Menjelajah Pulau Sebesi

0
30
Pemandangan Pulau Sebesi dari tengah laut/Fandy Hutari.

Menurut hasil riset USAID/BAPPENAS dan IPB pada 2002, penduduk Pulau Sebesi mayoritas berasal dari Banten dan Lampung. Data 2002 itu menyebut, 58,2 persen penduduk Sebesi berasal dari Jawa (Jawa Tengah dan Banten), 32,2 persen berasal dari Lampung, dan sisanya berasal dari Batak, Betawi, Padang, Palembang, dan Bima.

Otomatis budaya yang dipakai di Pulau Sebesi, yakni budaya Jawa Serang (Banten) dan Lampung. Catatan sejarah terkait keberadaan pulau ini belum pernah ditemukan. Beberapa informasi menyebutkan, pulau tersebut pernah disinggahi orang-orang Eropa yang berlayar dari perairan Utara ke Banten atau sebaliknya. Menurut sebuah legenda, Sebesi pernah berada di bawah kekuasaan Sultan Banten.

Pada akhir abad ke-16, seorang pemuda Lampung dari Desa Damaian datang ke Gunung Rajabasa. Pemuda itu juga datang ke Pulau Sebesi dan Gugusan Krakatau untuk membeli lada yang ditanam penduduk. Sebagian hasil lada itu diserahkan kepada Sultan Banten.

Sebagai imbalannya, Sultan Banten memberikan pemuda tersebut gelar Pangeran Cecobaian (Pangeran Coba Coba) sebagai percobaan karena saat itu Kesultanan Banten belum pernah memberikan gelar pangeran kepada orang sabrang (sebutan untuk orang Lampung pada masa itu). Selain gelar pangeran, diberikan juga hak kepemilikan atas Pulau Sebesi, Pulau Sebuku, dan Gugusan Krakatau.

Laut biru dan matahari

Bagi Anda yang tak bisa ke Gunung Anak Krakatau karena keterbatasan dana, Anda bisa menikmati keindahan Pulau Sebesi. Menurut keterangan salah satu penduduk kepada kami, untuk menyeberang ke Gunung Anak Krakatau, kita harus merogoh kocek untuk membayar sewa perahu sebesar Rp 2 juta dan mengeluarkan Rp 2 juta untuk mengurus surat izin masuk ke kawasan Gunung Anak Krakatau.

Sepanjang perjalanan, belum sampai di pulau Anda akan ditawan dengan panorama keindahan laut dan pulau-pulau cantik yang dilewati. Dari Dermaga Canti, Lampung Selatan, Anda bisa menyeberang menggunakan perahu motor berkapasitas 35 orang. Perahu ini biasa digunakan masyarakat Pulau Sebesi untuk menyeberang.

Mereka biasanya membawa hasil bumi, bersilaturahim dengan keluarga, atau melakukan aktivitas lain di Lampung. Barang bawaan mereka biasa diletakkan di atas perahu. Bukan hanya hasil bumi, melainkan sepeda motor juga dapat diangkut perahu yang memanfaatkan tenaga mesin di tengah bagian dalam. Deburan ombak, angin yang sepoi-sepoi, dan pemandangan menawan bisa disaksikan selama dua jam perjalanan menyeberang.

Jika kita menyeberang pada jam reguler, kita akan menyeberang bersama penduduk pulau. Pengalaman ini pasti tidak akan ditemukan di manapun. Bila ingin mendokumentasikan keindahan pemandangan saat menyeberang, Anda bisa duduk di atas perahu. Tapi hati-hati, angin dan gelombang terkadang besar. Sebagai catatan, jam penyeberangan reguler hanya ada sekali dalam sehari.

Dari Pulau Sebesi, perahu menyeberang pagi, sekitar pukul 07.00 WIB. Dari Dermaga Canti ke Pulau Sebesi, penyeberangan hanya dilakukan pukul 13.00 WIB. Setelah itu, Anda dihitung menyewa perahu dengan biaya yang cukup tinggi, Rp 1 juta sekali menyeberang.

Sesampai di pulau, Anda bisa menikmati panorama yang sangat indah. Kita akan menemui perahu-perahu nelayan yang menepi. Selain itu, pantainya tenang dengan airnya biru. Beberapa pulau juga terpantau dari pantai. Sayangnya, pengunjung tidak diperbolehkan untuk berenang di pantai ini.

Pinggiran pantai di sepanjang pulau juga sangat indah. Hamparan batu karang, pohon tua, dan pasir putih bisa kita nikmati. Matahari yang terbit dan tenggelam juga menjadi pemandangan yang menawan bagi pelancong. Jika Anda memiliki anggaran lebih, Anda bisa meminta nelayan setempat untuk mengantar mengelilingi pulau dengan harga sewa perahu Rp 300 ribu.

Pemandangan lain yang unik di sini, yaitu anak-anak yang berenang di pinggiran dermaga pulau. Mereka saling memperebutkan uang koin yang dilemparkan pelancong.

Senja di pinggir pantai/Fandy Hutari.

Keindahan Hidup Masyarakat Pulau

Niat untuk mengunjungi Gunung Anak Krakatau saya urungkan. Biaya mencapai ke sana cukup besar untuk kantong saya dan seorang kawan. Akhirnya, kami memutuskan untuk berkeliling, menelusuri dalam Pulau Sebesi menggunakan sepeda motor pinjaman dari penjaga penginapan.

Sebuah pengalaman yang ternyata tak akan pernah disesali. Sebab, berkeliling ke pedalaman pulau membuat kami mendapat pengalaman baru. Kami menyaksikan secara langsung penduduk yang melakukan aktivitas di pulau ini. Kondisi alam di pulau tersebut sangat subur. Sejauh mata memandang, kita akan dijejali perkebunan penduduk. Berbagai tanaman memenuhi area perkebunan, mulai dari petai, pisang, kelapa, kakao, hingga jagung.

Ada empat dusun di pulau ini, yaitu Dusun Regahan Lada, Segenom, Bangunan, dan Inpres. Akses jalan di pulau tersebut tidak merata. Jika berjalan ke Dusun Regahan Lada dan Segenom, kita akan menjumpai jalan berbatu yang mempunyai pola segilima. Semakin jalan ke ujung, melintas Regahan Lada dan Segenom, jalan hanya tanah. Namun, jalanan yang cukup baik bisa kita jumpai di Bangunan dan Inpres. Di sini, kondisi jalanan batu yang berpola segilima, juga sedikit aspal.

Di dua dusun itu juga sangat ramai dan penuh rumah penduduk. Mirip kompleks perkampungan di pinggiran Jakarta. Bisa dibilang, dusun ini merupakan “kotanya” Sebesi. Fasilitas pendidikan juga berdiri di pulau ini, seperti TK Swadipha, SD Negeri Tejang, SMP Swadipha, dan SMA Kelautan Swadipha. Sedangkan di Regahan Lada, ada PAUD Anak Bangsa. Untuk fasilitas kesehatan, saya tidak melihat adanya bangunan rumah sakit di sini. Saya hanya melihat pos kesehatan desa (Poskesdes) Pulau Sebesi yang ada di Regahan Lada.

Sepanjang perjalanan, di sekitar perkebunan dan lapangan, kita dengan mudah akan  menemukan hewan ternak milik penduduk, yakni kerbau. Selain kerbau, penduduk beternak kambing dan ayam. Banyak sekali anjing yang berkeliaran. Anjing-anjing ini dimanfaatkan untuk menjaga ternak dan penduduk setempat. Rumah-rumah di sini sebagian besar sudah permanen, berbahan beton, mirip rumah-rumah yang kita saksikan sehari-hari. Tapi di beberapa sudut, kita akan menemui rumah yang berbahan kayu, baik panggung maupun tidak.

Namun, yang sangat disayangkan, yakni aliran listrik di pulau ini terbatas. Listrik hanya menyala pada pukul 18.00 WIB hingga 24.00 WIB. Menurut sebuah informasi, jaringan listrik di sini baru masuk pada 1985. Tapi, tidak ada penambahan jaringan lagi hingga kini. Masalah kuliner, mungkin sangat terbatas. Di penginapan, disediakan makan sehari tiga kali. Sekali makan kita rogoh kocek Rp 15 ribu. Menikmati kelapa muda dan ikan bakar, kita bisa memesan ke penduduk yang mengurus penginapan.

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Republika, 12 Agustus 2014.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here