Isolasi

0
306

Sebuah catatan.

Dalam sejarah penanganan penyakit penular, isolasi atau karantina merupakan salah satu usaha mencegah penyebaran. Orang-orang yang terinfeksi dipisahkan dari yang sehat. Wilayah yang banyak terpapar dikunci sementara.

Syefri Luwis di bukunya Epidemi Penyakit Pes di Malang, 1911-1916 (2020) menjelaskan perkara isolasi sewaktu wabah pes menjangkiti Kota Malang dan sekitarnya. Akibat jumlah korban yang semakin banyak, Malang dan sekitarnya pernah diterapkan karantina wilayah atau yang sekarang kerap disebut lockdown—dalam istilah di Indonesia pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Akan tetapi, menurut Syefri, karantina wilayah itu dilakukan hingga 1912 saja. Penyebabnya, ada protes dari pihak perkebunan.

Kompleks Wisma Atlet./Fandy Hutari.

Selain itu, untuk mengatasi wabah yang disebabkan infeksi bakteri Yersinia pestis yang disebar kutu tikus itu dilakukan pula isolasi orang-orang yang terinfeksi. Mereka dipindahkan dari rumah masing-masing ke barak-barak yang sudah disediakan pemerintah kolonial.

Pada awal 1914, menurut Syefri, perlahan-lahan Kota Malang dipenuhi barak pengungsian yang menampung 48.000 orang bumiputra. Pembangunan barak-barak isolasi ini dilakukan warga yang sehat atas perintah pemerintah kolonial dengan sistem gaji.

Namun, terjadi penolakan sebagian warga terhadap pemindahan mereka ke barak-barak. Alasannya, khawatir keamanan rumah sewaktu isolasi.

Jarak antara permukiman dan barak-barak cukup jauh. Hal ini menyulitkan kerabat mereka menjenguk untuk memenuhi kebutuhan pangan selama diisolasi.

Gelang khusus pasien di Wisma Atlet./Fandy Hutari.

Syefri menulis, penjenguk pasien juga kesulitan memberikan makan ke pasien yang diisolasi. Sebab, makanan harus dimasukkan ke dalam lubang yang terlalu kecil.

“Keluhan masyarakat bumiputra sebenarnya terjadi juga karena diskriminasi. Kondisi tempat perawatan pasien bumiputra berbeda dengna bangsa Eropa, Cina, dan Arab, yang walaupun jarang dari mereka yang sakit, tetapi mereka mendapatkan fasilitas yang lengkap, seperti tempat tidur yang nyaman dan makanan yang sehat,” tulis Syefri.

Isolasi juga dilakukan saat pandemi flu spanyol melanda Hindia Belanda pada 1918-1920. Di dalam bukunya, Perang Melawan Influenza: Pandemi Flu Spanyol di Indonesia Masa Kolonial, 1918-1919, Ravando menjelaskan, untuk menangani pandemi flu spanyol, Nederlandsch Centrale Gezondheidsraad (Dewan Kesehatan Pusat Hindia Belanda) mengeluarkan empat instruksi pencegahan penularan, yakni memastikan udara segar masuk ke dalam rumah, diperhatikan sirkulasi udara di tempat berkumpul orang banyak, membersihkan sudut-sudut rumah dari debu yang menempel, serta mencegah berinteraksi langsung dengan orang sakit.

Ruang tamu di dalam ruangan isolasi pasien./Fandy Hutari.

Mencegah berinteraksi langsung dengan orang sakit adalah upaya untuk memisahkan si sehat dan si sakit. Salah satunya dengan isolasi.

Di bagian akhir buku Lelara Influenza (Penyakit Influenza) yang ditulis dalam aksara Jawa ngoko dan dikemas dalam bentuk cerita rakyat dengan tokoh utara Punakawan, terbit pada 1920 sebagai buku sosialisasi penyakit flu spanyol, tersirat pula isolasi bagi si sakit.

“Ikhtiar orang yang sakit, istirahat dulu di dalam kamar, jangan sampai kena angin dan jangan lepas baju, harus memakai selimut tertutup, kepalanya dikompres dengan air tawar yang bersih dengan sapu tangan atau handuk dicelupkan ke air, lalu ditumpangkan di kepala berulang ulang, ketika kering gantilah, sekiranya seminggu membaik teruslah lakukan. Jangan berani-berani keluar,” tulis buku itu, seperti dikutip dari buku Ravando.

Lalu, Inspektur Bugerlijken Geneeskundigen (BGD) atau Dinas Kesehatan Rakyat dr. Thomas de Vogel membentuk tim untuk merancang peraturan menangani penyakit influenza yang mematikan itu. Rancangan tersebut kemudian dikenal dengan nama Influenza Ordonnantie, yang selesai pada 1919.

Menurut Ravando, poin-poin di dalam rancangan undang-undang itu tak sepenuhnya baru. Ia mengadopsi aturan karantina yang sudah terbit pada 1911 dalam Staatsblad van Nederlandsh Indie Nomor 277.

Di dalam aturan itu disebut, pemerintah berhak melakukan karantina terhadap daerah yang terkena wabah penyakit untuk mencegah penularan ke wilayah lain. Kemudian, orang yang berasal dari suatu wilayah wabah dilarang meninggalkan temaptnya dan tak diizinkan memasuki daerah yang dinyatakan sehat. Itulah aturan terkait isolasi ketika pandemi flu spanyol mengancam Hindia Belanda.

Namun, penduduk saat itu masih asing dengan pengobatan Barat dan memandang karantina atau isolasi sebagai sesuatu yang tak lazim. Apalagi, tulis Ravando, kebanyakan mereka memandang rumah sakit sebagai tempat yang angker dan melihat dokter selalu dengan tatapan sinis.

***

Setiap hari ada pasien Covid-19 yang diantar ke Wisma Atlet./Fandy Hutari.

Karantina wilayah dan isolasi pun dilakukan sejak virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan Covid-19 mengancam dunia awal tahun 2020. Pemerintah Indonesia juga melakukan hal itu.

Saya pun melakukan isolasi saat dinyatakan positif Covid-19 melalui tes antigen pada 21 Januari 2021. Gejala sudah saya rasakan sejak medio Januari 2021, seperti kepala pusing keleyengan, kehilangan indera pengecap/perasa, mual, dan lemas. Namun, saya baru sadar itu gejalan Covid-19 beberapa hari setelahnya.

Setelah positif melalui tes antigen, pada 22 Januari 2021 saya melakukan tes swab PCR. Hasilnya keluar tiga hari kemudian: positif. Tujuh hari saya isolasi mandiri di rumah. Saya mengalami stres, yang membuat fisik drop.

Pada 28 Januari 2021 saya memilih dibawa memakai ambulans ke Rumah Sakit Darurat Covid-19 Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta Pusat. Di dalam ambulans, saya tak sendiri. Ada empat orang lainnya, yang akhirnya jadi kawan saya selama di Wisma Atlet.

Pada 2018 Wisma Atlet digunakan sebagai tempat menginap atlet yang ikut Asian Games 2018 dan Asian Para Games 2018. Kompleksnya terdiri dari 10 tower dengan 7.424 kamar.

Ketika pandemi Covid-19, empat dari 10 menara di Wisma Atlet dijadikan rumah sakit darurat. Kementerian Keuangan (Kemenkeu) pada 18 maret 2020 menetapkan kawasan Wisma Atlet sebagai tempat isolasi pasien Covid-19 dengan gejala ringan. Pada 23 Maret 2020 Wisma Atlet sudah digunakan sebagai tempat isolasi dan perawatan pasien Covid-19. Saya sendiri mendapat ruang di tower 5.

Setiap pasien yang sudah melakukan registrasi, diberikan gelang khusus sebagai penanda. Saya mendapat gelang berwarna ungu, yang artinya pasien dengan gejala ringan dan orang tanpa gejala (OTG). Ada pula yang mendapat gelang warna biru, yakni pasien dengan penyakit penyerta berjenis kelamin laki-laki dan merah jambu, yakni pasien dengan penyakit penyerta berjenis kelamin perempuan.

Kegiatan olahraga pasien di Wisma Atlet./Fandy Hutari.

Ruang menginap cukup besar. Kamar tidur ada dua. Satu kamar untuk dua orang dan satu kamar sendiri. Ada ruang tamu, dapur, dan kamar mandi. Cukup nyaman selama isolasi.

Kami terhubung dengan grup WhatsApp di setiap lantai. Setiap hari, informasi dari perawat dan tim psikologi disampaikan di grup itu. Kami juga mendapat jatah makan sehari tiga kali dan obat-obatan. Tak ada larangan untuk memesan makanan dari luar, dengan jasa order ojek online.

Setiap pagi, saya melakukan olahraga ringan, seperti jalan santai, lari kecil, atau senam. Ada pula pasien yang bermain voli atau futsal. Di lantai 12 ada balkon luas, yang bisa mengusir jenuh dan tempat olahraga ringan.

Pada 5 Februari 2021 saya menjalani tes swab PCR untuk memastikan apakah masih ada virus di dalam tubuh saya. Tes swab dilakukan setelah pasien menjalankan isolasi selama delapan hari. Hasil tes swab saya negatif. Saya pun diizinkan pulang ke rumah []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here