Geger Bali 1917

0
93

Sejarah mencatat, pada 21 Januari 1917, petaka gempa bumi dahsyat mengguncang Bali. Peristiwa itu dikenal sebagai Geger Bali.

Petaka pagi seratus tahun silam itu berlangsung hanya 50 detik. Namun, sanggup meluluhlantakan Pulau Dewata, dan mengakibatkan prahara yang berlanjut.

“Rumah-rumah, pura-pura dan puri yang tak terhitung jumlahnya hancur dan di utara distrik Abiansemal, sejumlah desa tersapu bersih,” tulis Henk Schulte Nordholt dalam bukunya The Spell of Power.

Salah satu pura yang hancur akibat gempa bumi besar itu adalah Puri Gianyar. Menurut Ide Anak Agung Gde Agung dalam Kenangan Masa Lampau, nyaris seluruh bangunan Puri Gianyar runtuh, karena gempa.

Perkara membangun kembali bangunan pura dan rumah bangsawan yang hancur, pernah pula menimbulkan perdebatan. Menurut Amanda Achmadi dalam tulisannya “Melampaui Arsitektur Bali Tradisional” di buku Masa Lalu dalam Masa Kini, usai gempa bumi besar 1917, terjadi perdebatan soal apakah pemerintah Belanda harus turut andil dalam pemugaran bangunan yang hancur tadi. Amanda menulis, arsitek Belanda yang juga Ketua Batavian Society of the Arts, P. Moojen, pernah memberikan peringatan, lantaran perbaikan yang dilakukan masyarakat Bali sangat tak sesuai.

“Alih-alih membangun kembali struktur dalam gaya lama, masyarakat Bali memasukkan semua tiruan arsitektur baru dari orang Eropa,” tulis Amanda.

Moojen tak menyukai hal itu. Dia mengatakan, pemugaran harus secara ketat mengikuti pola tradisional yang diawasi oleh dirinya sendiri.

Menurut berita dalam Bataviaasch nieuwsblad edisi 23 Juli 1917, seorang ahli geologi bernama Dr. G. H.H. Kemmerling dikirim untuk meneliti gempa bumi di sana. Dia menyelidik sepanjang Februari 1917, untuk mengetahui penyebab dan akibat gempa bumi itu. Gempa dirasakan pula hingga ke Bondowoso dan Lombok. Kehancuran terlihat di distrik Tabanan, Denpasar, Gianyar, dan Klungkungan. Terutama di daerah selatan dan barat Gunung Batur. Di bagian utara Bali luluhlantak.

Data-data yang terhimpun oleh Kemmerling dalam penelitiannya sepanjang Februari 1917, di antaranya menyebut, penduduk Bali selatan, baik orang Eropa maupun bumiputra menyatakan gemuruh goncangan bumi datang dari arah selatan. Hal ini, menurut Bataviaasch nieuwsblad, merupakan fakta yang menarik, karena mereka menganggap Gunung Batur sebagai penyebab gempa.

Namun, berdasarkan penyelidikan, gempa itu merupakan pemicu tektonik, tapi tak berasal dari Gunung Batur. Kemmerling melacak asal gempa di Samudra Hindia, sebelah tenggara Bali. Catatan teknologi wiechert seismograf yang ada di Batavia pun menunjukkan pusat gempa berada di laut tenggara Bali.

Menurut situs National Centers for Environmental Information, gempa bumi itu berkekuatan 6,6 skala richter. Ada banyak longsoran tanah yang mengubur rumah-rumah. Sekitar 80 persen korban jiwa meninggal karena longsoran tanah itu.

Korban jiwa dalam gempa bumi ini, menurut informasi Bataviaasch nieuwsblad sebanyak 1.350 orang, 1.000 lebih lainnya luka-luka.

Nordholt menulis, banyak jalan, bendungan, dan saluran air jebol. Lantas, membawa arus lumpur besar yang menghancurkan pertanian. Di daerah Badung, sebut Nordholt, peristiwa bumi berguncang tersebut mengurangi lahan produktif hingga sepuluh persen.

“Antara 1917 dan 1919, harga beras melonjak sampai lebih dari empat ratus persen,” tulis Nordholt dalam The Spell of Power.

Nordholt melanjutkan, bukan hanya gempa bumi dan gagalnya panen, bencana lantas berlanjut ke wabah influenza pada 1918. Karena wabah itu, Nordholt mencatat, diduga 22.300 orang meninggal dunia. Dan, selanjutnya, pada 1919, lahan pertanian di Bali selatan diserang hama tikus.

*

Geger Bali 1917 hanya merupakan salah satu contoh gempa bumi paling dahsyat yang pernah terjadi di negeri ini. Masih segar dalam ingatan kita, bagaimana bencana gempa dan tsunami yang menimpa Aceh pada akhir 2004 lalu.

Indonesia memang kawasan rawan bencana, dan kerap dilanda musibah gempa bumi dan letusan gunung berapi. Sebagai negara yang berpotensi gempa bumi, sudah seharusnya pemerintah memikirkan penanggulangan secara dini.

Pemerintah bisa saja melakukan kerja sama dengan negara maju, seperti Jepang. Di sana, pemerintahnya menggelontorkan dana besar-besaran untuk mengembangkan sistem pemantau gempa dan tsunami.

Mereka mendirikan layanan peringatan tsunami yang dioperasikan Japan Meteorological Agency—sebuah lembaga meteorologi negeri Sakura—pada 1952. Sistem ini memungkinkan JMA memberi peringatan tsunami berjarak tiga menit sejak gempa bumi terjadi. Saat gempa datang, besaran dan lokasinya dikabarkan stasiun televisi.

Selain itu, mereka membangun sistem pengeras suara, yang menyuarakan informasi gawat ke penduduk. Anak-anak usia sekolah diberikan pelatihan jika menghadapi gempa. Bangunan pencakar langit, dibangun dengan konstruksi yang aman. Sementara itu, di daerah pesisir, ada tempat berlindung dari tsunami, dan tahan gempa.

Semoga saja, pemerintah bisa mencontoh Jepang, sebagai negara yang diakui paling sigap menghadapi gempa dan tsunami.

Tulisan ini terbit pertama kali di Beritagar.id, 8 Agustus 2018.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here