Balada Topeng Monyet

0
39
gc112-esk-f01-balada
Ilustrasi/Pandhuagie.

“Sarimin pergi ke pasar”, mendengar kata-kata ini spontan yang terlintas di kepala kita pastilah pertunjukan topeng monyet. Kera-kera terlatih siap menghibur kita dengan atraksi lucunya yang diiringi tetabuhan musik, gendang dan gamelan, dari sang pawang. Topeng monyet merupakan kesenian tradisional yang tidak hanya dikenal oleh masyarakat kita, namun juga akrab ditemui di beberapa negara Asia, seperti Thailand, Vietnam, Pakistan, India, Cina, Korea, dan Jepang. Tidak diketahui secara pasti kapan persisnya “sarimin-sarimin jalanan” ini mulai beraksi, tetapi ada informasi yang mengatakan bahwa hiburan yang merakyat ini mulai populer pada era 1980-an.

Jenis monyet yang digunakan untuk pertunjukan topeng monyet lazimnya adalah spesies Cebus Capucinus. Ciri-ciri monyet jenis ini, yaitu mempunyai ukuran badan yang kecil dengan bulu berwarna abu-abu, dan memiliki ekor yang panjang. Di dalam rombongan topeng monyet biasanya ada seorang pimpinan yang juga memegang alat musik, serta seorang pengarah gaya alias pawang.

Memelihara monyet penghibur harus dengan kasih sayang. Karena jika dilatih dengan kasar, monyet akan menjadi galak. Dalam sehari, monyet diberi makan 3 kali. Makanannya mulai dari nasi hingga buah-buahan. Untuk penambah tenaga, monyet diberi susu dan minuman khusus. Sang pawang biasanya melatih monyet-monyet mereka selama kurang lebih 6 sampai 8 bulan hingga ia dapat melakukan atraksi yang pawang mau. Lazimnya, atraksi yang sering dibawakan, yaitu naik motor-motoran, menarik gerobak, membawa payung, atau menari mengikuti irama gendang dan gamelan kecil. Si pawang mengendalikan monyet dengan seutas rantai yang dililitkan di leher monyet. Seekor ular dan anjing tak jarang melengkapi pertunjukan topeng monyet.

Pertunjukan topeng monyet sangat akrab dengan anak-anak. Biasanya, pertunjukan topeng monyet dimainkan di lingkungan yang banyak anak-anak. Dengan berkeliling dari pemukiman ke pemukiman, rombongan topeng monyet menghibur penonton yang didominasi anak-anak.

Ting tang ting tung ting tang ting tung…”, pertunjukan dimulai. Monyet dengan patuh mengikuti irama gendang dan gamelan serta mengikuti perintah pawang melalui rantai yang melilit lehernya. Atraksi “sarimin” menari, berdandan layaknya seorang artis, memikul, mendorong gerobak, mengendarai motor-motoran, tak jarang mengundang decak kagum dan gelak tawa penontonnya. Menjelang pertunjukan usai, penonton memberikan uang saweran kepada si pawang. Uang saweran tidak dipatok besarannya, namun lazimnya penonton memberikan uang saweran antara Rp 1000 sampai Rp 2000. Dari uang saweran ini pelaku kesenian topeng monyet bertahan hidup.

Tapi, nampaknya kepungan modernitas semakin menyudutkan kesenian ini ke arah kepunahan. Anak-anak kini lebih senang bermain Play Station atau permainan yang lebih canggih lainnya, ketimbang melihat pertunjukan topeng monyet. Selain itu, segelintir aktivis pecinta hewan menentang keberadaan topeng monyet yang dianggap mengeksploitasi binatang. Inilah tantangan yang harus dihadapi oleh pelaku kesenian topeng monyet.

Namun, bagi sebagian orang, termasuk saya, topeng monyet adalah hiburan yang unik. Seniman-seniman topeng monyet “jalanan” bisa melatih monyet-monyet mereka menyajikan pertunjukan yang memberikan keceriaan. Bagi saya, topeng monyet merupakan kenangan masa kanak-kanak yang sulit terlupakan. Di kota besar, seperti Jakarta, topeng monyet mulai jarang ditemui. Akankah anak-cucu kita tak dapat menyaksikan tingkah polah mereka lagi, kelak? Entahlah.

Tulisan ini pertama kali diterbitkan majalah Gong edisi 112/X/2009: 47.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here