Awas, Anak-Anak Disko

0
392

“Tujuan saya mendirikan disko adalah untuk menampung kegemaran anak-anak muda supaya jangan terlibat narkotika, ngebut, dan berkelahi. Banyak jagoan anak muda di Jakarta yang Chaly kenal. Chaly pikir diskotek merupakan obat manjur buat ganjawan-ganjawan, karena bisa melupakan imajinasi ke narkotik. Menghadapi musik, mereka jadi gembira,” kata H. Sujana Saleh, ayah Chalil alias Chaly, anak muda yang gandrung disko dan membuat disko bernama Madlod—akronim dari Music and Dancing Love of Diskotek.

Sujana merupakan asisten pribadi Sutami, Menteri Pekerjaan Umum (1967-1978). Ia menjadi penasihat di Madlod.

Pada 1970-an, banyak anak orang kaya di Jakarta membentuk kelompok disco mobile. Mereka dapat dukungan berupa uang dari ayahnya untuk membeli peralatan disko yang tak murah.

*

Menurut catatan majalah MIDI, pada 1974 di Jakarta ada 200 disko yang dibentuk remaja. Ciri khas disko-disko ini diurus dengan sistem kekeluargaan, persahabatan, dan organisasi keuangan yang longgar.

MIDI menyebut, pengadaan disko ini didasari hobi. Satu atau dua orang yang memiliki yang membeli peralatan, yang lainnya mengurusnya. Mereka tak punya tempat permanen dan bisa disewa untuk pesta ulang tahun.

Meledaknya film Saturday Night Fever (1977) yang dibintangi John Travolta ikut menggaet anak-anak muda pergi ke diskotek atau membuat kelompok disko. Menurut Andre Syahreza dalam bukunya The Innocent Rebel: Sisi Aneh Orang Jakarta (2007), film itu seperti mengukuhkan kepada anak-anak muda di dunia bahwa malam Minggu harus ke diskotek.

Namun, Andre menyebut, film itu tak diputar di bioskop lokal. Sumber informasi didapatkan dari majalah remaja, yang terbatas. Bisa dikatakan, yang mendapatkan paparan informasi seperti ini adalah anak-anak muda dari kalangan menengah ke atas, atau Andre menyebutnya kalangan A+ yang sering bolak balik ke luar negeri.

Peralatan disko milik Merindink Disko./MIDI, 26 Oktober 1974.

Andre menulis, anak-anak muda ini tinggal di kawasan elite Jakarta, seperti Menteng, Jakarta Pusat atau Kebayoran, Jakarta Selatan. Mereka pun belajar di sekolah-sekolah yang di masa itu dihuni pelajar-pelajar dari kalangan jetset, seperti SMA 6 di Kebayoran dan SMA 3 di Menteng.

“Anak-anak ini yang menjadi cikal-bakal merebaknya budaya dugem di Jakarta. Bahkan, sebelum diskotek-diskotek besar hadir di Jakarta, mereka sudah suka ajojing dengan mengundang teman-temannya ke rumah. [,,,] anak-anak orang kaya ini memakai layanan diskotek keliling yang membawa peralatan disko ke rumah-rumah atau ballroom hotel,” tulis Andre.

Di daerah Menteng banyak anak pejabat yang punya disko, seperti Classic, Power Chokrem, Belel II, dan Tequela. Mirip gengster, setiap disko memiliki lambang, kaus, dan “lagu kebangsaan” sendiri.

Madlod Diskotek dibentuk pada Desember 1974. Semula bernama Lod Diskotek. Lalu, setelah pemilik Mad Diskotek, Boy Sadikin—anak Gubernur DKI Ali Sadikin—bergabung, namanya menjadi Madlod Diskotek.

Pemimpin disko ini adalah Chaly, seorang anak muda yang sudah bergelar haji. Anggotanya terdiri dari tujuh orang, yakni Chaly sebagai disc jockey (DJ), Apin sebagai teknisi, serta Udi, Ijal, Ferry (kakak Chaly), Eko, dan Wendi. Ditambah dua orang sebagai roadies plus anggota junior lainnya.

Madlod memiliki peralatan yang cukup lengkap, seperti delapan blitz, empat strobo, tiga lampu minyak, dua roller atau slide, dua lampu setan, dua lampu sabun, asap, dan satu lampu ultra yang ditaruh di depan lambang Madlod bergambar Semar. Sound system-nya merek Altex dan JBL.

Untuk alat-alat tersebut, Chaly mengeluarkan uang sebesar Rp4,5 juta, ditambah uang dari Boy, yang saat itu bermukim di Australia. Tarif sewa sekali manggung sebesar Rp80.000, kalau disewa rekan mereka Rp75.000.

Lagu kebangsaan Madlod adalah “United”, dan lagu penutupnya adalah lagu Melayu dari Golden Wing berjudul “Papi dan Mami”, yang piringan hitamnya tidak beredar. Tak jarang, Madlod juga memutar lagu-lagu Koes Plus. Menurut Chaly, lambang Semar dipilih karena mereka senang dengan segala hal yang memiliki unsur Jawa. Jika sedang melakukan pertunjukan, mereka kerap membawa gong, gamelan, dan gambar wayang.

Merindink Disko adalah salah satu grup disko yang tenar pada awal 1970-an. Grup ini berdiri pada 1971 oleh beberapa remaja yang hobi main ice skating. Mereka kedinginan di sana, dan kemudian lahirlah Merindink sebagai nama grup mereka. Merindink dibentuk Khrisna AM, Kahar GM, Andri, Rizal, dan Adiguna Sutowo (anak Ibnu Sutowo, mantan Dirut Pertamina).

Pada 1975, anggotanya menjadi 15 orang, dengan tambahan Gowi, Rudy, Budy, Kean, Sukur, Riri Panjaitan, Treni Angreni, Nita Mampu, dan Arieyani. Rizal sudah tak tercatat sebagai anggota di tahun ini. Grup disko yang bermarkas di Tanah Abang Timur 8 Jakarta ini, juga punya anggota kehormatan, yakni bintang film Christine Hakim dan Ponco Sutowo (abang Adiguna).

Pada 1974, peralatan disko milik Merindink cukup lengkap. Mereka punya dua pick up, 600 piringan hitam, beberapa kaset, amplifier (pengeras suara), speaker lampu blitz, dan lampu biasa. Mereka juga punya sebuah alat yang bisa membuat dekorasi dengan cahaya, serta laser yang jika disambungkan dengan amplifier akan keluar warna merah dan bergerak sesuai irama lagu.

Segala peralatan itu dibeli Adiguna di Belanda seharga US$880 atau sekitar Rp3,7 juta. Sementara MAS menyebut, modal mereka Rp4,5 juta, sebagian besar keluar dari kantong Adiguna.

Peralatan lampu yang dimiliki Merindink pun, sebut majalah MAS, paling lengkap dibandingkan grup disko lainnya. Lampu-lampu terdiri dari empat buah lampu strobo berkekuatan 2.000 dan 750 watt, sebuah laser light, sebuah zodiac light yang bisa memunculkan 12 bintang, sebuah roller light (lampu ombak), enam spotlight yang berkekuatan 500, 1.000, dan 1.500 watt, tiga land ward (lampu minyak), rota light, slide light, serta lampu busa.

Bahkan, Merindink memiliki lampu rontgen, yang jika dipakai bisa menembus orang-orang yang sedang berdansa, sehingga kelihatan tengkoraknya. Namun, lampu ini dilarang dipakai oleh kepolisian Jakarta. Setiap kali pertunjukan, mereka membawa peralatan lampu yang sangat banyak. Sound system sekitar 15.000 watt, dengan loud speakers 750 watt dan listrik 500 watt.

Merindink pun punya lagu wajib untuk diputar sebagian sebagai spesial disko, yakni lagu “Sgt. Pepper’s Lonely Hearts Club Band” milik grup musik asal Inggris, The Beatles.

Mereka mematok tarif Rp75.000 bila ada yang mau menyewa. Namun, untuk teman dan pesta kenalan bisa gratis, hanya bayar ongkos transportasi. Pemasukan uang dari menyewakan alat Rp600.000. Anggota grup Merindink beserta alat-alatnya pernah disewa band Godbless, sewaktu mereka menggelar konser di Taman Ismail Marzuki, Senayan, dan tur keliling Jawa. Selain Godbless, grup musik lainnya, seperti Cockpit, Hooker Men, dan Giant Step pernah menggunakan jasa Merindink. Peralatannya juga pernah disewa dalam pesta di Gedung Granada dan Bali Room.

Di Jakarta, ada pula grup Thumb Disko, yang beranggotakan sembilan orang. Delapan anggotanya masih duduk di bangku sekolah menengah. Markas mereka di rumah seorang anggotanya bernama Harry, yang terletak di Jalan Pemuda 34, Jakarta Timur. Sama seperti pengakuan anggota Merindink, Harry mengatakan Thumb Disko dibentuk hanya sekadar hobi. Menurut Harry, publikasi grup diskonya pun sederhana. Mereka hanya menyebar kartu nama ke para penyewa.

Lantas, ada pula kelompok Time Disko, yang anggotanya terdiri dari tiga remaja. Markasnya terletak di sebuah rumah salah satu anggotanya di Jalan Sambas 7, Jakarta Selatan. Kemudian, ada Blaind Disko, yang motif dibentuknya hanya untuk belajar dekorasi karena anggotanya tertarik mengatur tata letak ruangan.

Merindink Disko saat manggung di sebuah acara./MAS, Juni 1975.

Grup disko lainnya adalah Baden Powell Diskotek, yang didirikan oleh seorang siswa STM Pembangunan Jurusan Listrik, Reiner, pada 5 April 1975. Mulanya, Reiner hobi bermain pemancar lampu dengan berputar dan diiringi lagu. Orang tua Reiner marah karena perbuatannya bisa ditangkap polisi. Reiner lalu minta dibelikan sound system. Akhir 1974, ia diberi hadiah sebuah amplifier dan dua speaker. Modal pertama kalinya cuma memakai tape dan kaset, belum piringan hitam.

Nama Baden Powell Diskotik terinspirasi dari nama bapak kepanduan sedunia, Lord Baden Powell. Anggotanya anak-anak muda daerah Cempaka Putih Tengah, Jakarta Pusat.

Semula mereka tak membentuk diskotek, tetapi music collection. Seiring waktu, mereka memiliki peralatan yang cukup lengkap, seperti sound system merek Altex. Modalnya sekitar Rp1 juta. Baden Powell juga memiliki 14 spotlight (lampu sorot), dua lampu meteor, dua lampu bintang, satu lampu bor, dua lampu minyak, delapan lampu blitz, dua lampu satelit, dua lampu busa, tiga lampu setan, dua lampu ultra, dan dua disc color automatic. Simbol kelompok ini adalah burung cendrawasih. Tarif untuk sewa mereka Rp50.000.

Demam disko pun membuat artis cilik Rano Karno bersama saudaranya membentuk Karno Disko. Disko pun berkembang di radio non-RRI, seperti Prambors Disko di Jakarta dan Geronimo Disko di Yogyakarta. Keberadaan disko radio non-RRI didukung dengan koleksi piringan hitam, kaset, mic, poster, pengatur lagu, dan perlengkapan lainnya yang lengkap.

*

Ternyata, banyak masalah negatif yang dialami anggota kelompok disko. Misalnya, karena terlalu sering bermain-main dengan diskotek, jadi melupakan tugas sekolahnya. Akibatnya, rapor banyak yang merah. Menurut Chaly dari Madlod, jika ada temannya yang seperti itu, akan dinasihati agar tak malas belajar hanya karena disko dan ajojing terus.

Banyaknya kelompok disko menyebabkan persaingan antarkelompok. MIDI menyebut, persaingan itu cukup mengkhawatirkan. “Ada sabotase dari disko lain, bisa celaka. Soal kabel kecil atau lampu putus bukan rahasia.”

Saling sindir antarkelompok disko pun terjadi. Reiner dari Baden Powell dalam sebuah wawancara dengan TOP pernah menyindir Merindink Disko. “Percayakah kau bahwa Merindink Disko punya lampu laser seperti digembar-gemborkan orang? Itu cuma sensasi besar, orang yang sering ditembus sinar X atau rontgen kan bisa mati,” kata dia kepada TOP. Namun, pernyataan itu buru-buru ia ralat.

“Eh, jangan ditulis begitu. Kita enggak enak karena kita berteman baik sama anak-anak Merindink. Tulis saja begini. Mereka punya duit, jadi berani beli,” kata dia.

Lampu laser itu mirip lampu bor. Menurut TOP, lampu itu disita di Komdak Metro Jaya karena dianggap berbahaya [].

*Tulisan ini adalah sebagian pembahasan di buku saya (yang belum terbit) tentang diskotek dan kelab malam di Jakarta masa Ali Sadikin.

Referensi
Syahreza, Andre. 2007. The Innocent Rebel: Sisi Aneh Orang Jakarta. Jakarta: Gagasmedia.
MIDI, No. 30, 28 Oktober 1974.
MAS, No. 61 Tahun ke-III Juni 1975.
TOP Nomor 56.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here