Hari yang Panjang di Pulau Buru

0
115
Pak Greg tengah memperlihatkan salah satu lukisannya./Foto Adhytia Putra

Persis pukul 05.30 WIB, saya tiba di kediaman seniman Gregorius Soeharsojo Goenito—sebuah rumah mungil di bilangan Trosobo, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Pria berusia 80-an tahun itu masih tampak bugar. Pagi itu, ia tengah menyiram tanaman di pot-pot kecil yang ada di depan rumahnya.

“Sampai jam berapa dari Jakarta? Cape?” kata dia mengawali perjumpaan.

“Sekitar jam 4, Pak. Lumayan.”

Perjalanan 15 jam saya tempuh dari Stasiun Pasar Senen, Jakarta menuju Stasiun Gubeng, Surabaya. Lalu, dilanjutkan perjalanan 30 menit mengendarai taksi daring.

Dinding rumah ini penuh lukisan. Di dinding teras, ruang tamu, ruang tengah, hingga lorong menuju dapur, kanvas-kanvas lukisan terpacak. Semuanya menggambarkan kehidupan di Pulau Buru, Maluku. Tempat di mana ia menghabiskan hari-hari panjang sebagai tahanan politik (tapol) Orde Baru pada 1970-an.

Tak ada kesan kekerasan dalam lukisan-lukisan karya Pak Greg, melulu tentang semangat kerja dan gotong royong. Alasan Pak Greg melukis sisi humanis Pulau Buru karena sebagai mantan tapol, ia masih dihantui trauma. “Masalahnya, kejiwaan,” ujarnya.

Saya mengenal Pak Greg dari bukunya, Tiada Jalan Bertabur Bunga. Buku yang mengisahkan pengalaman dan aneka sketsa yang dibuatnya di Pulau Buru.

Dibesarkan di Taman Siswa, Dibawa ke Pulau Buru

Pak Greg lahir di Madiun, Jawa Timur pada 1936. Meski sudah berusia senja, namun memorinya masih berjalan dengan baik. Ia sangat antusias mengisahkan masa kecilnya, saat bersekolah di Taman Siswa Madiun.

Taman Siswa, perguruanku/Hiduplah mu, semerdekanya/Taman Siswa, jantung hatiku. Terus apa? Lali (lupa) saya.”

Ia bersenandung. Mars Taman Siswa, katanya. Di sekolah tersebut, Pak Greg menghabiskan waktu studinya, dari tingkat dasar hingga menengah atas. Ia mengaku, sudah sangat tertarik dengan kesenian sejak kecil. Di Taman Siswa jugalah, Pak Greg mulai banyak belajar soal kesenian.

“Di sana ada grup melukis, namanya Tunas Muda,” kata Pak Greg. “Itu pada tahun 1948 hingga 1952.”

Ia ingat salah seorang guru menggambar, yang secara tak langsung berpengaruh terhadap kariernya kelak ketika dewasa. Namanya Sediyono, seorang pelukis sketsa dan ilustrator majalah Mekar Sari. Saat remaja, ia juga belajar melukis dari Soenindya dan Kartono.

Tak hanya melukis, ia menekuni pula drama dan tarik suara. Di Taman Siswa Madiun, ia juga mengenal karawitan. “Saya dibesarkan di Taman Siswa,” ujarnya.

Setamat mengenyam pendidikan di Taman Siswa Madiun, Pak Greg hijrah ke Jember Selatan. Di sana, ia tertarik dengan ludruk dan keroncong. “Saya juga melihat seni tradisi untuk memanggil hujan di sana,” tuturnya.

Kemudian, ia merantau ke Surabaya, Jawa Timur. Di sana, ia bekerja di sebuah instansi pemerintah. Di Kota Pahlawan ini, niat Pak Greg bukan sekadar mencari nafkah.

“Saya ke Surabaya juga ingin mengembangkan bakat seni dan bertemu teman-teman lama,” ucapnya.

Di Surabaya, bakat musiknya diasah. Ia mengenal musik, seperti ansambel, seriosa, dan klasik. Grup musik favoritnya adalah Koes Bersaudara.

“Saya juga suka penyanyi yang ada di film Amerika,” kata dia. Tanpa bisa menyebut siapa saja penyanyinya.

Gairahnya berkesenian disambut teman-teman lamanya. Ia ditawari membantu mereka di Sanggar Sura—sebuah sanggar di Surabaya yang terafiliasi dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Sanggar ini terbuka untuk umum. Mereka yang ingin mengembangkan bakat seni, bisa menimba ilmu di sini. Di sanggar tersebut, Pak Greg lantas sibuk di bidang drama, sastra, paduan suara, dan seni rupa. Ia bekerja sebagai sekretariat akademi.

“Sekalipun pendiri (sanggarnya) orang Lekra, tidak mesti yang masuk ke situ orang Lekra,” ujarnya.

Tak hanya dapat uang dan bisa mengeksplorasi bakat seni, Pak Greg pun didukung melanjutkan studi. Ia lalu masuk Akademi Administrasi Perusahaan Veteran.

Kemampuan seni Pak Greg di Sanggar Sura makin terasah. Ia rajin ikut paduan suara. Selain itu, ia sudah mengajar dan pernah pula mementaskan drama “Orang-Orang Baru dari Banten” karya Praoedya Ananta Toer—kelak, saat di Pulau Buru ia berkenalan dengan Pram.

*

Prahara terjadi pada Oktober 1965 di Jakarta. Sebuah peristiwa yang membuat hidup Pak Greg dan banyak orang lainnya berubah ke titik nadir.

Ia belum menyadari apa yang terjadi di Jakarta. Malam setelah tujuh jenderal terbunuh, semua biasa saja bagi Pak Greg. Ia tetap pulas tertidur. Siang hari, ia sempat mendengar pidato singkat Bung Karno di radio.

“Tunggu komando saya!” kata Pak Greg, menirukan perintah Bung Karno yang ia dengar melalui radio.

“Komando yang mana?”

Pak Greg bingung. Malam harinya, beberapa orang tentara mengetuk pintu rumahnya. Ia membukakan pintu, seperti biasa layaknya ada tamu berkunjung.

“Pak Mahmud ada? Ke mana?” tanya tentara tadi.
“Tidak tau Pak,” jawab Pak Greg.
“Kalau begitu, adik sebagai gantinya diminta keterangan.”

Malam itu, dan hari-hari panjang kemudian, kehidupan sang seniman berubah.

Mulanya, Pak Greg ditahan di markas batalyon di Surabaya. Ia mendekam di sana selama enam bulan. Lalu, ia dipindah ke Penjara Kalisosok, Surabaya. Kemudian, dipindahkan lagi ke Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Dari sini, bersama 500 orang tapol lainnya, Pak Greg dipersiapkan berangkat menuju Pulau Buru.

“Saya buta politik,” kata dia.

Sebelum naik ke atas kapal laut yang akan membawa mereka ke pulau pengasingan, ia dan ratusan orang tapol lainnya diberi penjelasan kalau ke Pulau Buru adalah bentuk transmigrasi.

“Sehingga orang yang dibuang tidak merasa terbuang dan sakit hati,” ujarnya.

Kehidupan di Pulau Buru

Kala itu, usianya masih 33 tahun. Rombongan pertama yang sampai ke Pulau Buru ditempatkan di unit III Wanayasa, Kampung Wailomoa, Lembah Waiapo. Menurut pengakuan Pak Greg, hingga 1975 di sana ada 19 unit yang didirikan untuk menampung para tapol. Satu barak ditinggali 50 kepala.

Nyatanya, pemerintah Orde Baru seakan menutupi apa yang terjadi sesungguhnya di Pulau Buru dengan beragam cara. Misalnya saja melalui film dokumenter.

Majalah Ekspres edisi 25 Januari 1971 pernah menulis laporan pemutaran film dokumenter terkait tapol B Pulau Buru di aula Kejaksaan Agung, Jakarta. Film itu diputar khusus untuk duta besar atau perwakilan negara asing di Jakarta. Saat itu, 39 orang yang diundang untuk menonton dan mendengar pidato Jaksa Agung Sugih Arto, hanya 29 yang hadir. Perwakilan negara asing yang tak hadir, di antaranya dari Rusia, Hungaria, dan Rumania.

“Pemindahan tahanan politik golongan B ini ke Pulau Buru bukan untuk mengasingkan mereka. Namun, untuk kepentingan mereka sendiri, menyiapkan kesempatan hidup baru bagi mereka dan sanak keluarganya,” kata Jaksa Agung Sugih Arto, seperti dikutip dari Ekspres, 25 Januari 1971.

Sugih menyebut mereka sebagai duri dalam masyarakat, yang berbahaya jika tak dipisahkan. Ia pun mengatakan, di Pulau Buru para tapol bekerja untuk dirinya sendiri dan keluarga, tanpa ada paksaan.

Jumlah tapol yang ditempatkan di Pulau Buru ada 7.500 orang. Terpencar-pencar dalam kampung-kampung kecil. Sugih mengatakan, jika mereka sudah siap, maka keluarganya bisa menetap dan tinggal di sana.

“Tetapi hanya dengan syarat bahwa mereka itu sudah dianggap ‘berjiwa baik’ dan jika keluarganya mau datang,” kata dia.

Pemutaran film dokumenter itu bertujuan untuk membuktikan kepada perwakilan negara asing bahwa Pulau Buru bukanlah kamp konsentrasi, seperti yang dikenal di Eropa.

Menurut Pak Greg, sesampainya di Pulau Buru para tapol diperintahkan membuka lahan, yang masih hutan dan rawa. Lahan-lahan itu nantinya disulap menjadi sawah dan kebun.

“Satu hari harus setengah hektare dibabat hutannya. Orang yang mengerjakan itu 50,” tuturnya.

Lahan pertanian kemudian diolah para tapol. Di samping untuk dikirim ke pemerintah, hasil panennya disisihkan untuk makan warga. Yang disetor ke pemerintah, kata dia, nantinya untuk mengganti bibit, obat-obatan, dan peralatan bercocok tanam.

Selain bekerja dari pagi hingga petang, diadakan juga apel rutin. Para tapol juga diizinkan berolahraga dan menonton pertunjukan kesenian. Jika tengah berjalan dan bendera Merah-Putih dinaikkan, para tapol harus langsung hormat. Jika tidak, hukuman push up harus ditanggung.

Setelah 1973, menurut Pak Greg, sudah banyak penyesuaian di Pulau Buru, mulai dari alam, makanan, dan kehidupan sehari-hari. Salah satu hewan buruan yang paling banyak dicari adalah ikan mujair yang hidup di rawa-rawa.

“Habis kerja, bisa mengail,” ujarnya.

Saat ditunjuk sebagai pemimpin regu untuk menyemprot hama wereng, Pak Greg mendapat ikan mujair yang berlimpah. Ikan-ikan di sekitar persawahan banyak yang mati karena terkena semprot cairan antihama.

“Itu dibakar (ikannya) tinggal makan. Tidak peduli istilah keracunan segala, ha-ha-ha,” katanya.

Karena terlalu lelah bekerja menyemprot hama siang dan malam, Pak Greg jatuh sakit. Ia pun dirawat di sebuah rumah sakit. Seorang mantri atau pembantu dokter mendiagnosa ia terkena racun obat semprot.

Di rumah sakit itu, telinga Pak Greg mendengar alunan lagu yang ia ingat hingga sekarang. Lagu itu pun kerap ia putar bila sedang melukis. Lagu itu berjudul “Apa Salah dan Dosaku” milik D’Lloyd.

Haruskah hidupku terus begini/Dengan derita yang tiada kahir/Ke manakah jalan, yang harus kutempuh/Agar kubahagia//Aku tak sanggup lagi/Menerima derita ini/Aku tak sanggup lagi/Menerima semuanya…

Sejenak ia bernyanyi. Matanya berkaca-kaca. Lalu diusap dengan ujung kaos yang ia kenakan. Obrolan kami terhenti karena Pak Greg terdiam sesaat. Kemudian, ia meneguk teh hangat yang tadi disajikan anaknya.

*

Pak Greg mengenal secara langsung sastrawan masyhur Pramoedya Ananta Toer di Pulau Buru. Mereka pernah bersama dalam satu barak pada 1976. Dengan Pram, ia sesekali mengobrol sembari mengisap rokok.

“Walau cuma klobot saja,” katanya. “Pak Pram sering cerita sama teman-teman, tapi jarang ngobrol dengan penjaga.”

Ketika tinggal satu atap dengan Pram, Pak Greg banyak mendengar kisah Ontosoroh dan Minke. Dua tokoh sentral dalam tetralogi Pulau Buru–Bumi ManusiaAnak Semua BangsaJejak Langkah, dan Rumah Kaca.

Ia tak selamanya bersama Pram dalam satu barak. Menurutnya, setiap enam bulan, orang-orang di dalam barak akan diganti.

Saya lalu ditunjukkan sebuah buku harian yang sudah lecek dan lapuk. Di buku itu, ada sketsa pensil buatan Pak Greg yang menggambarkan kehidupan sehari-hari para tapol di Pulau Buru, mulai dari mencukur rambut, tidur, dan bekerja di sawah. Sebagian sketsa itu dibukukan dalam Tiada Jalan Bertabur Bunga.

Pak Greg membawa sendiri alat-alat gambar dari Jawa. Ia juga banyak menyimpan buku tulis dari gereja. Bila membutuhkan alat tulis untuk menggambar lagi, Pak Greg punya trik. Di samping bertani, para tapol di sana beternak bebek dan ayam. Telurnya bisa dibarter ke orang Bugis yang tinggal sekitar enam kilometer dari area para tapol.

“Kita tukarkan dengan buku-buku tulis juga bolpoin sama orang Bugis tadi. Sambil beli kebutuhan yang lain, seperti garam, gula, tembakau, batu korek, dan minyak tanah,” katanya.

***

Atas desakan negara-negara Barat, proyek Pulau Buru resmi ditutup pada 1979. Para tapol dipulangkan ke daerah masing-masing. Pak Greg sendiri, sudah pulang terlebih dahulu pada 1977.

Menurutnya, pemulangan sudah sedikit demi sedikit dilakukan sejak 1977, khusus bagi tapol yang sakit dan renta.

“Saya sering sakit, jadi pulang lebih dulu,” kata Pak Greg.

Sekembalinya ke Jawa, Pak Greg mengaku tak ada dendam dan sakit hati. Akan tetapi, ia merasa berat dengan lingungan yang terlanjur melabelkannya sebagai mantan tapol Orde Baru.

“Bagi saya pribadi, saya menerima dan menyerahkan kepada Yang Kuasa,” kata Pak Greg [].

—-

Referensi:

“Tapol B—Buru” dalam Ekspres, 25 Januari 1971.
Wawancara dengan Gregorius Soeharsojo Goenito di kediamannya, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur pada akhir Agustus 2017.
Goenito, Gregorius Soeharsojo. 2016. Tiada Jalan Bertabur Bunga: Memoar Pulau Buru dalam Sketsa. INSISTPress: Yogyakarta.

Tulisan ini pertama kali terbit di JurnalRuang, 30 September 2017. Saya melakukan penyuntingan dan penambahan untuk artikel ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here