Gasing (Mesti) Terus Berputar

0
40
gasing1
Ilustrasi/http://traditionalgamescct.blogspot.com

Kapan gasing mulai dikenal di Indonesia? Menurut beberapa informasi, gasing merupakan mainan tertua yang ditemukan di berbagai situs arkeologi. Ia tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia. Misalnya saja di wilayah Natuna, Kepulauan Riau. Di sana, permainan ini sudah ada jauh sebelum Belanda menjajah negeri kita. Di Sulawesi Utara, gasing mulai dikenal sejak tahun 1930-an.

Gasing sendiri terbuat dari kayu atau bambu, bahkan ada juga yang terbuat dari plastik. Gasing terdiri dari bagian kepala, bagian badan, dan bagian kaki atau paksi. Cara memainkannya diputar dengan seutas taliÓ†ļbiasanya terbuat dari nilon atau kulit pohon untuk gasing tradisional. Gasing dipegang di tangan kiri, sedangkan tangan kanan memegang talinya. Tali dililitkan mulai dari bagian kaki sampai bagian badan gasing. Setelah itu, lemparkan ke tanah hingga berputar-putar.

Gerakan gasing ini berdasarkan efek giroskopik. Biasanya berputar terhuyung-huyung untuk beberapa saat hingga interaksi bagian kaki dengan permukaan tanah stabil dan tegak. Untuk sementara waktu, momentum sudut dan efek giroskopik berkurang sedikit demi sedikit, hingga akhirnya bagian badan terjatuh secara kasar ke permukaan tanah.

Bentuk gasing sangat beragam, bahkan permainannya pun beragam di tiap daerah. Bentuk gasing ada yang lonjong, kerucut, berbentuk seperti jantung, silider, serta seperti piring terbang. Di daerah Toraja, Sulawesi Selatan, dikenal sebanyak 32 bentuk gasing.

Selain bentuknya, gasing pun memiliki beragam istilah di setiap daerah. Di Lampung gasing disebut pukang; sedangkan masyarakat Jawa Barat dan Jakarta menyebutnya gangsing atau panggal; di Maluku disebut apiong; di Kalimantan Timur disebut begasing; dan di Nusa Tenggara Barat disebut manggasing. Istilah manggasing juga dipakai oleh masyarakat Sulawesi Selatan.

Masih ada beberapa istilah untuk gasing di beberapa wilayah Indonesia. Masyarakat di Sulawesi Utara menyebut gasing dengan istilah paki; orang Jawa Timur menyebutnya kekehan; di Yogyakarta disebut patu; dan di Banyumas dikenal dengan istilah panggalan, dan seterusnya.

Bermain gasing bisa dilakukan seorang diri ataupun berkelompok. Selain sebagai permainan tradisional anak-anak, di beberapa daerah tertentu, gasing juga dimanfaatkan untuk berjudi, bahkan meramal. Di sejumlah daerah, gasing masih sangat populer di kalangan anak-anak. Tapi di kota besar seperti Jakarta, gasing sudah sulit ditemui.

Jangan sampai kita tidak melihatnya lagi 5 atau 10 tahun mendatang. Gasing mesti berputar terus di sini!

Tulisan ini pertama kali diterbitkan majalah Gong, edisi 114/X/2009.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here