Dari Gelanggang Kontes “Miss”

0
173

“Akupun bersorak lompat kegirangan/Tapiku terjatuh dari kursi goyang/Kiranya ku mimpi uh sebel!/Jadi ratu sejagad semalam…”

Lagu “Ratu Sejagad” yang dipopulerkan duo Ratu—Maia Estianty dan Mulan Kwok—pada 2006 menjadi sebuah gambaran bagaimana angan-angan seorang perempuan menjadi ratu kecantikan sejagat, yang ternyata hanya mimpi belaka.

Namun, hal itu bukan mimpi bagi Irma Hardisurya. Tuhan memberinya anugerah kecantikan, rasa percaya diri, dan wawasan luas. Ia bisa pergi ke kota-kota di Asia, Eropa, dan Amerika Serikat, menjadi perwakilan simbol kecantikan perempuan Indonesia pada awal 1970-an.

Karier kontes “miss” pertama Irma terjadi di Bandung. Ia mengisahkan pengalamannya itu di dalam bukunya, Memoar Miss Indonesia 1969 (2020). Pada 1969, di Hotel Savoy Homann digelar kontes Miss Jawa Barat, sebuah kontes kecantikan pertama tingkat provinsi di Jawa Barat.

Irma, yang saat itu berusia 22 tahun, mengaku mendaftar ke kontes itu karena iseng-iseng—disarankan seorang dressmaker terkenal di Bandung, Francine. Singkat cerita, di malam final pada 8 Agustus 1969, ia terpilih menjadi Miss Jawa Barat. Tiga pemenang kontes ini kemudian dikirim ke Jakarta mengikuti kontes Miss Indonesia 1969 yang pertama kali digelar.

Malam final Miss indonesia 1969—atau nama lainnya Ratu Indonesia—berlangsung pada 15 Agustus 1969 di Hotel Indonesia, Jakarta. Pemenang ajang ini pun berhak mewakili Indonesia di kontes internasional.

Menurut Irma, sebelumnya Indonesia pernah mengirimkan wakil ke kontes internasional, seperti pada 1960-an ikut dalam kontes internasional di Long Beach, Amerika Serikat. Namun, wakil yang dikirim tidak dipilih resmi melalui sebuah kontes yang selektif.

Dalam ajang kontes kecantikan tingkat nasional itu, Irma menyabet posisi pertama. Kemudian, ia pun mewakili Indonesia di kontes internasional, yakni Miss International Beauty Pageant 1969 di Tokyo, Jepang. Pada 1970, ia pun terbang ke Quezon City, Filipina untuk mewakili Indonesia dalam kontes Miss Asia Quest 1970. Dalam ajang itu, ia meraih gelar Miss Friendship.

Dalam catatan sejarah, Irma adalah perempuan satu-satunya dari Indonesia yang mewakili negara ini sebanyak dua kali di ajang kontes kecantikan internasional.

Peserta calon Miss Varia 1959./Varia, 12 Agustus 1959./Arsip Fandy Hutari.

Ajang Miss Bergengsi

Pada 1970-an, ajang kontes ratu kecantikan banyak dihelat. Acara itu digelar mulai dari tingkat nasional, provinsi, perusahaan, atau komunitas. Banyak perempuan bermimpi menjadi juara di ajang kontes ini. Sebab, selain menjadi terkenal, hadiah yang menggiurkan pun menanti.

Sebelum Irma keliling dunia karena menang Miss Indonesia 1969, kontes-kontesan miss tampaknya sudah dimulai majalah Varia lebih awal. Majalah puspa ragam ini mengadakan pemilihan Miss Varia, ketika setahun terbit. Dalam Varia nomor 69, 12 Agustus 1959, terpampang pengumuman “Finale Pemilihan Miss Varia 1959” di halaman pertama majalah itu.

Sistemnya berbeda dengan kontes miss pada akhir 1960-an dan awal 1970-an. Peserta tak mendaftar langsung di tempat kontes. Mereka hanya mengirimkan foto dan data diri ke alamat redaksi Varia di Jalan Pintu Besar Selatan, Jakarta.

Lantas, calon Miss Varia yang sudah diseleksi akan ditampilkan fotonya, dengan pengkodean nomor A dan seterusnya. Ada dua macam foto yang ditampilkan, yakni setengah badan dan full body. Peserta diperas menjadi 20 orang, lalu akan dipilih satu yang berhak menjadi Miss Varia.

Siapa yang memilih pemenang? Para pembaca majalah Varia.

Untuk ikut memilih, pembaca setia Varia diperintahkan mengambil surat suara, yang ada di bawah halaman pengumuman. Lalu, surat suara diisi lengkap, pilihan calon pemenang Miss Varia cukup disebutkan kode huruf. Kemudian, semua dikirim ke alamat kantor redaksi Varia.

Pemilihan Miss Varia terus berlangsung dari tahun ke tahun, sebagai bagian dari peringatan hari jadi majalah itu. Di tahun-tahun berikutnya, bukan hanya perempuan yang bisa ambil bagian. Para pria bisa ikut ajang kontes ini, mendapat gelar Mr. Varia.

Pada 1960-an, ajang ini menjadi semakin besar. Bahkan, acara final pemilihan Miss dan Mr. Varia digelar di tempat khusus, dengan penilaian dewan juri.

Misalnya saja, pada 1969, final pemilihan Miss dan Mr. Varia berlangsung di ball room Hotel Indonesia pada 26 April 1969. Para pemenangnya akan diperkenalkan pula ke publik di Istoran Senayan, esok harinya.

Menurut Varia edisi 16 April 1969, pemilihan dilakukan juri yang terdiri dari sejumlah tokoh terkemuka di Jakarta. Miss dan Mr. Varia yang tampil di malam final adalah mereka yang sudah mendapatkan suara terbanyak dari para pembaca majalah Varia. Saat itu, jumlah Miss dan Mr. Varia yang tampil di malam final, masing-masing 12 orang.

Seperti di ajang serupa, sebelumnya para calon Miss dan Mr. Varia mengirim foto dan identitas mereka. Lalu, dipilih juri yang ditunjuk Varia—bukan lagi redaksi. Dikutip dari Varia edisi 5 Maret 1969, foto-foto hasil seleksi juri lalu tampil di majalah itu selama tiga nomor berturut-turut. Para pembaca dipersilakan memilih masing-masing tiga orang calon Miss dan Mr. Varia. Lalu, pilihan dikirim ke panitia pemilihan untuk diseleksi kembali menurut angka terbanyak.

Pemilihan Miss Varia ikut mendongkrak nama pemenang. Mereka pun tak jarang ikut berpartisipasi kembali di ajang kontes lain.

Misalnya, dikutip dari Varia edisi 13 Januari 1960, pemenang Miss Varia ke-10 Deetje Tjiook, yang berjuluk “Miss O”, menang kontes Ratu Kembang yang diadakan di Gedung Selecta Union, Medan, Sumatera Utara pada 1960. Acara ini diadakan oleh pensiunan Angkatan Perang RI, dengan tujuan mengumpulkan uang untuk dana sosial.

Pada 1970, seperti dikutip dari Varia edisi 8 April 1970, Miss Varia 1967 Elvry Nasution terpilih sebagai pemenang dalam kontes Miss Mini 1970, yang diadakan di Miraca Sky Club, Sarinah, Jakarta. Elvry juga menyabet runner up dalam kontes Ratu Pariwisata DCI Djakarta 1970, yang juga diadakan di Miraca Sky Club.

Jolanda Lumanou (tengah) menjadi jaura Ratu Pariwisata DCI Djakarta pada 1970./Varia, 21 Oktober 1970./Arsip Fandy Hutari.

Pemilihan Ratu Pariwisata DCI Djakarta mungkin salah satu yang bergengsi. Ajang ini dimulai pada awal 1970. Mengutip Varia edisi 21 Oktober 1970, pemenang kontes tahun 1970 jatuh ke tangan seorang gadis berusia 19 tahun, bernama Jolanda Lumanou. Ia menyingkirkan 34 orang gadis cantik lainnya.

Jolanda bahkan mengalahkan nama-nama tenar, seperti Elvry Nasution yang pernah dinobatkan sebagai Miss Varia dan bintang film Paula Rumokoy. Dalam ajang yang diadakan di Miraca Sky Club tersebut, bersama Nia Mochtar, Paula terpilih menjadi Miss Personality.

Selain berhak mewakili Jakarta dalam perebutan Miss Pariwisata tingkat nasional, Jolanda mendapatkan uang Rp100.000, piala, dan hadiah lainnya.

Pemilihan Ratu Indonesia juga menjadi kontes bergengsi pada 1970-an. Acaranya dikemas meriah. Juri-jurinya tak sembarangan.

Ajang Ratu Indonesia 1971 misalnya, yang malam finalnya diadakan di Gedung Hailai Ancol, 11 Oktober 1971. Jurinya diketuai jurnalis Mochtar Lubis, dengan anggota juri sutradara Wim Umboh, perancang busana Peter Sie, Rais Bakeramsjah, J.W. Mahasutji, dan J. Pattinasarany.

Menurut Varianada nomor 54 tahun ke II, 1971, para juri bekerja selama seminggu memberikan penilaian terhadap para peserta, yang diperhatikan tingkah lakunya dalam bergaul, kerapian, keserasian berpakaian, keluwesan, kecantikan fisik, pengetahuan umum, bahasa Inggris, dan keterampilan ketika tampil dengan pakaian daerah, pakaian malam, pakaian nasional, dan pakaian renang.

Herni Sunarja, runner up II Miss Jawa Barat 1971 terpilih sebagai pemenang. Herni merupakan mahasiswi Fakultas Ekonomi, Universitas Parahyangan, Bandung. Usianya baru 22 tahun. Ia mengikuti jejak Irma Hardisurya—berangkat dari Miss Jawa Barat, lantas menang Miss Indonesia.

Runner up I diraih Endang Triwahjuni dari Jakarta dan runner up II Melinda Susilarini Mohammad dari Jawa Barat. Selain itu, Flora Wibowo dari Jawa Tengah terpilih sebagai Miss Photogenic, Ike Rachmawati Sulaeman dari Jawa Barat sebagai Miss Favorite, Lucia Sjafarjuni dari Jawa Tengah sebagai Miss Personality, dan Hilda Arlette Malaihollo dari Maluku sebagai Miss Friendship.

Hadiah-hadiah yang diterima para pemenang pun mewah, antara lain piala, mobil Toyota Corona, tiket ke luar negeri, serta uang tunai ratusan ribu rupiah.

Miss-miss Kocak dan Hadiah yang Entah ke Mana

Pemenang Raja dan Ratu Andong Tour 1971./Varianada Nomor 65, 1972./Arsip Fandy Hutari.

Miss Mini 1970 mungkin salah satu ajang kontes yang unik. Ini merupakan ajang pemilihan ratu berpakaian miniskirt (rok mini), yang saat itu tengah menjadi pakaian populer kaum hawa.

Ajang ini disponsori Gelanggang Organization dan Miraca Sky Club milik sutradara Usmar Ismail. Malam final diadakan di Miraca Sky Club, diikuti 22 orang—dari yang sebenarnya 30 orang.

Mereka tampil dalam tiga macam pakaian, seperti kain kebaya, pakaian sport, dan rok mini. Pemenangnya adalah Elvry Nasution. Runner up jatuh ke Keiko dan Felly Verley.

Menurut Varia edisi 8 April 1970, pemenang pertama mendapatkan uang Rp30.000, kedua Rp20.000, dan ketiga Rp10.000. Pemenang pertama juga dijanjikan mendapatkan tiket terbang ke luar negeri.

Di tingkat lokal, kontes serupa pun dihelat. Misalnya saja pemilihan Raja dan Ratu Andong Tour 1971, yang diadakan di Gedung Art Gallery Seni Sono, Yogyakarta pada 12 Februari 1972.

Menurut Varianada Nomor 65 Tahun ke-III/1972, mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) Mic Henry Pristianto keluar sebagai Raja Andong 1971. Sedangkan predikat Ratu Andong 1971 diraih mahasiswi Akademi Pimpinan Perusahaan Indonesia (APPI) Indah Ristijanti.

Runner up Raja Andong jatuh ke tangan mahasiswa Akademi Kepariwisataan Indonesia (AKI) Suatmadji, sedangkan runner up Ratu Andong diraih mahasiswi Fakultas Ekonomi GAMA.

Gelar Andong Tauladan di menangkan Kartjopawira dari Sleman dan runner up-nya jatuh ke Hadi Sumarto dari Bantul. Kusir simpatik merangkap pemilik kuda sehat jatuh pada Karijopawira dari Karangasem.

Pemenang-pemenang Raja Andong dapat piala dari Pangdam VII/Diponegoro, miniatur andong dari perusahaan perak MD, tabanas  dari wali kota, dan piagam bingkisan songket Dajang Sumbi. Sedangkan Ratu Andong dapat piala dari Pangkowilhan II, miniatur andong, tabanas, piagam, dan bingkisan songket.

Yang tak kalah unik adalah pemilihan Ratu Luwes Mengendarai Yamaha Bebek, yang diadakan pada 9 Oktober 1971 di Yogyakarta. Sesuai namanya, kontes ini untuk memperkenalkan produk sepeda motor bebek merek Yamaha.

Mengutip Varianada Nomor 55 Tahun ke-II/1971, ajang ini diadakan atas usaha Ikatan Motor Jogjakarta dan seniman di Yogyakarta. Di malam final yang diadakan di Sport Hall Kridosono, juri akan menilai peserta berdasarkan segi artistik pakaian, kepribadian, akting, kecantikan, dan hiasan rambut.

Ajang Ratu Luwes Yamaha Bebek di Yogyakarta pada 1971./Varianada Nomor 55, 1971./Arsip Fandy Hutari.

Tak ada penilaian seberapa baik mengendarai sepeda motor, meski peserta diperintahkan hal itu. Sepeda motor yang dipakai untuk kontes ini pun boleh meminjam dan peserta tak diwajibkan memiliki rijbewijs—semacam surat izin mengemudi (SIM).

Calon dokter dari UGM, Rien Kusmargono menjadi pemenang kontes ini. Runner up I diraih mahasiswi Unika Atma Jaya jurusan hukum Diani Christiani. Sementara runner up II diraih penyiar TVRI Yogyakarta, Ammy Hadiwidjaja.

Lalu, gelar Miss Favorite yang dipilih pengunjung diraih mahasiswi A.B.A Universitas 17 Agustus Semarang, Ratih. Miss Press yang dipilih wartawan disabet mahasiswi UGM, Agustune Nurhajati. Selain itu, ada gelar Ibu Ratu yang jatuh ke peserta tertua berusia 35 tahun, Tuti Budihardja dan Putri Ratu untuk peserta termuda berusia 14 tahun, Nanik Suwondo.

Pemenangnya mendapatkan hadiah cukup banyak. Sang pemenang pertama mendapatkan sebuah sepeda motor bebek Yamaha model U5, piala artgalery Saptohudojo, 10 kali make up di salon Kartika Dewi, dan minyak wangi. Runnep up I mendapatkan televisi merek Telesonik, piala dari Fa Nj. Sugiarto, bingkisan dari toko Pantja Brata, serta minyak wangi. Runner up II mendapat sebuah mesin jahit, piala dari panitia dan Hotel Merdeka, serta minyak wangi.

Sayangnya, tak semua panitia adil dan terbuka soal hadiah. Irma Hardisurya pernah mengalami kenyataan pahit, tak menerima hadiah yang dijanjikan saat menang Miss Indonesia 1969. Dalam pengakuannya di buku Memoar Miss Indonesia 1969, ia mengatakan, salah satu sponsor acara menjanjikan hadiah tiket terbang ke Singapura.

“Seingat saya, hadiah tiket ke Singapura itu tidak pernah saya terima, mungkin karena tidak diurus,” kata Irma.

Pemenang Miss Mini 1970 Elvry Nasution bahkan mengalami nasib yang lebih buruk. Dari pengakuannya dalam artikel “Elvry Nasution, Miss Mini 70” yang terbit di Varia, 8 April 1970, Elvry mengatakan, tak pernah menerima hadiah berupa tiket terbang ke luar negeri, seperti yang dijanjikan sebelumnya.

Kekecewaannya tak berhenti sampai di situ. Ketika hendak pulang setelah menyelesaikan seluruh rangkaian acara ajang pemilihan Miss Mini 1970 di Miraca Sky Club, Sarinah, Jakarta, di lantai bawah Gedung Sarinah tiba-tiba seorang panitia menghampiri Elvry. Ia diperintahkan untuk mengembalikan mantel dan mahkota Ratu Mini 1970. Panitia tersebut mengatakan, mantel dan mahkota itu akan disimpan di Miraca Sky Club.

“Keheranannya ini berdasarkan pengalaman, biasanya mantel dan kroon (mahkota) setelah dimahkotakan pada yang berhak menjadi milik pemenang,” tulis Varia, 8 April 1970.

Daftar Referensi:

Varia, 12 Agustus 1959.
“‘Miss O’ dalam perlombaan Miss Varia Djadi Ratu Kembang Sumatera Utara”, dalam Varia, 13 Januari 1960.
“Elvry Nasution Miss Mini 70”, dalam Varia, 8 April 1970.
“Miss Pariwisata Ditjium Gubernur Ali,” dalam Varia, 21 Oktober 1970.
“Pemilihan Ratu Indonesia 1971,” dalam Varianada Nomor 54 Tahun ke-II/1971.
“Pemilihan Ratu Luwes Yamaha Bebek Daerah Istimewa Jogja 1971”, dalam Varianada Nomor 55 Tahun ke-II/1971.
“Penobatan Radja dan Ratu Andong Tour 1971 di Jogjakarta”, dalam Varianada Nomor 65 Tahun ke-III/1972.
Hardisurya, Irma. 2020. Memoar Miss Indonesia 1969. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here