Duar! Petaka Petasan Malam Tahun Baru di Jakarta

0
195

Tak terlintas dalam benak Karjoto, pestanya berubah menjadi duka. Malam tahun baru 1970, ia masih larut dalam kegembiraan pesta petasan. Dini hari, ia harus dilarikan ke Rumah Sakit Ciptomangunkusumo, Jakarta Pusat.

Pemuda berusia 20 tahun itu terkena ledakan petasan yang dilempar seseorang ke bagian dadanya. Akibatnya, ia terkejut bukan main. Darah lantas mengucur dari mulutnya. Dadanya sesak dan kesulitan bernapas.

Alat pernapasan buatan membantunya agar nyawa tak melayang. Mirisnya, hingga 1 Januari pagi, belum diketahui siapa keluarga pemuda malang ini.

Korban yang Berulang

Karjoto adalah satu dari 51 korban akibat ledakan petasan di malam pergantian tahun 1970. Dua di antara 51 orang itu tewas. Selain itu, pesta tahun baru 1970 di Jakarta meminta korban kecelakaan lalu lintas sebanyak 38 orang dan peluru nyasar sebanyak 13 orang.

Salah seorang korban peluru nyasar bernama Nani Rochani, berusia 15 tahun. Ia terkena peluru nyasar saat tengah asyik menonton televisi di rumahnya. Peluru itu menembus punggungnya.

Ketika itu, pukul 00.30 WIB, Kapolri Hoegeng Imam Santoso yang baru dilantik delapan bulan ikut memantau keadaan di RS Ciptomangunkusumo. Ia menyaksikan seorang korban penusukan di malam tahun baru.

Kapolri Hoegeng menyaksikan korban penusukan di RS Ciptomangunkusumo, Jakarta./Variasari, 16 Januari 1970.

Namun, jumlah korban malam tahun baru di Jakarta—jika tak dihitung dengan korban kecelakaan lalu lintas—tak sebanyak pada 1969. Saat itu, tercatat ada 59 orang korban petasan dan 20 korban peluru nyasar. Malam takbiran Idulfitri 1969 lebih banyak lagi. Tjaraka edisi 21 Januari 1969 mencatat, ada 426 orang yang menjadi korban—361 korban petasan, selebihnya peluru nyasar.

Meski setiap pesta tahun baru memakan korban, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin tak melarang pesta petasan. Malah mendukungnya.

Menurut Bang Ali, pesta petasan di malam tahun baru ampuh membuat warga melepaskan kesulitan dan tekanan hidup sehari-hari. Apalagi, belum lama terjadi peristiwa G30S, yang diikuti pembunuhan besar-besaran. Tragedi itu ikut membuat warga tertekan secara psikologis.

Pesta petasan besar-besaran kerap diadakan di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat sejak 1968. Pada 1969, untuk mencegah jatuhnya banyak korban, dilakukan pembagian jalan itu, antara daerah “perang” dan “damai”.

Malam tahun baru 1971, pesta petasan kembali dihelat di Jalan MH Thamrin. Sejak pukul 17.00 WIB, warga Jakarta sudah memadati kawasan itu. Di atas jembatan penyeberangan depan pusat perbelanjaan Sarinah, terpasang lima tiang masing-masing lima meter, yang digantung petasan.

Pukul 23.30 WIB, lautan manusia sudah memadati Jalan MH Thamrin dan sekitarnya. Dari arah Hotel Indonesia, tiga pria membawa gulungan petasan renceng sebesar ban mobil fiat.

Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, menyulut petasan dan menutup telinga saat petasan meledak dalam perayaan Tahun Baru 1969./Tjaraka, 21 Januari 1969.

“Awas! Yang memegang rokok, jangan dekat-dekat!” teriak tiga pria, yang dikawal petugas bersenjata.

Tengah malam, rentetan bunyi petasan terdengar mirip gemuruh dentuman bom. Langit Jakarta berwarna-warni kembang api.

“Kabarnya, untuk memeriahkan pergantian tahun tersebut, Bang Ali menghabiskan kira-kira 41 peti petasan impor dari Cina dan Singapura,” tulis Kompas, 4 Januari 1971.

Perang petasan pun terjadi lagi. Warga Jakarta—kebanyakan anak muda—yang ikut merayakan tahun baru 1971 di Jalan MH Thamrin itu saling lempar petasan. Lagi-lagi, korban berjatuhan akibat sambaran petasan.

Hingga pukul 01.00 WIB, RS Ciptomangunkusumo menerima 15 korban petasan. Seorang anak berusia 11 tahun terluka parah di tangan dan perutnya. Korban lainnya, menderita luka di mata dan telinga. Selain korban petasan, ada 13 orang mengalami kecelakaan lalu lintas, seorang korban penusukan, dan seorang terkena peluru nyasar.

Walau tak sebanyak tahun sebelumnya, tetapi peristiwa yang meminta korban di malam tahun baru ini kerap berulang.

Aturan Ada untuk Dilanggar

Korban petasan./Ekspres, 27 November 1971.

Petasan memang selalu ada dalam perayaan tahun baru. Sebagai hiburan, sensasinya berasal dari seberapa besar suara yang dihasilkan.

“Sehingga timbul asosiasi, perayaan tanpa merecon kurang mantep. Suara ledakannya sudah jelas menimbulkan perasaan yang menggairahkan,” kata Lektor Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Singgih D. Gunarsa kepada wartawan Ekspres, 27 November 1971.

Ada empat faktor mengapa petasan selalu menjadi petaka, menurut Ekspres. Pertama, para perajin petasan melanggar peraturan khusus terkait bahan peledak. Kedua, para perajin petasan terjebak promosi teknologi petasan yang bersaing dari segi daya ledakan. Ketiga, para penyulut petasan tak mempedulikan norma sosial. Keempat, payung hukum yang lemah.

Paling berbahaya adalah petasan yang pembuatannya menjurus teknik granat tangan. Petasan berbentuk bulat sebesar bola sodok ini tak perlu disulut api untuk meledakkannya. Cukup dilempar, maka akan menghasilkan daya ledak yang dahsyat.

“Kalau jatuh dari kantong pemiliknya, bisa mengakibatkan kaki, tangan, dan badan saling terpisah,” tulis Ekspres.

Kabarnya, petasan granat tangan ini didatangkan dari Bandung. Pembuatan petasan jenis ini, sesungguhnya melanggar aturan.

Di dalam Lembaran Daerah Pemerintah DCI Djakarta Raya Nomor 42 Tahun 1971 disebutkan, obat yang digunakan tidak boleh peka terhadap gosokan, cahaya, dan tekanan. Selain itu, di dalam beleid itu disebutkan, dilarang menggunakan obat yang bersifat peledak, yang berasal dari detonator, peluru, dan dinamit.

Perajin petasan./Ekspres, 27 November 1971.

Sidang Paripurna Kabinet pada 12 Oktober 1971 juga memberikan rekomendasi, hanya mengizinkan pemakaian petasan berukuran panjang maksimal delapan sentimeter, diameter maksimal semeter, dan isi mesiu maksimal 10 gram.

Namun, yang namanya perajin petasan, untung saja yang mereka mau. Semakin besar daya ledak dan ukuran petasan, maka semakin baik. Peminatnya pun tak sedikit. Meski yang meledakkannya, kerap tutup kuping.

Pemerintah DKI Jakarta juga sudah mengeluarkan aneka peraturan terkait petasan, seperti aturan nomor 135 tahun 1969, nomor 48 tahun 1970, nomor 41 tahun 1971, dan nomor 42 tahun 1971.

Bila mengikuti aturan Lembaran Daerah Nomor 41 Tahun 1971 tentang Kerajinan Petasan, ada larangan membuat petasan di rumah-rumah tinggal atau wilayah permukiman. Pada kenyataannya, petasan-petasan itu memang bukan berasal dari wilayah Jakarta.

Kepala Humas DKI Jakarta, Sjariful Alam pun menegaskan, tak ada pabrik petasan dan belum pernah ada yang diberikan izin untuk membuat petasan di Jakarta. Petasan-petasan itu berasal dari wilayah sekitar Jakarta.

Produksi terbesar ada di Kecamatan Sawangan, Depok, Jawa Barat. Di wilayah ini, terdapat empat desa, yakni Lebak Wangi, Parung, Duren Seribu, dan Kampung Kandang.

Warganya mayoritas perajin petasan. Jumlahnya ribuan orang. Pangkalan pembuat petasan lainnya berasal dari daerah Semarang dan Bandung. Dan, nyatanya peraturan tinggal peraturan. Hanya kertas usang yang tersimpan di dalam laci. Pemerintah DKI Jakarta juga tetap memberikan izin impor petasan.

“Sudah sejak beberapa bulan yang lalu DCI memberikan izin impor petasan kepada perusahaan-perusahaan tertentu sebanyak 115 ton. Setelah keluarnya keputusan baru-baru ini, tanpa ada pihak yang mengalami kerugian izin impor atas 50 ton petasan masih empat ditarik kembali,” kata Sjariful Alam kepada Ekspres [] 

Daftar Referensi
Tjaraka, 21 Januari 1969.
Variasari, 16 Januari 1970.
Kompas, 4 Januari 1971.
Ekspres, 27 November 1971.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here