Apakah Produser itu?

Tulisan Usmar Ismail di majalah Star News.

0
157

Oleh: Usmar Ismail

“Apakah producer itu?” saja tanjakan kepada William Pine dari Pine Thomas Production, producer merdeka, jang mengedarkan filmnja melalui Paramount Pictures.

“Itu adalah pertanjaan jan sukar sekali,” djawabnja. “Misalnja, saja disebut seorang produer, tetapi pekerdjaan saja tidak sama dengan Frank Freeman jang djuga diberi sebutan producer.”

Bagi kita di Indonesia apa arti producer djuga masih kabur2. Pada asalnja di Hollywood jang disebut producer itu ialah pelpor2 seperti Zukor, Fox. Lasky dll, jang dengan setjara aktif ikut dalam seluruh bagian pembikinan film. Merekalah jang mentjari duwit, menjewa kamera dan studio, mereka menuliskan rangka tjerita, mentjiptakan peranan2, membikin sets, menegakkan lampu2 dan banjak kali mereka djuga mentjutji dan menjusun film mereka sendiri.

Tidak sampai disini sadja, mereka djuga djadi pendjual dan distributor film2nja masing2. (Di Indonesia hal ini masih umum). Dengan berkembangnja industri film, tugas producer djuga mendjadi terbatas, karena terpisahnja bagian keuangan dari administrasi studio.

Jang maha kuasa atas soal uang ialah maharadja2 jang pada umumnja bertachta di New York sedang jang harus mengurus soal2 produksi ialah apa jang dinamakan executive producer jang bertjengkerema di Hollywood. Djika akan tiba adakan sedikit aturan dalam chaos persoalan siapa jang sebenarnja disebut producer, maka dapatlah kita adakan pembagian seperti berikut:

Beberapa matjam producers

Pertama, mereka jang mengurus soal2 business, keuangan, bioskop dan segala persoalan perdagangan, disebut executive head studio, seperti Harry Cohn dari Columbia atau Joseph H. Schenek dari 20th Century Fox. Dia dapatlah disamakan dengan seorang panglima besar.

Kedua, kepala stafnja atau dengan anma resminja executive in charge of production, dialah jang bertanggung djawab dalam pembikinan film jang sebenarnja. Dialah jang mengawasi pembikinan 40 sampai 60 film saban tahun, ditambah lagi dengan film2 pendek jang berpuluh2 banjaknja. Dialah jang menetapkan rantjangan belandja tiap film, mengangkat dan memetjat pegawai2 termasuk dalamnja apa jang suka disebut producer, regisseur, penulis, ahli tehnik dll. Untuk menjebut beberapa nama, Dore Schary di MGM, Jack Warner di Warner Bros, dan ada pula jang merangkap excutive head dan executive in charge of production seperti Harry Cohn jang sudah diperkenalkan diatas tadi.

Ketiga, producer jang bekerdja dibawah excutive producer dan mengawasi pembikinan 20 sampai 30 film A (film kwalitet jang ongkosnja lebih dari $500.000). Bagi golongan ketiga ini kebebasan dibatasi, rantjangan belandjanja ditentukan, dia tak punja hak untuk memetjat dan mengangkat, djuga tidak perlu menghadapi soal2 administrasi. Kenneth McGowan adalah sebuah tjontoh golongan ini.

Ibarat opsetter pabrik.

Keempat djika ada jang mengawasi film2 A, tentu ada pula jang harus memimpin pembikinan film B. Golongan producer ini kadang2 bekerdja dengan tenaga2 tidak mahal, mereka bolehlah diumpamakan opsetter sebuah pabrik jang membikin barang setjara ban djalan. Merekalah tukang2 sunglap jang diwadjibkan membikin film dengan ongkos jang serendah2nja, tetapi ini bukanlah berarti bahwa pendapatan mereka kurang dari rekan2nja jang lain. Bryan Foy jang film2nja sering kita lihat di Indonesia (T-man, Walk a Crooked Mile dll film gangster) adalah tjontoh jang baik buat golongan ini.

Kelima, ada golongan2 kelas tinggi kang biasanja merangkap djadi regisseur producer, seperti Frank Capra, John Ford dll, jang mempunjai kebebasan jang besar untuk memilih orang2nja. Pokoknja, djika rantjangan belandjanja sudah disetudjui oleh executive producer, dan tidak ada keberatan terhadap tjerita jang dimadjukannja, maka dia merdeka untuk mentjipta.

Kerdja sendiri.

Golongan jang terachir, ialah mereka jang disebut producer merdeka jang djuga mendjabat presiden maskapainja jang ketjil, jang membiajai dan mengedarkan sendiri produksinja. Mereka tidak punja staf jang besar, tjukup bekerdja dengan beberapa orang penulis, regisseur, dan pemain2 dan karena itu mereka djuga tidak punja administrasi jang pelik2. Jang paling terkenal antara mereka ialah Charlie Chaplin, Samuel Goldwyn, David O. Selznick, Alexander Korda dll. Produksi mereka biasanja diedarkan oleh United Artists jang tidak membikin film sendiri.

“Nabi, Djendral, dan Diplomat.”

Bitjara tentang producer, seorang antara mereka Jesse Lasky berkata bahwa seorang producer haruslah mendjadi “Nabi, djenderal, diplomat dan pendamai, penjajang, tetapi tidak rojal.” Demikianlah, seorang producer harus mempunjai kesanggupan untuk dengan segera mengenal kesanggupan orang lain dan menempatkan para pentjipta pada tempat2 pentjipta2 itu diperlukan. Diminta dari padanja untuk mempunjai pengetahuan tentang keinginan penonton, tentang tjerita jang menarik, kesanggupan seorang dagang jang mengerti seluk-beluk membikin film.

Tetapi diatas segalanja, dia haruslah seorang jang dapat mengurus, mendorong, dan menjalurkan kesanggupan para pentjipta dan seniman jang beragam tabiat dan perangai itu kearah pentjiptaan jang sebaik2nja. Dalam tangan dialah terletak pengaasan terhadap hal-hal jang dapat diraba seperti manusia dan alat2 pembikinan film, tetapi djuga terhadap hal-hal jang tak diraba seperti tjintjong para seniman, pembentukan tenaga2 krreatif dan pengetahuan tentang kesenangan penonton terhadap hal-hal jang tertentu.

Dalam hubungan ini, ada dua matjam priducer. Mereka jang memberikan kesemaptan kepada penulis2, regisseur2 dan pemain2nja untuk mentjiptakan sesuatu jang baik dan mereka jang mau djadi diktator dan sok tahu menulis dan memimpin lakon dengan tidak ada kesanggupan sedikit pun untuk hal-hal itu. Golongan jang kedua inilah jang menimbulkan banjak pertentangan di Hollywood. Merekalah jang pada umumnja merusak sebuah film dengan pengetahuan mereka jang sempit, jang tidak punja kehormatan terhadap film sebagai medium kesenian dan terhadap pentjipta2 jang bekerdja dibawah mereka. Merekalah jang selalu lebih tahu dan lebih pintar.

“Saja paling kuasa…”

Dalam sebuah tanja djawab jang diadakan di Hollywood baru2 ini dengan para regissurs, 35% mendjawab, bahwa halangan jang paling besar bagi mereka dalam bekerdja ialah para producer jang tolol, sok tahu dan tak berpengalaman. Antara anecdotes jang ditjeritakan dari mulut ke mulut ialah tentang seorang producer jang karena kalah debat dengan pengarang scenarionja, pergi kedjendela dan menundjuk kedjalan sambil berteriak: “Kau lihat itu, mobil jang hitam besar dengan supir pakai uniform. Itulah mobilku, Lincoln paling baru. Mana mobilmu?” Si penulis menundjuk kearah sebuah cabriolet. “Oh Plymouth tjuma? Kalau begitu, tjerita ini kita ubah sadja menurut kehendak saja.”

Tjorak kepribadian.

Tetapi, ada djuga producer seperti David O. Selznick kang telah meninggalkannama jang harus dengan film2nja jang terpilih, seperti Rebecca, Gone With the Wind, A Star is Born”, dll. Tentang Samuel Goldwyn Touch dan jang dimaksud jaitu, bahwa priduksi2nja sudah dapat ditjiumi dari djauh, karena tiap2 filmnja mempunjai tjap kepribadiannja: Wuthering Heughts, Dead End, Best Years if our Lives, dll.

Demikianlah tiap studio di Hollywood mempunjai pribadinja masing2, jang dapat ditjari asalnja pada pribadi executive producernja. MGM dimasa Louis B Mayer terkenal karena bintang2 fillmnja lebih banjak dari bintang dilangit. Mayer-lah jang menjelenggarakan supaja tjerita dan priduksi MGM disesuaikan kepada bintang2nja seperti Clark Gable, Greta Garbo, Spencer Tracy, Mickey Rooney dll.

Warner Bros lebih banjak mentjari kekuatan pada tjerita2 drama dan melodrama dengan watak2 jang kuat-gigih dalam film2 jang hebat-dahsjat. Tjobalah susunkan pemain2 WB Humphrey Bogart, Errol Flynn, James Cagney, Pat O Brien, John Garfield, Paul Muni, maka djelaslah apa jang dimaksud diatas ini. Djarang seali WB membikin tjerita2 dalam rmah (bondoir-stories). Suasana dan irama jang disuntikkan kedalam tjerita2 itu adalah selera dan kesukaan executive producernja Jack L. Warner.

Untuk mengambil sebuah tjobtoh lagi, 20th Century Fox dengan Darryl F. Zanuck-nja jang djuga disebut orang jang dapat mengawasi segala2nja dari pakaian asampai ke-effek suara, memakai plot tjerita jang selalu hampir sama dengan variasi 1001. Dan suatu karakteristik pula bahwa Zanuck suka keapda bintang2 muda, laki-laki ataupun perempuan.

Adalah suatu kenjataan bahwa suasana dan temperamen memerintah Hollywood. Dan karena itu, pembikinan film di Hollywood akan selalu membutuhkan producer, orang2 jang mempunjai gaja producer, orang2 jang mempunjai gaja showman dan punja hidung buat dramaturgi, karena sekali lagi pembikinan film bukanlah suatu proces jang berdjalan lantjar sebagai roda, dimana peraturan2 dapat dipertahankan sampai ketitik-komanja atau dimana perongkosan dapat ditetapkan setjara mutlak dan diawasi. Film dibikin oleh ilham, pikiran dan kepribadian, bukan dari blauwdruk dan bukan dengan mesin.

Sumber: Star News Nomor 2 Tahun II, 23 Maret 1953.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here