Kiprah Bomber 29

0
99
Ratmi B-29 pernah berperang saat revolusi fisik. Foto: Vista, 19 November 1977.

Di tanah air, jumlah pelawak perempuan bisa dihitung dengan jari. Keadaan ini juga terjadi pada masa lalu. Sekarang ada Tri Retno Prayudati atau lebih dikenal dengan Nunung. Dulu ada Suratmi atau tenar dengan sebutan Ratmi B-29.

Ratmi B-29 lahir di Bandung pada 16 Januari 1932. Sejak kecil dia suka menyanyi. Sampai-sampai sang nenek ngomel, tak sudi cucunya jadi ronggeng. Tapi Ratmi kecil bergeming.

Saat masih bocah, ayahnya, Salimin, meninggal dunia. Ratmi pun harus menjalani hidup prihatin bersama ibunya, Sainem.

“Keadaan inilah yang memaksa diri saya untuk membulatkan tekad dalam usaha saya memenuhi panggilan hidup yang sebenarnya, yakni kesenian,” ujar Ratmi kepada majalah Djaja tahun 1969.

Ratmi belajar kesenian secara otodidak. Dia rajin menyaksikan pertunjukan dan mempraktikkannya. Dan dia berhasil. Bahkan menjadi seniman multitalenta: sebagai pesinden, penyanyi keroncong, pemain sandiwara dan film, serta pelawak.

Nama Ratmi B-29 pun melambung, terutama pada 1970-an.

Sang Penghibur

Ratmi mengawali karier di panggung hiburan pada 1943 sebagai penyanyi keroncong. Beberapa kali dia harus meninggalkan panggung karena ikut perang. Ratmi melanjutkan karier di dunia hiburan usai agresi militer Belanda II. Dia menjadi penyanyi keroncong Orkes Studio Bandung pimpinan E. Sambojan.

Ratmi pindah ke Jakarta pada pertengahan 1950-an. Dia bergabung dengan grup wayang orang Tritunggal di Kebon Kelapa, Jatinegara, pimpinan suaminya, Idris Indra. Tugasnya sebagai penari dan pesinden. Sesekali, agar memeriahkan suasana, dia melawak. Setelah bercerai, Ratmi pindah ke Bandung dan kembali bergabung dengan grup wayang orang. Dia juga mulai memasuki dunia film sebagai figuran lewat dua film komedi Si Djimat (1960) dan Kuntilanak (1961).

Di Bandung, Ratmi kerap menghibur keluarga TNI Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) dengan lawakannya.

“Rupanya dengan lawakan saya itu, mereka selalu merasa puas. Oleh karena itu, saya dijuluki dengan sebutan B-29 (dari jenis pesawat Bomber 29). Seperti adik tahu bahwa pesawat itu sangat dahsyat dan lawakan saya diterapkan dengan dahsyatnya B-29,” kata Ratmi kepada Angkatan Bersenjata, 5 Desember 1974.

Ratmi memang punya hubungan lekat dengan tentara. Pada masa revolusi fisik, Ratmi ikut berjuang dalam kancah revolusi fisik sebagai anggota Barisan Srikandi/Lasykar Wanita Indonesia (Laswi). Pernah pula jadi anggota staf Batalyon Brigade D/X-16 di Jawa Tengah. Dia mengundurkan diri dari ketentaraan dengan pangkat terakhir sersan dua.

Hanya Ratmi

Setelah ibunya meninggal dunia, Ratmi pindah ke Jakarta pada 1966. Pada tahun itu pula Ratmi memasuki dunia lawak. Kepada Angkatan Bersenjata, Ratmi bilang dia mendapat kesempatan menjadi pelawak terkenal melalui perantara dedengkot lawak saat itu, Bing Slamet.

Ratmi punya modal yang cukup sebagai pelawak. Selain mengenal teknik melawak, dia punya postur tubuh yang bisa “dimanfaatkan”. Tubuhnya subur. Pipinya tembem. Hidungnya pesek.

Ratmi gabung dengan grup lawak Agora Djenaka bersama Hardjomuljo, Drajat, dan Slamet Harto. Kendati kwartet lawak itu tak pernah bubar, Ratmi membentuk grup lawak Ratmi Cs bersama Bandot dan Teten.

Kehadiran Ratmi di pentas lawak diapresiasi banyak pihak.

“Kita bisa menghitung dengan jari, berapa jumlah pelawak wanita. Bahkan di ibukota yang merupakan pusat segala macam kegiatan, barangkali hanya ada seorang pelawak wanita, yakni Suratmi Bomber-29. Memang masih ada yang lain, tapi hanya Ratmi B-29 saja yang benar-benar mengkhususkan diri di bidang dagelan,” tulis majalah Selecta tahun 1969.

“Kita telah beberapa kali menyaksikan Ratmi beraksi baik di atas pentas maupun di televisi. Kesimpulan kita mengenai dirinya: ia memang seorang pelawak!”

Seiring popularitasnya, Ratmi pun kembali merambah ke layar lebar. Dia memegang peran-peran penting dalam film Ketemu Jodoh (1973), Si Rano (1973), dan Ratu Amplop (1974). Sepanjang hidupnya, Ratmi setidaknya membintangi 32 film.

Saking terkenal, pada 1970-an ada merek sabun colek produksi PT Sinar Antjol dengan nama yang sama. Ratmi pula yang menjadi bintang iklannya.

Popularitas itu membuat Ratmi sibuk bukan kepalang. Pada 1977, dia menjalani syuting tiga film sekaligus: Direktris Muda, Sembilan Janda Genit, dan Hujan Duit.

Pada 31 Desember 1977, Ratmi baru saja menyelesaikan pengambilan gambar di Ujungpandang (kini, Makassar), Sulawesi Selatan, untuk film Direktris Muda. Ketika hendak masuk ke pesawat, untuk bertolak ke Surabaya merayakan Tahun Baru, tiba-tiba Ratmi ambruk. Dia terkena serangan jantung. Dalam perjalanan ke rumah sakit, dia menghembuskan napas terakhir.

Karena memiliki tanda jasa Bintang Gerilya, Bintang Kemerdekaan I dan II, serta Bintang Gerakan Operasi Militer I dan V, Ratmi B-29 dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Ratmi menjadi pelawak pertama yang dimakamkan di sana –menyusul kemudian Triman, anggota Srimulat, pada 2003.

Tulisan ini pertama kali terbit di Historia.id, 21 April 2018.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here