Jejak Tan Malaka di Rawajati

0
271
Ujung gang Tan Malaka !/Andrey Gromico.

“Ditulis di Rawajati, dekat pabrik sepatu Kalibata, Cililitan, Jakarta. Di sini saya berdiam mulai 15 Juli 1942 sampai pertengahan tahun 1943. Mempelajari keadaan kota dan kampung Indonesia yang lebih dari 20 tahun saya tinggalkan,” tulis Tan Malaka dalam karyanya yang monumental, Madilog.

Madilog sendiri merupakan akronim materialisme, dialektika, dan logika. Dalam karyanya ini, tulisan Tan mencakup sebuah konsep tentang cara berpikir baru yang harus dimiliki bangsa Indonesia agar bisa membebaskan diri dari penjajahan dan ketidakadilan. Tan mengatakan, karya ini ditulis selama delapan bulan, dari 15 Juli 1942 hingga 30 Maret 1943. Dengan berhenti hanya 15 hari.

Gang Malaka atau Tan Malaka?

Saya mencoba menelusuri kampung Rawajati yang disebutkan Tan Malaka. Pencarian saya berakhir di Jalan Rawajati Barat II, Kalibata, Jakarta Selatan. Kesan lalu lintas yang tidak teratur, hilir-mudik orang, dan aktivitas jual-beli di pasar pinggiran jalan, hampir mirip di sebagian besar jalan di sekitar Jakarta. Jika melayangkan pandang ke sebelah kanan, sekitar 200 meter dari mulut Jalan Rawajati II, terlihat sebuah plang berwarna biru bertuliskan Gg. Tan Malaka I.

Anehnya, sebagian besar warga sekitar tidak menyebut nama gang ini Gang Tan Malaka, tapi Gang Malaka. Gang Tan Malaka I sudah beraspal, tapi hanya bisa dilalui dua sepeda motor. Panjangnya sekitar  145 meter. Di sisi kiri tepat ujung gang, kembali terdapat plang biru muda betuliskan Gg. Tan Malaka II. Panjangnya hanya 25 meter. Rumah-rumah di gang ini berhimpitan, padat.

Subrata, Ketua RT 7 RW 2, yang tinggal sejak lahir di lingkungan Gang Tan Malaka I membenarkan di gang ini ada satu rumah yang pernah ditinggali Tan Malaka. Pria berusia 53 tahun itu dahulu tidak tahu Tan Malaka nama pahlawan nasional. Menurutnya, rumah yang pernah ditinggali Tan Malaka sudah dipugar berkali-kali karena sudah berpindah-pindah kepemilikan.

“Kemarin ada orang yang datang, katanya ahli waris Tan Malaka, sama satu orang bule,” kata Subrata.

“Katanya ada dokumen yang tertinggal di rumah itu. Bahkan dia bilang, gang ini rencananya mau dibagusin. (Rumahnya) mau dibeli. Mau dibikin museum.”

Gang Tan Malaka II, menurut Subrata, diberinama oleh ahli waris yang pernah datang ke sini.

“Itu kan dikasih biaya juga sama dia,” kata pensiunan karyawan pabrik sepatu Bata itu.

Sejak dirinya masih kanak-kanak, orang-orang sudah menyebut Gang Tan Malaka I ini dengan nama Tan Malaka.

“Saya tidak tahu ada rumah bekas Tan Malaka. Di sini, dulu tanahnya suka merekah kalau panas. Jadi, saya pikir malaka itu tanah merekah gitu. Ternyata pernah ada Tuan Malaka,” katanya.

Subrata mengatakan, warga sebenarnya tidak setuju gang tempat mereka tinggal diberi nama Gang Tan Malaka.

“Karena awalnya Gang Malaka bukan Tan Malaka,” ujarnya.

“Kalau diganti Tan Malaka kan semua diubah alamatnya di KK (kartu keluarga), KTP (kartu tanda penduduk), SIM (surat izin mengemudi). Jadi, terkenalnya di sini Gang Malaka saja.”

Keterangan mengenai kapan dan siapa pemberi nama gang yang dihuni sekitar 200 kepala keluarga dan luas sekitar lima hektare ini masih simpang-siur. Menurut Ahmad Muhammad Abdat, 72 tahun, salah seorang warga yang sudah menetap di Gang Kober, sebelah Gang Tan Malaka, pada 1942 pernah ada orang bernama Tan Malaka tinggal di salah satu rumah di Gang Tan Malaka I.

“Dulu masih rumah gubuk biasa. Zaman dulu kan satu rumah gitu. Saya dengar kabarnya dari kakek istri saya pernah cerita begitu. Itu sebelum revolusi,” katanya.                                                                                                                                                    Ahmad mengatakan, sejak 1950-an nama gang sudah Tan Malaka. “Lurah Muhasan almarhum yang menamakannya.”

Lurah Muhasan, menurut Ahmad, merupakan lurah di Rawajati pada 1950-an. Namun, kata Ahmad, sekitar tahun 1980-an orang-orang menyebutnya Gang Malaka, tanpa Tan. Masyarakat, lanjut Ahmad, umumnya mengatakan Gang Malaka karena mereka tak paham.

“Di KTP warga juga tertulis Gang Malaka,” tuturnya.

Ahmad menuturkan, pada awal 2000-an, ada seorang tetua di Gang Tan Malaka memprotes penamaan plang gang bertuliskan Gang Malaka.

“Ustaz Ahmad Zein (tetua di Gang Tan Malaka I) bilang, itu bukan Gang Malaka, tapi Tan Malaka. Itu (Tan Malaka) dulu pernah tinggal dekat rumah ibu saya,” kata Ahmad.

Dari beberapa literatur, termasuk buku autobiografinya, Dari Penjara ke Penjara, Tan Malaka berkisah, dia tinggal di sebuah gubuk tak jauh dari pabrik sepatu Kalibata. Ahmad bilang, pabrik sepatu itu kini sudah menjadi apartemen pada 2008 lalu. Apartemen yang dimaksud adalah Kalibata City.

Menurutnya, dahulu mayoritas warga di sekitar Rawajati bekerja sebagai buruh pabrik sepatu, dan berasal dari Cirebon. Hal ini sejalan dengan apa yang pernah ditulis Tan Malaka dalam otobiografinya, Dari Penjara ke Penjara Jilid II (2007: 238-239).

“Tetangga saya adalah seorang pemuda, berasal dari Cirebon dan bekerja sebagai pelayan-mesin dalam pabrik [sepatu Kalibata] tersebut. Dia beristrikan perempuan dari Cirebon juga,” tulis Tan di buku itu.

Numpang Menginap?

Penelusuran saya terkait tempat tinggal pahlawan nasional kelahiran 2 Juni 1897 asal NagariPandan Gadang, Suliki, Sumatra Barat itu masih berlanjut.

Iwan Hamdi, 61 tahun, seorang warga asli Gang Tan Malaka lainnya, yang tinggal persis di belakang rumah yang dahulu diduga pernah ditinggali Tan Malaka mengatakan, Tan menumpang menginap di rumah neneknya yang bernama Sa’ani.

“Dulu kalau ada tamu dari mana-mana dikasih saja, jadi tidak ada istilah mengontrak atau apa,” katanya.

Tan Malaka, menurut Iwan, menempati rumah neneknya itu secara cuma-cuma. Pernyataan Iwan ini bertentangan dengan pengakuan Tan yang ditulis dalam buku otobiografinya.

Di buku Dari Penjara ke Penjara Jilid II (2007: 238), Tan menulis, “Tiada jauh dari pabrik sepatu Kalibata, saya menyewa salah satu bilik dalam jejeran bilik yang disewakan kepada kaum pekerja dalam pabrik tersebut. Panjangnya bilik itu tidak lebih daripada lima meter dan lebarnya lebih kurang tiga meter. Dindingnya pelupah dan atapnya sebagian genteng dan sebagian jalinan daun rumbia.”

Kemudian, Tan Malaka melanjutkan, “Saya hidup amat murah, terpaksa pula saya murahkan dan dapat pula dimurahkan. Tak pernah saya selama setahun lebih berbelanja lebih daripada f6 sebulan, buat sewa rumah serta makan-minum. Sewa rumah adalah f2 sebulan dan belanja sehari lebih kurang 13 sen.”

Iwan melanjutkan, keluarga neneknya saat itu tak pernah tahu aktivitas politik Tan Malaka. Menurut cerita neneknya, Tan Malaka dulu sering pergi pagi dan pulang malam.

Lia Sianturi merupakan pemilik rumah yang diduga pernah ditinggali Tan Malaka. Rumah yang sudah sampai kepemilikan tangan keempat ini mirip rumah-rumah umum sekarang. Catnya berwarna merah muda, dindingnya berbahan beton, lantai keramik, dan banyak pot-pot kembang di depan pagar besinya yang berwarna perak.

Lia bilang, dia dan keluarganya meninggali rumah tersebut sejak 1999. Ibu rumah tangga asal Sumatra Utara ini menjelaskan, rumah ini dibeli oleh adiknya pada 1996, kemudian sempat dikontrakan selama dua tahun.

Pada 2003, Lia memugar beberapa bagian di rumahnya. “Dulu sih rumah ini kayak rumah lama. Terus saya pugar,” katanya.

Lia mengatakan, tahun 2009 pernah ada orang yang menyambangi rumahnya.

“Katanya, ada ahli waris atau keluarga Tan Malaka dan satu orang Belanda, tapi waktu itu saya sedang pulang kampung,” katanya.

Rumahnya sempat didokumentasikan beberapa kali. Lia bilang, tak akan menjual rumahnya kepada siapapun, termasuk ahli waris Tan Malaka untuk membangun museum.

Disadarkan Poeze

Keterangan-keterangan mereka memang kurang valid, tapi cukup memberikan informasi mengenai keberadaan Tan di Rawajati.

Saya lalu menemui Ketua LPPM Tan Malaka, Datuk Putih Asral, 71 tahun. LPPM Tan Malaka adalah sebuah lembaga yang dibentuk untuk menerbitkan karya-karya Tan Malaka dan menggelar berbagai acara diskusi soal Tan Malaka. Datuk berkisah tentang awal kedatangan Tan Malaka ke Rawajati, Kalibata.

“(Tan Malaka) pernah tinggal di situ dari pertengahan 1942 sampai Maret 1943,” katanya.

Asral mengatakan, Tan Malaka saat itu datang dari Tiongkok.

“Dia sudah memprediksi Jepang akan menduduki Asia, dan Belanda angkat kaki. Itu merupakan momen yang tepat bagi dia, dia harus kembali ke Indonesia bagaimana caranya.”

Pada awal 1942, kata Asral, Tan mulai mencari visa untuk bisa keluar Tiongkok dengan bantuan dari teman-temannya, lalu dia sampai ke Rangon, Vietnam.

“Dari Rangon, lalu dia ke Singapura, balik lagi ke Kuala Lumpur, Penang, menyeberang dengan perahu tongkang ke Medan, terus lanjut ke Sumatra Barat, Palembang, Lampung, nyeberang lagi dengan kapal kecil, Juli 1942. Dia nyeberang dari Lampung, dengan kapal yang dia sebut Sri Renget.”

Sebuah rumah bilik kecil di daerah Rawajati, Kalibata, menjadi pilihannya untuk bersembunyi dan tinggal sementara, setelah 20 tahun dia meninggalkan Indonesia.

“Dia dalam penyamaran. Pulang tidak resmi. Akhirnya sampai di Jakarta, dia tinggal di situ cari tempat yang aman tinggal di Kalibata,” kata Asral.

Tan Malaka menceritakan sendiri alasan dia tinggal di daerah Rawajati, Kalibata, dalam buku otobiografinya Dari Penjara ke Penjara Jilid II.

“Supaya saya dapat menyingkiri banyak perhatian orang ‘pintar’ dan orang yang suka mengobrol di kota, menghemat belanja, menuliskan beberapa pengetahuan dan pengalaman, serta mempelajari keduanya kota dan desa, maka saya pilih Rawajati, dekat pabrik sepatu Kalibata sebagai tempat tinggal, atau lebih tepat sebagai tempat mondok,” tulis Tan Malaka.

Setelah itu, pada Maret 1943, Tan Malaka pindah. Menurut Asral, ini karena suhu politik yang memanas dan Tan sudah merasa tidak aman di tempat itu.

“Sering ada penggeledahan. Tan Malaka lalu pindah ke Bayah, Banten, dan bekerja di sebuah tambang batu bara,” ujarnya.

Asral mengatakan, pemberian nama Tan Malaka di jalan setapak daerah Rawajati Barat II itu terjadi pada 1950-an. Menurutnya, pengikut Tan Malaka sering berkunjung ke rumah yang pernah ditinggalinya dan memberi keterangan kepada warga sekitar, kalau dahulu ada seorang tokoh penjuang yang pernah tinggal di salah satu rumah di sana.

“Adam Malik, Ketua Partai Murba pada 1950-an juga membuat kantor di situ. Gubuk itu masih ada. Adam Malik membuat kantor di situ,” katanya.

Akhirnya, menurut Asral, warga sekitar memberi nama Tan Malaka untuk jalan setapak tadi. Asral mengatakan, bisa jadi rumah yang sekarang ditinggali Lia Sianturi itu memang bekas lokasi rumah bilik yang pernah ditinggali Tan Malaka.

“Kata orang sudah tidak ada lagi karena dipugar, tapi mungkin lokasinya dulu di situ,” katanya.

Lalu, awal Orde Baru, menurut Asral, nama Gang Tan Malaka dihilangkan dan diganti dengan Gang Malaka.

“Karena terpengaruh dengan tekanan-tekanan politik (Orde Baru), dan mereka (warga) diasosiasikan sebagai komunis, nama gang itu diubah jadi Gang Malaka,” tuturnya.

Kata Asral, nama Gang Tan Malaka muncul kembali setelah Harry Poeze, sejarawan Belanda yang meneliti Tan Malaka puluhan tahun, berkunjung ke gang tadi. Poeze datang ke situ untuk mencari jejak Tan Malaka, demi keperluan penelitiannya.

“Dia (Poeze) melihat di sini (Gang Tan Malaka) kok ada jalan Malaka. Terus rakyat yang tua-tua cerita, kami dapat informasi bahwa di sini dulu ada pimpinan perjuangan bernama Malaka,” katanya.

Kemudian, menurut Asral, Poeze bercerita bahwa dirinya sedang menyusun buku soal Tan Malaka. Dia mengoreksi bahwa nama lengkap tokoh tadi adalah Tan Malaka, bukan Malaka.

“Akhirnya diubah lagi nama gangnya. Awal tahun 2000,” kata Asral.

Kemungkinan orang bule yang disebut-sebut warga di sekitar Gang Tan Malaka itu adalah Harry Poeze. Pemikiran Tan Malaka kadang berbenturan dengan pemikiran para pejuang lain. Tan Malaka pernah dipenjarakan tanpa ada pengadilan, selama dua tahun. Penyebabnya, peristiwa 3 Juli 1946.

Peristiwa ini merupakan percobaan perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh pihak oposisi, kelompok Persatuan Perjuangan, terhadap pemerintahan Kabinet Sjahrir II. Pemicunya, ketidakpuasan Tan Malaka terhadap politik diplomasi yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia terhadap Belanda. Kelompok ini menginginkan pengakuan kedaulatan penuh, sedangkan kabinet yang berkuasa hanya menuntut pengakuan kedaulatan atas Jawa dan Madura.

Setelah meletus pemberontakan FDR/PKI di Madiun, September 1948 dengan pimpinan Musso dan Amir Sjarifuddin, Tan Malaka dikeluarkan begitu saja dari penjara akibat peristiwa itu. Di luar, setelah mengevaluasi situasi yang amat parah bagi Indonesia akibat Perjanjian Linggajati 1947 dan Renville 1948, yang merupakan buah dari hasil diplomasi Sutan Sjahrir dan Perdana Menteri Amir Sjarifuddin, Tan Malaka merintis pembentukan Partai Murba, 7 November 1948 di Yogyakarta.

Pada Februari 1949, Tan Malaka hilang tak tentu rimbanya. Menurut Harry Poeze, Tan Malaka ditembak mati pada 21 Februari 1949 atas perintah Letda Soekotjo dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya.

Nama sebuah tempat, tentu tak sembarangan terjadi begitu saja. Pasti ada sejarah yang menyertainya. Dari sebuah gang kecil di Jakarta Selatan tadi, Tan melahirkan karya monumentalnya: Madilog. Ironisnya, pahlawan nasional sekaliber Tan Malaka hanya menjadi nama sebuah gang kecil, bukan nama jalan utama di kota-kota besar Indonesia. Bahkan, warga sekitar gang kecil tersebut, banyak yang tidak tahu siapa Tan Malaka.

Tulisan ini pertama kali terbit di Majalah Loka, 11 November 2014. Belum versi editing.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here