Bebegig, Si Penjaga Alam

0
52
2
Kesenian bebegig/Fandy Hutari

Wujud topeng pada seni tradisi ini menyeramkan. Sepintas lalu, bentuknya mirip ondel-ondel betawi, reog ponorogo, leak bali, hudoq kalimantan, bahkan makhluk peminum darah, jenglot. Akan tetapi, justru topeng dan segala pernak-pernik yang menghiasinya menjadi daya tarik serta hiburan menyenangkan bagi penikmatnya.

Seni tradisi ini bernama bebegig. Namun, jangan pernah membayangkan bahwa bebegig yang ini sama dengan bebegig yang biasa kita temukan di sawah. Bebegig yang lazim digunakan petani untuk mengusir burung-burung hama padi di sawah berupa boneka berbahan dasar pohon padi atau sejenisnya dan dibungkus dengan pakaian manusia.

Adapun bebegig yang satu ini berbeda. Pelakunya adalah manusia yang mengenakan topeng berbentuk buta ijo, kepalanya besar, bertaring, rambutnya gimbal, tubuhnya berwarna hitam, hidung lancip, matanya melotot, dan berwarna macam-macam. Sepintas bebegig ini mirip hudoq dari Kalimantan, ondel-ondel dari Betawi, atau leak dari Bali.

Bedanya, bebegig memiliki ciri khas, seperti rambut gimbal terbuat dari susunan bunga bubuai (bunga rotan), seluruh tubuhnya dibungkus ijuk, serta mengenakan sarung tangan hitam dan sepatu hitam. Meskipun bentuk bebegig terlihat mirip, masing-masing memiliki nama. seperti Gandawisesa, Pancasita, dan Panjigoma.

Spektakuler

Bebegig merupakan kesenian tradisional yang berasal dari Kecamatan Sukamantri, Kabupaten Ciamis. Media utamanya adalah manusia yang memakai topeng besar dilengkapi rambut gimbal. Musik pengiringnya terdiri dari dogdog dan angklung yang berjalan di depan bebegig.

Jika sedang mengadakan pertunjukan atau arak-arakan, orang-orang di sekitar pertunjukan boleh ikut menari bersama bebegig, mengikuti irama dogdog dan angklung. Orang-orang pun larut dalam kegembiraan menari bersama bebegig yang berwajah menyeramkan. Tak ada rasa takut. Semua ikut menari.

Seni yang termasuk dalam kategori helaran (karnaval) ini biasa digelar untuk memeriahkan Hari Kemerdekaan RI, khitanan, menyambut tamu, acara-acara tertentu, serta kerap dilombakan pada festival di luar daerah. Seni tradisi khas Kabupaten Ciamis ini pernah mengikuti festival seni dan budaya di Jakarta, Bandung, dan Ciamis.

Bahkan dalam festival budaya di Bali, bebegig asal Sukamantri pernah menyabet gelar juara kedua. Bebegig sendiri mulai dipopulerkan seniman Ciamis dan masyarakat Sukamantri tahun 1950-an. Menurut saya, seni tradisi ini terbilang spektakuler karena melibatkan banyak orang.

”Di acara tertentu kami cuma membawa beberapa orang. Kalau di daerahnya mah bisa sampai 40-an orang lebih. Belum lagi yang mau ikut menari,” kata Fauzan, anggota grup bebegig Baladewa Sukamantri.

Yang lebih mencengangkan, bobot rambut gimbal dan topeng bebegig ini tidak sembarangan. Beratnya bisa mencapai 30 kilogram dengan tinggi lebih dari 5 meter.

”Mungkin yang kami bawa ke pasar seni (atau acara-acara tertentu di luar daerah) ini beratnya sekitar 30 kilogram. Tapi, kalau di daerahnya mah bisa sampai 50 kilogram, bahkan lebih,” ungkap Fauzan.

Luar biasa, menurut saya. Jika pakai logika akal sehat, mustahil orang bisa mengangkat beban seberat itu, apalagi mesti dibawa arak-arakan. Saya tidak mendapatkan jawaban pasti atas hal ini. Apakah seni ini memakai mistik layaknya reog ponorogo atau murni kekuatan fisik seseorang. Namun, sedikit bocoran saya dapatkan dari Fauzan.

”Kalau di tempat asalnya mah bebegig keluar dari makam. Maksudnya, bebegig diinapkan dulu di makam. Baru besoknya bebegig itu dipakai sama orang yang bertugas membawanya,” katanya.

Mungkin saja ini pengaruh mistik atau bantuan roh halus. Namun, saya tak bisa langsung menyimpulkan demikian. Perlu penelitian lebih lanjut untuk memperjelas hal ini.

Penjaga alam

Menurut masyarakat Sukamantri, bebegig adalah lambang kemenangan. Konon pembuatannya terinspirasi wajah Prabu Sampulur, raja yang menang melawan kejahatan dan meminta imbalan untuk menguasai Jawa. Kemudian, kemenangannya dikenang masyarakat dalam bentuk topeng mirip wajahnya.

Lalu, apakah benar wajah sang prabu mirip dengan topeng bebegig saat ini? Jika iya, kenapa justru tampil menyeramkan?

Entahlah. Namun, yang pasti, sebagian besar seni tradisi Sunda ditujukan untuk menghargai alam. Lihat saja angklung, rengkong, dan cikeruhan yang ditujukan sebagai penghormatan terhadap Nyai Sri Pohaci, Dewi Kesuburan.

Ini wajar karena Tatar Sunda memang terkenal sebagai daerah agraris. Jadi, bisa dimengerti mengapa sebagian besar seni tradisinya berhubungan dengan alam. Begitu pula dengan bebegig.

Layaknya karakter bebegig penunggu sawah, fungsi kesenian bebegig adalah sebagai penjaga pada prosesi pembersihan alam untuk bercocok tanam. Ini terlansir dari arak-arakan pada upacara memelihara alam yang merupakan tradisi masyarakat Sukamantri.

Aneka tanaman yang menghiasi kepalanya merupakan personifikasi dari isyarat untuk mencintai alam sekitar. Makna ini mirip dengan seni tradisi hudoq di Kalimantan. Hudoq merupakan ritual suku Dayak Bahau dan Dayak Modang sebagai kekuatan untuk mengatasi gangguan hama perusak tanaman dan pengharapan diberi kesuburan untuk hasil panen berlimpah.

Media utama seninya pun hampir sama, yaitu manusia yang mengenakan topeng dan kostum khas. Bedanya, topeng hudoq berwujud elang dan kostum yang membungkus si pemakainya terbuat dari daun pisang.

Entah ada atau tidak persinggungan budaya dari suku yang secara geografis tidak dekat itu. Namun, kata Fauzan, dulu bebegig merupakan penjaga kerajaan di Ciamis. Jika demikian, ini mirip dengan fungsi awal kemunculan ondel-ondel.

Konon ondel-ondel digunakan sebagai personifikasi leluhur kampung untuk mengusir roh halus atau penolak bala. Seperti mayoritas seni tradisi yang hidup di Nusantara, bebegig pun terancam punah lantaran peminatnya semakin sedikit. Ini merupakan masalah kita bersama. Tugas kitalah untuk menjaganya.

Terlepas dari itu semua, dapat disimpulkan bahwa bebegig punya tujuan luhur, yaitu mengajarkan kepedulian kepada kita untuk menjaga dan melestarikan alam sekitar. Karena penyajiannya sederhana, masyarakat umum pun memahami makna itu. Semangat yang luar biasa.

Dengan maraknya penebangan hutan liar yang mengakibatkan bencana alam, seperti banjir dan longsor di berbagai daerah, seolah-olah bebegig ikut mengingatkan apakah Anda masih peduli dengan kelestarian alam di sekitar Anda. Jika tidak, tunggu saja, alam akan menghukum Anda.

Tulisan ini pertama kali dimuat di Kompas Jawa Barat, 20 November 2010.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here