Taman Ganesha dan Taman Cilaki. Tapi, tetap saja yang menjadi ikon dan
paling populer di Taman Ganesha dan Taman Cilaki.

Insiden

Usaha kuda tunggang bukannya tanpa risiko. Dari penelusuran informasi di sejumlah situs internet, ada beberapa kasus yang perlu disimak. Contoh insiden yangpernah terjadi adalah kecelakaan yang menimpa Salma Yasiva, seorang anak berumur 10 tahun pada 8 Mei 2011 lalu.

Salma mengalami patah hidung dan bengkak di bagian bawah mata kanan, setelah kuda sewaan yang ia tunggangi seketika berlari kencang dan menabrak mobil yang terparkir di Jalan Cilaki. Kuda itu diduga kuat berlari kencang setelah sebatang dahan pohon yang cukup besarjatuh dan menimpa si tukang kuda.

Dalam laporan yang ditulis oleh wartawan Detik.com itu, juga tersebut keluhan warga Bandung atas keberadaan jasa kuda tunggang. Heru Susanto yang diwawancarai wartawan Detik.com mengatakan, tidak pas ada tukang kuda sewaan di kota, karena
kuda sensitif dan mudah stres. Katanya, keberadaan kuda sewaan di kota tidak cuma sekali menimbulkan korban. Dia bilang, mobil temannya yang tengah diparkir pernahditendang kuda sampai pecah.

Sebuah pengakuan tentang insiden kuda tunggang juga saya dapatkan dariblog seseorang. Insiden ini cukup menggemparkan kala itu. Begini katanya,”Sebuah berita
di koran PR (Pikiran Rakyat) hari minggu 7 September 2008,
sempat membuatku tertegun sesaat. Perasaan campur aduk,
ngeri, sedih, takut, all inone. Tidak terbayangkan seandainya
aku yang mengalami, na`udzubillahimindzalik.

Abia Naila(3), nama bocah tersebut, tewas mengenaskan setelah mengalami kecelakaan terseret kuda sewaan yang ditungganginya sejauh 500 meter. Korban sempat dibawake rumah sakit, namun nyawanya tidak tertolong. Innalillaahi wa Inna IlaihiRojiun…”.

Seorang rekan seprofesi Mang Ejang juga pernah mengalami “insiden”. “Waktu dulu temen saya sampe mengganti Rp2 juta gara-gara kudanya nendang mobil. Yah, yang dicari sedikit, kita gantinya gimana…” kata Mang Ejang serius. Sesekali tangannya yang kurus itumenyuapi Jesen dengan rumput yang tadi dia dicabuti.

Kuda “Bercelana” dan “Ranjau Darat”

Kuda-kuda tunggang di sini “bercelana”. Ya, celana yang terbuat dari ban bekas dikenakan kuda-kuda untuk buang hajat. Benda itu ditaruh di bagian bokong untuk menampung kotoran yang sewaktu-waktu jatuh, dan bisa meminimalisir kebersihan
kota.

Dari informasi yang saya dapatkan, ide itu berasal dari mahasiswa ITB. Pada suatu hari di tahun 1986, diadakan lomba “celana” kuda untuk mencegah kotorannya yang berserakan di jalanan. Saat itu, penduduk sekitar Taman Ganesha merasa terganggu dengan kotoran kuda yang berserakan di jalanan, sehingga menimbulkan bau yang menyengat. Lomba itu sendiri diadakan atas inisiatif mahasiswa ITB yang tinggal di
asrama dekat Taman Ganesha.

Acara di pertengahan Januari 1986 itu disaksikan oleh pejabat Pemda Provinsi Jawa Barat, jurinya seorang dosen Seni Rupa ITB, seorang mahasiswa, dan seorang tukang kuda. Dari tujuh desain yang dilombakan, dua di antara pesertanya adalah perempuan. Penonton riuh ketika kuda yang berdiri sebagai model dites satu persatu desain buatan peserta. Contohnya waktu kuda diam tidak mau bergerak ketika dipakaikan “celana” buatan salah serang peserta.

“Habis anu-nya kejepit jahitan di situ, mana bisa jalan!” celetuk penonton.

Lomba itu sendiri dimenangkan oleh Nedina Sari, mahasiswi Seni Rupa ITB yang kini bekerja di almamaternya. Setelah lomba selesai, Nedina pun berkomentar bahwa biaya
membuat desain celana yang satu itu tergolong murah. Hanya seribu rupiah untuk membeli bahan karung gonidan karung plastik bekas pupuk. Yang sulit, katanya, justru desainnya itu,harus disesuaikan dengan anatomi kuda. Jadi, harus diukur lebar pinggul kuda.

“Pernah sekali saya coba. Baru ditempel dia sudah meronta kegelian,” kata Nedina.

Mungkin dari situ ide “celana” kuda berkembang ke bahan yang sekarang ada: ban bekas. Tapi, yah namanya juga kuda, kotoran masih saja ada yang berceceran di jalanan. Dan, kalau kita tidak hati-hati, hasilnya kita bakal kena “ranjau darat” itu.

Masalah kotoran kuda ini menjadi semacam problem tersendiri bagi ruang kotaBandung yang asri. Dari pengamatan saya, ada tumpukan kotoran yang dibiarkanbegitu saja di pinggir trotoar dekat kampus ITB, pas di depan tempat parkir mobil.

Baunya menyeruak ke mana-mana. Di beberapa jalan yang saya lewati jugaada bercak kotoran kuda, contohnya saja di Jalan Ganeca, Jalan Ir. H. Juanda(Dago), Jalan Dipatiukur, Jalan Cilaki, dan lainnya. Jalan-jalan ini dilalui kuda-kuda, baik yang ingin ke lokasi tempat menjajakan kuda maupun saat mereka pulang ke rumah menggunakan
kudanya. Beberapaorang mengeluhkan bau dari kotoran kuda ini.

“Terganggu. Bau, Mas. Nggak tau ada yang ngelolanya nggak sih? Ada penumpukan kotoran. Nggak tau itu dibersihin apa nggak sama yang tukangnya,” ujar bapak satu anak yang tengah bersantai di Taman Ganesha.

Hal senada juga diungkapkan seorang mahasiswa.

“Kalau yang buangnya sembarangan sih iya ganggu. Mereka ituharus lebih rapi lagi mengurusi kotoran kudanya,” kata Resa, mahasiswa Universitas Islam Bandung.

Resa menyarankan, para penyewa kuda tunggangagar diberi penyuluhan, contohnya memanfaatkan kotoran kudanya untuk diolah menjadi pupuk. Tapi, para penjaja kuda tunggang berpendapat, masalah kotoran kuda ada yangmengurusinya. Dan, tidak ada warga yang terganggu.

“Sekarang mah nggak ada (yang terganggu).Kantong-kantongnya sudah aktip lah sekarang. Ada yang udah banyak (kotorannya), diambil buat pupuk,” ungkap Ejang, yang diamini Usep, rekan profesinya yang lain.

Penyewa kuda tunggang lainnya, yang berlokasi di sekitaran Taman Cilaki juga menuturkan hal yang serupa. Menurutnya, kotoran kuda sudah ada yang mengurus dengan rutin, dan para penyewa kuda tunggang tinggal menyetor uang iuran setiap
minggu.

“Tiap minggu di sini bayar untuk kebersihan Rp10 ribu. Di sini nggak ada yang keganggu. Kan, kotorannya dikumpulin dikantong. Yang dulu-dulu gitu, kalo ada kotorannya yang buang sembarang langsungnggak bolehlah (tidak boleh operasi lagi)
sama Pak RW,” ungkap Pak Utar yang berasal dari Lembang dan sudah 10 tahun mengais rejeki di sekitar Taman Cilaki.

Seorang pedagang lontong kari yang ada di depan Taman Ganesha mengaku juga tidak merasaterganggu dengan keberadaan penyewa kuda tunggang. Terutama dengan kotorannya.

“Nggak terganggu kok. Ya, kita kan sama-sama usahalah,” ucap Royan, pria tambun dan berkumis lebat saat ditemui di gerobak lontong karinya.

Menurut saya, walaupun dari pandangan mata saya masih banyak kotoran kuda bertumpuk, dan ada pula yang tercecer di jalan.Seharusnya ini menjadi masalah bersama untuk bagaimana tanggung jawab mengurusi ruang kota yang sudah asri.

Rejeki Ada di Punggung Kuda

Saya menemui Cahya, penyewa kuda tunggang yang saya lihat paling cilik di sekitaran Taman Ganesha. Saat saya temui, Cahya sedang tertunduk lesu karena kuda tunggangnya tak menjadi pilihan tiga pengunjung berplat B. Ia kalah bersaing dengan rekan profesinya yang lebih dewasa.

Cahya terduduk di trotoar jalan, sembari memegang saing Gatot, kuda tunggangnya. Sambil duduk santai, Cahya menceritakan suka dukanya menjadi penyewa kuda tunggang di sekitaran Taman Ganesha.

“Sudah keluar (sekolah). Kelas dua SMP keluar. Sudah setahun jadi penyewa kuda tunggang. Tadinya sekolah di Pertiwi,” ungkapnya, kepalanya menyelam di jalanan yang dipenuhi dedaunan kering.

Pecut kecilnya dikibas-kibaskan di jalanan itu. Cahya setiap hari “mangkal” di Jalan Skanda.

“Senin sampai Jumat berangkatnya kadang jam 9 kadang jam 7 pagi. Sampe jam setengah 6 (sore). Kalau hari Sabtu mah jam 6-an udah di sini,”katanya.

Cahya bekerja untuk membantu orang tuanya mencari nafkah tambahan.

“Yah lumayan buat makan. Ya, kadang kalau rame, ada Rp100 ribu sampe Rp150 ribu. Biasanya hari Minggu. Paling kecil dapet Rp50 ribu. Ya duitnya dikasih sama orang tua, nggak semuanya gitu, ada buat jajan,” kata bocah berambut ala vokalis Kangen Band ini.

Ayah Cahya sendiri bekerja dipasar, berdagang kecil-kecilan. Ibunya tinggal di Garut. Dia anak ketiga dariempat bersaudara.

“Kakak sekolah. Yang satu sudah menikah. Dagang di Caringin. Adik juga sekolah,” terangnya.

Pekerjaan Cahya berawal dari kesenangan dia pada kuda. Cahya mengaku sudah senang kuda sejak kecil.

“Dulu mah seneng naik kuda awalnya, gitu. Terus naik kuda keenakan, jadi sekarang kerja ginian.”

Gatot, kuda tunggang Cahya, merupakan kuda sewaan dari seorang penyewa yang beroperasi di sekitaran Taman Ganesha.

“Ini nyewa, bagi hasil. Kalau dapet Rp100 ribu, dibagi Rp50 ribu-Rp50 ribu. Yang nyewa punya kadang 4 kadang 5 ekor,” katanya.

Itu belum termasuk kalau Cahya juga membeli pakan kudanya. Dia akan mengeluarkan uang lagi untuk keperluan“sang pemberi rejeki”.

“Ya, kalo ada yang beli (makanannya), ikut beli,”ungkap Cahya malu-malu.“Sekarang belum dapet.Ya, rezekinya belum ada…” begitulah akunya sebelum saya pamit
meninggalkannya yang berjalan gontai sambil memegang sais kuda tunggang sewaannya menuju kumpulan rekan profesinya yang lebih dewasa di sudut luar Taman Ganesha.

Berbeda dengan Cahya, Mang Ejang hanya beroperasi seminggu dua kali, yaitu hari Sabtu dan Minggu.

“Bapak mah tiap hari Sabtu-Minggu aja. Dari jam 8 sampe jam 6 sore. Ya, sehari-hari
kasih rumput aja di rumah. Kasihan kudanya, bisa setiap hari turun.Tapi, kakinya kasian cepet rusak,” kata pria asal Cilangguk, dekat Terminal Dago ini.

Beruntungnya, kuda Mang Ejang adalah kuda miliknya pribadi.

“Ya,penghasilannya untuk saya sendiri,” ucap tulang punggung keluarga yang usianya sudah tidak lagi muda ini.

Untuk urusan trayek lintasan, kata Mang Ejang, dahulu harus bayar ke pengelola kuda tunggang yang ada di sini.

“Bayar trayeknya waktu dulu cuman Rp100 ribu. Sekarang sudah nggak nerima (kuda tunggang) lagi. Sekarang sudah nggak ngeluarin (uang trayek) lagi.”

Belum lagi, dari penghasilannya yang minim, Mang Ejang mesti mengeluarkan uang untuk keperluan kebersihan jalan dari kotoran kudanya.

”Di Taman Ganesha ada yang mengelolanya. Sabtu-Minggu dikasih untuk pembersihan Rp5 ribu,” terangnya.

Di sekitar Taman Ganesha sendiri ada sekitar 50 ekor kuda tunggang di hari Minggu dan 20 delman─mereka menyebutnya kreteg. Di sekitar Taman Cilaki ada sekira 80 kuda
tunggang, 4 becak mini, dan 4 delman. Seperti halnya Cahya dan Mang Ejang, mereka saling bersaing merebut hati pengunjung untuk sudi naik ke punggung kuda mereka. Sekali putaran menunggang kuda penyewa membayar Rp10 ribu hingga Rp15
ribu.

“Yah,sekarang mah sepi, minim pisan.Sekarang-sekarang mah dapet Rp50 ribu, Rp30 ribu. Kan sekarang mah banyak saingannya. Sekarang aja baru dapet 2 orang penyewa,”
terang Mang Ejang dengan raut muka sedih.

Saya menemui Pak Utar ketika ia tengah beristirahat ditrotoar Jalan Cisangkuy. Pak
Utar adalah penarik kuda tunggang senior. Sudah 10tahun pria tua yang pekerjaan sehari-harinya sebagai petani sayuran di Lembang ini juga menggantungkan hidup dari kuda tunggang miliknya.

“Kalo hari Minggu gini biasanya rame. Tapi sekarang udah boboran (liburan sekolah) sekarang sepi. Kalo udah lebaran sepi, satu bulan. Inikan tamannya juga mau dibikin
selokan, jadi pengunjung tea agak kurang. Ya, takut macet,” kata Pak Utar, matanya yangsudah cekung, memandang kosong.

Pak Utar berhasil menyekolahkan keempatanaknya, meskipun tak sampai ada yang meneruskan ke perguran tinggi.

“Anak saya pada nggak mau megang kuda. Mau sekolah katanya, cuma nggak ada yang tinggi. Paling SMP sama STM. Sekarang pendapatan nggak bisa dirata-rata. Kalo sekarang palinglah pendapatan Rp150 ribu per minggu gitu yah, kalo dulu-dulu nyampe Rp300 ribu, Rp400 ribu. Cukup buat beli beras. Lagi ada sisanya dipake nyangkul, nanem sayuran. Ditabungkan sisanya buat sayuran,” kata Pak Utar.

Penghasilan segitu belum dipotong untuk setoran ke paguyuban, RW, dan kelurahan. Juga memberipakan kudanya.

“Dulu-dulu mah ada polisi ada patroli, cuma minta buat rokok,”ungkapnya.

Pak Utar mengakui, dirinya juga harus mengejar target.

“Kalo Sabtu-Minggu harus ngejar target. E…Rp500 ribu per minggu, jadi per bulannya teh Rp2 juta. Jadi sebagian uangnya larinya ke RW untuk kebersihan. Masuk ke kelurahan juga sedikit,” terang Pak Utar.

Sebuah mobil Toyota Fortuner memarkir di depan Taman Cilaki. Para “koboi” kudatunggang segera menghampiri mobil putih nan gagah itu. Seperti kerumunan orang-orang mengantre minyak tanah, mereka berceloteh merayu si penghuni mobil yang baru saja keluar untuk naik ke atas kuda yang mereka bawa. Inilah situasi persaingan dalam memperebutkan rezeki. Pengunjung dengan “tumpangan” seperti ini merupakan “makanan empuk” mereka.

“Seneng lah. Anak-anak mah yang takut ada. Tapi kalo ditemenin ya oke. Di sini mah Rp10 ribu. Kadang suka diminta lebih sih, tapi kalo saya udah biasalah,” kata Tanalia, ibu tiga orang anak.

Matahari merapat ke ufuk Barat. Gelap menimpa pemandangan indah di taman ini. Para “koboi” bergegas menunggang kuda masing-masing untuk pulang. “Tuk…tik…tak…tik…tuk…” suara kaki kuda senang menyapa pengunjung.
Rezeki kami benar-benar ada di punggung kuda.

Tulisan ini pertama kali diterbitkan Basis, Nomor 11-12, 2011.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here