Fasisme di Panggung Sandiwara

0
50
Sandiwara Toeroet sama Amat (Foto Djawa Baroe Nomor 14, 15 Juli 2605)
Sandiwara Toeroet sama Amat/Djawa Baroe Nomor 14, 15 Juli 2605.

Balatentara Jepang berhasil menguasai seluruh wilayah Indonesia pada tanggal 8 Maret 1942, setelah penyerahan tanpa syarat pemerintah Hindia Belanda di Kalijati, Jawa Barat. Setelah itu Jepang menduduki Indonesia sekitar 3,5 tahun. Pemerintah pendudukan Jepang bercita-cita menyatukan seluruh Asia dalam satu kepemimpinan, yaitu kepemimpinan Jepang. Selain itu, mereka menginginkan agar masyarakat Asia mendukung peperangan yang sedang dijalankan melawan Sekutu (Belanda, Amerika, Inggris).                                                                                                       

Eksploitasi hasil bumi serta mobilisasi manusia adalah wujud dari cita-cita Jepang tersebut. Untuk menyukseskan pelaksanaan kebijakan mereka tentang kemakmuran bersama Asia Timur Raya di bawah pimpinan Jepang, pemerintahan militer Jepang memberikan perhatian besar untuk mengambil hati rakyat dan bagaimana mengindoktrinasi mereka. Salah satu media yang dimanfaatkan Jepang guna menarik simpati rakyat Indonesia adalah melalui media seni sandiwara/teater.             

Suatu organisasi bentukan pemerintah untuk menangani masalah propaganda dibentuk pada Agustus 1942. Organisasi ini bernama Sendenbu. Sendenbu merupakan sebuah departemen yang berada dalam Badan Pemerintahan Militer (Gunseikanbu), yang sejak awal sampai akhir masa pendudukan Jepang di Indonesia selalu dipimpin oleh orang dari kalangan militer. Di dalam Sendenbu terdapat Seksi Propaganda. Seksi inilah yang kemudian mengendalikan seluruh media propaganda. Sandiwara, yang termasuk salah satu alat propaganda pemerintah, tidak lepas dari pengawasan seksi ini. Jepang memilih sandiwara sebagai alat propaganda karena sandiwara dapat menggelorakan perasaan orang banyak.                                                        

Sebelum merancang sandiwara untuk dijadikan media propaganda yang ampuh, Jepang terlebih dahulu merubah gambaran miring tentang jenis kesenian ini. Kaum terpelajar di kota-kota besar masih menganggap hiburan sandiwara modern sebagai hiburan murahan bagi masyarakat yang kurang terpelajar, mereka menganggap roman atau puisi lebih berkualitas daripada sandiwara. Usaha yang dilakukan oleh Sendenbu untuk ”memperbaiki” kualitas sandiwara yaitu dengan mendirikan Sekolah Tonil. Seksi Propaganda Sendenbu membuka Sekolah Tonil di Jakarta pada Juni 1942.

Maksud utamanya yakni untuk memperbaiki kualitas seni sandiwara berdasarkan semangat ketimuran. Sekolah Tonil bertujuan untuk menciptakan ahli-ahli di bidang ini, seperti mendidik penulis naskah profesional, aktor atau pemain, dan staf lainnya. Sekolah ini dipimpin oleh Takeda, Jasoeda, Sakoema, dan R. Ariffien—Yang disebut ketiga pertama adalah ahli-ahli seni dari Jepang, sedang yang disebut terakhir merupakan seorang wartawan Indonesia yang kemudian terjun ke dunia film dan sandiwara—Sekolah Tonil menjadi pusat pimpinan dari semua pertunjukan-pertunjukan tonil atau sandiwara dan kesenian di seluruh Indonesia. Murid-murid dari Sekolah Tonil dijadikan sebagai pelopor, untuk melancarkan rencana propaganda dan memberi hiburan bagi prajurit-prajurit Jepang. Mereka aktif menyumbangkan permainan yang telah didapatkan dari Sekolah Tonil.            

Sekolah Tonil menghasilkan lakon-lakon propaganda, seperti Pendekar Asia karya Sakoema, Ratoe Asia karya R. Ariffien, Poetera Asia, serta Iboe Bedosa. Selain dimainkan oleh murid-murid Sekolah Tonil sendiri, lakon-lakon ini juga aktif dimainkan oleh Perkumpulan Sandiwara Tjahaja Asia pada masa awal pendudukan. Pada 3 Januari 1943, Sekolah Tonil resmi ditutup oleh pemerintah, sebagai gantinya mereka berencana membentuk organisasi yang lebih besar daripada Sekolah Tonil. Pelajar-pelajar yang telah menuntut pendidikan di sekolah ini kebanyakan menjadi anggota perkumpulan-perkumpulan sandiwara pada masa ini.                                                           

Selain Sekolah Tonil, Jepang juga membentuk Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Shidosho) untuk mendukung/menunjang propaganda melalui kesenian, termasuk sandiwara. Keimin Bunka Shidosho berdiri pada 1 April 1943. Keimin Bunka Shidosho adalah organisasi di luar Sendenbu sebagai pusat kebudayaan yang bergerak di bidang kesenian. Tujuan dari Keimin Bunka Shidosho adalah untuk menyesuaikan kebudayaan Indonesia dengan cita-cita Asia Timur Raya, bekerja dan melatih ahli-ahli kebudayaan Nippon dan Indonesia bersama-sama, serta memajukan kebudayaan Indonesia.

Terdapat lima bagian di dalam Keimin Bunka Shidosho, yaitu bagian kesusasteraan, bagian film, bagian lukisan dan ukiran, bagian musik, dan bagian sandiwara dan tari. Setiap bagian dipimpin oleh seorang ahli seni dari Jepang dan didampingi seorang Indonesia. Bagian sandiwara dan tari dipimpin oleh K. Jasoeda didampingi oleh Winarno. Kedudukan bagian sandiwara adalah sebagai markas besar, atas perumusan kebijakan dasar pemanfaatan seni sandiwara demi propaganda politik, dan bertanggung jawab atas pendorongan, pelatihan, tuntunan, serta kontrol segala jenis kegiatan sandiwara. Keimin Bunka Shidosho juga ”menjaring” penulis naskah sandiwara kelas satu Indonesia, misalnya Inoe Perbatasari dan Armijn Pane. Naskah-naskah yang dikarang tersebut kemudian dibagi-bagikan kepada perkumpulan-perkumpulan sandiwara untuk dimainkan.

 

Bagian sandiwara juga turut aktif menyelenggarakan pertunjukan-pertunjukan sandiwara, yang tujuannya tidak lain adalah propaganda, atau bekerjasama dengan organisasi-organisasi bentukan pemerintah lainnya untuk menyelenggarakan pertunjukan, serta memberikan hiburan bagi prajurit. Selain itu, Keimin Bunka Shidosho juga mengorganisir perkumpulan sandiwara lokal untuk tampil di wilayah-wilayah yang setaraf dengan perkampungan pinggir kota dan membentuk perkumpulan sandiwara.                                                                                  

Menjelang akhir 1944, dibentuk suatu himpunan sandiwara buatan pemerintah. Organisasi ini bernama Djawa Engeki Kyokai atau Perserikatan Oesaha Sandiwara Djawa (POSD). POSD dibentuk oleh Sendenbu pada 1 September 1944. POSD dipimpin oleh Hinatu Eitaroo. Sebelum pendirian organisasi ini, seluruh kegiatan seni sandiwara berada dalam kontrol Keimin Bunka Shidosho dan pengawasan Seksi Propaganda Sendenbu. Organisasi ini berdiri di bawah Seksi Propaganda Sendenbu.

POSD bertugas sebagai perhimpunan berbagai perkumpulan sandiwara, menyelenggarakan berbagai pertunjukan, dan menyusun cerita sandiwara melalui Badan Permusyawaratan Cerita POSD, untuk kemudian dibagikan serta dimainkan oleh perkumpulan sandiwara yang termasuk ke dalam anggota organisasi ini.

Pada perkembangan selanjutnya, POSD menempatkan perkumpulan-perkumpulan yang masuk di dalamnya untuk mengadakan berbagai pertunjukan di kota-kota besar Pulau Jawa, seperti Bandung, Surabaya, Malang, Surakarta, Yogyakarta, dan Jakarta. Biasanya pertunjukan-pertunjukan ini dilakukan serentak dan dimainkan oleh perkumpulan sandiwara yang telah bergabung di dalam POSD, seperti Bintang Soerabaja, Tjahaja Timoer, Bintang, Warnasari, Dewi Mada, Pantjawarna, Noesantara, dan Sinar Sari. POSD banyak memegang peranan dalam pertunjukan lakon-lakon propaganda. Perkumpulan yang telah masuk ke dalamnya, wajib membawakan lakon-lakon propaganda yang di karang oleh Badan Permusyawaratan Cerita POSD dan Keimin Bunka Shidosho.                   

Wujud propaganda yang direalisasikan melalui sandiwara modern terlihat pada lakon-lakon masa ini. Hampir seluruh lakon-lakon sandiwara yang tercipta pada masa ini berkisah tentang kekezaman Belanda, kepahlawanan Jepang, anjuran memasuki organsiasi semi-militer, anjuran menyerahkan hasil bumi kepada pemerintah, dan sejarah Indonesia pada zaman kerajaan. Perkumpulan-perkumpulan sandiwara yang ada pada masa ini seluruhnya berada dalam kendali pemerintah, melalui organisasi-organisasi yang khusus menangani aktifitas sandiwara seperti yang telah dipaparkan di atas. Perkumpulan sandiwara seperti Bintang Soerabaja, Tjahaja Asia, Tjahaja Timoer, Warnasari, Miss Tjitjih, Dewi Mada, serta perkumpulan-perkumpulan yang sifatnya lokal, mendapat tugas keliling untuk memberikan pertunjukan kepada penduduk atau golongan militer. Mereka memberikan hiburan sekaligus propaganda. Tentu saja lakon-lakon yang dibawakan oleh perkumpulan-perkumpulan ini adalah lakon-lakon yang tidak membahayakan keberadaan Jepang di Indonesia serta lakon yang mengobarkan semangat perang di kalangan penduduk.               

Salah satu contoh pertunjukan lakon propaganda yang terjadi sepanjang masa pendudukan Jepang yaitu pertunjukan dari Perkumpulan Miss Tjitjih. Surat kabar Asia Raya menyebutkan bahwa perkumpulan ini bekerjasama dengan POSD menyelenggarakan pertunjukan pada 28 Mei 1945, di Siritu Gekidjo Pasar Baru, mengambil lakon ”Pentjaran Balik Selaka” gubahan dan pimpinan Lily Somawiria.

Satu artikel di dalam majalah Djawa Baroe pada 15 Juni 1945 menyebutkan bahwa: ”pertoendjoekan ini ialah oesaha dari pihak P.O.S.D. (Perserikatan Oesaha Sandiwara Djawa) oentoek mempertinggi semangat peperangan dikalangan rakjat, teroetama rakjat didesa-desa dan kota-kota ketjil….”.

Selain itu bertujuan juga untuk mempertebal semangat rakyat untuk menyerahkan padi. Lakon ini menggambarkan pertempuran di zaman Kerajaan Padjadjaran, yaitu sebuah cerita tentang Prabu Wirakantjana, Raja Padjadjaran. Alasan POSD memilih cerita ini karena cerita-cerita kuno ini dikenal oleh rakyat kecil di desa-desa. Pertunjukan tersebut dihadiri oleh pejabat tinggi Sendenbu, Shimitzu, prajurit-prajurit Jepang dan Heiho, serta para pemimpin sandiwara dari luar kota dan desa dari Jawa Barat. Pertunjukan-pertunjukan semacam ini terjadi sepanjang masa pendudukan.               

Penulis-penulis yang tergolong sebagai penulis lakon produktif dimajukan ke depan oleh pemerintah guna menghasilkan karya-karya lakon propaganda. Di antara penulis-penulis ini adalah Armijn Pane, D. Djojokoesomo, J. Hoetagaloeng, Usmar Ismail, Merayu Sukma, Karim Halim, Aoh Kartahadimadja, Inoe Perbatasari, Idroes, Ariffien K. Oetojo, Ananta Gaharsjah, El-Hakim, Kamadjaja, dan pemimpin POSD, Hinatu Eitaroo. Hasil karya mereka, seperti Kami, perempoean; Djinak-Djinak Merpati; Awas Mata-Mata Moesoeh; Djarak; Koeli dan Romusha; Moetiara dari Noesa Laoet; Tjitra; Pandoe Partiwi; Bekerdja; Ajo…Djadi Roomusha!; Fadjar Telah Menjingsing; dan lain-lain bercerita seputar memberikan gambaran brutal terhadap penjajahan Belanda; menganjurkan untuk mengikhlaskan anggota keluarganya memasuki barisan Suka Rela, Peta (Pembela Tanah Air), Heiho, dan Jibaku; menganjurkan untuk tidak hidup bersenang-senang di tengah peperangan; rela berkorban dengan menyumbangkan tenaga dan hasil bumi kepada pemerintah; dan memuji kehebatan tentara Jepang yang berjuang mengusir penjajah Barat dari Asia. Sebagai contoh, lakon Koeli dan Romusha karya J. Hoetagaloeng berkisah tentang tingginya martabat seorang Romusha (Pekerja Sukarela) pada masa Jepang dibandingkan dengan kuli kontrak pada masa Belanda. Karya ini memenangkan sayembara penulisan lakon sandiwara yang diselenggarakan oleh surat kabar Asia Raya pada 28 Mei 1945.

Selain kedua penulisan dan pertunjukan panggung, propaganda lewat sandiwara ini juga diwujudkan melalui siaran radio. Tercatat ada beberapa lakon sandiwara propaganda yang disiarkan pada masa pendudukan, yaitu Darah Memanggil karya Achdiat dan Rosidi; Moetiara dari Noesa Laoet dan Tempat jang Kosong karya Usmar Ismail; Djibakoe Atjeh karya Idroes; Diponegoro karya Soetomo Djauhar Arifin; Bende Mataram karya Ariffien K. Oetojo; Ajahkoe Poelang (”Tjitji Kaeroe”) karya Kikoetji Kwan; Soemping Soerong Pati karya Inoe Kertapati; Iboe Perdjoerit karya Matsuzaki Taii; serta Djalan Kembali, Mereboet Benteng Kroja, Memotong Padi, Manoesia Oetama, dan Tanah dan Air.

Telah diterangkan di atas, bagaimana seni sandiwara pada masa pendudukan Jepang dijadikan alat propaganda politik. Pengaruhnya kepada masyarakat, terutama kalangan terpelajar kota, tidak begitu besar. kalangan terpelajar kota, yang umumnya lebih akrab dengan pertunjukan sandiwara, tidak begitu tertarik untuk menyaksikan sandiwara dengan tujuan propaganda, sedangkan kalangan yang kurang terpelajar, cenderung lebih mengikuti saja pertunjukan sandiwara propaganda. Ini disebabkan karena keterbatasan informasi pada kalangan yang kurang terpelajar. Bagi generasi muda, himbauan Jepang relatif diterima dengan baik. Generasi muda mempunyai kesempatan untuk menikmati jenis hiburan ini, karena sering dipertunjukan di sekolah dan rapat-rapat lokal.                                                                            

Sumbangan positif kegiatan seni sandiwara pada masa pendudukan Jepang bagi dunia sandiwara selanjutnya, yaitu dikenalnya dokumentasi naskah lakon, jangkauan cerita sandiwara yang lebih luas, dan muncul secara tegas peran dan tanggungjawab seorang sutradara. Di samping itu, mulai dikenalnya fungsi seni sandiwara sebagai media massa yang sesungguhnya serta dikenalnya wadah khusus untuk menangani kegiatan seni sandiwara.

Tulisan ini dimuat pertama kali di Majalah Mata Jendela volume III Nomor 4/2008.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here