Hollywood Elite: Dengki-Mendengki, Intai-Mengintai

Usmar Ismail menyoroti persaingan di dalam studio-studio film di Hollywood.

0
115

Oleh: Usmar Ismail

Frank Y. Freeman adalah vice president Paramont Pictures dan kepala Paramount Studios di Hollywood. Untuk bertemu dengan dia djauh lebih sukar daripada mau bertemu dengan Mr. Sumanang, Menteri Ekonomi Republik Indonesia. Saja bitjara dengan dia dalam kantornja jang sama besarnja dengan 4 kalikantor Oom Mononutu, Menteri Penerangan, sesudah melalui beberapa bagian lainnja jang menimbang apakah saja tjukup “besar” orangnja untuk diperkenalkan kepada vice president Paramount. Medja tulisnja besarnja 2 x 3 meter, sedang ruangan kamar jang lain diisi dengan zitje2 jang besar dan medja konperensi jang luar biasa pandjangnja. Freeman orangnja tidak muda lagi dan keheranannja tentang kemudaan saja tidak disembunjikannja.

“Djadi tuan presiden kongsi film di Indonesia?” tanjanja, barangkali dia belum bisa djuga memahamkan “keadjaiban” itu.

Saja tjritakan kepadanja bahwa Indonesia diperintah oleh orang2 muda seperti djuga Hollywood pernah diperintah oleh orang2 muda. “Itu dulu,” katanja agak merasa tersinggung, “jang muda dulu sekarang sudah djadi orang2 tua jang sudah kenjang makan garam.”

Itu perkenalan saja pertama dengan salah seorang jang termasuk golongan elite Hollywood, orang2 radja jang tidak bertanggung djawab kepada salah satu parlemen matjam apapun djuga, jang menetapkan politik produksi, persoalan perburuhan, perihal gadji, serikat2 buruh dan apa algi tidak!

BIG EYE, EIGHT, TEN…

Freeman adalah salah seorang jang memerintah apa jang disebut “The Big Five”, jaitu terdiri dari kongsi2 film Loew’s Inc. (termasuk dalamnja MGM, Twentieth Century Fox film Corp. Paramount Pictures Inc, Warner Bros Pictures Inc, dan Radio Keith Orpheum (RKO) Corp. Disamping itu ada lagi jang disebut “The Little Three” ialah Columbia, Universal International, dan United Artists, tetapi kedelapan mereka ini menamakan diri mereka “The Big Eight” bahkan belakangan ini Republic Pictures dan Monogram Allied Artists ingin djuga disebut “major studio”, hingga mungkin akan timbul pula sebutan “The Big Teen”.

Bersama2 mereka ini menghasilkan pendapatan 95% dari djumlah sewa film dari seluruh pertundjukan jang diadakan di Amerika Serikat. Mereka menguasai tidak sadja produksi film, tetapi djuga distribusi dan bioskop2.

Mudahlah difahamkan bahwa golongan elite Hollywood itu terdapat antara orang2 jang mengendalikan studio2 besar ini. Frank Freeman (Paramount), Dore Schary (MGM), Darryl F. Zanuck (20th Century Fox), Jack Warner (Warner Bros) dll. Mereka inilah jang merupakan puntjak dari pyramid kekuasaan jang didukung oleh tidak lebih dari 250 orang terdiri dari para producer, pemain, regisseur, pengarang, ahli publicity, pemimpin administrasi dll. Mereka ini tidak sadja diukur dengan tanggung djawab dan kekuasaan masing2 tetapi terlebih lagi dengan djumlah gadji jang mereka terima sabah tahun jang tidak boleh lebih kurang dari $75.000.-

PEREBUTAN KEKUASAAN

Meskipun para monarch ini tergabung dalam sebuah kumpulan jang bernama “Association of Motion Picture Producers”, djanganlah diharap bahwa antara mereka terdapat suasana damai dan kerukunan. Malahan kebalikannja adalah lebih benar, bahwa Hollywood pada hakikatnja disobek2 oleh perasaan saling bersaingan, bermusuhan, tjuriga-mentjurigai dalam usaha untuk merebut kekuasaan dan melindungi kepentingan masing2.

Perselisihan gelap2-an dan terang2-an, saling tikam-menikam dari depan dan dari belakang, djelek-mendjelekkan tidak henti2-nja hingga kadang2 bagi orang luaran terasa seperti salah satu akan mesti roboh pada suatu waktu. Masing2 bersikap terlalu mementingkan diri sendiri dan tak putus2-nja berusaha untuk menghalangi jang lain.

Keadaan ini menurut anggapan saja bukanlah sesuatu jang peru ditjontoh pula di Indonesia. Amerika pada umumnja memang merasakan dengan sangat akibat sistem jam mereka anut mati2-an jaitu kebebasan untuk berusaha jang berarti djuga kebebasan untuk djatuh-mendjatuhkan. Persaingan di Hollywood ada lah satu tjontoh jang njata tentang suatu perebutan kekuasaan jang tidak kenal ampun dan belas kasihan. Konkurensi antara pengusaha2 sandiwara jang kita lihat dimasa jang lalu, tjuri-mentjuri pemaka, tjerita, hantam2-an adalah perkelahian anak2 bila dibandingkan dengan Hollywood. Pendeknja tak ada satupun jang dapat berkata jang baik2 tentang jang lain, kendatipun sewaktu2 diadakan pesta persahabatan, makan siang, kerdja sama andjuran-andjuran dalam berkala2 untuk merapatkan perhubungan. Keterangan jang saja kemukakan diatas ini mudah2an djanganlah pula di Indonesia didjadikan alasan untuk memulai saling tjakar2an antara para produser Indonesia jang baru sadja mengikat persatuan dalam Gabungan Perusahaan Film Indonesia.

TENTANG PARA “MAHARADJA”

Pada hakikatnja jang sekarang mendjadi sari golongan elite Hollywood seperti Zukor, Loew, Goldwyn, Mayer, Warner adalah djuga pelopor2 jang dari permulaan ikut membangunkan perindustrian film Hollywood. Mereka bukanlah orang2 jang tadinja keluaran sekolah tinggi dan dari kalangan kaum atasan. Kebanjakan mereka berasal dari berbagai-bagai usaha penghibur, ketoprak2, bioskop2 rakjat, kemidi2 kuda dll. Mereka adalah orang2 jang karena kesungguhan dan ketekunan bekerdja telah mentjapai anak tangga jang tertinggi dalam usaha film. Meskipun sekarang masih kelihatan sifat2 mereka jang kasar dan kurang adjar, mereka mempunjai kesanggupan penghiburan dengan hidung mereka jang tadjam dan lekas menangkap keinginan masjarakat banjak. Karena mereka bukanlah orang2 lepasan sekolah tinggi, tidaklah mereka begitu atjuh tentang keinginan golongan ketjil para inteligensia. Meladeni rakjat banjak dari mana mereka djuga berasal itulah mendjadi tudjuan mereka pertama2.

Merekalah jang memberikan tjap stempel “ordinair, vulgair dan tidak ada stijl” seperti disarankan oleh ahli2 kritik diseluruh dunia terhadap film2 jg. dibikin dibawah pengawasan mereka. Sikap mereka ini pulalah jang menimbulkan pertentangan2 dan djurang antara mereka dan para regisseur jang ingin mentjiptakan sesuatu jan setjara kesenian dapat dipertanggung djawabkan. Madjalah The New Yorker belakangan ini memuat laporan jang lengkap tentang perselisihan seperti itu antara Dore Schary (jang masih dianggap progressif antara rekannja) dari MGM dan regisseur John Huston dalam pembikinan film The Red Badge of Courage.

Tetapi apa jang dikatakan orang luar, terutama ahli2 kritik kesenian di Amerika dan di Eropah terhadap mereka, bagi mereka tidaklah penting. Perasaan kepertjajaan pada diri sendiri dan kebenaran tjara mereka bekerdja amatlah tebal. Jang mendjadi ukuran bagi mereka adalah dua huruf B. O. (box office) alias penghasilan.

Bukalah lembaran mingguan Variety “Motion Picture Herald”, Box office” dengan laporan2 lengkap berhalaman2 banjanknja mengenai pendapatan tiap film jang main diseluruh Amerika Serikat. Selama statistik2 itu menundjukkan angka jang meningkat mereka tidak kuatir.

PERASAAN RENDAH DIRI

Kendatipun hal2 jang saja tjeritakan diatas, ada terasa pada mereka suatu perasaan rendah diri terhadap orang lain, terhadap para inteligensia jang tidak mereka perdulikan itu, terhadap apra politisi2, mahaguru2, seniman2, hingga merupakan sematjam perasaan tjemburu. Mereka ingin mendapat penghargaan sebagai orang jang berkebudajaan dan berpengetahuan dan karena semua ini tidak ada pada mereka, mereka mendjadi gojah, kadang2 memperlihatkan sikap jang lemah. Inilah pula kiranja jang menjebabkan mereka kadang2 mau memberi kesempatan kepada para seniman liar, seperti Elia Kazan, John Huston, Fred Zinneman dll. untuk membikin film seperti jg. dikehendaki seniman2 itu sendiri. Pembikinan apa jang mereka namakan prestige films inilah jang mendjadi tulang belakang bagi mereka untuk mendapat djulukan nama orang jang berkebudajaan.

Tetapi kelemahan mereka ini pulalah jang tepah dipakai oleh para seniman film di Hollywood untuk mentjiptakan puntjak2 tjiptaan mereka jang menurut anggapan saja masih menggolongkan Hollywood dewasa ini sebagai pusat pembikinan film jang terbaik didunia.

Kuranglah adil rasanja, djika saja disini menjamaratakan pemimpin2 Hollywood seperti Darryl F. Zanuck, Dore Schary, Stanley Kramer dan beberapa orang lain dengan golongan pelopor kuno jang saja sebut diatas tadi.

Bahwa di Hollywood ada tendens untuk membentuk dasar2 baru terlihat dari berhentinja Louis B. Mayer dari MGM jang digantikan oleh Dore Schary jang lebih muda dan luas pandangannja.

BUAH EDJEKAN

Pada saat2 dunia dan djuga Amerika dalam keadaan malaise sekitar tahun 1930 dan segala usaha seolah2 lumpuh dalam kantjah krisis ekonomi, pada sa’at itulah Hollywood mengalami kemadjuan jang luar biasa. Tidaklah mengherankan, djika masjarakat Amerka jang pada waktu itu tengah mengalami tjobaan perdagangan dan perindustrian melemparkan amarahnja kepada Hollywood jang  masih sadja enak2 menggadji orang $7.500 seminggu, jang punja lebih dari satu Cadillac dengan supir jang pakai uniform, punja istana lebih dari disatu tempat dan membuang2 uang untuk pesta jang mewah-mewah.

Kiranja edjekan2 jang ditubi2kan kepada Hollywood ada djuga bersisa dari zaman diatas, hingga pada saat ini dapatlah dikatakan, bahwa Hollywood setiap waktu dapat berharap akan diserang ditiap temapt oleh orang2 iuran. Hingga ada seorang kepala produksi mengeluh, bahwa dewasa ini apa sadja jang mereka buat tidak ada jang baik kelihatannja.

Djika Hollywood membikin film perang, maka dia dituduh penghasut perang. Djika dia bikin film Pinky dituduh mengobar2kan semangat antikulit putih, djika bikin film Viva Zapata dituduh komunis, djika bikin film The Grapes of Wrath ada jang bilang fasist, djika bikin film Mr. Smith Goes to Washington ada jang tuduh pengatjau, bikin film On the Town  atau American in Paris dibilang escapist, demikianlah seterusnja tak ada hentinja.

SAINGAN TELEVISIE

Kedudukan Hollywood memang tidak seenak seperti jang disangka orang. Golongan maharadja Hollywood melihat kemasa depan tidak selalu dengan perasaan adanja kepastian. Gulung tikarnja Howard Hughes baru2 ini dari tachtanja di RKO membuktikan, bahwa tidak mudah untuk ikut memerintah dikota film itu. Pada masa itu, lebih dari jang sudah2 Hollywood tjemas melihat bangkitnja televisi dari tidak ada mendjadi suatu usaha jang mungkin dapat menggulingkan pada achirnja. Kegentaran itu terlihat lagi baru2 ini waktu pemerintah Amerika Serikat mengeluarkan tuntutan karena melanggar Anti-Trust-Act mengenai peredaran film 16 mm jang sampai sekarang dipertahankan oleh Hollywood supaja djangan didjual kepada stasion2 televisi. Tuntutan itu memerintahkan maskapai-maskapai film supaja djangan mengadakan disktriminasi dan memaksa mereka untuk melepaskan film2 mereka untuk disiarkan oleh televisi.

Hollywood berontak, melawan dengan segala kekuatannja. Bagaimana achir perdjuangan itu belumlah lagi kelihatan. Ini adalah baru permulaan dari serangan terhadap Hollywood. Jg. lain2 masih memomok, berupa tantangan dari serikat2 sekerdja jang memadjukan sjarat2 bekerdja setjara kolektief, perlawanan dari fihak pemilik2 bioskop merdeka, ketjenderungan akan dinaikkan padjak, peraturan import terhadap film2 Amerika jang mulai didjalankan di berbagai negara asing dengan adanja Quota seperti di Inggeris, di Mexico, Perantjis, Italia dll.

Tidak adalah orang jang akan dapat lebih merasakan antjaman2 ini selain maharadja2 Hollywood jang bertachta diistana2 mereka sekarang di Beverly Hills dan Bel Air. Sungguhpun begitu kelihatannja, mereka diluar tetap optimistis, tak putus2nja mentjari djalan lepas dari tiap kepungan. Sembojan Hollywood sekarang menggema kemana2. Film makin baik djuga!” (Movies Are Better than Ever!) dan mudah2an ini bukanlah hanja sekedar untuk propaganda sadja.

Karena seperti dikatakan oleh Dore Schary, kepada Studio MGM bahwa hanja dengan membikin film2 kelas satulah persaingan dari televisi atau dari manapun datangnja dapat dilawan. Mungkin kesadaran baru ini akan menempatkan Hollywood lebih pada kedudukan jang sewadjarnja, sebagai pusat perindustrian film sedunia. (Suara Merdeka)

Sumber: Star News Nomor 5 Tahun II, 20 Mei 1953.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here