HB Jassin vs Hamka dan Perkara “Langit Makin Mendung”

0
552

Pada 1970, kritikus sastra Indonesia Hans Bague (HB) Jassin menjadi pesakitan di persidangan Pengadilan Negeri Istimewa di Jakarta. Ia diseret ke pengadilan karena memuat cerita pendek karya Kipandjikusmin, “Langit Makin Mendung”. Isi cerpen “Langit Makin Mendung” dianggap menghina agama Islam. Cerpen itu dimuat di majalah yang dipimpinannya, Sastra edisi Agustus 1968.

Cerpen itu sebenarnya belum berakhir. “Langit Makin Mendung” adalah bagian pertama dari cerita yang bertajuk “Katjamata Retak”. Bagian kedua rencananya berjudul “Hudjan Mulai Rintik”. Dua bagian cerpen itu mengisahkan Nabi Muhammad yang turun ke bumi, tepatnya Jakarta, melihat keadaan manusia. Dan, bagian selanjutnya akan menceritakan nabi-nabi lain, yang bergantian turun ke bumi.

Meski mengaku kenal dengan sang pengarang, Jassin menolak mengungkap jati diri Kipandjikusmin. Ia menghadapi persidangan sebagai konsekuensinya menerbitkan cerpen yang menghebohkan itu.

“Bagi saya, tidak penting siapa yang tampil. Tetapi karena kebetulan saya penanggung jawab, maka sayalah yang maju ke depan,” kata Jassin dalam wawancara dengan Muchtar Nasution, yang dimuat Varia, 5 Agustus 1970.

Kasus Jassin mulai disidangkan pada 4 Februari 1970. Anton Abdurrachman Putra bertindak sebagai hakim ketua.

Perdebatan Jassin dan Hamka

Majalah Sastra yang memuat cerpen itu disita dan dilarang peredarannya di daerah Sumatera Utara. Kantor redaksinya di Jakarta digeruduk pemuda Islam. Lantas, Jassin dipersalahkan Departemen Agama.

Di persidangan yang memakan waktu panjang, saksi ahli dihadirkan Departemen Agama. Pada sidang yang ke-5, 4 Maret 1970, suasana memanas ketika saksi ahli Abdul Kadir Bahalwan terus menyerang Jassin. Sampai-sampai, pembela Hafil St. Hidajat mencapnya sebagai “pembunuh”.

Menurut wartawan Varia edisi 8 April 1970, Abdul menyebut Kipandjikusmin terindikasi komunis dan mencapnya sebagai kafir. Cerpennya dianggap menghina Tuhan, Nabi Muhammad, ulama, dan Pancasila. Sedangkan Jassin dituding punya maksud tertentu dengan memuat cerpen itu di majalah Sastra. Namun, Abdul tak bisa memberikan keterangan lebih jelas tentang apa yang dimaksud dengan “punya maksud tertentu” itu.

Sebelum Abdul Kadir tampil “duel” di persidangan, sejawat Jassin, sastrawan Ali Audah juga ditunjuk menjadi saksi ahli. Awalnya, Ali membela Jassin. Di persidangan, seperti yang ia ungkap dalam “Hans Bague Jassin: Keras dan Lembut” yang diterbitkan di buku H.B. Jassin 70 Tahun (1987), Ali mengatakan tuduhan menghina agama tidak tepat.

Celakanya, ia malah berdebat dengan Jassin terkait mutu sastra cerpen itu. Menurut Ali, nilai sastranya rendah. Sementara Jassin bersikeras kalau karya itu bermutu tinggi, dilihat dari sisi kritik sastra.

“Perdebatan kami dalam sidang yang beralih mempersoalkan nilai sastranya itu sempat menjadi tertawaan hadirin,” kata Ali.

Saksi ahli lainnya, ulama dan sastrawan Abdul Malik Karim Amrullah atau tenar dengan nama Buya Hamka juga memberatkan Jassin di persidangan. Ia datang sebagai saksi ahli diminta Departemen Agama pada April 1970. Hamka berpendapat, isi cerpen itu dibuat sengaja hendak menghina agama dan tidak bermutu.

“Ketika ditanya hakim apakah cerpen itu akan dimuat jika dikirim ke majalah pimpinannya, Hamka menjawab, ‘murtad saya dari Islam kalau karangan seperti itu saya muat’,” tulis Varia, 8 April 1970.

Hamka pernah menulis di Merdeka edisi 5 Maret 1970, terkait polemik “Langit Makin Mendung.” Di akhir artikelnya, ia menulis, “Semoga dalam sidang yang akan datang akan keluarlah keputusan hakim, demi menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan”.

Di mata Hamka, memuat tulisan Kipandjikusmin adalah sebuah kesalahan. Akan tetapi, dengan kebesaran hatinya, dalam wawancara dengan Varia, Hamka berujar, di atas dari keadilan ada lagi yang lebih tinggi, yaitu memberikan maaf. Ia menilai, perkara ini cukup membuat Jassin menambah pengalamannya. Meski kesaksiannya memberatkan Jassin, tetapi Hamka mengusulkan agar hakim membebaskan terdakwa dari hukuman atau diberi hukuman yang ringan.

Setelah keterangan Hamka tak diperlukan lagi, sang ulama tetap setia hadir dalam persidangan selanjutnya. Karena sikapnya itu, Hamka mengaku dituduh oknum pro-Jassin sebagai penjilat Menteri Agama. Meski demikian, hubungan Hamka dan Jassin tetap baik.

Setiap sidang selesai, Jassin tampak datang menyalami dan merangkul Hamka. Dahulu, ketika Hamka diserang Lekra yang menuduh karyanya, Tenggelamnja Kapal van der Wijck sebagai plagiat, Jassin lah yang tampil sebagai satu-satunya pembela Hamka.

Menurut Budi Darma dalam tulisannya “Bukan Sekadar Monumen” di buku H.B. Jassin 70 Tahun (1987), Jassin juga pernah membela Chairil Anwar, saat Si Binatang Jalang itu dituduh menjiplak puisi Archibald Mac Leish berjudul “The Young Dead Soldiers Do Not Speak” untuk karyanya “Karawang-Bekasi”.

Dengan giat, Jassin mengumpulkan banyak bukti. Ia menyimpulkan, apa pun yang dilakukan Chairil, ia bukan penyair sembarangan. Jassin mengatakan, dalam kepengarangan pengaruh-memengaruhi merupakan hal biasa. Premis itu pula lah yang dipakai Jassin terhadap Tenggelamnya Kapal van der Wijck.

Buya Hamka (kiri) dan HB Jassin (kanan)./Varia, 8 April 1970.

Kipandjikusmin muncul, Jassin tetap disidang

Dalam situasi terjepit, Jassin justru “melawan”. Ia mempublikasikan buku berjudul Heboh Sastra 1968: Suatu Pertanggungan Jawab, diterbitkan Gunung Agung pada 1970. Buku setebal 104 halaman itu memuat dua poin penting. Pertama, Jassin menjelaskan panjang-lebar bahwa “Langit Makin Mendung” merupakan cerpen yang bernilai seni dan sama sekali tidak menghina Tuhan dan agama. Kedua—yang ini tergolong nekat—cerpen “Langit Makin Mendung” versi lengkap dimuat di lampiran.

Kepada Varia edisi 1 Juli 1970, Jassin mengatakan, tujuannya memuat cerpen itu di bukunya karena ingin publik membacanya utuh, agar mempelajari sendiri terlebih dahulu isi cerpen, sebelum mengemukakan pendapatnya.

Jassin mengatakan, majalah Sastra hanya media cetak beroplah kecil, cuma terbit 5.000 eksemplar. Dengan begitu, sebagian besar masyarakat belum membaca cerpen tersebut. Majalah itu pun hanya disebar di kalangan sastrawan, mahasiswa sasra, dan sejumlah kecil kaum terdidik.

Penuntut umum Jaksa Sudarsono menuntut Jassin hukuman dua setengah tahun penjara. Tak lama setelah itu, Kipandjikusmin muncul dari persembunyiannya. Ia menjadi narasumber majalah Ekspres edisi 14 Juni 1970. Redaksi Ekspres sendiri tak bersedia membuka identitas Kipandjikusmin.

Dalam wawancara itu, Kipandjikusmin menyatakan sama sekali tak panik, tapi jengkel dengan tindakan pemuda Islam yang menyerbu kantor redaksi majalah Sastra dan tuntutan hukum kepada Jassin.

Dali Mutiara, mantan Jaksa Tinggi di Yogyakarta, kemudian merespons wawancara Kipandjikusmin dengan Ekspres itu. Ia menulis artikel di Kompas edisi 8 Juli 1970 dengan judul “Perkara Madjalah Sastra jang Agak Unik.”

Intinya, Dali berpendapat, “Apabila sungguh penuntutan terhadap redaksi majalah Sastra ini dilandasi tanggung jawab profesinya, yakni karena ia menggunakan hak tolak kewartawanan lalu menyembunyikan si pengarang dari pengejaran hukum, maka dengan munculnya Kipandjikusmin sekarang, seyogyanya alasan pokok untuk menuntut diri sang redaktur jadi buyar dengan sendirinya. Karena bukankah yang jadi pokok perkara adalah sebuah cerpen ‘Langit Makin Mendung’ oleh Kipandjikusmin? Dan sekarang, siapa Kipandjikusmin sudah diketahui.”

Kepada Muchtar Nasution dari Varia, Jassin mengaku Kipandjikusmin tak pernah menghubunginya, sehingga ia tak tahu apakah sang pengarang “anonim” itu akan muncul ke muka. Akan tetapi, Jassin bersikeras akan bertanggung jawab seorang diri. Ia mengatakan, hal ini konsekuensi etika jurnalistik dalam Undang-Undang Pers Tahun 1966 dan usaha melindungi keselamatan pengarang.

“Saya tidak tahu, apakah wawancara Ekspres dengan Pandjikusmin sungguh-sungguh benar terjadi. Jika sekadar wawancara imajiner, tentu tak dapat dipegang,” kata Jassin kepada Varia, 5 Agustus 1970.

Hakim ketua sidang, Anton Abdurrachman Putra sebenarnya memberikan kesempatan kepada Jassin untuk menarik kembali hal tolak berdasarkan UU Pers 1966 di sidang, sehingga Kipandjikusmin bisa ditangkap.

“Tetapi, selama saudara Jassin tidak menariknya kembali, proses perkara harus berjalan terus,” kata Anton dalam Varia, 5 Agustus 1970.

Kepada Muchtar Nasution dari Varia, Jassin berpendapat, yang dituntut di muka hakim sebenarnya bukan dirinya atau Kipandjikusmin, tetapi imajinasi yang bebas kreatif.

“Dan semua orang punya imajinasi, bukan hanya Jassin dan Kipandjikusmin. Jadi vonis yang dijatuhkan adalah vonis terhadap imajinasi. Di sini akan teruji sampai ke mana penilaian hakim terhadap imajinasi yang bebas kreatif. Saya justru ingin keputusan yang positif. Dan secepat mungkin,” kata Jassin.

Di akhir sidang, Jassin dihukum larangan menerbitkan sesuatu yang berbau sastra selama setahun. Pada 28 Oktober 1970, ia divonis hukuman bersyarat setahun bui, dengan masa percobaan dua tahun.

Menurut Budi Darma, sebagai kritikus, Jassin sangat lihai. Pembelaannya terhadap Kipandjikusmin mengisyaratkan kehebatan Jassin, yang tahu dan punya konsep kreativitas secara total.

“Dengan gigih, dia membela kebebasan berimajinasi dan mencipta. Pembelaannya terhadap Kipandjikusmin pengarang ‘Langit Makin Mendung’ adalah hasil karya seorang cendekiawan. Dia bekerja keras untuk mencari data dalam menunjukkan wawasannya mengenai kreativitas,” tulis Budi Darma dalam buku H.B. Jassin 70 Tahun.

Meski begitu, Budi Darma menulis, ketika itu Jassin tengah berada di persimpangan jalan. Ia sudah tak bergairah lagi sebagai kritikus. Kebiasaannya mengulas karya sastra, terutama pengarang baru, sudah benar-benar surut. Ia kemudian beralih ke penerjemahan.

“Dengan alasan yang sangat tepat, dia tidak berbicara mengenai ‘Langit Makin Mendung’ sebagai karya sastra saja, dia banyak berbicara mengenai pinggiran-pinggiran masalah imajinasi dan penulisan kreatif untuk menunjang pendiriannya agar cerpen tersebut bisa diperlakukan sebagai fiksi,” tulis Budi Darma.

Hingga kini, tak pernah terungkap siapa Kipandjikusmin. Bisa jadi, ia adalah Jassin sendiri. Namun, sejarah membuktikan, nama Jassin tetap abadi sebagai Paus Sastra Indonesia [].

Daftar Referensi
Damono, Sapardi Djoko (ed.). 1987. H.B. Jassin 70 Tahun. PT Gramedia: Jakarta.
Varia, 8 April 1970.
Varia, 1 Juli 1970.
Varia, 5 Agustus 1970.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here