Ketika Pram “Kecele” Sepeda Motor Titien Sumarni

0
77

Karya-karya Pramoedya Ananta Toer, sudah dipuji banyak orang ketika ia masih di usia 20-an. Saat berusia 30 tahun, Pram sudah menerbitkan Keluarga Gerilja, Subuh, dan Di Tepi Kali Bekasi. Cerita-ceritanya terserak di berbagai surat kabar.

Tokoh-tokoh, seperti sastrawan Bahrum Rangkuti dan pakar sastra Prof. Dr. Andries Teeuw mengagumi tulisan-tulisan Pram. Bahkan, sewaktu ada kongres bahasa di Medan, Sumatera Utara, Teeuw mengusulkan Pram diakui sebagai pengarang internasional.

“Prof. Dr. Teeuw menganggap Pram hingga sekarang adalah pengarang prosa terpenting yang terdapat dalam kesusastraan Indonesia,” tulis Minggu Pagi, 19 Juni 1955.

Sebagai orang yang hidup dari tulisan, Pram pernah mengeluh dengan kondisi kehidupan pengarang di Indonesia. Dalam Starweekly edisi 12 Januari 1957, Pram menulis sebuah artikel berkepala “Keadaan Sosial Para Pengarang Indonesia.”

Dalam artikel tersebut, ia berujar, umumnya keadaan sosial para pengarang Indonesia belum memuaskan. “Terutama bagi para pengarang itu sendiri. Hal ini pertama-tama disebabkan karena kurangnya daya beli masyarakat,” kata Pram.

Argumentasi Pram berpijak dari penjualan buku sastra pada 1950-1952. Ketika itu, Perpustakaan Rakjat Pusat selalu mengambil buku untuk taman bacaan mereka. Banyaknya 600-2.665 eksemplar.

Sejak 1953, anggaran belanja Perpustakaan Rakjat disunat. Setelah itu, orang-orang lari membeli buku-buku bermuatan sensual dan sensasi. Menurut Pram, sebuah buku berjenis itu bisa dicetak ulang hingga tiga kali setahun, dengan cetak 3.000-7.500 eksemplar.

“Sementara buku sastra, dengan 3.000 hingga 5.000 eksemplar susah payah habis dalam waktu lima tahun,” tuturnya.

Di dalam simposium Fakulteit Sastera di Jakarta, Pram pernah menggugat. Saat berpidato, ia mengatakan, pengarang dianggap sebagai domba perah. “Kebanyakan orang tak tahu kehidupan pengarang yang tergantung hasil tulisannya. Di sana dipotong pajak, di sini juga,” kata Pram, seperti dikutip Minggu Pagi, 19 Juni 1955.

Ia mengatakan, banyak orang menyangka honorarium sama dengan orang mendapatkan uang lotre. Karena dianggap uang lotre, uang hadiah, maka boleh-boleh saja dipotong pajak.

“Tidak tahu kalau seorang pengarang kembang kempis mau mati,” ujar Pram.

Menurut Pram, honorarium sebuah tulisan yang dimuat di koran atau majalah saat itu rata-rata Rp75. Uang yang didapat dari peras keringat pengarang itu mesti dipotong pajak sebesar 3%. Sementara untuk hidup di Jakarta pada 1950-an, seseorang butuh uang minimal Rp750.

“Pernah kejadian, sebuah majalah mengumumkan Pram mau menulis cerita film. Dan esoknya ia mengungsi, takut kepada tukang pajak,” tulis Minggu Pagi di edisi yang sama.

Pram memang menulis cerita untuk film. Cerita film pertama yang ia tulis berjudul “Inilah Tjinta”, pesanan Djokolelono. Satu lagi berjudul “Midah si Manis Begigi Emas.” Skenarionya ditulis Herman Pratikto. Cerita itu adalah pesanan dari Titien Sumarni Motion Pictures, sebuah perusahaan film milik bintang film tenar 1950-an, Titien Sumarni.

Dari sinilah Pram mengenal Titien [Lebih jauh soal Titien Sumarni, baca: Kisah Pahit Bintang Film Titien Sumarni]. Cerita itu pernah membuat ketegangan antara Pram dan Herman. Sebab, honorarium yang diterima Pram lebih rendah daripada Herman.

Penyebabnya adalah Titien. Sebelum cerita jadi ditulis Pram, Titien menjanjikan honor Rp7.500 dan skenario Rp6.000. Namun, setelah jadi, Titien bilang honor cerita Rp1.500 dan skenario Rp6.000. Celakanya, mereka sudah mengantongi persekot Rp4.000.

“Mau tidak mau mereka menyerah. Habis mereka lebih miskin daripada Titien. Mau dikembalikan tidak kuat, uang sudah habis,” tulis Minggu Pagi.

Dari situ, Pram marah kepada Titien. Di masa jayanya sebagai bintang film dan produser, Titien gemar mengumpulkan barang-barang koleksi. Pernah pula ia membeli sebuah sepeda motor merek Csepel, buatan Cekoslowakia.

Menurut Rd Lingga Wisjnu dalam buku Rahasia Hidup RA Titin Sumarni (1955), beberapa hari orang-orang Kebayoran, daerah rumah Titien kala itu, bisa menyaksikan sang artis mondar-mandir naik sepeda motor tersebut.

Hobi ini tak lama. Titien yang pembosan kemudian ingin membeli mobil dan memelihara banyak ikan mas. Ia kemudian menjual sepeda motornya itu kepada Pram. Kebetulan Pram ingin sekali memiliki sepeda motor.

Pada 1955, dibelilah sepeda motor itu. Namun, Pram apes. Ternyata sepeda motor tersebut sudah rusak. Tak bisa jalan lagi. Titien girang dapat untung. Pram gigit jari.

“Kasihan juga dia. Habis orang baru senang-senangnya beli sepeda motor. Tapi yang dibeli sepeda motor rusak. Maki-maki dia, menyumpah,” tulis Minggu Pagi.

Referensi:
“Pramoedya Ananta Toer” dalam Minggu Pagi, 19 Juni 1955.
Toer, Pramoedya Ananta. 1957. “Keadaan Sosial Para Pengarang Indonesia” dalam Starweekly, 12 Januari 1957.
Wisjnu, Rd Lingga. 1955. Rahasia Hidup RA Titin Sumarni. Analisa: Djakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here