Alimpaido, Saatnya Anak-anak Bermain

0
56
100_1184
Acara Alimpaido/Fandy Hutari

Alimpaido. Terasa janggal saat kita mendengar kata itu. Namun, jika dibaca, kata itu mirip-mirip kata olimpiade. Ya, alimpaido memang ‘plesetan’ kata olimpiade. Alimpaido berasal dari bahasa Sunda, yang artinya tidak mau dimarahi. Apa sebenarnya alimpaido? Alimpaido merupakan sebuah even unik perlombaan permainan tradisional anak-anak dari Jawa Barat. Even ini diadakan di Bandung, tepatnya di Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat, pada tanggal 7 dan 8 Agustus 2010.

Acara bertajuk “Alimpaido, Perlombaan Kaulinan Lembur” ini menampilkan beberapa permainan tradisional, seperti egrang, kelom batok, rorodaan, sondah, sorodot gaplok, perepet jengkol, gatrik, gasing, serta bedil jepret. Nama-nama yang mungkin sudah tidak pernah lagi didengar anak-anak di zaman sekarang.

Egrang adalah permainan anak yang menggunakan media utama batang bambu sepanjang 2,5 meter. Sekitar 50 cm dari bawah, dibuat pijakan kaki. Cara memainkannya dengan berlomba berjalan menggunakan egrang tersebut dari satu sisi ke sisi lainnya.

Kelom batok merupakan permainan dengan media utama dua batok kelapa setengah lingkarang dilubangi, dan ujungnya diikat dengan seutas tali. Lalu pemain meletakkan telapak kaki di atas batok dan menjepit tali dengan jari jempol dan telunjuk kaki, lalu berjalan memegang tali.

Rorodaan adalah permainan yang dimainkan oleh seorang pemain dengan menaikkan mobil-mobilan yang terbuat dari kayu. Sondah adalah permainan yang dimainkan seorang anak dengan melompat-lompat dari satu kotak ke kotak lainnya. Di kotak-kotak bergaris yang sudah digambar sebelumnya, pemain yang telah selesai lalu menepuk pemain di depannya untuk melanjutkan permainan.

Sorodot gaplok merupakan permainan yang memakai batu pipih berdiameter sekitar 20 cm. Jumlah pemain bisa sampai 10 orang terbagi dua kelompok. Setelah diundi melalui lempar batu terdekat dengan garis batas, tim yang menang kemudian menaruh batu di punggung kaki. Sementara tim satunya mendirikan batu berjejer di salah satu garis. Dari jarak sekitar lima meter tim penyerang berusaha merobohkan batu tim lawan hingga semua batu tim lawan roboh. Tapi jika tak berhasil, gantian tim lawan yang akan merobohkan batu tim penyerang.

100_1182
Adu cepat dan gesit permainan tradisional Jawa Barat/Fandy Hutari.

Perepet jengkol biasanya dimainkan oleh 3 sampai 4 anak. Mereka berdiri saling membelakangi, berpegangan tangan, dan salah satu kaki saling berkaitan di arah belakang. Dengan berdiri dengan sebelah kaki, pemain harus menjaga keseimbangan agar tidak terjatuh, sambil bergerak berputar ke arah kiri atau kanan menurut aba-aba si dalang, yang bertepuk tangan sambil melantunkan kawih: Perepet jengkol jajahean, kadempet kohkol jejeretean. Lagu ini terus dinyanyikan berulang-ulang sampai anak-anak kelelahan atau ada anak yang terjatuh.

Gatrik adalah permainan yang menggunakan alat dua potongan bambu, yang satu menyerupai tongkat berukuran sekitar 30 cm, dan lainnya berukuran lebih kecil. Pertama potongan bambu yang kecil ditaruh di antara dua batu, lalu dipukul oleh tongkat bambu, diteruskan dengan memukul bambu kecil tersebut sejauh mungkin. Pemukul akan terus memukul hingga beberapa kali sampai pukulannya meleset dari bambu kecil tersebut.

Setelah gagal maka orang berikutnya dari kelompok tersebut akan meneruskan. Sampai giliran orang terakhir. Gasing adalah permainan dengan media gasing sendiri, yang terbuat dari kayu atau bambu, bahkan ada juga yang terbuat dari plastik. Gasing terdiri dari bagian kepala, bagian badan, dan bagian kaki atau paksi. Cara memainkannya diputar dengan seutas tali hingga berputar-putar di tanah. Bedil jepret merupakan permainan yang menggunakan sebuah alat mirip senapan berpeluru lenca. Lenca itu dilontarkan sampai mengenai sasaran yang telah ditentukan sebelumnya.

 

Menurut Boyan, alumnus STSI Bandung dan panitia acara ini, permainan-permainan ini sudah punah. Dalam arti, anak-anak sudah jarang sekali yang mengetahuinya. “Munculnya permainan anak ini sudah lama. Dari zaman Belanda, tahun 1800-an, mungkin,” kata salah seorang aktivis Komunitas Hong ini, saat ditemui di Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat (7/8/10).

Namun, menurut pengakuan salah seorang peserta asal Kabupaten Purwakarta dan Kota Bogor, permainan ini masih ada di daerah mereka.

“Masih ada, a’. Suka main kita juga teh,” ungkap salah satu murid.

Komunitas Hong sendiri merupakan sebuah perkumpulan yang berkonsentrasi melestarikan permainan tradisional Jawa Barat. Di markas mereka, daerah Dago Pakar Bandung, kerap diadakan kegiatan untuk bermain permainan tradisional. Tujuannya untuk mengembangkan permainan-permainan tradisional ini. Tentunya yang menjadi targetnya adalah anak-anak. Boyan mengatakan, jumlah permainan tradisional yang ada di Jawa Barat ada ratusan jenis. Dan itu semua sudah jarang ditemui saat ini.

Perlombaan ini dimainkan oleh lima orang anak, di mana anak-anak tersebut harus estafet memainkan permainan tradisional tadi dalam jarak sekitar 30 meteran, dengan melewati rintangan seperti jembatan bambu kecil, rintangan bambu di atas rumput buatan, dan pasir. Dari garis mimiti (start), satu orang anak harus memainkan egrang, lalu berlanjut ke anak berikutnya yang memainkan kelom batok, lalu beralih ke rorodaan, kemudian sondah, berikutnya sorodot gaplok, lalu perepet jengkol, kemudian gatrik, gasing, dan sebelum garis rengse (finish) satu anak terakhir memainkan bedil jepret dengan sasaran tembak gelas minuman kemasan. Dalam perlombaan, diawasi oleh beberapa orang wasit, yang mengikuti sampai garis rengse.

Peserta Alimpaido, yang merupakan anak-anak usia sekolah dasar, berasal dari berbagai daerah di Jawa Barat, antara lain Cimahi, Bandung, Tasikmalaya, Cianjur, Sukabumi, Majalengka, Bekasi, Depok, Karawang, Indramayu, Cirebon, Sumedang, Purwakarta, Garut, Ciamis, Subang, Bogor, Banjar, dan Kuningan. Acara ini juga dihadiri peserta eksibisi dari beberapa daerah di Indonesia, seperti Papua, Bali, Sulawesi Utara, Bangka, Lampung, dan Kalimantan Barat. Bahkan, peserta eksibisi ada pula yang dari luar negeri, yaitu anak-anak dari Korea dan Malaysia.

 

Hadiah yang diperebutkan cukup menggiurkan, yaitu uang pembinaan dari Departemen Budaya dan Pariwisata Jawa Barat senilai 10 juta rupiah untuk juara pertama, 8,5 juta untuk juara kedua, 6,5 juta untuk juara ketiga, 5,5 juta untuk juara ketiga, 2 juta untuk juara peserta eksibisi, 1,5 juta untuk juara kedua peserta eksibisi, serta 1 juta untuk juara ketiga peserta ketiga.

Tapi, tentunya yang menjadi penting bukan hadiah nominal tersebut. Yang menjadi penting adalah bagaimana anak-anak itu diperkenalkan permainan tradisional yang memiliki pengaruh positif pada perkembangan mereka. ”Tujuan even ini ya untuk mengangkat lagi permainan-permainan tradisional Jawa Barat. Supaya anak-anak mengetahui kita punya permainan tradisional seperti ini. Karena permainan semacam ini punya pengaruh baik bagi mereka. Misalnya menumbuhkan kreativitas,” papar Boyan.

Acara ini didukung penuh oleh Departemen Budaya dan Pariwisata Jawa Barat. Panitianya berasal dari Komunitas Hong dan mahasiswa STSI. Acara ini dihadiri oleh beberapa pejabat lokal Jawa Barat, seperti Wakil Gubernur Jawa Barat, Dede Yusuf, dan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, Dani Herdiana. “Mari kita promosikan kaulinan tradisional dari Jabar ke dunia melalui Alimpaido ini,” kata Dani Herdiana.

Alimpaido baru diselenggarakan dua kali. Tahun lalu, alimpaido juga digelar di Bandung, dan Kota Cimahi tampil sebagai pemenang even ini. Rencananya, tahun depan alimpaido diadakan di Bogor, dan akan rutin digelar setiap tahun. Pada alimpaido kali ini, Kabupaten Sukabumi ke luar sebagai pemenang, diikuti Kabupaten Ciamis sebagai juara kedua, dan Kabupaten Kuningan menjadi juara ketiga. Sebuah even unik di tengah semakin kencangnya arus modernisasi yang membuat anak-anak menjadi lupa warisan berharga nenek moyangnya sendiri.

Mungkin akan lebih baik jika nantinya even semacam ini bisa tertular pada daerah-daerah lain di Indonesia. Dan, kita menyadari betapa besarnya bangsa kita punya permainan tradisi yang kaya. Mudah-mudahan kita sadar bahwa ini semua penting. Sehingga tak ada lagi penyesalan atau memendam ironi di dalam hati, gara-gara yang peduli pada tradisi bangsa kita justru orang-orang asing. Semoga anak-anak menyadari bahwa kita punya permainan yang jauh lebih seru ketimbang video game. Dan, anak-anak, saatnya kalian bermain!

Tulisan ini pertama kali diterbitkan www.indonesiaseni.com, 8 Agustus 2010.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here